My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 55: Mengibarkan Bendera Perang


__ADS_3

Semua mata tampak tertuju pada Ramon. Dia tengah menukar kotak terakhir yang belum dibuka itu. Dalam hati mereka menyayangkan sikap sang karyawan yang tidak profesional dalam bekerja. Jika saja itu terjadi di perusahaan mereka, pasti orang seperti Ramon sudah di pecat sejak awal. Akan tetapi, tidak bagi Richard, Ramon adalah sosok penyelamat di situasi gawat yang berjalan sesuai dengan rencana lawan bisnisnya itu.


Mengetahui rencana mereka telah terbaca, Dante dan sang sekretaris di samping Rich tampak saling melemparkan pandangan. Tentu saja hal itu terlihat oleh mata elang Richard.


“Dapat,” batinnya tersenyum penuh kemenangan, sedangkan sang lawan terlihat begitu geram melihat Richard ternyata cukup teliti dalam menghadapi situasi. Bahkan masih bisa bersikap tenang dan profesional dalam menghadapi masalah serius sekali pun. Ramon berdiri di samping Richard setelah tugasnya selesai. Sebuah tepukan di punggungnya dari rekan yang kini menjadi atasannya itu, membuatnya tersenyum dan bernapas lega. Akhirnya dia bisa melakukan tugas penting untuk Dday Holdings.


Setelah kedua kotak di tukar. Putri Lady memerintahkan pada pelayan untuk segera membuka isi di dalamnya. “Bukalah!”


Semua orang di dalam ruangan tampak menantikan desain milik Dday Holdings sebagus apa sampai bisa tertukar seperti itu.


Kotak pun terbuka secara perlahan, menampilkan sebuah tiara dengan desain simpel, tetapi terlihat sangat elegan. Jauh dari kesan mewah dan megah seperti sebelumnya yang hanya bertaburan berlian saja. Kali ini, desain yang di gunakan menggunakan satu bongkahan berlian yang cukup besar dan beberapa pelengkap bermakna di sekitarnya, karena pola mahkota itu terlihat cukup unik. Bentuk mahkota simpel, dan tetap tidak meninggalkan kesan estetik yang terlihat dari kilauan warnanya.


Mahkota tersebut terbuat dari berlian dan batu ruby merah memberikan kesan mahkota begitu berkelas. Warna merah sebagai berlian utama di tiara ini, melambangkan cinta dan gairah. Selain itu, bisa dikatakan mahkota tersebut dapat bermanfaat bagi psikologis dan spriritual, karena bisa digunakan untuk melindungi diri dari roh jahat, yang bisa menyerang menjelang hari pernikahan.


Tidak ada satupun mata yang tidak terpukau akan kilauan yang di hasilkan oleh tiara itu. Memang pantas Dday Holdings menyandang gelar perusahaan terbaik di sana. Karya yang dihasilkan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh dan patut di acungi jempol.


“Cantik, aku bahkan tidak ingin berkedip hanya untuk melihatnya,” gumam Putri Lady seolah menjadi sinyal jika apa yang ada di hadapannya saat ini adalah pemenang dari tender tersebut.


“Kami juga memiliki hadiah tambahan yang bisa Anda gunakan nanti, Putri,” ucap Richard pada akhirnya mulai membuka mulutnya.

__ADS_1


“Benarkah? Sepertinya bukan sesuatu yang biasa juga.” Keduanya saling berhadapan saat ini. Sejenak kemudian, Putri Lady mengulurkan tangan sebagai tanda persetujuan jika Dday Holdings layak menjadi pemenang dalam tender kali ini. “Aku menyukai desain kalian, tapi aku masih ingin beberapa perubahan tertentu di tiara ini. Harap Anda tidak keberatan sama sekali jika aku mengubahnya sedikit.”


“Tentu saja tidak. Suatu kehormatan bagi Dday Holdings bisa melayani keluarga kerajaan seperti Anda.” Keduanya pun tampak tersenyum puas dan berjabat tangan. Para pebisnis lain yang hadir sontak bertepuk tangan untuk akhir dari tender ini. Pemenang telah ditentukan dan memang apa yang Richard berikan, layak untuk mendapatkan penghargaan itu.


Setelah acara selesai, Richard dan Ramon bergerak menuju kendaraan masing-masing. “Hubungi Jack, jalankan rencana kedua,” ucapnya sambil bergerak menuju mobil pribadi Richard.


Ramon hanya mengangguk kecil, dia bersama dua orang kekar lainnya terlihat menghela napas lega setelah mobil yang ditumpangi Rich melaju meninggalkan area lokasi parkir. “Huft, apa kalian setiap hari merasakan berdebar seperti ini setiap kali berada di sisi Rich? Ah, tidak aku duga perkerjaanku yang dulu hanyalah penjual gorengan dan office boy, kini berubah seperti seorang mafia dalam semalam yang selalu berhadapan dengan mara bahaya, menjadi pengusaha besar ternyata sangat memusingkan. Tapi aku masih belum percaya jika Richard ternyata mafia. Apakah ini semua hanya mimpi?” gumam Ramon sambil menggeleng kecil.


“Kelak kau akan terbiasa. Lagi pula tugasmu tergolong mudah,” jawab seorang pria di sampingnya.


Di sisi lain, seorang pria yang kalah dalam tender tersebut merasa begitu marah. Dia melampiasakan segala kekesalan pada seluruh benda yang ada di ruangannya. Susah payah dia mencuri desain Dday Holdings, tetapi ternyata menghadapi seorang Richard lebih sulit dibandingkan dengan Reymond.


Sementara itu, asistennya tampak hanya bisa berdiri mematung di luar. Mereka tidak mungkin bisa meredakan amarah sang atasan yang tengah murka dengan menghancurkan barang. Bisa-bisa nanti mereka menjadi sasaran selanjutnya kalau sampai masuk tanpa izin.


Namun, tidak lama kemudian, rekannya datang membawakan sebuah paket. “Apa ini?” tanya asisten menerima barang tersebut.


“Entahlah. Tapi aku tidak berani memberikannya pada Tuan Dante.”


“Baiklah. Serahkan padaku, kita tunggu sampai situasi mereda, baru berikan pada tuan,” ucap asisten tersebut sambil menerima amplop coklat di tangannya.

__ADS_1


Setelah tidak lagi terdengar amukan dari dalam, sang asisten lantas mengetuk pintu ruangan Dante.


“Masuk,” ucap pria itu dari dalam ruang.


Asisten terbelalak melihat pemandangan pertama ruangan sang atasan. Setelah sekian lama, baru kali ini dia melihat Dante bisa murka sampai menghancurkan seisi ruangan, hingga tidak ada satu pun barang yang tersisa. Semuanya hancur berkeping-keping, banyak benda berserakan dan kertas-kertas yang di robek tidak karuan, pecahan beling dan benda-benda rusak lainnya pun tidak lagi bisa digunakan pastinya.


“Ada apa?” Pertanyaan Dante sontak menyadarkan asisten itu dari lamunannya.


“Ini, Tuan Ada kiriman.” Dengan hati-hati dia meletakkan amplop coklat itu di hadapan tuannya.


Dante yang tengah meminum alkohol, meletakkan gelasnya saat itu juga. Dahinya berkerut cukup banyak di saat membolak-balikkan benda yang kini berada di tangannya. Tidak ada nama pengirim atau sejenisnya. Kira-kira siapa yang mengirimkan benda tersebut padanya di situasi seperti ini.


Perlahan tangan Dante memutar benang merah yang mengunci amplop itu. Tangannya terulur meraih beberapa lembar kertas di dalam. Dia pun membaca dengan perlahan barisan kalimat yang tertera di sana. Kedua bola matanya sontak terbelalak di saat memahami maksud kiriman itu. Dengan sorot tajam yang membara, Dante meremas kertas tersebut hingga menjadi sebuah bulatan keriput tidak beraturan. Guratan otot-otot terlihat bersiap keluar dari kulitnya.


Sang asisten yang masih berdiri di hadapannya kembali berdebar melihat reaksi yang diberikan Dante. Kira-kira apa yang tertera di dalam kertas itu hingga membuat Dante terlihat begitu marah. Bodoh, seharusnya dia mengeceknya dulu sebelum memberikan pada atasannya, sehingga bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi selanjutnya. Akankah kali ini dia kembali menjadi sasaran amukan sang tuan.


“Hah, sialan! Putra Diana memang sama-sama menyebalkan seperti ibunya!” teriak Dante murka dan kembali mengobrak-abrik meja di depannya. Dia bahkan tidak segan melemparkan botol Whiskey tepat ke tubuh sang asisten yang hanya bisa sedikit meringis merasakan sakitnya.


“Berani-beraninya dia mengibarkan bendera perang padaku. Benar-benar anak yang tidak bisa ditebak,” gumam Dante dengan kedua tangan yang terkepal kuat.

__ADS_1


__ADS_2