
“Berhenti!”
Suara pelatuk di tekan menggelegar menggema di sebuah tempat terbuka. Seorang wanita terus berlari sambil menggendong sang buah hati dalam dekapan dadanya. Hari begitu gelap tanpa ada secercah cahaya yang menyinari jalan. Langit seolah menangis, menurunkan rintik hujan secara bersamaan kala itu. Guntur menggelegar begitu keras, menyambarkan kilatan petir tidak berkesudahan. Mereka seolah menjadi saksi bisu, akan tragedi yang terjadi pada sebuah keluarga malam ini.
“Mau lari ke mana kau!” Dari belakang beberapa pria berpakaian serba hitam terus mengejar wanita tersebut. Mereka tidak segan-segan menembakkan pistol ke arahnya. Namun, dia tetap berlari sejauh mungkin meskipun tanpa alas kaki.
Tubuhnya yang basah kuyup serta darah mengalir dari pelipisnya perlahan mulai turun hingga mengenai sang putra yang kini dalam dekapan, tidak membuatnya gentar.
Bocah kecil itu terdiam, menatap ke belakang sosok-sosok yang mengejar dia dan ibunya. Tidak jarang sang ibu harus meringis kesakitan, merasakan kakinya tertusuk ranting pohon. Sesekali wanita tersebut juga harus terpeleset akibat licinnya jalan hutan yang dilalui. Namun, dia terus bergerak demi menyelamatkan putranya saat itu.
"Mereka tidak boleh menemukanmu."
Suara peluru melesat kembali terdengar. Lagi-lagi mereka melesatkan sebuah peluru dan mengenai punggung wanita itu. Akan tetapi, dia tetap berusaha melarikan diri meskipun langkahnya semakin tertatih-tatih dan darah segar mengalir tanpa dia minta.
"Mama," panggil bocah kecil itu merasakan sesuatu bersarang di tubuh ibunya.
Wanita itu lantas berhenti di sebuah batu besar untuk bersembunyi dan sejenak beristirahat. “Sayang, ingat perkataan Mama ini. Kau harus tetap hidup dan bahagia. Tumbuhlah menjadi orang yang kuat, tapi jangan perlihatkan kekuatanmu. Mereka yang membencimu, tidak akan terlihat jika kau melihatnya dari atas. Jangan pernah mempercayai siapa pun di dunia ini, kecuali paman dan kakek. Ingat!"
Sang putra mengangguk paham, wajah pucat ibunya yang menahan rasa sakit seorang diri, tidak dapat dia lihat dengan jelas di malam itu. Namun, firasat akan kehilangan wanita di depannya terasa begitu menakutkan bagi si kecil.
Wanita tersebut lantas mengenakan sebuah kalung miliknya pada sang putra. “Diam di sini dan jangan bergerak sedikit pun. Pamanmu nanti pasti akan menemukanmu. Kau harus selamat! Ingat Mama dan Papa selalu menyayangimu, meskipun kami tidak lagi berada di sampingmu,” ucap wanita tersebut meninggalkan pesan pada sang putra sambil mengecup keningnya.
Hanya sebuah anggukan kecil yang sang putra berikan sebagai jawaban. Dengan susah payah wanita tersebut memaksa putranya untuk berbaring dan menutup tubuh mungil tersebut menggunakan semak-semak belukar. Air mata yang bercampur dengan rintik hujan tidak berhenti mengalir sejak tadi. Rasa sakit di sekujur tubuh mampu ditahannya demi sang buah hati. Dia harus tetap bertahan dan memastikan sang putra akan selamat.
Setelah di rasa cukup. Wanita tersebut kembali berlari demi mengalihkan perhatian orang-orang yang mengincarnya, meninggalkan putranya seorang diri yang berselimut ketakutan.
"Maafkan Mama," ucapnya dalam hati di kala berusaha menyelamatkan diri.
__ADS_1
Hingga tidak lama kemudian, kembali bocah yang bersembunyi itu mendengar suara tembakan yang menggelegar di kejauhan. “Mama,” gumamnya lirih. Akankah kini dirinya hidup sebatang kara?
“Mama!” Richard tersadar dari mimpi buruk langsung terhenyak saat itu juga. Keringat mengalir deras di wajahnya bak guyuran air hujan dalam mimpi tersebut. Deru napasnya terdengar sangat tidak beraturan. Setelah sekian lama dia berhasil terbebas dari mimpi buruk yang selalu menghantuinya. Kini mereka malah kembali lagi.
Dia tidur di kursi samping sang Paman yang masih terbujur tidak berdaya di atas ranjang. Namun, tragedi masa kecil yang menyebabkan dia kehilangan keluarga tercinta kembali hadir di mimpinya. Saat di mana Richard kecil melihat bagaimana ayah dan seluruh penghuni kediamannya dibantai dengan kejam malam itu, sedangkan sang ibu berusaha dengan susah payah menyelamatkannya. Hingga keesokan harinya, Richard berhasil di temukan oleh Reymond dan Day dalam keadaan hipotermia dan hampir mati akibat kehujanan semalaman.
Jika keduanya tidak menyelamatkan Richard tepat waktu. Mungkin bocah malang itu sudah ikut tewas dalam tragedi yang menimpa keluarga Dday. Karena itulah, mereka memilih menyembunyikan Richard. Sebab musuh sesungguhnya masih berkeliaran bebas, sedangkan kasus pembantaian tersebut hanya berlangsung untuk sejenak. Entah siapa yang dalang utama dan apa tujuan mereka melakukannya.
Trauma atas peristiwa besar yang dialami, membuat Richard sulit untuk di ajak berkomunikasi. Beruntung setelah sekian tahun menjalani pengobatan, dia bisa kembali hidup normal layaknya manusia pada umumnya.
Richard berdiri dari posisinya, menatap kedua orang yang begitu berharga di hidupnya sejak kejadian itu. Dia melihat bagaimana sang paman masih belum sadarkan diri, sedangkan kakeknya tampak terlelap di ranjang yang disediakan untuk menunggu pasien.
Perlahan kaki jenjang Richard melangkah mendekati sang kakek. Dia menaikkan kain yang menyelimuti tubuh pria tua tersebut hingga sebatas dada. Richard lantas berbalik untuk mencuci wajahnya. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, tetapi pikiran Richard kembali berada di ambang kepahitan hidup. Dia pergi ke luar untuk mencari udara segar dengan duduk di kursi sebuah taman.
Tangan seorang wanita terulur kepadanya, menyerahkan sebotol kaleng minuman bersoda. Richard menerimanya tanpa banyak kata, sedangkan sang wanita langsung duduk begitu saja di sampingnya. “Tidak bisa tidur?” tanya wanita tersebut sambil membuka tutup soda miliknya.
“Kenapa mereka begitu terobsesi dengan keluargaku?” Setelah sekian lama diam, Richard akhirnya mulai membuka mulut atas apa yang dia risaukan. Biasanya dia adalah sosok yang enggan untuk menceritakan keluh kesahnya. Namun, beban yang kini di tanggung terlalu sulit, Richard tidak mampu lagi memendam semua sendirian.
Suasana pun kembali hening. Wanita itu tidak mampu menjawab apa yang Richard pertanyakan. Dia sendiri belum begitu memahami apa motif utama mereka mengincar Keluarga Ddays. “Entahlah! Di bandingkan dengan alasan mereka. Apa tindakan yang akan kau ambil ke depannya? Kau akan menunjukkan dirimu ke publik dan mengambil alih Ddays Holdings?”
Dengan yakin Richard menggeleng. “Masih belum saatnya. Di waktu seperti sekarang mereka akan merasa di atas awan. Paman bukanlah orang yang berpikiran pendek, dia pasti memiliki rencana sebelumnya, meskipun tahu dia sendiri akan terluka. Terlalu cepat mereka jatuh jika tahu keluarga ini masih memiliki penerus selain paman. Entah apa tujuan utama mereka, tapi aku sendiri yang akan memastikan jika mereka mulai melangkah ke perangkap yang aku buat.”
Wanita itu mengangguk paham. Masalah siasat dan strategi, memang Richard ahlinya. Pria itu selalu bisa bertindak hati-hati demi kelancaran rencananya. Setiap pekerjaan yang digarap oleh Richard, pasti selalu berhasil tanpa hambatan.
“Bagaimana denganmu?” Richard berbalik bertanya kali ini. Namun, bukan membahas masalah pekerjaan atau problema bisnis dan dendam seperti sebelumnya. Dia bukannya tidak tahu alasan sang wanita masih tetap di sini hingga selarut ini.
“Apa maksudmu?” tanya wanita itu berpura-pura tidak memahami apa yang Richard bicarakan dan meneguk lagi minumannya dengan cepat.
__ADS_1
“Apa kau masih mau bersamanya nanti, dan menerima kondisi pamanku yang seperti saat ini?”
Pertanyaan tanpa basa-basi dari Richard sontak membuat wanita tersebut tersedak. Dia menoleh dengan cepat dan menatap tajam pria di sampingnya saat ini. “Kau ini bicara apa?”
“Aku bukan lagi anak kecil yang bisa kau tipu. Meskipun dirimu mendekatiku dengan cara yang tidak biasa. Tapi aku sangat tahu di mana hatimu tinggal dan apa tujuanmu selama ini. Terima kasih atas segala pengorbanan yang kau lakukan, tapi aku rasa semuanya sudah cukup. Kau juga berhak meraih kebahagiaan. Nasib manusia siapa yang tahu, bisa saja Paman meninggalkan kita atau malah sebaliknya. Aku hanya tidak ingin kau menyesal karena telah menyia-nyiakan kesempatan,” ucap Richard menatap wanita di samping dengan tulus.
Bukannya senang dengan nasehat yang di berikan Richard. Wanita tersebut malah tertawa hambar sambil menepuk punggung Richard , dia menutup mulut saat tertawa lebar dengan pelupuk mata yang membendung rasa harunya. “Kau tidak pantas berbicara sebijak itu.”
“Aku bersungguh-sungguh kali ini. Pasti rasanya sangat menyakitkan bagimu, harus menahan diri dan berpisah dengan orang yang selalu kau cintai. Hanya bisa menatap dari jauh, diam tanpa bisa mendekat untuk menunjukkan jika kau masih di sampingnya.”
Apa yang diucapkan Richard sontak membuat wanita tersebut terdiam, tetapi tidak berselang lama ekspresi tawanya berubah duka, tubuhnya mulai bergetar hebat. Air mata yang selama ini ditahan, kini tumpah ruah begitu saja. Rasa sakit melihat kondisi Reymond yang kini terbujur tidak berdaya, lebih menakutkan di banding berpisah tapi masih bisa melihatnya.
Perlahan Richard meraih tubuh wanita tersebut. Membawa dalam dekapannya yang hangat, dia tidak bisa memberikan nasihat apalagi petuah bijak. Namun, setidaknya Richard bersedia menjadi sandaran di kala kesedihan melanda hati wanita itu.
Untuk sesaat keduanya berada di posisi itu untuk waktu yang lama, hingga setelah tenang, barulah sang wanita mulai berbicara. “Aku yang akan mendonorkan ginjal untuknya.”
“Kau yakin?”
Wanita tersebut mengangguk pasti sambil mengusap air matanya. Entah kapan terakhir kali dia berada di titik seperti ini, tetapi sebagai seorang wanita, dia hanya ingin memberikan yang terbaik bagi orang terkasihnya. “Aku juga sudah melakukan tes. Mereka bilang ginjalku lebih cocok dengan Reymond dibandingkan dirimu.”
“Tapi, kehidupanmu mungkin akan berubah. Ruang gerak mu pun akan terbatas. Apa kau siap dengan itu?” tanya Richard memastikan.
"Aku dan Reymond bisa beristirahat setelah ini. Tapi, pertempuranmu baru saja di mulai. Jangan biarkan kondisimu dijadikan kelemahan oleh mereka. Kau harus tetap tegar dan bugar. Sudah saatnya dirimu berjalan di kaki sendiri." Wanita tersebut lantas tersenyum, mengangkat kepalanya hingga pandangan antara Richard dan dia saling bertemu. “Tidak menyangka kini kau sudah dewasa,” ucapnya seraya membelai lembut pipi Richard.
“Aku tahu, Bibi.”
Tanpa keduanya sadari, diam-diam seseorang di kejauhan memotret keduanya yang tengah berduaan. Meskipun tidak dapat mendengar apa yang mereka bicarakan, tetapi dia akan memanfaatkan ini untuk menghancurkan kembali hati sang kakak. “Ternyata nasib baik masih berpihak padaku,” gumam Rose tersenyum puas melihat betapa jelasnya wajah Richard dan sang wanita di layar ponselnya.
__ADS_1
Niat hati ingin menggugurkan kandungannya secara ilegal, sehingga harus dilakukan malam-malam. Rose malah mendapati sang kakak ipar tengah bersama perempuan lainnya di tempat itu. Bak mendapatkan durian runtuh, tentu saja dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang langka ini begitu saja. "Lihat saja Kakak. Sepertinya nasib baik tidak selalu berpihak padamu."