
Rachel dan Richard tiba di apartemen mereka hampir menjelang pagi. Entah berapa banyak wartawan yang menunggu di luar gedung, tetapi karena kaca mobil berwarna hitam membuat kehadiran keduanya tidak disadari. Karena memang mobil yang digunakan oleh Rich merupakan kendaraan yang berada di markasnya, sehingga banyak orang yang tidak mengira, jika target yang mereka cari sesungguhnya ada di dalam kendaraan itu.
Richard perlahan membangunkan Rachel karena tidak ingin para wartawan lainnya yang berkeliaran menyadari kehadiran mereka. Dia juga melepaskan topi di kepalanya dan mengenakan ke pada Rachel.
"Ayo kita pergi. Jangan berisik," ucap Rich ketika perlahan membangunkan Rachel yang bisa tertidur saat itu.
Keduanya lantas bergerak menuju apartemen. Sayangnya ketika baru saja tiba, di ambang pintu dan menutupnya. Sosok pria paruh baya tampak sudah menunggu Rachel di dalam sana.
"Daddy," ucap Rachel terbelalak.
Ekspresi penuh amarah serta kilatan mata yang membara tergambar jelas di wajah Ben. Dia bergegas melangkah maju dan melayangkan tangan, serta mendaratkan sebuah tamparan keras di pipi Richard.
"Berani-beraninya kau memanfaatkan putriku!" Geram Ben.
"Apa yang Daddy lakukan?" teriak Rachel terkejut dan mencoba melindungi Rich dari sang ayah. Dia segera membantu Rich dan menghalangi ayahnya yang tengah emosi saat itu.
Melihat apa yang dilakukan sang putri yang masih membela pria miskin itu, tentu saja membuat Ben semakin murka. "Apa kau tidak sadar dia hanya memanfaatkanmu untuk kepentingannya sendiri? Dasar pria tidak berguna!"
"Cukup, Dad." Rachel sudah begitu lelah dengan masalah tanpa henti yang dia alami hari ini, tetapi mengapa sang ayah malah menyambutnya dengan masalah dan tuduhan baru yang tidak jelas maksud serta tujuannya. Rasa bersalah akan Siska yang terluka karenanya, kini bertambah akibat Rich yang tampaknya juga akan bernasib malang disebabkan olehnya.
"Sekarang kau bahkan sudah berani membentak, Daddy hanya karena pria miskin sepertinya? Apa yang sudah dia berikan kepada mu selain kehancuran, hah? Lihat nasib sial mu sekarang! Kau pikir semua ini akan terjadi jika saja kau mau menuruti perintah Daddy." Ben hendak melayangkan kembali sebuah pukulan ke pada Rachel.
Namun, tangan Richard dengan sigap menghentikannya. "Kau boleh memukulku. Tapi tidak dengan dia," kata Rich datar.
Rachel sontak melihat ke arah mata Richard, apakah saat ini pria itu sedang berusaha melindunginya dari amukan sang ayah lagi. Padahal dia sendiri sedang di salah pahami saat ini.
__ADS_1
"Cih, tidak usah berpura-pura baik di depanku. Jangan kira aku tidak tahu, jika kau mendekati putriku hanya demi ketenaran!" Ben menghempaskan tangan Richard. Dia merogoh ponsel di saku, dan menunjukkan kembali sebuah berita di dalamnya. Di mana di sana dituliskan jika Rachel menikahi seorang office boy dan suka bergonta ganti pasangan. Sebab itulah pertunangan sebelumnya gagal.
"Siapa yang menyuruhmu menghancurkan putriku, hah? Aku bayar tiga kali lipat jangan pernah lagi menunjukkan batang hidungmu di sini!"
Berita pernikahan yang mencuat antara Richard dengan Rachel di tengah berita heboh yang beredar tentu saja hanya dianggap sebagai sebuah settingan belaka. Publik yang geram menganggap Rachel terlalu sadis dan dramatis dalam mencapai popularitas, hingga bersedia merendahkan diri sendiri sebagai seorang wanita. Tentu saja hal itu berhasil menyentuh hati Ben yang merasa tersakiti sebagai seorang ayah.
"Daddy, ini bicara apa?" tanya Rachel yang masih belum memahami arah tuduhan sang ayah.
"Jangan kau pikir Daddy tidak tahu jika dirimu hanya berpura-pura hamil, Rach! Dia tidak mungkin berani menghamilimu karena hanya menginginkan uang." Ben berdecak. "Kau pura-pura suci dengan menolak tawaranku, padahal kau sudah menyiapkan rencana lain untuk meraih keuntungan lebih dari putriku 'kan? Atau orang yang membayarmu untuk memanfaatkan putriku dan menjatuhkanku menawarkan sesuatu yang tidak bisa aku berikan? Katakan berapa yang kau inginkan, aku akan memberikanmu lebih dari pada itu dan tinggalkan putriku."
"Dad,cukup! Kau berlebihan!" Teriak Rachel kesal.
"Kenapa? Kau sendiri tidak sadar sudah di manfaatkan olehnya hanya untuk menghancurkan Daddy, bukan? Gara-gara kalian, nama baik yang aku bangun selama ini hancur dalam sekejap mata. Mau ditaruh di mana wajah Daddy ini, hah."
Rachel menggeleng kecil, tidak mengira ayahnya akan menuduhnya ketika mereka pertama kali bertemu, dibandingkan dengan menanyakan kondisinya saat ini. Padahal jelas, di saat seperti ini Rachel sangat membutuhkan dukungan, tetapi malah tuduhan yang dia dapatkan.
Rachel tidak mampu lagi membendung rasa kecewa akan sikap sang ayah kini mengeluarkan semua kemarahannya. Buliran bening mengalir deras di pipi wanita itu, tetapi malah tamparan keras yang dia dapatkan tanpa Richard bisa menahannya.
"Dasar anak kurang ajar!" Teriak Ben dengan tangan bergetar akhirnya menampar pipi sang putri.
Ben menoleh ke belakang, di mana ada sosok Alex dan beberapa anak buahnya yang juga ada di sana.
"Kalian bawa putriku pergi dari sini, dan berikan pelajaran pada si pembawa sial ini!"
Melihat keraguan dalam diri Alex, Rich memberikan isyarat agar Alex melakukan apa yang diperintahkan Ben. Pria itu pun paham dan menurutinya. "Baik, Tuan."
__ADS_1
Satu orang langsung mengambil alih Rachel dari sisi Richard, sementara dua lainnya memegang tangan Richard agar tidak bisa melawan.
"Hei! Apa yang ingin kalian lakukan, hah? Rich jangan hanya diam saja. Lawan mereka Rich." Rachel berteriak dan memberontak ketika Alex mulai memukul Richard dengan sangat kuat.
"Rich ... lepaskan aku!" Rasa bersalah seketika merasuk dalam diri Rachel. Dia berusaha memberontak sekuat tenaga, tapi sayang tubuhnya terlalu kecil jika di bandingkan anak buah Alex. Baru beberapa saat yang lalu Richard menyelamatkan hidupnya. Kini malah karena dia, Rich harus menerima kemarahan dari sang ayah. "Daddy, hentikan!"
“Bawa dia ke mobil.” Tujuan utama Ben datang kemari memang untuk menjemput sang putri. Meskipun terlihat kejam, tetapi sebagai seorang ayah dia tidak ingin Rachel putus asa akan masalah yang dihadapinya dan berakhir dengan bunuh diri.
Belum lagi kehadiran sosok Richard di samping sang putri membuat hari-harinya merasakan tidak tenang setiap saat. Lebih baik memaksa Rachel pulang di situasi seperti ini, sebelum hal yang tidak dia inginkan terjadi nantinya.
“Tapi, Daddy—" Rachel memberontak, hendak membantu Richard yang hanya diam dihajar oleh Alex. Namun, para pria yang memegangnya terlalu kuat dan berhasil menyeretnya keluar dari apartemennya sendiri.
Sementara itu, Richard yang dihajar habis-habisan hingga tubuhnya penuh lebam kini bersimpuh di lantai.
“Cukup,” ucap Ben memerintah. Dia lantas merendahkan diri dan berjongkok di depan Richard. Tangannya mencengkeram kuat leher Rich dengan tatapan bengis mengerikan. “Selama ini aku masih diam dan membiarkanmu bertingkah bebas hanya karena putriku. Tapi, semua masalah ini hadir karena dirimu dan kau sama sekali tidak bisa mengembalikan semuanya seperti semula. Sudah cukup kesabaran yang aku miliki untuk pria tidak berguna sepertimu. Jangan salahkan aku yang berbuat kasar! Salahkan dirimu sendiri kenapa tidak menerima tawaranku untuk segera pergi dari sini. Mungkin sebaiknya kau menurut, maka aku tidak perlu memperlakukanmu seperti ini.”
Ben menghempaskan cengkeramannya, hingga Richard pun terbatuk kecil, dan mengeluarkan darah dari mulutnya. Namun, seperti biasa, Richard tidak akan melawan ketika di hina seperti ini, meskipun kedua tangannya terkepal dengan sangat kuat. Karena hanya dengan cara inilah, Rachel akan semakin membenci ayahnya sendiri dan mengiba kepadanya, sedangkan Ben malah tidak menyadari jika dirinya sudah masuk ke dalam rencana panjang Richard.
“Kita pergi!” ucap Ben segera berdiri dari posisinya dan melangkah keluar apartemen dengan begitu bangga.
Sementar itu, Alex yang msih berada di ruang sedikit membungkuk hormat sebagai tanda permintaan maaf, tetapi dengan segera Richard mengibas kecil tangannya.
Mereka semua lantas keluar dari apartemen tersebut. Suara pintu yang ditutup membuat Richard langsung mengumpat kasar.
“Sialan! Kenapa dia memukulku keras sekali.” Rich berusaha berdiri sendiri sambil mengusap sudut bibir yang penuh dengan lebam, luka robek, dan sedikit darah. Dengan susah payah dia merebahkan diri di sofa sambil memegang perutnya. Lelah sekali harus berpura-pura lemah hari ini. Apalagi kepuasannya untuk menyiksa belum juga terlaksana.
__ADS_1
“Lebih baik aku tidur dulu. Baru setelah itu kembali ke markas dan bersenang-senang. Mungkin wanita sudah tidak sabar lagi menunggu kejutan yang aku siapkan."