
Apa yang terjadi pada Hanna, berhasil menyelamatkan nama baik Rachel. Kejelasan wajah pemeran, serta lokasi video yang begitu mirip, membuat publik tidak lagi memburu Rachel sebagai pelaku dalam video panas itu.
Kehebohan yang terjadi jelas menyebabkan banyak publik geram. Banyak yang tidak menyangka, jika Hanna mampu berbuat sehina itu hanya demi sebuah popularitas.
Seorang wanita lainnya yang menyaksikan berita tersebut sontak membanting gawai di tangannya. Dia jelas tahu jika video itu adalah asli dan tidak mungkin palsu, bagaimana bisa kini pemeran utamanya malah berganti hanya dalam waktu semalam.
“Akh!” dengan kesal Rose mengobrak-abrik meja rias di depannya. Dia sudah bersusah payah untuk menjebak sang kakak malam itu, tetapi lagi-lagi semuanya gagal, dan hanya bertahan sejenak. Bahkan dia belum sempat berpesta untuk merayakan jatuhnya harga diri sang kakak. “Kenapa wanita ****** itu selalu lebih beruntung dariku?” umpatnya kesal.
Sementara itu, Rachel yang di kurung di kamarnya juga melihat berita yang heboh hari ini. Meskipun dia tidak bisa keluar kamar, tetapi sang ayah masih cukup baik dengan membiarkan ponsel tetap bersamanya.
“Bagaimana bisa?” Rachel membulatkan mata hingga melebar sempurna. Dia tidak menyangka jika Hanna akan berbuat seperti itu. Jadi, siapa sebenarnya orang yang berusaha menjatuhkannya kali ini.
Namun, hal yang lebih membuatnya heran adalah sosok yang mengembalikan nama baiknya hanya dalam semalam. Bahkan berita tentangnya sudah di anggap hanyalah rekayasa belaka, sedangkan kenyataan semua itu adalah sosok Hanna.
“Tidak mungkin Daddy melakukan semuanya secepat ini. Pasti ada orang lain di balik semua ini,” yakin Rachel pada apa yang dia pikirkan sambil menggeleng kecil. “Tapi siapa orang yang mampu membalikkan keadaan hanya dalam semalam?”
Rachel berusaha untuk berpikir, sayang semuanya terasa buntu. Tidak mungkin bukan jika Richard yang melakukannya. Pria itu tidak sehebat itu dalam membalikkan keadaan, apalagi dengan kondisi Hanna saat ini. Lagi pula uang dari mana hingga dia bisa menghapus video tentang mereka dan menggantinya dengan Hanna. Mungkinkah Richard menyuap para wartawan? “Lebih baik aku bertanya saja.”
Rachel berusaha melakukan panggilan video dengan Richard. Hanya untuk memastikan jika apa yang kini ada dalam pikirannya tidaklah benar. Sekali panggil, tidak ada jawaban. Panggilan kedua juga belum ada respon, hingga dia mencoba di panggilan ketiga barulah ada jawaban di seberang sana.
“Hallo.” Wajah bantal dan suara parau khas seorang pria yang baru saja bangun tidur terdengar begitu jelas, gambar yang disajikan begitu natural. Meskipun Rachel tinggal satu atap dengan Rich, tetapi baru kali ini dia berhasil melihat Rich dengan wajah awut-awutan seperti sekarang. Luka lebam di wajahnya pun masih terlihat begitu jelas dan nyata.
“Apa aku mengganggu tidurmu?” tanya Rachel sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
__ADS_1
“Seharusnya kau tahu jika hari ini weekend. Aku harus tidur lebih lama untuk memanjakan kulitku, tapi semuanya sia-sia saja karena kau menghubungiku,” jawab Rich di seberang sana.
Rachel tersenyum kecil, dia mengenali lokasi Richard saat ini, yang tidak lain masih di apartemennya. “Maafkan aku. Gara-gara aku, kau jadi samsak kemarahan ayahku semalam. Aku hanya ingin memastikan jika kau tidak mati karena kejadian semalam,” ucap Rachel tulus.
Sejak semalaman wanita tersebut juga tidak tidur, bukan karena semua berita yang mengarah kepadanya, tetapi lebih para rasa khawatir karena melihat Richard di pukuli dengan begitu brutal oleh anak buah sang ayah. Lagi pula, siapa yang akan merawat Richard, sementara dia sendiri di paksa pulang.
“Cih, aku tidak akan mati hanya karena pukulan seperti itu. Rasanya cuma seolah di gigit semut. Jika kau sungguh-sungguh meminta maaf. Maka transferlah uang ke rekeningku, aku sedang kelaparan dan sudah tidak ada apa pun di tempatmu.”
“Cih, dasar pria materialistis. Seharusnya akulah yang dinafkahi bukan malah sebaliknya.” Obrolan keduanya berjalan cukup panjang. Hingga akhirnya Rachel yakin jika Rich memang masih berada di tempatnya. Tidak mungkin Richard pergi dalam kondisi terluka parah seperti itu. “Benar ‘kan. Bukan dia orangnya.” batin Rachel.
Setelah puas meyakinkan diri, sambungan telepon keduanya pun terputus. Namun, kini Rachel tengah berjalan ke sana ke mari karena galau harus bagaimana. Ingin sekali rasanya di menghampiri Richard saat ini juga. Luka di wajah Richard terlihat begitu jelas, bisa-bisa nanti membiru dan menjadi infeksi, apalagi di tempatnya sedang tidak ada makanan. “Dia pasti kesulitan melakukan apa pun sendirian. Oh Tuhan, kenapa aku begitu mencemaskannya?”
Rachel bermonolog sambil memukul kepalanya sendiri.
Sesaat Rachel merenung sendirian, hingga tidak berapa lama dia pun menemukan satu solusi. Tanpa berpikir panjang, Rachel lantas mengganti pakaian. Dia tidak segan menyambung beberapa kain seprei dan melemparkan ke luar. Karena posisi kamar yang berada di lantai dua dan pintunya pun di kunci dari luar, Rachel terpaksa harus kabur dengan cara ekstrim. “Auh, tinggi ternyata,” gumam Rachel melihat ke bawah.
Tidak ingin membuang waktu, Rachel langsung berusaha turun menggunakan kain tersebut. Namun, ketika hendak mencapai tanah tampaknya seorang pelayan mendatangi kamarnya untuk mengantarkan sarapan pagi. "Non, ya ampun apa yang Anda lakukan,” teriak pelayan itu.
Menyadari aksinya sudah ketahuan, Rachel segera melompat begitu saja. Dia bahkan masih sempat melihat bagaimana ekspresi ketakutan sang pelayan saat itu.
“Aku akan segera kembali, katakan saja pada Daddy jika aku menjaga Siska di rumah sakit,” teriak Rachel Lantas berlari melarikan diri dengan jalur anjing yang biasa dia gunakan untuk kabur sewaktu kecil.
“Sial. Sempit sekali!” umpat Rachel dengan susah payah mencoba mengeluarkan dirinya dari dinding pembatas itu. Terakhir kali dia lewat sana adalah ketika Rachel masih begitu kecil dan keluarganya juga masih utuh tentunya. Tidak menyangka lubang tersebut masih ada, hanya saja sudah terlalu kecil untuk tubuhnya yang kini beranjak dewasa.
__ADS_1
Setelah berhasil melarikan diri dengan susah payah. Rachel bukan bergerak menuju rumah sakit, melainkan apartemennya. Senyum mengembang di wajah di kala dia tiba di sana tanpa hambatan. Sebuah kantong plastik makanan di jinjingnya, mendengar Richard yang kelaparan membuat Rachel memilih mengantarkan sendiri makanan pada pria itu, di bandingkan dengan menggunakan jasa pesan antar.
Rachel membuka pintu apartemen, tetapi apa yang di dapat sepertinya tidak seperti yang dibayangkan. “Kenapa lampunya masih menyala?” batin Rachel sambil mematikan saklar.
“Rich.” Rachel berusaha mencari keberadaan Richard ke seluruh ruang. Mulai dari ruang tamu, kamar tidur, hingga ke kamar mandi sekali pun. Sayangnya, dia tidak menemukan sosok itu sama sekali, dan kamarnya pun terlihat masih sama. “Bukankah tadi dia bilang ingin kembali tidur? Kenapa sekarang tidak ada di rumah,” gumam Rachel merasa heran.
Di sisi lain, sosok yang dicari Rachel memang tengah berada di kamar, tetapi bukan kamar apartemen milik Rachel, melainkan di tempatnya sendiri. Dia memang mengubah ulang tatanan ruang tidurnya agar dibuat semirip mungkin dengan ruangan yang digunakan di apartemen Rachel. Tentu saja untuk berjaga-jaga.
“Kau sudah bangun?” Seorang wanita tampak memasuki kamarnya begitu saja. Kedua tangan wanita itu membawakan sebuah nampan berisikan roti dan susu putih, sarapan ringan yang biasa Rich minta jika menginap di tempat itu.
Richard tidak menjawab, dia hanya mengusap kasar wajahnya karena memang masih merasa mengantuk sekali. Entah pukul berapa dia tertidur malam tadi. Bisa di bilang dia baru saja terlelap menjelang pagi. Demi membersihkan nama baik Rachel, Richard yang tidak ingin berita buruk itu menyebar terlalu lama, mengawasi sendiri jalannya proses editing dan menunggu bagaimana wartawan yang disekapnya mengubah berita hari ini agar nama Rachel tidak lagi menjadi topik utama.
“Bagaimana dengan mereka?” tanya Richard mengubah posisi dan berusaha untuk bangkit dari tidur, sedangkan wanita itu tampak meletakkan makanan yang dia bawa ke atas meja kecil di samping ranjang.
“Masih seperti itu. Apa yang selanjutnya ingin kau lakukan pada mereka?” tanya sang wanita.
Rich menggeleng kecil, dia meraih gelas susu putih yang di bawa wanita tersebut dan meneguknya perlahan. "Menurutmu apa balasan yang setimpal untuk manusia seperti mereka?"
"Kita bukan Tuhan, Rich. Kenapa tidak membiarkan takdir dan karma menjalankan tugasnya."
Salah satu sudut bibir Richard terangkat. "Karma, mereka datang terlalu lama karena banyaknya manusia yang mengantre. Manusia terlalu serakah, hingga berbuat dosa demi mencapai tujuannya."
"Dan kau salah satu dari mereka."
__ADS_1
Richard mengangguk setuju. Sesaat setelahnya, lagi-lagi ponsel di atas ranjang kembali berdering. Namun, bukan Rachel yang kali ini menghubunginya. Dia lantas meletakkan benda pipih tersebut di samping telinga. Suara tangisan seorang pria terdengar sangat jelas di indra pendengaran Richard. “Rich, ayahku meninggal,” ucap pria itu.