
Mereka segera membawa Richard ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis dan polisi juga meminta kesaksian Rachel juga Richard atas kejadian malam itu.
Setelah luka Richard berhasil dirawat. Keduanya pun keluar dari area rumah sakit, dengan Rachel yang setia memapah Rich saat berjalan.
“Lagian sok jagoan. Kenapa sok-sokan melawan mereka sendirian? Kau pikir nyawamu ada sembilan?” gerutu Rachel di saat membuka pintu bagian depan mobil.
“Diamlah. Ini hanya luka kecil. Apa kau tidak lelah mengomel sejak tadi? Telingaku rasanya mau pecah mendengarmu menggerutu terus. Dan itu, kenapa pula kau menangis? kau pikir aku akan mati hanya karena luka kecil ini.” balas Rich menunjuk wajah Rachel yang tanpa sadar sudah basah sejak tadi.
“Siapa juga yang menangis.” ketus Rachel mengusap buliran hangat yang membasahi pipinya tanpa dia minta sejak tadi.
Perdebatan singkat terjadi di antara keduanya terus berlangsung selama perjalanan pulang. Hingga mereka tiba di sebuah pelataran bangunan apartemen, barulah Rich mengernyitkan dahi. “Tempat siapa ini?”
__ADS_1
“Tempatku. Aku sudah menyewa apartemen mulai hari ini. Karena kau sedang terluka, aku akan membiarkanmu tinggal bersamaku. Lagi pula, tempatmu itu tidak layak disebut rumah. Bisa-bisa kau tambah terkena demam berdarah nanti jika terlalu lama tinggal di sana. Kenapa juga kau tidak memanfaatkan uang para tante-tante yang menyewamu sebelumnya untuk memberikan rumah yang lebih layak. Dasar bodoh. Ayo jalan!” Rachel berusaha memapah Rich kembali, tetapi pria itu malah bergeming dari posisinya.
“Kau mengkhawatirkanku?” tanya Rich tanpa basa-basi.
“Siapa juga yang mengkhawatirkanmu. Perasan.” Sejenak Rachel terdiam sambil mengedarkan pandangan ke arah lain untuk mencari alasan. “Aku hanya merasa bertanggung jawab padamu. Karena diriku kau jadi terluka seperti ini. Hanya sebatas rasa kasihan sebagai sesama manusia, tidak lebih.”
“Jangan jatuh cinta padaku! Kau tidak akan mampu menanggungnya.” Tanpa menunggu Rachel, Rich berjalan menuju apartemen, sedangkan sang wanita masih tercengang di belakang. “Apa yang kau lakukan? Ayo cepat di mana tempat tinggalmu? Aku sudah sangat lelah malam ini,” teriak Rich di kejauhan.
Rachel yang awalnya larut dalam lamunan, seketika tersadar. “Apa yang kau pikirkan, Rachel. Ini semua hanyalah sebuah sandiwara," batinnya menyadarkan diri sendiri sambil berjalan ke depan dengan kedua tangan yang menepuk pipi.
“Bukan apa-apa. Aku hanya merasa cuaca hari ini sangat panas. Sungguh membuatku merasa gerah," kata Rachel mengibaskan tangan di depan wajahnya.
__ADS_1
Keduanya pun melangkah menuju apartemen yang di sewa Rachel. Richard cukup puas dengan hal ini, setidaknya dia tidak perlu memberikan alasan pada pamannya untuk meninggalkan tempat kumuh itu, dan yang pasti, dia tidak perlu membayar sewa untuk semua fasilitas mewah yang tentunya bisa dia dapatkan dari Rachel nantinya.
“Di sana kamarmu. Di situ kamarku. Jika masih ada sesuatu yang kau butuhkan. Kau bisa memanggilku. Aku ingin membersihkan diri terlebih dahulu,” ucap Rachel setibanya mereka di apartemen tersebut.
Richard hanya mengangguk, dia lantas membuka pintu ruangan yang dimaksud Rachel dan menyalakan saklar lampu. Pandangannya mengedar ke segala arah, cukup rapi dan nyaman. Cocok dengan seleranya selama ini.
Dengan santai Richard membersihkan diri, setidaknya hanya untuk menghapus keringat setelah lelah bekerja seharian. Tampaknya kehidupan tenangnya akan berubah mulai sekarang. Entah apa yang akan terjadi ke depannya, tetapi dia tidak akan membiarkan rencana hancur kali ini.
Tatapan dingin saat dia melihat sendiri wajahnya di cermin, menunjukkan guratan kemarahan serta dendam yang membara. Hanya dari kilatan mata, sudah terlihat raut wajah yang berbeda dengan apa yang selalu Richard tunjukkan.
Perlahan dia melangkah keluar, seorang wanita sudah menunggunya sambil membawakan pakaian ganti. Namun, Rich tampak tidak terkejut sama sekali dengan kehadirannya.
__ADS_1
“Kenapa kau membiarkan dirimu terluka?” tanya wanita itu.
“Kalian sudah menangkap mereka?” Bukan jawaban yang Richard berikan, melainkan pertanyaan lagi. Seolah perhatian yang diberikan wanita itu, bukanlah apa-apa baginya.