My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 19: Hanna


__ADS_3

Keributan yang terjadi antara Richard dan sang artis tampaknya tidak membuahkan hasil yang baik. Manajer Divisi Pemasaran segera memanggil keduanya untuk berbincang lebih jauh lagi agar masalah segera di selesaikan.


Meskipun mengetahui jika Rich tidak bersalah dalam hal ini, tetapi sang manajer malah memaksanya untuk meminta maaf. Bukan hal yang mudah bekerja sama dengan artis ternama, sehingga mereka pun berat sebelah dan mengabaikan fakta jika karyawannya sebenarnya tidaklah bersalah.


"Sudahlah, lebih baik kau minta maaf padanya dan mengakui kesalahanmu. Jangan sampai hanya gara-gara masalah sepele kau dipecat! Nanti aku akan mentlaktirmu di restoran seberang kantor," bisik manajer itu di teling Richard .


Gerak gerik manajer yang membela tentu saja dilihat langsung oleh Hanna—sang artis. Dia dengan kesombongan yang melambung menyilangkan kedua tangan di dadanya. Memiliki popularitas yang tinggi memang menguntungkan bagi seorang artis. Semua orang pada akhirnya akan berpihak padanya, entah dia benar atau salah.


Richard memutar bola mata jengah. Dia mengepalkan tangan dengan kuat melihat wanita di depannya. Seandainya saja mereka tahu siapa dia sebenarnya, hal ini pasti tidak akan pernah terjadi.


Tidak lama kemudian, suara pintu dibuka menampakkan sosok Reymond dan asistennya pun terlihat begitu mendominasi.


"Tu—tuan," sapa Manajer dengan gugup. Dia langsung berdiri dan membungkuk hormat, tidak menyangka jika CEO perusahaan akan datang ke kantornya tanpa pemberitahuan. Jangan-jangan karena tidak bisa melayani artis dengan baik dia juga akan terkena imbasnya hari ini.

__ADS_1


Melihat Richard yang bergeming dan tak mengindahkan kehadiran sang CEO. Manajer lantas menendang kaki pria itu sebagai isyarat. Rich hanya melirik sekilas. Menyebalkan harus berpura-pura sopan dengan pamannya sendiri, padahal keduanya selalu berkelahi jika di rumah sendiri.


Richard berdiri dari posisinya, dengan malas dia membungkuk hormat sekilas dan hendak duduk lagi. Akan tetapi, sang artis yang merasa berharga langsung saja menyela posisinya dengan menyikut tubuh Rich.


"Hallo, Tuan Reymond. Kenalkan namaku Hanna. Aku sudah banyak mendengar kabar tentangmu. Tidak menyangka ternyata Anda lebih tampan dari apa yang diberitakan," sapa Hanna sambil mengulurkan tangan kanan, sedangkan tangan kiri menyibakkan rambut ke belakang telinga dengan senyum manis nan manja, seolah dia adalah wanita anggun yang sesungguhnya.


Rich mencebikkan bibir dengan tingkah Hanna, memiliki kekuasaan memang selalu diperlakukan berbeda. Lagi pula kenapa pamannya ikut-ikutan datang ke sini. Pasti hanya ingin menambah beban masalahnya saja. Dasar bujang lapuk.


Hanna yang mengira jika Reymond enggan membalas karena penampilannya saat ini pun meminta maaf. "Ah, maaf Tuan. Penampilanku kotor karena terjadi sedikit insiden tadi," ucap Hanna memelas.


"Silakan duduk, Tuan." Sang manajer menawarkan kursinya pada Reymond, sedangkan Rich langsung duduk begitu saja tanpa sopan santun.


"Jadi, apa masalahnya kali ini?" tanya Reymond sambil menautkan jari-jari kedua tangannya.

__ADS_1


Merasa ini adalah kesempatan yang langka karena bisa bertemu sosok idaman para wanita. Hanna tidak ingin citranya hancur begitu saja. Dia yang awalnya teguh minta pengakuan maaf dari Richard, kini berbalik ramah dan mencari perhatian.


"Ah, itu—" Belum sempat manajer menjelaskan, Hanna sudah terlebih dulu menyela.


"Bukan masalah besar, Tuan Reymond. Hanya saja salah satu karyawan Anda tadi menumpahkan kopi di pakaian saya. Jadi, saya sedikit kesal karena itu pakaian kesayangan saya. Tapi bukan masalah besar. Dengan setulus hati saya sudah memaafkannya." Kalimat yang terlontar dari mulut Hanna sangat berbeda. Sebelum bahkan tidak ada nada kerendahan hati sama sekali, tetapi hanya karena kedatangan Reymond, gelagat wanita itu pun ikut berubah seratus delapan puluh derajat.


Sudut bibir Richard berkedut, seringai licik muncul di wajah seiring dengan rona merah bak terbakar yang semakin menyebar di kulitnya. Tentu saja Reymond menyadari perubahan dalam diri keponakannya itu.


"Apa pakaian Anda tergolong edisi terbatas? Sebagai pemilik perusahaan, saya pribadi meminta maaf atas kelalaian pekerja saya. Dan sebagai bentuk tanggung jawab, saya yang akan mengganti pakaian itu. Terserah Anda menginginkan dalam bentuk barang atau nominal. Saya tidak akan bernegosiasi," kata Reymond santai.


Hanna tertawa buaya, pesona Reymond memang tiada duanya. Hanya dengan mendengar suaranya saja sudah membuat jantung Hanna berdebar kuat, serasa naik roller coaster. "Sebenarnya ini memang edisi terbatas. Tapi, tidak masalah, Tuan Reymond. Saya bukanlah wanita yang suka membesarkan masalah. Apalagi merepotkan dengan Anda sendiri bersedia datang ke sini."


"Iya, edisi terbatas. Karena itu memang sampel butik yang bahkan belum keluar produk aslinya," gumam Richard sangat lirih menggerutu, tetapi masih bisa di dengar oleh Hanna.

__ADS_1


__ADS_2