
Dua kubu saling menyerang satu sama lain. Pertarungan yang terjadi di masa lalu kini terulang kembali. Hanya karena harta, sebuah keluarga yang awalnya harmonis harus mengalami nasib tragis. Setelah sekian tahun lamanya, akhirnya Diana yang terpisah dengan sang anak kini berhasil di selamatkan.
Diana berjalan dengan di papah oleh Regina. Richard yang melihatnya dari kejauhan tidak berhenti untuk menatapnya meskipun hanya sekedar untuk berkedip. Keruan yang terpendam sekian tahun, karena mengira sang ibu sudah meninggalkannya, seolah terbayar lunas di pertemuan itu.
Tertatih-tatih Richard bergerak maju, tidak ingin hanya berdiam diri sebab ingin segera memeluk sang ibunda. “Mama.” Tanpa ragu, Richard memeluk tubuh yang penuh dengan luka, kurus kerontang dan tidak lagi terawat itu. Air matanya tumpah sudah, seluruh tubuh Rich bergetar bak tersambar sengatan listrik yang tengah kongslet. Mulutnya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun untuk mengutarakan rasa bahagianya saat ini. Dia terdiam, memeluk erat tubuh kotor yang selalu dia rindukan setiap harinya itu.
“Rich, Mama tidak bisa bernapas,” ucap Diana merasakan pelukan Richard semakin erat di tubuhnya.
“Maafkan Rich, Richard terlalu bahagia.” Richard mengurai pelukan. Pria itu menghapus air mata yang membasahi pipi tanpa dia minta sambil menunduk malu. Dia sudah dewasa, tetapi mengapa peristiwa hari ini semua membuatnya menumpahkan air mata.
__ADS_1
“Kau sudah dewasa, Nak,” ucap Diana membelai lembut pipi sang putra yang kini lebih tinggi dari dirinya.
Tidak pernah terbayangkan bagi Diana, akan ada hari membahagiakan di mana dia bisa bertemu dengan Richard kembali. Setelah sebelumnya berulang kali wanita tersebut hampir menyerah dan berharap agar ajal menjemputnya, kini semua rasa sakit seolah terbayarkan tunai.
“Syukurlah kalian sudah berkumpul menjadi satu. Aku tidak perlu repot-repot lagi membunuh kalian satu per satu, lebih baik kalian berangkat ke neraka bersama-sama detik ini juga.” Dengan brutal dan membabi buta, Dante menodongkan senjatanya. Dia menekan pelatuk senjata api di tangannya berulang kali ke arah Diana dan juga Richard.
“Tidak!” Menyadari situasi tidak terduga, Rachel segera bergerak menggunakan tubuhnya sendiri untuk melindungi sepasang ibu dan anak yang baru saja bertemu tersebut. Alhasil dua peluru yang melesat dengan kecepatan tinggi pun bersarang di punggungnya. “Akh.”
“Bertahun-tahun aku selalu berusaha meraih apa yang aku inginkan. Tapi semuanya, hanya berakhir seperti ini.” Dante terbatuk sekali, mulutnya pun mengeluarkan darah yang tidak sedikit, sebelum akhirnya pria itu pun tewas dengan kedua bola mata yang terbuka lebar, seolah belum menerima takdir hidupnya selama ini.
__ADS_1
“Rachel.” Tidak ada waktu untuk melihat bagaimana Dante mati. Richard kembali terpukul karena sang istri kini lemas tidak bedaya. Dia memeluk tubuh kecil yang kini di dalam dekapannya. Darah terus mengalir tanpa henti, tetapi Rachel masih saja menatap Richard dengan penuh cinta.
Dengan wajah yang mulai pucat pasi, Rachel mengulurkan tanggannya untuk membelai pipi sang suami. “Pertemuan kita, mungkin di awali dengan sebuah kesalahan. Tapi aku tidak pernah menyesal mencintaimu dan menerimamu sebagai suamiku.” Rachel menghentikan kalimatnya karena merasa deru napas semakin sulit dia rasakan.
“Sudah jangan berbicara omong kosong lagi. Kau pasti bisa selamat. Aku akan membawamu ke rumah sakit.” Richard hendak membopong tubuh sang istri.
Akan tetapi, wanita tersebut malah menghentikannya. Dia menggelengkan kepala perlahan lalu berkata, “Tidak. Waktuku tidak banyak. Aku tidak ingin membuangnya. Kau harus percaya, aku tidak pernah melakukan apapun pada Dasaon seperti yang kau pikirkan sebelumnya.”
“Aku percaya. Aku percaya, maafkan aku meragukanmu saat itu,” ucap Richard menggenggam erat tangan Rachel yang semakin lemas.
__ADS_1
“Semoga di kehidupan yang akan datang. Kita masih ditakdirkan menjadi suami istri. Dengan pertemuan yang lebih indah dari sebelumnya.”
“Tidak. Tidak. Rachel, kau harus kuat. Jangan tinggalkan aku. Aku tidak mau kehilangan dirimu. Rachel!!”