
Rachel yang selesai membersihkan diri, lantas berusaha mencari keberadaan sang suami. Dia yang belum begitu mengenal bangunan tersebut, tentu saja berusaha mencari di ruang-ruang selain kamarnya. “Mungkin dia sedang di ruang kerja,” gumam Rachel mencoba untuk menebak.
Akan tetapi, ketika di keluar dari kamar dan mengerdarkan pandangan ke segala arah. Dia malah terperangah sendiri, rumah ini terlalu luas untuk di telusuri. Bahkan luasnya mungkin tiga kali lipat dari kediaman Ben. “Di mana kira-kira ruang kerja Richard?” batin Rachel.
Wanita tersebut ingin bertanya pada salah seorang pelayan di sana, tetapi tampaknya mereka semua sedang sibuk dan tidak ada satu pun yang menampakkan batang hidungnya. Hingga tidak sengaja Rachel menemukan sebuah ruangan yang pintunya tidak tertutup rapat. Padahal itu tampak seperti ruangan pribadi. “Mungkin Rich ada di sini.”
Perlahan Rachel melangkahkan kaki memasuki ruangan tersebut. “Rich, kau di sini,” panggilnya ketika semakin dalam melangkah.
Tidak ada jawaban yang terdengar dari dalam sana. Namun, ruangan yang kurang lebih juga seperti sebuah kamar tersebut sontak menarik perhatian Rachel. Dia mengedarkan pandangan ke segala arah. “Kenapa gelap sekali di sini?” gumam Rachel mencoba mencari tombol lampu.
Sesaat kemudian, apa yang dicari pun ditemukan oleh Rachel. Lampu menyala dengan begitu terang, menampakkan isi barang-barang di dalamnya. Tiba-tiba saja, sebuah catatan papan di dinding yang tidak tertutup tirai menarik perhatian Rachel. Bola mata Rachel bergerak menyusuri setiap kata, gambar, dan tulisan yang saling terhubung di dinding tesebut. Bahkan ada dirinya juga sang ayah yang menjadi salah satu pengisi gambar di antara banyaknya foto orang lain yang sedikit banyak tidak Rachel kenal siapa mereka.
Rachel menutup mulut yang ternganga dengan kedua telapak tangannya. “Jadi selama ini aku sudah ada dalam rencanamu?” gumam Rachel terasa tertusuk mengetahui kenyataan jika apa yang terjadi antara dirinya dan Richard sejak awal bukanlah sebuah kebetulan.
Meskipun tidak mengetahui rancangan apa yang Richard siapkan. Namun, Rachel menyadari jika kehadiran dirinya dalam salah satu target Rich, menjelaskan posisinya mungkin hanyalah sebuah pion yang memang ingin dimanfaatkan sejak awal. Sejenak peringatan Celine akan siapa Richard sebenarnya kembali terngiang dalam benak Rachel. Apakah dirinya selama ini sudah tertipu dengan pria yang baru hari ini berstatus suaminya itu.
Hingga tidak lama kemudian, suara bariton Richard mengejutkan Rachel dari lamunannya. “Apa yang kau lakukan di sini?” Rich melangkah masuk dengan ekspresi datarnya seperti biasa.
Tadinya memang dia sedang berada di ruangan ini, tetapi karena urusan mendadak dia meninggalkan tempat itu tanpa menutupnya. Namun, alangkah terkejutnya Richard, mendapati di dalam sudah ada Rachel yang tercengang, berdiri di depan rancangan rencana miliknya yang tidak pernah di lihat oleh siapa pun itu.
__ADS_1
“Kau! Kau sejak awal memanfaatkan aku hanya untuk balas dendam?” teriak Rachel kala itu juga. Sekilas dari apa yang dilihat, dia hanya bisa menyimpulkan hal itu. Mengingat apa yang dialami Rachel selama ini, bahaya selalu saja mengarah padanya. Bahkan Dason yang menculiknya saat itu juga beralasan jika semua ini terjadi karena hubungannya dengan Richard.
Rachel menggeleng kecil. Perasaaan kecewa, hancur, dan merasa di tipu seolah merasuk menjadi satu dalam diri wanita tersebut. Dia tidak mampu membendung rasa sesak di dada, sedangkan Richard tampak hanya diam tidak berkata-kata.
“Aku-” Belum sempat Richard mengucap sepatah kata, Rachel sudah mendaratkan sebuah tamparan di pipi pria tersebut.
“Kau keterlaluan!” Tanpa ragu, Rachel berlalu begitu saja meninggalkan Richard.
Sementara itu, Richard yang di tinggalkan seorang diri hanya bisa terdiam untuk sesaat. Dalam hatinya tentu saja bingung harus bagaimana. Meskipun Rachel melanggar aturan dengan memasuki ruangannya tanpa izin, tetapi tidak ada rasa marah dalam dirinya tadi. Mengingat di mana Ben sudah mengakui kesalahannya, hingga membuat Richard harus menyusun rencana baru demi mencari keberadaan sang ibu. Itulah prioritasnya saat ini.
Namun, sayangnya nasib sial tampak berpihak pada Richard. Rachel malah melihat rancangan yang belum di ubahnya. Meskipun hal itu tidak menjadi sebuah masalah. Akan tetapi, dia yang sudah memantapkan hati dengan mengikat Rachel sebagai istri, tentu tidak berniat sama sekali untuk melukai hati sang wanita.
Richard segera keluar dari ruangan tersebut dan kembali ke kamar mencari sang istri. Namun, hanya kosong, wanita yang dicari tidak ada di sana saat ini. Dia pun kembali melangkah keluar, menapaki anak tangga dan bergerak ke bawah. “Di mana istriku,” tanyanya pada setiap pelayan yang dijumpai.
“Tidak tahu, Tuan.”
“Ish. Cepat kalian bantu cari di setiap sudut tempat ini!” Setelah memberikan perintah, Richard bergerak menuju garasi. Akan tetapi, tidak ada satu pun kendaraan yang keluar dari tempatnya. Itu artinya Rachel tidak sedang pergi dengan mengemudikan mobil.
Dia pun kembali mencari ke taman dan ke setiap tempat-tempat lainnya bersama beberapa pelayan serta anak buahnya. “Bagaimana?” Tanya Richard mulai sedikit khawatir.
__ADS_1
Anak buah itu hanya menggeleng kecil. “Tidak ada, King.”
Richard semakin mengusap wajah dengan frustarasi. Tidak ada apapun di wilayahnya kecuali tempat-tempat berbahaya. Bagaimana kalau nanti Rachel malah terluka. “Kerahkan semua orang untuk mencari istriku! Hubungi aku jika nanti ada kabar.”
Tanpa membuang waktu, Richard mengikuti ke mana kakinya ingin melangkah mencari sang istri. Dia bergerak hanya berdasarkan insting serta feeling yang dimiliki, sedangkan di sisi lain, Rachel yang melarikan diri tampak menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Niat hati menenangkan diri, dia malah tersesat ke dalam hutan tidak berpenghuni.
“Cih, kenapa dia tidak memberikan pagar pembatas untuk kediaman sebesaar itu? Aku jadi tersesat deh,” gerutu Rachel sambil menyilangkan tangan, mengusap kedua bahunya yang terasa dingin tersapu angin malam. Sebab dia hanya mengenakan pakaian tidur yang tidak seberapa tebal, bahkan bisa di bilang lumayan tipis.
Niat hati hanya ingin menenangkan diri, amarah dalam dirinya malah menghadirkan petaka. Rachel yang tidak membawa ponsel, senter atau penerangan lainnya, tentu saja hanya bisa bergantung pada sinar cahaya bulan yang berada di atasnya. Akan tetapi, tampaknya langit juga tidak berpihak pada wanita tersebut. Karena bintang tampak tidak menunjukkan sinarnya, dan awan mendung mulai bergumul menutup satu-satunya cahaya bulan yang menyinari langkah Rachel.
Rachel berusaha berjalan mencari jalan pulang. “Kenapa pula tadi aku gegabah sekali langsung melarikan diri ke mari. Seharusnya aku membawa mobilnya saja dan kembali ke kota.” Rachel mengedarkan pandangan ke segala arah, tidak ada apa pun yang bisa menjadi petunjuknya malam ini karena gelap. “Tempat ini bahkan lebih menegrikan daridaripada villa Dason.”
Tidak lama kemudian, lolongan serigala malam mulai menggema memecah kesunyian nan gelap itu. Sontak bulu roman Rachel bergidik ngeri, bagaimana tempat dengan hewan buas seperti ini malah di huni oleh manusia. “Ish, aku tidak mau tinggal di sini nanti. Rich harus membawaku tinggal di kota saja,” gumam Rachel.
Kemarahan yang awalnya menyelimuti hati Rachel perlahan sirna begitu saja. Berubah menjadi sebuah harapan. Berharap agar Richard segera menemukannya karena semakin waktu berlalu, suara hewan buas semakin banyak menyapa indera pendengaran Rachel.
Rachel terus melangkah tidak tentu arah. Hingga tidak lama kemudian, sebuah suara lagi-lagi menarik perhatian Rachel.
“Siapa di sana?” teriak Rachel menoleh ke belakang. Namun, kedua matanya terbelalak mendapati apa yang menyapanya bukanlah sesosok manusia.
__ADS_1