
Sesuai perintah pamannya, Rich mendatangi gedung Dday Holdings dan melaporkan kehadiran sebagai karyawan baru. Dia tidak ingin segala fasilitas yang dimiliki menghilang begitu saja. Meskipun pada kenyataannya dia juga memiliki penghasilan lainnya tanpa diketahui oleh keluarganya.
Layaknya seorang karyawan baru, Richard berkumpul di sebuah ruang bersama beberapa senior lainnya yang tengah membagi tugas.
Dday Holdings bukanlah sebuah tempat yang kecil, sehingga mereka juga memiliki beberapa staf office boy maupun office girl, yang tentunya memudahkan pekerjaan setiap karyawan dengan posisi di atasnya dalam bekerja.
“Kau karyawan baru?” tunjuk seorang kepala office boy di sana.
Richard hanya mengangguk sekali, sedangkan kedua tangannya masih berada di dalam saku celana. Keangkuhan tergambar jelas di wajahnya yang datar serta dingin, menyebabkan beberapa senior saling berbisik akan sikap pemuda tersebut.
“Siapa namamu?” tanya kepala office boy di sana.
“Rich.” Singkat, padat, jelas ucapnya.
“Rich, kau ikut tim satu. Mereka akan menjelaskan pekerjaanmu nanti,” ucap sang kepala office boy. “Baiklah, silakan mulai pekerjaan kalian sesuai dengan bagian masing-masing tim.”
Mereka pun lantas membubarkan diri, sedangkan seorang pria muda langsung merangkul leher Rich begitu saja. “Hei, karyawan baru. Kenalkan, namaku Ramon. Semoga kita bisa bekerja sama ke depannya. Jika ada sesuatu yang membingungkan, kau bisa bertanya padaku nanti.”
Di saat Ramon mengulurkan tangan dengan wajah tengil untuk berkenalan. Sebuah tepukan tangan dari pria lainnya yang sudah berumur tiba-tiba saja mendarat di kepala Ramon. “Jangan banyak bicara! Ayo cepat pergi sebelum para marmut berdasi mengamuk nanti.”
“Cih, hanya berkenalan sedikit saja sudah diganggu. Dia memang seperti itu. Sulit diajak bercanda,” bisik Ramon pada Rich sambil menatap kepergian pria tadi.
“Aku mendengarmu.” teriak pria itu di kejauhan.
__ADS_1
“Iya, iya. Kami ke sana. Ayo!” Ramon lantas membawa Richard menuju lantai tempat di mana mereka akan bekerja.
Setiap divisi tentu memiliki beberapa staf office boy maupun girl berbeda yang akan membantu pekerjaan mereka di kantor, tergantung kebutuhan. Satu hal yang sedikit membuat Rich bernapas lega, setidaknya sang paman tidak menempatkannya di posisi cleaning service hingga diharuskan untuk menggosok close set menjijikkan berisikan kotoran manusia.
Di bawah bimbingan Ramon, Richard bekerja dengan cukup tenang. Setidaknya hanya pekerjaan rendahan yang membutuhkan tenaga dan bukan otak. Masih bisa dia tangani.
Namun, tampaknya semua itu tidak bertahan lama. Karena di saat Richard sedang menyiapkan ruang pertemuan bersama Ramon. Tiba-tiba saja sebuah bahu menabrak tubuhnya dengan kasar.
"Bukankah kau, Richard? Jadi, kau benar-benar bekerja di sini?” tanya pria itu dengan raut wajah meremehkan setelah memindai setiap inchi seragam yang kini dikenakan Richard.
Pria itu tersenyum penuh kemenangan sambil menggeleng kecil. Dia tidak menyangka jika Rachel akan memilih pria seperti ini untuk menggantikan posisinya. Sungguh sangat tidak pantas jika di bandingkan dengan dirinya yang hampir terlihat sempurna di mata wanita, sehingga hanya dengan sekali tunjuk dia mampu mendapatkan mereka.
Tangan pria itu lantas meraih dompet di dalam saku. Dia mengeluarkan sebuah kartu nama dan mengulurkan pada Richad. "Datanglah ke perusahaanku. Aku akan memberikanmu pekerjaan dengan posisi yang lebih baik. Ya setidaknya agar kau pantas bersanding dengan Rachel.”
Rich hanya memutar malas bola matanya dan kembali menyelesaikan pekerjaan terakhir sebelum berniat keluar dengan Ramon. Dia bahkan mengabaikan tangan Roy yang berusaha memberikan penawaran dan kartu nama itu.
Merasa diacuhkan oleh lawannya, Roy meremas kertas di tangannya dengan kuat. "Lihat saja nanti bagaimana aku memberimu pelajaran!" batinnya melirik sinis sambil menahan emosi. Akan tetapi, dia segera berubah ekspresi karena manajer pihak Dday Holdings juga sudah tiba di ruangan itu untuk membahas kerjasama kedua perusahaan.
“Apa kau mengenalnya?’’ tanya Ramon penasaran, setelah berhasil menyusul Richard l.
Jika memang mengenal orang yang posisinya lebih tinggi, tentu saja akan memudahkan setiap orang untuk mencari pekerjaan yang lebih baik dengan gaji tinggi tetunya. Namun, keacuhan Richard membuat Ramon merasa sedikit penasaran.
“Bagaimana aku bisa mengenal anjing liar yang suka menggonggong di jalan?” jawab Rich santai.
__ADS_1
“Benar juga. Office Boy seperti kita tidak mungkin berteman dengan mereka para pejabat tinggi. Mereka hanya menganggap kita babu.”
Tidak lama kemudian, seorang pekerja lainnya datang menghentikan obrolan keduanya. Dia memerintahkan mereka untuk membuatkan kopi. Padahal beberapa minuman juga sudah mereka sediakan di ruangan itu sebelumnya. “Tuan Roy ingin kopi. Tolong buatkan!”
“Benarkan apa aku bilang? Selalu saja merepotkan.” Ramon hendak berdiri, tetapi wanita itu segera menghentikannya.
“Bukan kamu, tapi dia,” ucap wanita itu.
“Bukankah sama saja?” jawab Ramon sedikit garang.
“Sudah-sudah biar aku saja.” Rich lantas pergi ke pantry untuk membuatkan secangkir kopi.
Roy pasti sengaja mengerjainya, entah apa yang akan pria itu lakukan ke depannya. Dia pasti tidak akan membiarkannya diam dan berusaha mencari kesalahan.
“Sebelum badai datang. Ada baiknya sedia payung sebelum hujan.” Dengan tengilnya Richard memasukkan jari telunjuk ke lubang hidungnya, mencari-cari sebongkah upil kering di dalam sana. Tidak lupa pula, belek di sudut mata, dan sedikit jampi-jampi berjimat, beraroma nikmat dari mulutnya. Sebelum akhirnya dia mengaduk semua itu menjadi satu kesatuan, sebagai bonus americano hitam. Setelah semuanya selesai barulah dia membawanya ke ruangan pertemuan.
Benar saja, setelah kembali ke ruangan pertemuan, Rich tidak lagi bisa keluar. Roy selalu saja merepotkan Rich dengan berbagai permintaan. Beruntungnya pertemuan itu berakhir, tepat di jam kerja. Setidaknya dia tidak harus lembur hanya untuk melayani pria sialan itu.
“Kau pasti lelah di hari pertamamu bekerja,” ucap Ramon ketika kedua mulai melangkah hendak keluar dari gedung.
“Tidak masalah.”
Keduanya tiba di bagian depan perusahaan dan di halaman tampak sebuah mobil putih sudah terparkir rapi dan membunyikan klakson melihat Richard yang lewat.
__ADS_1
“Masuklah!” teriak pengemudi di sana.
Tanpa basa-basi, Rich meninggalkan Ramon yang masih tercengang di sampingnya dan masuk ke kursi samping kemudi begitu saja, sedangkan di kejauhan Roy tampak mengeluarkan aroma permusuhan serta wajah merah padam.