
Regina yang ditinggalkan bersama dengan Rachel, mencoba untuk kembali membantu mengobati luka di tubuh Rachel di kamarnya. Namun, tidak lama kemudian ponsel Regina berdering, menunjukkan situasi darurat yang memang hanya di gunakan dalam situasi mendesak di kediaman tersebut.
“Kau tunggu di sini sebentar,” ucap Regina lantas berdiri dan melihat di balik tirai jendela kamar itu.
Samar-samar di kejauhan Regina melihat bagaimana musuhnya bergerak secara perlahan. Hingga tidak lama kemudian, suara pintu di ketuk membuat kedua wanita tersebut saling bertatap wajah.
“Regina, ini aku.” Suara bariton Reymond terdengar begitu jelas, membawa hawa lega bagi keduanya.
Regina segera membuka pintu, tetapi Reymond malah langsung memberikan sesuatu ke tangannya. “Situasi sedang tidak baik. Kalian harus segera pergi dari sini.”
“Kita pergi bersama-sama,” ajak Regina. Sayangnya, Reymnond malah menggelengkan kepalanya. “Kalian harus tetap hidup dan saling menjaga satu sama lain.”
“Bagaimana denganmu?”
“Harus ada orang yang tetap tinggal untuk mengecoh mereka. Lagi pula, dia tidak tahu kau masih hidup dan kita tidak mungkin membiarkan Rachel jatuh ke tangan mereka.”
“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik.” Meskipun dengan berat hati. Regina memilih untuk menuruti apa kata Reymond. Mereka tidak boleh membuat kesalahan di saat seperti ini, yang hanya akan menguntungkan pihak lawan nantinya. Dia pun yakin, Reymond sudah memeprhitungkan semuanya sebelum bergerak.
“Ayo kita pergi!” Dengan perlahan Regina membantu Rachel untuk berdiri.
Tentu saja Rachel yang tidak terbiasa dengan situasi darurat merasa kebingungan. “Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Kau akan tahu nanti.”
Tidak ingin menjelaskan lebih jauh, Regina membawa Rachel ke walk in closet. Dia membuka salah satu lemari yang hanya berisikan pakaian seksi berupa lingerie. Tangannya terulur menarik sebuah kain bermotif macan tutul yang tergantung di sana.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama, ternyata itu hanyalah sebuah kunci untuk membuka pintu yang terhubung kembali dengan uangan lainnya.
“Ayo cepat!” Regina membantu Rachel memasuki ruangan rahasia itu dan mengambil sebuah tas kecil juga. Pintu pun segera tertutup kembali seolah tidak ada apa-apa. Mereka semakin dalam menyusuri jalan berupa lorong gelap, karena memang tidak ada satu pun penerangan cahaya yang tersedia di sana.
“Tempat apa ini?” tanya Rachel.
“Jalan rahasia. Sejak kejadian di masa lalu, Richard selalu mempersiapkan jalan rahasia di setiap bangunan yang dia bangun. Untuk mengantisipasi situasi darurat seperti sekarang.”
“Tidak bisakah kita menggunakan ponsel untuk penerangan?”
“Tidak untuk saat ini.” Regina lantas memberitahukan kepada Rachel situasi seperti apa yang sedang mereka hadapi sekarang sambil meneruskan perjalanan. Lagi pula, dia yakin semua orang sedang berada di dalam situasi sulit saat ini. Melihat betapa gesitnya anak buah Dante menyergap tempat mereka, padahal Richard baru keluar beberapa saat yang lalu.
Setelah melewati perjalanan yang panjang, akhirnya mereka melihat sebuah titik cahaya. Regina segera membuka pintu besi yang berada di atas mereka saat ini dan memanjat keluar. “Ayo.” Dia mengulurkan tangan untuk membantu menarik tubuh Rachel.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanya Rachel.
“Kau tunggu di sini sebentar, sambil awasi pergerakan mereka,” perintah Regina lantas menyerahkan teropong di tangannya kepada Rachel, sedangkan dirinya sedikit menjauh, dan meraih ponsel di sakunya untuk menghubungi seseorang.
Tidak butuh waktu lama, Regina kembali ke tempat di mana Rachel berada. “Bagaiamana?”
“Mereka sepertinya berniat membawa kakek dan paman pergi,” ujar Rachel.
Sontak Regina mengambil alih teropong itu. Benar saja, Emma dan anak buahnya sedang menggiring Reymond dan Kakek Day menuju mobil mereka, sedangkan beberapa penjaga di kediaman itu tergeletak tidak berdaya. Untung anak buah, Rich sudah tersebar di berbagai tempat sebelumnya. Biarlah mereka mengira jika rencananya berjalan dengan mulur, padahal masih banyak trik yang memang sudah Rich persiapkan.
“Sekarang giliran kita. Ini adalah saat terbaik bagimu untuk menunjukkan pada Richard jika kau sangat pantas bersanding menjadi istrinya. Aku tidak bisa selalu menjagamu, kau harus bisa melindungi dirimu sendiri, atau hanya akan ada kematian yang nantinya menunggu dan selamanya kau hanya akan menjadi beban bagi Rich.”
__ADS_1
Kata-kata yang terdengar begitu kejam keluar dari mulut Regina. Namun, begitulah kenyataan. Kehidupan mereka lebih mengerikan di bandingkan masyarat pada umumnya. Mau tidak mau, sudi atau tidak Rachel harus bisa berbaur kapan pun dan menunjukkan pada Richard, jika latihannya selama ini tidaklah sia-sia dan dia pun bisa menjadi istri yang dibanggakan oleh suaminya.
Rachel mengangguk kecil. Dia berjalan sendiri kali ini. “Apapun yang terjadi aku tidak boleh mengeluh,” batin Rachel teguh pada dirinya sendiri, meskipun rasa sakit di sekujur tubuh masih dia rasakan.
Mereka segera pergi dari tempat itu, menyusuri hutan, menuju tempat lain yang memang hanya bisa di masuk menggunakan akses khusus. Tidak mungkin mengikuti pihak musuh untuk saat ini. Regina harus terlebih dulu mengumpulkan anak buah yang tersisa sambil menyusun rencana.
Sebuah batu besar terpampang nyata tertutup oleh rerumputan di tengah hutan.
Regina memindahkan sehuah potongan batu kecil, sehingga batu besar tersebut pun bergeser dengan cepat. Ternyata itu merupakan pintu menuju dunia lain yang tidak terjamah oleh manusia luar.
Rachel selalu mengikuti dari belakang dan merasa kagum akan apa yang dilakukan Regina. Dia yang awalnya hanya seorang aktris biasa, kini menjadi istri seorang mafia, wow perasaan aneh semakin membara di hatinya bercampur menjadi satu, seolah memerankan tokoh cerita wonder women yang selalu dia impikan selama ini.
“Amazing,” batin Rachel.
Regina menepukkan kedua telapak tangannya beberapa kali, sehingga beberapa orang yang berada di sana langsung menghentikan aktivitas untuk menatapnya.
“Situasi darurat. Kali ini kalian harus keluar dan ikut turun tangan.”
Beberapa anak buah Richard memang jarang sekali keluar, bahkan belum pernah menerima tugas. Mereka tersembunyi untuk terus melakukan pengembangan terhadap serangan-serangan yang tidak akan musuh duga sebelumnya. Rich selalu menyembunyikan orang-orang tersebut, agar identitas mereka tidak mencolok.
Rachel menatap satu per satu orang yang ada di sana. Bukan hanya laki-laki, tetapi juga ada perempuan. Tidak semuanya memiliki tubuh yang tegap, besar dan bertato. Namun, berdasarkan apa yang merka pegang saat itu, pasti mereka memiliki peranan masing-masing.
Semua orang memperhatikan bagaimana Regina memberikan arahan. Terlihat jelas, wanita itu bukanlah sosok yang baru satu dua tahun mengikuti Richard. Karakternya yang tegas seperti Rich, emmebuat Rachel cukup merasa kagum pada sosok Regina sebagai seorang wanita.
“Kita bergerak sekarang.”
__ADS_1