My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 69


__ADS_3

Di sisi lain, dengan wajah yang berseri-seri Rachel menatap ke arah luar kaca mobil. Dia menikmati setiap pemandangan yang dilaui dengan hati yang gembira tentunya. Sesekali, ingatannya kembali terbayang akan ekspresi Richard ketika mengucapkan janji suci beberapa jam yang lalu. Dia tersenyum sendiri dalam lamunan karena masih belum menyaka jika dirinya saat ini sudah berstatus istri sah Richard Monday. Sebuah mimpi yang dia sendiri tidak berani untuk membayangkannya.


Hal itu tentu saja menyebabkan sang suami menoleh melihat tingkah aneh wanita yang kini berstatus sebagai istrinya itu. “Kau baik-baik saja?” tanya Richard meletakkan salah satu punggung tangannya di dahi Rachel, sedangkan satu tangan lainnya masih fokus mengemudi. “Tidak panas,” gumamnya lagi.


“Ish, ku pikir kau sudah berubah romantis ternyata masih sama saja menyebalkan.”


Rachel mencebikkan bibirnya, sedangkan Richard tampak mengusap tengkuk yang tidak gatal. Dia memang tidak tahu bagaimana caranya menunjukkan perhatian. Jadi, bagaimana bisa memahami kondisi Rachel saat ini jika tidak memeriksanya secara langsung.


“Maaf. Memangnya aku harus bagaimana?” tanya Richard kikuk.


Rachel tidak menjawabnya. Dia kembali mengedarkan pandangan ke segala arah. Kerutan di dahinya tampak membentuk berlapis-lapis keriput. Cukup lama dia dan Richard melakukan perjalanan, tetapi belum juga sampai di tujuan, dan malah mulai memasuki jalur hutan. “Ke mana kita akan pergi?” tanya Rachel heran.


“Nanti kau juga akan tahu.”


Tidak ada sedikit pun panggilan sayang atau perubahan dalam percakapan mereka layaknya pasangan romantis pada umumnya. Dalam hati keduanya hanya ingin menikmati setiap momen, dan biarlah cinta mengalir dengan sendirinya apa adanya tanpa ada sesuatu yang bersifat memaksa. Untungnya, Rachel juga bukanlah seorang wanita yang terlalu banyak menuntut dan manja, sehingga Richard masih nyaman menjadi dirinya sendiri.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, mobil yang dikemudikan Richard mulai memasuki sebuah gerbang. Dengan sengaja memang kini dia membangun tempat tersebut. Bahkan Richard tidak lagi menyembunyikan markas besar miliknya dan tempat tersebut berhasil di sulap menjadi sebuah hunian mewah bak istana.


Masih terlihat dalam pandangan mata Rachel, beberapa pekerja konstruksi yang tengah bekerja di tempat tersebut. Dia tidak menyangka, jika di balik hutan yang begitu mengerikan akan ada sebuah bangunan megah di dalamnya.


“Tempat siapa ini?” gumam Rachel tidak mampu menutupi kekaguman akan keindahan di depan matanya.


“Tempat tinggal kita sekarang. Ayo masuk.” Setelah menghentikan kendaraan, Richard membukakan pintu untuk sang istri yang masih tercengang.


Perlahan Rachel turun dari mobil, dan mengedarkan pandangan ke segala arah. Entah berapa banyak perumahan, atau apartemen yang bisa di bangun di tanah seluas ini. “Jangan bilang ini rumah keluargamu?”


Jawaban santai yang keluar dari mulut Richard berhasil membuat bibir Rachel ternganga lebar. Beruntung tidak ada air liur yang keluar dari sana. Pantas saja, dulu Richard sangat mahir dalam meminta harga jasa seorang suami bayaran. Ternyata uang yang di dapatkan pun juga tidak seberapa di bandingkan dengan kekayaan yang di miliki pria tersebut.


“Sudahlah ayo masuk! Kita tidak punya banyak waktu. Kau bisa mengagumi tempat ini nanti.”


Dengan segera, Richard menarik tangan Rachel agar mengikuti langkahnya memasuki bangunan. Tampak bebarapa pelayan pria yang sedang bekerja menghentikan aktivitasnya sejenak guna membungkuk hormat pada tuan rumah mereka.

__ADS_1


Juga banyak wanita berpakaian seksi dengan lengkuk tubuh yang menggiurkan khas perempuan mucikari.


"Hei. Kau menjadikan aku istri ke berapa?" tanya Rachel mulai terlihat merah padam.


Rich hanya terdiam, menatap bingung istrinya lalu mengedarkan pandangan. dia tertawa kecil melihat di mana Rachel cemburu pada para anak buah. "Kau cemburu?"


Rachel menghela napas berat. "Benar-benar pembohong ulung. bukan hanya gigolo, tertanya kau juga menyembunyikan harem di sini."


Tangan Rich sontak menarik tubuh Rachel yang hendak melangkah pergi. Tubuh keduanya tidak berjarak, sedangkan wajah mereka terasa begitu dekat. Hingga embusan napasnya pun bisa saling merasakan.


"Cemburunya nanti saja. Kita tidak punya banyak waktu." Richard membawa Rachel ke sebuah kamar yang luas. “Ini kamar kita. Kau bisa segera membersihkan diri dan mengganti pakaianmu di sini dengan isi kotak itu. Aku sudah meminta beberapa pelayan wanita untuk menyiapkan barang-barangmu juga. Aku keluar sebentar, kita lihat apa semuanya sudah siap. Tidak usah berpikir macam-macam, mereka hanya anak buahku.”


Setelah mengatakan hal itu, Richard hendak melangkah pergi keluar, sedangkan Rachel masih mengedarkan pandangan ke segala arah kamar barunya. Akan tetapi, baru tiga langkah Rich bergerak, dia kembali ke arah Rachel, memegang pipi sang istri dengan kedua tangannya dan mengecup bibir ranum wanita tersebut untuk sejenak. “Jangan lama-lama! Aku akan segera kembali,” ucap Rich sebelum benar-benar melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.


Rachel yang di tinggalkan seorang diri, tentu saja tidak bisa menahan rasa bahagia yang kini merasuk dalam dirinya. Dia memegang kedua pipi yang disentuh Richard tadi. Terasa begitu panas,seakan baru saja terbakar teriknya bara api, menyebabkan jantungnya seolah bersiap untuk meledak kapan saja.

__ADS_1


“Kenapa dia manis sekali,” gumam Rachel tersenyum senang nan centil, lantas menyambar kotak yang disiapkan Richard dan bergerak membersihkan diri menuju kamar mandi.


__ADS_2