
Hanna sontak membelalakkan mata hingga membulat sempurna, sampai-sampai kerutan mulai merapatkan barisan di dahinya. Bagaimana bisa pria miskin seperti Rich tahu akan hal itu. Namun, sang manajer yang lagi menyenggol Rich membuat Hanna tak ingin memerlihatkan kemarahan. Lagi pula ada Reymond di sini, tahan saja dulu.
Hanna tertawa kecu di buat-buat. "Tuan Reymond, sepertinya karyawanmu ini cukup humoris? Dia sangat lucu."
"Kenapa? Haruskah saya memecatnya untuk memuaskan Anda, Nona?" Dengan nada menyindir Reymond berbicara, tetapi yang ditangkap Hanna malah sebaliknya.
Hanna berpikir jika Reymond mau melakukan apa pun untuknya. Dia tidak boleh bersikap seperti ibu tiri yang perhitungan, lebih baik menjadi ibu peri dengan kelembutan hati.
"Jangan seperti itu, Tuan Rey. Saya tahu Anda berniat baik. Tapi jika memecatnya …." Sejenak Hanna menghentikan kalimat untuk melirik Rich, dia berusaha mencari kata-kata yang tepat agar terlihat bijak. "Maka saya yang akan merasa bersalah nanti. Mencari pekerjaan lagi saat ini bukanlah hal yang mudah bagi orang tak berpendidikan. Saya tidak ingin berdosa dengan memutuskan sumber penghasilan orang lain."
Hampir saja Reymond tertawa mendengar alasan klasik Hanna. Sungguh lucu, juga begitu menyentuh secara bersamaan. Bagi mereka yang tidak bisa membaca sandiwara tentunya.
Sebagai aktris profesional yang berkualitas. Tentu saja Reymond sangat mengerti karakter wanita di depannya. Meskipun tidak pernah berhubungan dengan wanita sebelumnya, setidaknya dia cukup pandai membaca sandiwara murahan seperti itu.
Reymond mengangguk kecil. "Baiklah, kalau memang begitu keinginan, Nona Hanna. Maka biarkan saya yang memberikan sedikit hukuman pada karyawan saya. Setidaknya dengan begitu harga diri saya sebagai pemimpin di perusahaan ini tidaklah di pandang rendah."
__ADS_1
Rey memberikan isyarat pada sang manajer agar membawa Hanna beserta asistennya keluar.
Manajer itu pun mengerti maksud dari Reymond. Dia segera bergerak dan memersilakan Hanna untuk mengikutinya. "Kalau begitu mari saya antar keluar, Nona."
"Tapi—tapi, bagaimana dengan dia?" Hanna mencoba untuk mencari alasan agar tetap di sana. Dia tidak ingin keluar begitu saja tanpa mendapatkan apapun dari Reymond, walaupun hanya sekedar undangan makan bersama.
"Biarkan saya yang menanganinya sebagai mana mestinya. Serahkan saja semua kepada saya," ucap Reymond santai.
"Mari, Nona!" Meskipun sulit, sang manajer terus mencoba membujuk serta mengajak Hanna untuk keluar. Dia tahu, jika Hanna tak segera keluar pasti akan segera terjadi sesuatu. Melihat gelagat tidak nyaman Reymond, membuatnya segera meninggalkan ruangannya sendiri.
Dengan kesal Hanna melangkah keluar. Belum juga dia mengajak Reymond makan malam bersama, sekarang malah diusir secara halus. Seharusnya dia bergerak cepat tadi. Benar yang dikatakan berita di luar, jika seorang Reymond Day terlalu sulit untuk di dekati. Bahkan dia di gosipkan menyukai sesama jenis. Jangan-jangan Reymond menyukai Office Boy tadi? pikirnya.
"Bagaimana kehidupanmu beberapa hari ini?" tanya Reymond.
"Kau pasti tahu, Paman. Tidak usah berpura-pura baik. Bukankah ini yang kau inginkan?" Sinis Richard.
__ADS_1
Menjadi Office Boy bukanlah hal yang mudah. Lelah di tubuh, tentu saja Rich merasakannya, belum lagi harus menahan rasa sakit akibat terluka tempo hari dan berpura-pura di hadapan semua orang yang menghinanya.
Hingga tak lama kemudian, dering ponsel di saku Rich pun mengalihkan perhatian pria itu.
Richard mengambil ponsel di sakunya. Nama Ramon tertera di layar ponselnya yang biasa. Tanpa membuang waktu, Richard pun mengangkat panggilan tersebut.
Nada panik di seberang menyebabkan raut wajah Richard seketika berubah. Sorot nyalang dan kepalan tangannya terlihat begitu kuat, hingga menampilkan otot-otot biru di punggung tangannya.
"Aku akan segera ke sana," ucap Richard sebelum akhirnya memutuskan sambungan telepon.
"Ada apa?" Tanya Reymond.
"Bukan urusanmu." Tanpa ragu Richard beranjak dari posisinya begitu saja. Dia hendak melangkah pergi, tetapi kembali di hentikan oleh sang paman.
"Pulanglah nanti malam. Kau tidak lupa 'kan hari ini ulang tahun Papa?" Kata Reymond sambil memegang pergelangan tangan keponakannya.
__ADS_1
Richard mengangguk kecil. Untuk sejenak memang dia lupa jika kakeknya berulang tahun hari ini. Entah berapa tahun dia sudah tidak merayakan bersama kakeknya. Mungkin hari ini seharusnya dia menebus semua kesalahan dalam melewatkan hari penting di masa lalu itu.
"Hati-hati di jalan," pesan Reymond sebelum membiarkan Richard pergi.