
Richard mengedarkan pandangan ke segala arah, sambil sesekali memanggil nama sang istri. “Rachel!” teriaknya memecah kesunyian malam itu.
Kaki Richard terus melangkah tidak tentu arah. Tangannya merogoh saku celana untuk mengambil ponsel dan menyalakan senter. Langit terlalu gelap malam ini, bulan dan bintang tidak sedikit pun menampakkan cahayanya sehingga dia cukup kesulitan mencari. “Rachel,” panggilnya lagi, tetapi tidak juga mendapatkan jawaban.
Hampir satu jam sudah Richard berusaha untuk mencari. Namun, kabar dari para anak buah juga tidak kunjung dia dapatkan. Rasa gundah gulana, serta khawatir seketika hinggap dalam diri Richard, hingga tidak lama kemudian, dia pun menyadari sesuatu yang membuatnya terbelalak dan menduga-duga. “Jangan-jangan!”
Richard segera membalikkan tubuh. Dia berlari ke salah satu arah tempat berbahaya, di tanah wilayahnya itu. Dengan jantung yang berdegub cepat, Richard terus melangkah sambil berharap dalam hati. “Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padamu!”
“Rachel!” Richard yang tiba di suatu tempat lainnya, menyatukan kedua telapak tangan di bibir agar suaranya lebih keras. Dia menyusuri lokasi tersebut sambil terus menyebut nama sang istri. “Rachel. Rachel, di mana kau?”
Hingga tidak lama berselang, sayup-sayup sebuah suara Rachel sebagai jawaban mulailah terdengar. “Aku di sini.”
“Rachel.” Richard mendekat ke arah sumber suara, tubuhnya berputar dan mengedar, tetapi tidak juga Rachel menampakkan batang hidungnya.
“Aku di sini.” Suara Rachel di atas sebuah pohon yang cukup tinggi sontak membuat Richard tercengang. Apakah dia baru saja menikahi seorang tarzan. Kenapa wanita begitu aneh ketika sedang marah, hingga harus memanjat pohon segala.
Richard, mengarahkan senter ponsel ke atas. Dia mendongak menatap sang istri yang berada cukup tinggi. “Apa yang kau lakukan di sana?” tanya Richard.
“Rich, tadi aku di kejar seekor buaya. Makanya aku naik ke atas pohon. Kau belum mau menjadi duda ‘kan?” Wajah Rachel masih terlihat begitu panik. Dia memeluk erat sebatang pohon tempatnya bersembunyi.
Ya, ketika sedang marah tadi, tanpa sengaja langkah Rachel malah menuju rawa, tempat di mana hewan peliharaan kesayangan Richard berada. Hingga akhirnya dia malah bertemu dengan seekor buaya yang cukup besar. Mau tidak mau, Rachel yang belum ingin mati pun memilih menaiki pohon agar sang buaya tidak bisa memangsanya.
__ADS_1
Richard tertawa kecil. Dia lantas memanggil sebuah nama dengan sangat keras. “Coco.”
“Hei apa yang kau lakukan?” tanya Rachel panik.
Richard hanya tersenyum, menatap istrinya di atas. “Apa kau masih marah?”
Untuk sejenak Rachel melupakan sebab dia bisa sampai ke tempat ini. Kemarahan yang terjadi sebelumnya seolah sirna begitu saja mendapati nyawanya beraada dalam bahaya. Rachel tidak bisa membayangkan jika harus mati di mangsa oleh buaya. Jika sampai hal itu terjadi, bahkan tidak ada seorang pun nanti yang bisa menemukannya. Karena pemikiran itulah, dia sampai lupa kalau sedang merajuk dengan sang suami.
Sementara itu, melihat kebisuan Rachel, Rich bukannya menawarkan bantuan kepada sang istri, tetapi malah duduk di bawah pohon tersebut. Mungkin hanya dengan begini, Rachel akan mau mendengarkan penjelasannya. “Kau mungkin benar, sejak awal aku mengetahui identitasmu yang ternyata adalah putri dari Ben, aku mendekatimu secra perlahan. Tapi, semua itu bukan tanpa alasan.”
Richard duduk dengan menekuk kedua lututnya, dia meraih sebuah daun kering yang ada di sekitar dan merobek menjadi beberapa bagian kecil-kecil. Mungkin baru kali ini, seorang Richard harus menjelaskan tentang hidupnya ke pada orang lain. Setelah sebelumnya segala rasa hanya dia pendam seorang diri. “Kau tahu, aku hidup tanpa bisa di dampingi oleh kedua orang tuaku sejak kecil. Mereka dibantai oleh orang yang tidak pernah aku ketahui siapa, dan apa tujuan utamanya. Tapi aku melihat dengan jelas bagaimana mereka memusnahkan keluargaku hingga tak tersisa.”
Sejenak Richard menghentikan kalimatnya, sedangkan Rachel masih mendengarkan dengan seksama sambil memeluk batang pohon itu. Sesungguhnya dia senidri juga tidak menyangka jika Richard akan menceritakan tentang masa lalunya secepat ini. Namun, Rachel juga tidak berniat untuk menghentikan penjelasan sang suami.
“Jadi maksudmu? Dason?” tanya Rachel seolah tidak percaya, tetapi Richard segera menggeleng kecil.
“Dason mungkin juga hanyalah sebuah pion. Tapi otak dari semua ini adalah Dante, ayahnya. Ayahmu sudah meminta maaf padaku. Dan aku pun menyadari perasaanku padamu tidak sesederhana itu, jika di bandingkan dengan dendam yang selama ini aku pendam. Aku serasa kehilangan arah ketika mendengar kau dibawa oleh mereka.” Lagi-lagi Richard menghentikan kalimatnya. Entah mengapa merangkai kata cinta dan pengakuan terasa begitu sulit untuk keluar dari bibir Richard. Mulutnya seolah kelu saat itu juga, tetapi dia tetap berusaha merangkai kata sebaik mungkin.
“Aku pikir hatiku puas di saat semua rencanaku berjalan dengan lancar. Tapi, tidak. Aku merasa hampir gila setelah kau pergi. Karena itulah aku memutuskan untuk memaafkan ayahmu, dan menikahimu segera. Apa yang aku ajarkan tadi siang, bukanlah semata-mata untuk menyiksamu. Aku hanya ingin kau bisa melindungi dirimu sendiri nanti jika aku tidak berada di sampingmu. Kau tahu, menjadi istriku adalah salah satu posisi paling mematikan di bagimu, dibandingkan dengan di makan buaya rawa di sini.”
Richard berusaha untuk membuat lelucon, tapi tampaknya bercanda dengan urusan hidup dan matai tidaklah membuat Rachel tertawa. “Lalu, apa rencanamu kali ini?”
__ADS_1
“Rencanaku?” Richard berdiri dari posisinya. Dia menepuk celananya yang kotor dan menengadahkan kedua tangannya. “Ayo turun! Aku akan menangkapmu.”
“Apa kau gila? Ini sangat tinggi.” Rachel mengerucutkan bibir untuk sejenak. Sejak awal masalah inilah yang kesulitan dia hadapi. Saat di mana Rachel bisa naik, tetapi tidak berani untuk turun. Hingga harus membuatnya menunggu di atas begitu lama, meskipun sang buaya telah meninggalkannya.
“Tidak apa-apa. Melompatlah kemari! Aku akan menangkapmu.” Richard berusaha untuk meyakinkan sang istri, sedangkan Rachel hanya bisa menelan ludahnya senidiri dengan susah payah. Beberapa kali dia tampak melihat ke bawah. Akan tetapi, jika tidak segera turun, kakinya sudah mulai terasa kram setelah sekian lama berada di atas sana.
Rachel menatap Richard yang penuh keyakinan melihatnya. Dia menggelng dengan cepat dan memehamkan mata lalu melompat begitu saja ke arah sang suami. Setidaknya jika dia terjatuh, maka Richardlah yang akan menjadi alasnya terlebih dahulu.
AKan tetapi, dengan pengamatan yang tepat, tentu saja Richard berhasil menangkap tubuh sang istri dalam dekapannya. “Sudah aman. Bukalah matamu,” ucap Rich melihat wajah Rachel dari dekat.
Perlahan Rachel mulai membuka matanya, tetapi sesaaat kemudian, suara erangan hewan rawa tersebut kembali terdengar di telinga Rachel. Dengan cepat wanita tersebut mengeratkan kedua tangan yang melingkar di leher sang suami. “Hei kenapa kau datang lagi setelah aku turun, hah?’ bentak Rachel pada seekor buaya yang perlahan mendekat ke arah mereka.
“Coco, kau sudah datang. Terima ksih sudah menjaga istriku,” ucap Richard santai.
Sontak Rachel menatap tajam ke arah suaminya. Kedua matanya terbelalak mendengar nama yang Richard sematkan pada hewan buas itu. “Apa tadi kau bilang, Coco?”
Dengan cepat Richard mengangguk. “Namanya Coco.”
Tidak lama kemudian, beberapa anak buah tampak berlari mendekati Rachel dan Richard. “King.”
“Berikan satu sapi untuk Coco. Dia sudah menjaga istriku dengan baik di sini. Patut diberikan hadiah.”
__ADS_1
“Baik, King.”
Setelah memeberikan perintah, Richard berlalu pergi begitu saja dengan Rachel yang masih berada di dalam dekapannya. Untuk waktu yang cukup lama Rachel mangamati garis wajah Richard. Siapa sebenarnya Richard, kenapa tidak henti-hentinya Rachel di buat terkejut dengan banyak sekali sikap pria itu yang tidak pernah Rachel mengerti sebelumnya.