My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 58


__ADS_3

Di sisi lain, Rich mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju suatu tempat. Emosi yang tidak lagi terkontrol membuat deru napasnya tidak lagi beraturan.


Dia langsung melesat menuju kediaman Ben, bahkan tidak mengindahkan penjaga gerbang yang berjaga dan menekan klaksonnya berulang kali hingga pagar besi itu terbuka.


Beberapa pelayan yang ada di kediaman tersebut sontak berhamburan panik akibat Richard yang mengemudi asal-asalan, sedangkan dia sendiri tidak peduli dengan reaksi orang-orang di kediaman tersebut. Dia langsung turun begitu saja setelah menghentikan kendaraan.


"Di mana, Tuanmu?" tanya Rich pada salah satu pelayan di sana dengan sorot mata yang menyalang dan wajah merah padam.


"Tu—tuan besar belum kembali, Tuan," jawab pelayan terbata.


Rich hendak berbalik, tetapi suara seorang perempuan dari arah tangga tiba-tiba saja menghentikan langkahnya. "Ah, jadi ini OB yang ternyata seorang pewaris. Cih, beruntung sekali Rachel bisa mendapatkanmu," sinis Rose menyindir.


"Bukan urusanmu," jawab Rich dingin. Dia hendak melangkah pergi, tetapi lagi-lagi Rose menghentikannya.


"Sepertinya istrimu sedang dalam bahaya. Karena itulah, Daddy belum pulang dan sibuk mencari bantuan."

__ADS_1


"Apa maksudmu?" Richard sontak berbalik dan menatap tajam ke arah Rose. Namun, sayangnya wanita tersebut malah tersenyum lebar sambil membelai lembut dan menggoda rahang keras Richard.


"Dia hanya pembuat masalah yang selalu membuat Daddy pusing. Apalagi yang perlu kau risaukan? Mungkin Rachel sedang bosan denganmu dan bermain-main dengan pria lain lagi. Bahaya? Cih, mungkin itu hanyalah alibi."


Bukannya terprovokasi dengan kalimat yang dilontarkan Rose. Tangan Richard malah langsung mencengkeram erat leher wanita tersebut dengan sangat kuat. "Bicara yang benar atau aku akan membunuhmu saat ini juga!"


Rose meronta-ronta, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman Richard. Namun, sayangnya tenaga pria tersebut terlalu kuat dibandingkan dengan dirinya. Belum lagi tatapan nyalang pria di hadapannya saat ini bak iblis yang tidak berperasaan.


Rasa sakit sontak menghentikan aliran darah di kepala Rose. Wajahnya berubah merah, jangankan berbicara sepatah kata. Untuk bernapas saja dia tidak sanggup. Hingga tidak lama kemudian, Roy datang dari pintu masuk langsung menghentikan aksi Richard.


“Aku bahkan bisa saja membunuhnya saat ini juga,” ucap Richard dengan aura mengintimidasi yang begitu kuat. Namun, Roy yang melihat Rose hampir kehabisan oksigen, dengan kuat pula menyingkirkan tangan kekar Rich.


“Dasar gila!” bentak Roy pada Rich setelah Rose berhasil terbebas, dan terbatuk-batuk sambil memegang lehernya yang terasa hampir patah, akibat cengkeraman kuat Richard. “Kau tidak apa-apa?” tanya Roy memastikan kondisi Rose saat ini dan wanita tersebut mengangguk dengan cepat.


“Katakan apa maksudmu dengan jelas atau aku tidak akan segan-segan membunuh kalian berdua saat ini juga,” tegas Rich tidak memedulikan adanya Roy di antara mereka.

__ADS_1


Sejenak Rose mengambil napas. Rasa sakit di leher, menyebabkan wanita tersebut cukup terkejut dan takut akan sikap yang diberikan Richard. Rose tidak menyangka, jika Rachel akan memiliki suami yang begitu tempramental dan sangat sulit untuk di provokasi apalagi di goda dengan bujuk rayu seperti para pria yang pernah menjadi kekasih Rachel sebelumnya. Hampir saja dia kehilangan lehernya tadi jika Roy tidak segera datang tepat pada waktunya.


Melihat kebisuan Rose, Rich satu kali melangkah ke depan dengan geram ke depan. Rose yang masih trauma sontak melangkah mundur dan bersembunyi di belakang punggung Roy, guna mencari perlindungan. “Akan aku katakan,” ucap Rose cepat dengan masih merasakan ketakutan luar biasa di hatinya.


“Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Rachel. Tapi samar-samar aku mendengar Daddy memerintahkan seseorang untuk segera mencarinya.” Rose menghentikan kalimatnya di saat Roy berbalik dan ikut menatap tajam ke arahnya. Namun, ekspresi wajah Rich lebih terlihat menyeramkan saat ini di bandingkan dengan Roy. Hingga Rose pun kesulitan untuk berbohong. “Dari raut wajah Daddy yang panik, sepertinya sesuatu sudah terjadi pada Rachel. Hanya itu yang aku tahu, sungguh.”


Tanpa membuang waktu, Richard langsung berbalik dan meninggalkan kedua orang tersebut seketika. Tanpa permisi atau pun basa-basi layaknya seorang tamu pada umumnya.


Sementara itu, Roy yang mendengar penuturan Rose kini malah ikut-ikutan mendesaknya. Dia memegang kedua sisi bahu sang tunangan dengan sangat kuat. “Apa maksudmu, Rose? Rachel dalam bahaya?” tanya Roy tidak kalah garang.


Deru napas Roy terdengar memburu, sedangkan Rose hanya diam membisu mengamati. Dia melepaskan cengkeraman tangan Roy di bahunya dengan kuat dan berkata, “Kau ini apa-apaan sih! Sakit tahu. Lagian apa yang terjadi pada Rachel itu ‘kan urusan mereka. Jangan ikut-ikutan mendesakku seolah kalian masih sepasang kekasih. Ingat tunanganmu itu aku, bukan lagi Rachel!” tegas Rose.


“Kau benar-benar.” Roy yang tidak ingin melanjutkan perdebatan dengan Rose memilih melenggang pergi begitu saja dengan amarah yang membuncah. Berdebat dengan wanita yang keras kepala hanya akan berujung dengan meninggalkan rasa sakit di kepala, dan dia tidak ingin kembali di pusingkan dengan Rose, sedangkan Rose yang melihat dua pria sekaligus begitu khawatir hanya karena Rachel kembali merasakan iri di hatinya.


“Bisa-bisanya dua wanita sekaligus mengkhawatirkan wanita ****** seperti dia,” gumam Rose geram lantas berbalik. Dia melihat para pelayan tampak mengamati kejadian buruk yang menimpanya sebelumnya sambil berpura-pura bekerja. “Apa kalian lihat-lihat! Kerja saja yang bener,” bentaknya.

__ADS_1


__ADS_2