
Sang wanita yang mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Reymond, bergegas untuk menjemput Richard di tempatnya. Dia tidak mungkin membiarkan pria itu pergi sendirian. Kondisi Richard saat ini pasti sedang sangat terguncang di bandingkan sebelumnya.
“Ayo masuk!” ucapnya ketika tiba tepat waktu dan berhenti tepat di samping Richard.
Tanpa banyak kata, Richard lantas memasuki kendaraan tersebut. Keduanya bergerak menuju rumah sakit di mana Reymond dilarikan, setelah mengalami kecelakaan. Belum ada kabar pasti, tentang seberapa parah luka yang harus dialami pamannya. Namun, Richard sudah mulai menampakkan tanda-tanda traumanya kembali.
Sang wanita yang tengah mengemudi, mengamati setiap perubahan dalam diri Richard. Dia segera meraih botol pil di sampingnya dengan satu tangan dan menyerahkannya pada Richard. “Minumlah!”
Tanpa sadar, hampir saja Richard mengambil semua obat itu dalam genggamannya. Namun, sang wanita segera menghentikan laju kendaraan dan merebut kembali pil-pil di tangan Richard . “Apa kau sudah gila!”
Keduanya berhenti untuk sejenak, wanita tersebut memberikan botol mineral dan dua butir obat Richard. Dosis yang lebih tinggi di bandingkan biasanya. Jika terlambat sedikit saja, bisa-bisa Rich malah akan murka dan berteriak kesakitan sambil memegang kepala.
“Tenangkan dirimu! Pamanmu pasti baik-baik saja.”
Wanita tersebut berusaha menenangkan Richard untuk sejenak. Hingga setelah dirasa semuanya lebih baik barulah dia kembali bertanya, “Sudah lebih baik?”
Richard mengangguk kecil. Deru napasnya pun sudah lebih beraturan dari pada sebelumnya yang tidak karuan. Setelah Richard siap dan kembali normal, barulah wanita itu kembali melanjutkan perjalanan dengan bergerak perlahan.
Ya, di saat dia mendengar berita buruk tentang keluarganya, Richard akan kembali merasakan trauma yang luar biasa. Bayangan kematian orang tuanya tepat di depan mata begitu melekat dalam ingatannya. Dia tidak pernah melupakan semua kejadian itu, walaupun hanya sedetik memori. Semuanya selalu Richard ingat, hingga menjadikannya trauma tersendiri yang begitu sulit di hadapi.
Karena itulah, ketika dia sedang marah, Rich akan melampiaskannya pada apa pun di sekitar. Sebab dia pikir, dirinya tengah berusaha membantu keluarganya dari bahaya malam itu. Meskipun kenyataan semua itu hanyalah ilusi yang tercipta, akibat dari trauma yang di derita.
Sesaat kemudian, keduanya pun tiba di sebuah rumah sakit ternama. Jika biasanya Richard yang akan menutupi dirinya dengan penyamaran. Kali ini giliran wanita di sampingnya yang melakukan hal itu.
Richard yang terburu-buru ingin segera melihat sang paman bergerak terlebih dahulu. Dia berlari dan mengedarkan pandangan ke segala arah untuk mencari ruang perawatan sang paman. Hingga tidak butuh waktu lama, Rich melihat sosok kakeknya tengah duduk di depan sebuah ruang operasi. “Kakek.”
__ADS_1
Richard lantas berhambur memeluk tubuh pria tua yang rapuh itu. Guratan kesedihan tergambar jelas di wajahnya saat itu juga. “Rich, kau sudah datang,” ucapnya lirih.
Hanya anggukan kepala yang bisa Richard berikan sebagai jawaban. “Bagaimana kondisi paman?”
“Dia masih berada di dalam.”
Keduanya pun tampak saling menguatkan, sedangkan sang wanita hanya berani mengintip dari kejauhan seolah mereka bukanlah orang yang saling mengenal. Meskipun faktanya perasaannya sama khawatir seperti halnya dengan Richard, tetapi wanita tersebut memilih menahan diri dan tidak ingin keberadaannya diketahui.
Setelah keduanya menunggu cukup lama, terlihat seorang dokter keluar dari ruang operasi. Richard langsung mendekati dokter itu dan bertanya, "Bagaimana kondisi Paman, Dok?"
Dokter membuka masker di wajahnya sambil menggeleng kecil. "Pasien mengalami luka cukup parah, yang disebabkan oleh benturan benda tumpul pada perut. Tulang rusuk kiri pasien patah menyebabkan robekan pada organ dalam dan robekan tersebut telah mengoyak pembuluh darah segmental sehingga mengakibatkan hilangnya suplai darah organ."
Dokter menghela napasnya sejenak lantas kembali menjelaskan. "Kami terpaksa mengangkat sebagian organ limpa yang rusak, demi menghentikan pendarahan di dalam perut.”
Mendengar penjelasan dokter, tubuh Day langsung lunglai. Dia terduduk di lantai dengan masih dipeluk cucunya. Suara isakan tangisnya tidak lagi mampu dibendung. Mata tuanya sembab karena uraian air mata yang mengalir deras di pipinya sejak tadi.
“Kalau begitu saya permisi dulu. Jika ada yang ditanyakan silakan datang ke ruangan saya,” ucap sang dokter sambil membetulkan kaca mata dan melangkah pergi.
Baik Richard maupun Day tidak lagi mampu membendung kesedihannya. Richard memapah sang kakek untuk kembali duduk. “Kakek tenang saja. Semua pasti akan baik-baik saja, pengobatan sekarang sudah sangat canggih. Paman pasti bisa normal kembali.”
Day mengangguk kecil, sebagai seorang manusia, dia hanya bisa berdoa, semoga Tuhan masih memberikan keajaiban pada sang putra. Dia tertunduk lesu dan bersandar pada sebuah tongkat kayu yang menopangnya ke mana-mana.
“Aku akan membeli air minum dulu. Kakek tunggu di sini!” Richard berusaha mencari alasan. Dia yakin, ada suatu hal yang belum dokter sampaikan sebelumnya. Akan tetapi, kondisi sang kakek tadi tampak terlalu syok, sehingga dia memilih untuk menunda informasi tersebut untuk dirinya sendiri karena tidak ingin sesuatu yang buruk juga terjadi pada sang kakek.
Richard mendatangi ruangan dokter. “Boleh saya masuk?” tanya Richard setelah mengetuk pintu ruangan.
__ADS_1
“Silakan, Tuan.” Dokter tersebut memersilakan Rich untuk duduk di kursi. Dia sendiri lantas mengambil posisi dan membuka sebuah gambar pada komputer di depannya.
“Apa ada yang belum Anda sampaikan?” tanya Richard tanpa basa-basi.
Sang dokter mengangguk, dia memutar layar berisikan gambar organ. “Sebenarnya masih ada satu masalah serius yang harus segera di tangani, Tuan. Kita tidak bisa menundanya terlalu lama dan harus segera melakukan tindakan. Kedua ginjal Tuan Reymond mengalami cedera parah, dan bisa memburuk kapan saja. Hanya saja kita perlu menemukan pendonor yang cocok sesegera mungkin jika ingin melakukan pengangkatan.”
Bak mendapatkan sambaran petir tepat di hatinya, Richard menghela napas berat. “Kalian bisa mengambil ginjalku,” ucap Richard.
“Sebelum melakukan menjadi pendonor, Anda harus melakukan serangkaian tes terlebih dahulu untuk melihat akankah ginjal Anda nantinya cocok dengan Tuan Reymond atau tidak. Kami juga tidak bisa sembarangan mengambil tindakan. Selain itu, meskipun manusia bisa hidup dengan satu ginjal saja, tapi apakah Anda yakin sudah siap dengan segala kemungkinan risiko di masa depan? Anda mungkin harus menjalani pola hidup sehat lebih ketat dari biasanya jika hidup hanya dengan satu ginjal saja?” jelas Dokter.
“Itu lebih baik dari pada aku kehilangan pamanku.” Jika saja Richard harus memberikan nyawa demi menukarnya dengan Reymond. Tentu dia sangat bersedia melakukannya. Jasa sang paman selama ini tidak ada batasnya untuk di balas dengan apa pun. Meskipun tegas dan menyebalkan, Reymond tetaplah satu-satunya sosok yang selalu ada untuk Richard di saat dia mulai tersesat. Bagaimana bisa Richard membiarkannya menderita sendirian hanya karena sebuah ginjal, sedangkan dia sendiri memiliki dua.
“Baiklah kalau begitu keputusan, Tuan. Kita bisa melakukan beberapa tes kecocokan terlebih dahulu sebelum melakukan pendonoran.”
Hanya anggukan kepala yang bisa Richard berikan sebagai jawaban. Entah berapa kali, pria tersebut menghela napas panjang. Tidak jarang dia mengusap kasar wajahnya sendiri karena merasa frustrasi dengan apa yang terjadi. Akan tetapi, dia masih harus tetap kuat sebab masih ada sang kakek yang harus dia jaga sepenuhnya.
Tanpa mereka sadari, di luar sosok wanita yang mengantarkan Richard sebelumnya mendengar apa yang mereka bicarakan. Dia pun tertunduk lemas. Hatinya hancur sama halnya seperti apa yang Richard rasakan.
Sementara itu, dokter dan perawat lainnya mulai memindahkan Reymond ke ruang ICU. Kondisinya kini secara medis belum stabil. Pasien masih memerlukan pemantauan ketat hingga kondisinya memungkinkan. Dia belum bisa bernapas sendiri dan memerlukan bantuan pernapasan melalui mesin ventilator, untuk melanjutkan pernapasan. Dia membutuhkan perawatan yang cermat untuk mengoptimalkan peluang pemulihan dari kondisi kritisnya.
Di sisi lain, seorang wanita yang baru saja menyelesaikan tugasnya tampak menemui seorang pria paruh baya. Pria itu duduk di kursi kebesarannya sambil tertawa lebar. Kecelakaan yang dialami Reymond jelas begitu parah, kondisi Dday Holdings yang tengah berada di atas, seketika terombang ambing saat itu juga. Harga saham sontak merosot karena banyak yang menduga tidak akan ada kandidat lain yang akan menggantikan Reymond.
“Bagus, bagus, kerja bagus,” ucap sang pria memuji kinerja anak buahnya.
“Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan?” tanya wanita tersebut.
__ADS_1
“Tunggu sebentar lagi. Setelah saham Ddays Holdings benar-benar hancur. Barulah kita bergerak dan membeli sebanyak mungkin saham di sana. Jangan biarkan satu orang pun berani mendekat dan membantu perusahaan itu. Biarkanlah mereka semakin turun dengan sendirinya. Seperti sebuah layangan yang putus, akhirnya dia akan tetap terjatuh juga. Dan kita bisa mengambil alih apa yang selama ini menjadi kebanggaan keluarga Day,” ucap pria tersebut dengan sebuah seringai di wajahnya.