
Sebagai Office Boy, sudah menjadi tugas Rich untuk meringankan beban pekerjaan karyawan lainnya. Kali ini, tim mereka harus membantu melayani, seorang model bintang iklan yang akan menjadi brand ambassador produk baru perusahaan.
Sayangnya, artis tersebut terkenal dengan sikapnya yang sulit di atur dan suka semena-mena. Entah mengapa perusahaan sebesar ini malah memilih bekerja sama dengan orang seperti itu.
Bukan hal yang mudah untuk menghadapi artis papan atas dengan ketenaran yang tengah melejit. Rich dan Ramon tidak hanya membantu keperluan mereka di perusahaan, tetapi juga harus menyiapkan makan siang sesuai dengan selera mereka. Sayangnya, restoran yang diinginkan cukup jauh dari perusahaan, sesuai dengan permintaan sang artis. Keduanya bahkan harus mendatangi tempat itu sendiri dan tidak boleh menggunakan jasa pesan antar.
“Artis memang berbeda. Mereka selalu saja semena-mena dan merasa seperti Raja pemilik segalanya. Jika tidak terima dengan pelayanan, tinggal upload di sosial media dan viral hanya dalam hitungan detik. Maka bisa di pastikan kita akan yang akan mati di tangan penggemarnya," gumam Ramon menggerutu sambil membawa beberapa plastik berisikan box makanan di kedua tangannya.
“Sudah berapa lama kau bekerja di sini?” tanya Rich. Biasanya dia tidak peduli dengan urusan orang lain, entah mengapa menjadi orang yang berada di bawah membuatnya menyadari betapa sulitnya pekerjaan ini. Bahkan upah yang mereka terima juga tidak sebanding dengan pekerja-pekerja lainnya yang berada di kantor, sedangkan tugas mereka terasa cukup melelahkan. Belum lagi harus terima menjadi sasaran kemarahan jika salah melakukan hal sekecil apa pun.
“Belum lama. Itu semua juga karena ayahku. Sebelumnya aku adalah seorang pengusaha. Tapi, ketika aku meminta ayah agar tidak bekerja dia malah menolaknya. Aku khawatir, dia sudah terlalu tua untuk bekerja. Namanya juga pekerja rendahan, tidak ada yang namanya uang pensiun yang akan menjamin kehidupan kami ke depannya. Meskipun aku masih mampu membiayai hidupnya, tetap saja dia ngotot ingin bekerja, jadi aku ikut bekerja di sini agar bisa membantunya,” ucap Ramon menceritakan tentang dirinya.
“Pengusaha? Lalu kenapa kau memilih pekerjaan seperti ini. Bukankah uang yang kamu hasilkan lebih banyak dari gaji di sini?” tanya Rich heran.
“Iya, memang benar begitu di awal aku merintis usaha. Tapi akhir-akhir ini usahaku juga sedang tidak berjalan dengan baik. Ayahku pun sedang sakit saat itu dan butuh biaya tinggi untuk berobat. Alhasil karena tidak punya modal lainnya. Aku menjual gerobakku untuk menebus biaya berobat ayahku.”
“Gerobak? Maksudmu?” tanya Rich sambil mengerutkan dahi.
“Iya, aku adalah pengusaha gorengan. Tapi, di negara ini? Tidak banyak orang yang suka dengan gorengan karena terlalu berminyak. Belum lagi itu hanya diperuntukkan kalangan rendah sepertiku. Jika tidak segera banting setir, kapan aku bisa kaya. Setidaknya dari gaji di sini aku masih bisa makan, dan nantinya aku bisa memulai usaha lainnya yang lebih baik. Kumpulin modal saja dulu, mumpung belum married. Ya nggak?”
Senyuman di wajah Ramon tidak begitu nyaman di mata Rich. Bukan karena kalimatnya, melainkan deretan gigi hitam karena Ramon yang terlalu banyak merokok yang terselip di antara sela-sela gigi.
Tidak lama ketika keduanya berjalan menuju ruangan, seorang pria tua tampak berjalan ke arah mereka dengan tergopoh-gopoh.
“Mau ku beritahu satu rahasia?” Ucap Ramon.
Rich mengernyitkan dahi, apa pentingnya mengetahui rahasia orang lain.
__ADS_1
“Dialah ayah yang aku maksudkan. Tapi jangan bilang sama siapa pun. Dia cukup malu memiliki anak pemalas sepertiku. Lagi pula nanti aku dikira diterima bekerja di sini gara-gara dia. Aku tidak mau di anggap karyawan instan.”
Bukan fakta jika salah satu rekan mereka adalah ayah dari Ramon yang membuat Richard terkejut, melainkan kenyataan jika perusahaan ini ternyata terlalu kejam menerima pekerja yang usianya sudah cukup tua. Lagi pula apa yang perlu dibanggakan dari posisi office boy. Kecuali ayahnya adalah pemilik perusahaan, barulah itu sebuah rahasia besar.
Namun, hal itu tentu saja mustahil karena pemilik perusahaan ini, tidak lain adalah keluarga Richard sendiri.
Rich menggeleng kecil. Awalnya dia sendiri bingung kenapa memiliki rekan kerja setua itu di tim. Akan tetapi, kini dia mengerti, mereka hanya bekerja untuk menyambung hidup. Terlebih lagi ayah Ramon terkadang batuk-batuk saat bekerja.
Hal itu menandakan kalau sebenarnya pria tersebut tidaklah dalam keadaan sehat, seharusnya pria itu sudah menikmati masa tuanya dengan santai di rumah. Namun, malah tetap melakukan pekerjaan berat sebagai tanggung jawab.
“Kebijakan macam apa yang Paman berikan untuk kesejahteraan karyawannya di sini. Seharusnya dialah yang berpura-pura menjadi orang miskin supaya tahu kondisi karyawannya,” batin Richard sambil menggeleng kecil.
“Kenapa kalian lama sekali? Mereka sudah menunggu dari tadi,” keluh pria tua itu. Tangannya mengambil alih satu kantong makanan dan segera membawanya ke dalam ruangan.
Mereka pun lantas membagikan makanan tersebut pada setiap orang yang ada di ruangan itu, termasuk sang aktris yang terlihat masih membaca sesuatu. Namun, secara tak sengaja karena tidak melihat, dia malah menyenggol segelas kopi hingga tumpah ke tubuhnya sendiri.
Semua orang sontak menoleh ke arah sumber keributan. Di mana Richard lah yang menjadi sasaran utama kemarahan artis tersebut karena posisi keduanya yang begitu dekat. Padahal jelas-jelas bukan Rich pelakunya.
“Apa kau tahu berapa harga bajuku ini?” teriaknya sambil mengibaskan tangan di mana tumpahan kopi membekas di sana.
“Tapi saya —"
“Dengan gajimu seumur hidup kau bahkan tidak akan mampu untuk menggantinya. Menyebalkan, padahal ini baju kesayanganku," gerutu sang artis sambil melihat pakaiannya tanpa membiarkan Richard menjelaskan terlebih dahulu.
Belum sempat Richard membela diri, artis tersebut sudah memaki terus. Padahal jelas-jelas bukan dia yang menumpahkan kopi tersebut, melainkan sang artis itu sendiri yang tidak sengaja karena terlalu fokus dengan ponsel di tangannya.
"Maaf Nona. Dia karyawan baru. Tidak sengaja melakukan kesalahan." Ayah Ramon berusaha membantu artis tersebut dengan tangan yang memegang tisu, tetapi belum sempat benda tersebut mendekat, wanita itu malah mendorong sang pria tua, hingga jatuh tersungkur menabrak meja.
__ADS_1
"Hei! Apa-apaan kau ini? Kau mau cari-cari kesempatan melecehkan aku ya?" Teriak sang artis menolak bantuan seolah jijik dengan pegawai rendahan.
“Ayah.” Ramon segera bergerak untuk membantu sang ayah, sedangkan Richard tampak memejamkan mata sambil menghela napas sedalam-dalamnya. Kenapa hari-harinya selalu saja dipenuhi dengan masalah, menjadi miskin memang merepotkan sekaligus menyebalkan secara bersamaan.
“Bukankah apa yang kau lakukan sudah keterlaluan?’’ tanya Rich dengan nada dingin dan datar.
“Kenapa? Kau tidak terima dengan apa yang aku lakukan?” Bukannya menyesal dan bersimpati pada ayah Ramon yang mulai memegang dada, artis tersebut malah beberapa kali mendorong dada bidang Rich juga dengan kasar, seakan menantangnya.
“Hanya pegawai rendah seperti kalian yang tak tahu diri dan posisi. Berani-beraninya berencana berbuat tidak senonoh padaku. Lihat saja, aku pasti akan meminta manager untuk memecat kalian.” Tujuknya dengan geram pada ketiga office boy itu, sedangkan karyawan lainnya tak berani membela karena takut terkena imbasnya juga. Lagi pula apa yang sebenarnya terjadi tidak ada yang melihat secara langsung kejadian awalnya.
“Cukup!” Suara bariton Richard menggelegar memenuhi ruangan. Sang artis sontak terkejut akan hal itu karena tidak pernah ada yang berani padanya sebelum ini. Akan tetapi, ego yang tinggi menyebabkan dia enggan untuk mengalah, apalagi meminta maaf.
“Kau! Berani membentakku?” Sang aris hendak melayangkan tangan, guna menampar pipi sebelah kanan Rich.
Sayangnya, tangan Richard tentu saja lebih cepat dalam bergerak menghentikannya. “Jangan kau pikir kau kaya bisa melakukan apapun semaumu di sini, Nona,” ucapnya dingin.
“Ayah … ayah.” Suara panik dan khawatir dari Ramon mengalihkan perhatian Richard .
Dia mengempaskan tangan wanita itu dan segera bergerak ke arah rekan kerjanya tersebut. “Cepat bawa ayahmu ke rumah sakit!” perintah Richard pada Ramon.
“Tapi, bagaimana denganmu dan pekerjaan kita?” tanya Ramon bingung.
“Ayahmu lebih penting. Semua orang di sini juga bisa menjadi saksi kalau sampai terjadi apa-apa pada ayahmu. Maka dialah tersangka utamanya,” kata Richard santai sambil membantu mengangkat tubuh ayah Ramon ke punggung pria itu.
Mendengar ancaman Office Boy di depannya, tentu saja sang artis ketar-ketir. Bagaimana jika memang sampai terjadi sesuatu pada pria tua itu karena dia mendorongnya tadi. bisa-bisa karirnya hancur dalam sekejap mata. “A—aku tidak melakukan apapun. Jangan asal menuduh!”
“Kita lihat saja nanti siapa yang akan diputuskan bersalah!” kata Richard dengan mata nyalang, dan melirik kamera pengawas di sudut ruang. Dia lantas berlalu pergi membantu Ramon, sedangkan sang artis terduduk lemas melihat arah lirikan Richard pada CCTV di ruangan itu.
__ADS_1