My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 65


__ADS_3

Demi melampiaskan segala kekesalan, Richard pulang ke apartemen miliknya. Posisinya sudah kembali ke tempat yang seharusnya, begitu pula dengan segala fasilitas yang dimiliki. Dia tidak perlu lagi menumpang hidup pada Rachel. Bahkan dengan mudah menyediakan tempat tinggal untuk Ramon yang awalnya hanya tinggal di tempat kumuh dan tanpa sanak saudara setelah kematian sang ayah.


Richard yang tengah terbakar dengan api cemburu, melampiaskan kekesalan pada samsak yang tergantung di hadapannya saat ini. Keringat bercucuran dari atas kepala Rich, seluruh tubuhnya basah hingga merembas ke pakaian yang digunakan. Tatapan nyalang menimbulkan guratan merah di matanya seolah bersiap menerkam siapa saja saat ini.


Ramon yang menyaksikan hanya menggeleng kecil melihat tingkah Richard. Sudah dua jam lamanya Rich terus mengayunkan tangan untuk mendaratkan bogeman di samsak yang tidak bersalah itu.


“Cih, sampai kapan dia akan seperti itu,” gumam Ramon di ambang pintu ruang gym yang memang tersedia di apartemen Rich.


Hingga tidak lama kemudian, suara notifikasi ponsel, menghentikan aktivitas Richard saat itu. Dia berhenti sejenak untuk meminum air dalam botol dan membuka siapa yang memberikan kabar. Berhubung dia sudah mendesak anak buahnya untuk segera menemukan Rachel, mungkin mereka sudah mendapatkan informasinya.


Namun, dahi Rich seketika mengkerut ketika sebuah nomor tidak dikenallah yang ternyata mengirimkan pesan.


Air mineral sontak menyembur dari mulutnya dengan sangat kuat sedangkan. Kedua bola mata Rich terbelalak dengan sempurna, menatap nyalang layar yang menunjukkan sebuah gambar di ponsel yang membuatnya semakin hangus. Tangan Rich langsung bergetar hebat meremas benda pipih tersebut, melihat sosok yang dia cari tengah berada di punggung orang yang paling dihindarinya. “Rachel,” geram Rich.


Richard membanting botol mineral di tangan kanannya dengan sangat kuat. Dia segera menyambar handuk kecil yang sudah tersedia untuk mengelap keringat dan melangkah keluar dengan amarah yang semakin menggebu.


“Ikuti aku!” ucap Rich ketika melewati Ramon yang tampak tersenyum heran melihat tingkah atasannya itu.


Tanpa ragu, Richard dan Ramon bergerak menuju markas miliknya. Berkedok rumah bordil dengan persenjataan lengkap, Richard memerintahkan anak buahnya untuk melacak lokasi orang yang mengirimkan pesan tersebut. Dan tanpa ragu, mereka pun bersiap melakukan penyerangan langsung, tanpa menunggu keesokan harinya.


“Kita berangkat sekarang!” tegas Richard.


“Cemburu memang menakutkan, di saat yang lain bisa tidur nyenyak sambil memeluk guling kesayangan mereka. Kita malah harus bergerak untuk mencari calon istri bos yang dibawa lari pria lain,” bisik Ramon pada rekan di sampingnya dan dengan suara yang sengaja sedikit ditinggikan agar Richard mendengarnya.

__ADS_1


Di sisi lain, Dason yang saat itu terlelap setelah lelah seharian bekerja, dikejutkan dengan ketukan dari luar pintu kamarnya. Awalnya, dia mmebiarkannya saja, tetapi lambat laun malah semakin keras memekakkan telinga.


“Ish, awas saja kalau sampai tidak penting. Akan aku bunuh kau!” geram Dason dengan malas beranjak dari posisinya dan membuka pintu, setelah melihat jam di atas nakas masih menunjukkan pukul tiga pagi. “Ada apa?” tanya Dason pada pria di hadapannya yang langsung menodongkan ujung sebuah pistol tepat di dahi Dason.


Sontak kedua mata Dason terbuka dengan sempurna, menatap penampakan di depannya. Richard dengan wajah datar menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk sebuah seringai kemenangan yang tidak pernah diduga oleh Dason. “Selamat pagi, Tuan Muda Dason,” sapa Richard.


“Kau? Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Dason sedikit terkejut.


“Mengambil kembali apa yang seharusnya jadi milikku.” Ujar Rich dingin.


Tidak lama kemudian, terlihat Ramon di sisi lain tempat keduanya berdiri saat ini, dengan Rachel yang terlelap bak orang pingsan di punggungnya. “Kami sudah menemukannya,” ucap Ramon ketika keluar dari sebuah ruangan.


Sembuah tembakan tanpa ragu langsung Richard berikan tepat di telapak kaki Dason menggelegar memenuhi indera pendengaran, menyebabkan pria tersebut menjerit kesakitan. “Akh.”


Setelah memberikan peringatan, Richard bergerak mengikuti langkah Ramon yang menuruni tangga. Meninggalkan Dason yang meringis menahan sakit sambil mengepalkan kedua tangannya.


Di bawah, Rich tampak berhenti sejenak tepat di samping wanita yang kini berlutut di antara para mayat yang lehernya tersayat. “Akh, satu lagi. Terima kasih karena kau sudah menampung seorang pengkhianat. Berkat dia aku tidak perlu bersusah payah mencari-cari di mana kalian,” ucap Rich sebelum dia dan beberapa anak buahnya keluar dari villa itu.


Richard dan anak buahnya yang terbiasa bertindak sebagai pembunuh bayaran tentu saja sangat mudah untuk bergerak tanpa jejak. Dia bahkan bisa, menyerang Dason tanpa lawannya mampu bersiap meskipun hanya untuk mengambil serep nyawa. Karena itulah, kehadiran Rich sama sekali tidak terdeteksi dan mereka sadari, sebab dia dan anak buahnya memang bergerak dengan sangat hari-hati.


Sementara itu, Dason yang mendengar akhir kata Rich sebelum pergi dari atas tampak melirik tajam ke arah Celine saat ini.


“Pastikan wanita itu jangan sampai kabur!” perintah Dason pada para pelayan yang masih hidup, sedangkan para pengawal lainnya yang memberontak dan berusaha melawan Richard tadi, sudah terkapar tidak berdaya berserakan di lantai dengan nyawa melayang tentunya.

__ADS_1


Pagi hari, setelah selesai mengobati luka, Dason bergerak ke sebuah gudang di villa. Di mana Celine sudah ada di sana dengan tubuh terikat kuat. Dason duduk di depan wanita tersebut dengan tatapan murka yang tidak pernah dia tunjukkan selama ini. “Katakan apa yang kau lakukan hingga mereka bisa menemukan kita?”


“A—aku tidak melakukan apa pun,” ucap celine berusaha membela diri dan berharap Dason mau mempercayainya. “Kau harus percaya padaku, Dason. Aku sudah mengikutimu dan menjadi pelayanmu selama ini. Bagaimana bisa aku dengan tega mengkhianatimu?”


Takut, tentu saja Celine takut saat ini. Dia tidak menyangka jika Richard akan datang secepat itu dan dengan cara yang ekstrem pula. Awalnya, Celine hanya ingin memberikan pria tersebut sedikit pelajaran . Akan tetapi, kini malah nyawanya sendiri yang kembali menjadi taruhan.


Sejenak Dason memejamkan mata, dia bukan tidak tahu jika selama ini Celine selalu terlihat cemburu karena sikap yang Dason berikan antara Celine dan Rachel jelas sangat berseberangan. Wanita di hadapannya juga selalu saja mengusik Rachel, tetapi Dason tidak pernah bertindak tegas sebelumnya karena merasa itu hal baik. Di mana Celine selalu memprovokasi seseuatu yang berhubungan dengan Richard, bukan dirinya.


Akan tetapi, Dason tidak menyangka. Jika orang yang dia selamatkan kini menjadi boomerang bagi dirinya sendiri. “Berikan ponselnya padaku!”


Dason menengadahkan tangan pada pelayan di belakangnya. Jemari Dason bergerak membuka aplikasi pesan yang tersedia di sana. Sayangnya, memang dia tidak menemukan apapun. Mungkin karena Celine sudah menghapusnya terlebih dahulu.


Namun, sesaat setelah membuka galeri dan melihat foto di mana dirinya tengah menggendong Rachel tadi. Dason seketika murka dan berdiri dari posisinya. Dia membanting ponsel tersebut ke lantai hingga hancur berkeping-keping. Tangannya langsung terulur mencekik leher Celine dengan sangat kuat.


“Berani-berani kau mengambil foto kami diam-diam, hah! Kau pasti sudah mengirimkan pesan pada Richard ‘kan? Dasar bodoh!” amarah yang menggebu membuat Dason tidak dapat lagi mengontrol emosinya. Semakin lama cekeraman itu semakin kuat, hingga rona di wajah Celine pun berubah menjadi merah padam.


Celine tidak mampu untuk menjawab apalagi membebaskan diri dari tangan Dason. Napasnya seolah tercekat saat itu juga, hingga akhirnya wanita tersebut tidak mampu lagi menahan kemurkaan Dason dan terkulai lemas begitu saja.


Deru napas tidak beraturan terdengar begitu jelas dari cara Dason menghirup oksigen. Sisi lain yang tidak pernah dia tunjukkan sebelumnya kembali hadir dalam diri pria tersebut. Baru kemarin Dason merasakan bahagia bisa bersama Rachel, kini dirinya harus kembali kehilangan wanita tersebut akibat kecerobohan Celine. “Bereskan dia!” perintah Dason pada pelayan yang berdiri di belakangnya.


Dason keluar dari gudang tersebut dengan susah payah. Kaki yang masih terluka menyebabkan dia kesulitan untuk melangkah. Sejenak dia berhenti untuk menatap perban yang membalut telapaknya itu. Hanya tersisa beberapa orang saja di villa itu, sementara yang lainnya tewas di tangan Richard.


“Akan aku pastikan. Dia kan kembali ke pelukanku secepat mungkin.” Janji Dason pada diri sendiri, untuk membalas Richard dengan kedua tangan yang terkepal kuat mengobarkan bendera balas dendam yang berkibar di matanya.

__ADS_1


__ADS_2