My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 81


__ADS_3

“Kau tidak apa-apa?”  Rachel yang datang bersama dengan Regina dan beberapa anak buahnya saling menempatkan posisi dengan tugas masing-masing. Dia mengulurkan tangan pada sang suami yang masih terduduk di tanah, sedangkan beberapa helikopter tampak terbang di atas lokasi guna menyelamatkan keluarga yang di sandera.


“Rach.”


“Kita harus bergegas.” Belum sempat Richard berbicara, Rachel sudah terlebih dahulu menghentikannya. Wanita tersebut membantu sang suami berdiri dan memberikan sebuah senjata api, kemudian dia beralih melepaskan tali yang mengikat tubuh Ramond yang berada tidak jauh dari sang suami. “Waktu kita tidak banyak. Regina bilang, kita harus melenyapkan mereka secepat mungkin. Sebelum Emma datang. Wanita itu sedang tidak ada di sini saat ini karena harus mengurus Dason.” lanjutnya cepat.


Benar saja, tidak lagi menunggu waktu, Dante dan anak buahnya terlihat mulai keluar dari tempat persembunyian. Hanya saja posisi mereka saat ini terlalu jauh untuk menyerang.


Regina dan anak buahnya dengan brutal berulangkali melemparkan boom dengan daya ledak yang cukup kuat ke pihak lawan. Hal tersebut menyebabkan banyak tempat yang rusak dan juga longsor yang terjadi di berbagai penjuru, bak perang besar yang terjadi di antara dua wilayah yang memang sedang diperebutkan.

__ADS_1


“Ayo!” Rachel hendak membawa Richard pergi, tetapi tangan wanita tersebut langsung di tahan oleh sang suami.


“Jangan lewat sana! Banyak ranjau darat yang mereka tanam.”


“Kalau begitu, mari kita mati bersama-sama.” Melihat Richard yang tampaknya kesulitan serta sakit ketika berjalan, dengan sigap Rachel meletakkan tubuh yang ukurannya dua kali lebih besar itu di punggungnya tanpa ragu. Entah kekuatan dari mana. Rachel yang sejak awal tidak dalam kondisi bagus, tiba-tiba saja menjadi wonder woman yang tidak pernah di bayangkan. “Kau masih bisa berlari ‘kan? Aku tidak bisa menyeretmu sekalian karena dia cukup berat,” ucap Rachel pada Ramond.


“Tidak, Nyonya. Saya masih bisa sendiri.”


 Sesekali Ricahrd yang berada di atas punggung sang istri menatap wajahnya dari samping dengan gerai rambut tipis yang berkibar menebarkan debu. Tidak ada rasa selain kekaguman pada wanita yang tanpa sadar sudah merasuki hatinya itu. Bagaimana bisa dia meragukan kesetiaannya, sedangkan dalam kondisi seperti ini saja, wanita tersebut sudah bersedia maju dan membantunya untuk bangkit. Padahal jelas-jelas jika Rachel mau, bisa saja dia memilih melarikan diri, mengingat bagaimana Richard sudah memperlakukannya dengan sangat buruk beberapa hari ini.

__ADS_1


“Perhatikan musuh. Aku belum mau mati. Kita belum punya anak,” ucapan Rachel seketika membuyarkan lamunan Richard saat itu. Entah berapa banyak peluru yang sudah melesat ke arah mereka, tetapi dengan lihai Rachel menghindarinya, atau Ramon di belakang menembak beberapa musuh yang di lihatnya di kejauhan.


Richard pun akhirnya melakukan hal yang sama. Mata elangnya menyipit, menatap lebih jauh apa yang dilihat. Dengan tenang tangan kanannya terulur, dan jemarinya pun mulai menekan pelatuk sebuah senjata api di genggaman.


Satu musuh tumbang hanya dalam sekali tembakan, kali kedua juga sama, seolah tangan Richard memang tidak pernah melesat sejak awal. Hingga ketika mereka tiba di tempat yang aman, entah sudah berapa orang terkapar tidak berdaya menjadi korbannya.


“Hei, kau sangat mahir memainkan peran. Seandainya saja ada sutradara di sini, mereka pasti tidak akan memotong sedikit pun adegan kita tadi,” ucap Rachel sambil menurunkan tubuh Richard dari punggungnya.


Wanita tersebut lantas memutar bahu yang terasa sangat pegal. “Astaga. Tapi kau sangat berat sekali. Tanganku rasanya mau patah. Coba saja tadi itu akting, pasti kau bisa duduk di kursi dan aku tinggal berpura-pura menggendongmu. Setelah ini aku harus mendapatkan rekor muri karena berhasil mengangkat beban seberat dirimu.”

__ADS_1


Bukannya menjawab, Richard malah langsung meletakkan kedua tangannya di pipi sang istri yang sejak tadi berceloteh dan tanpa izin mendaratkan sebuah kecupan yang cukup dalam di bibir merah itu. “Terima kasih.”


__ADS_2