
"Kau sudah bangun?"
Suara halus seorang wanita di depan cermin sontak mengejutkan Richard dari tidurnya. Lagi-lagi dia mengecek pakaian yang ternyata masih melekat di tubuh. Dia pun bernapas lega. Syukurlah, sepertinya semalam tidak terjadi apapun di antara mereka lagi.
"Kenapa kita bisa berada di sini?" tanya Richard bingung.
“Seharusnya aku yang menanyakan hal itu. Bukan kau.” Dengan santai Rachel mengeringkan rambutnya di depan Rich. Bak pasangan suami istri yang tinggal dalam satu kamar yang sama, tidak seperti sebelumnya di mana dia segera melarikan diri sebelum pria yang asing baginya itu terbangun.
Sementara itu, Rich memijit pelipis perlahan sambil mengingat apa yang sebenarnya terjadi malam tadi. Akh, dia hanya tidak tahu harus mengantarkan ke mana wanita cerewet itu, jadinya dia memilih untuk menyewa hotel. Namun, ketika Rich hendak pergi, Rachel yang mabuk berat menahannya, hingga dia pun ikut tidur di samping Rachel karena sudah terlalu lelah.
“Bagaimana dengan tawaranku semalam? Berapa yang kau inginkan?” tanya Rachel langsung pada intinya dan duduk di samping Rich. Meskipun keduanya berbincang dalam keadaan mabuk semalam, tetapi saran yang diberikan Rich terpatri dengan jelas di benak Rach. Daripada mencari lelaki lain, lebih baik menawarkan pada pria yang kini bersamanya. Toh, keluarganya tidak akan tahu siapa pria ini karena mereka juga baru bertemu.
Rich sedikit memindah posisi duduknya. “Aku tidak minat!” Dia menyibakan selimut dan beranjak dari posisinya.
“Sepuluh juta dollar,” ucap Rachel berusaha menghentikan gerak Rich dan berhasil.
__ADS_1
Pria itu sedikit memiringkan kepala. Apakah wanita tersebut sekaya itu? Jika memang betul, bukankah dengan begini Rich tak perlu bersusah payah untuk hidup miskin seperti yang diminta pamannya. Dia hanya akan berpura-pura kesusahan nanti di hadapan Reymond, sedangkan faktanya dia pun memiliki uang yang banyak.
Terlebih lagi, dengan adanya wanita itu, dia bisa memberikan alasan yang tepat kepada sang paman tanpa harus membongkar siapa dirinya yang sesungguhnya.
Sebuah seringai licik terlukis di wajah Rich. “Mari kita lihat, seberapa kaya dirimu,” batin Rich. “Lima puluh juta dollar," ucapnya tanpa ragu.
“Apa kau gila, hah?” bentak Rachel. Bagaimana bisa seorang pelayan bar memerasnya dengan cara yang begitu licik. Lima puluh juta dollar tentunya bukanlah nominal yang sedikit baginya, apalagi karirnya baru saja menanjak. Haruskah dia melakukan pesugihan hanya untuk menyewa suami bayaran?
“Tidak!” Rich mencari pena dan kertas, menuliskan nominal yang disebutkan tadi sebagai pertanda jika Rachel tidak salah mendengarnya. “Aku bersedia menjadi suami bayaranmu, asalkan kau membayarku sesuai dengan nominal yang tercantum di sana. Kalau kau tidak mau, kau bisa mencari pria lainnya di luar sana.” tegas Richard lantas melanjutkan langkah untuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Sambil bermain game dan membuang racun di dalam perut, ponsel Rich tiba-tiba saja menunjukkan sebuah notifikasi pesan dari pamannya. Di mana pesan tersebut memperingatkannya, jika dalam tiga hari Rich tidak masuk bekerja, maka haknya dalam keluarga Days akan di hapus sepenuhnya.
“Dasar bujang lapuk sialan!” umpat Rich menyumpah pamannya sendiri dan hendak membanting handphone, tetapi tidak jadi. Hanya ponsel itulah satu-satunya benda berharga yang dia miliki saat ini.
Sesaat setelah membersihkan diri, Rich keluar dengan sudah berpakaian rapi. Tampak Rachel masih duduk di posisi sebelumya sambil menuliskan secarik kertas perjanjian. Setelah berpikir begitu lama, akhirnya Rachel memilih untuk memenuhi keinginan Rich, asalkan dia tidak jadi istri ke sepuluh pengusaha tua yang tidak tahu diri itu.
__ADS_1
“Baiklah! Aku setuju membayarmu sebanyak itu. Tapi dalam jangka waktu satu tahun. Sebagai uang muka aku akan memberikan sepuluh juta dollar terlebih dahulu, hanya ini yang aku miliki. Sisanya akan ku kirimkan secara bertahap, sesuai dengan kinerjamu. Aku tidak ingin membuang-buang uang, tapi ternyata kau tidak becus dalam mengendalikan keluargaku dan membawa lari uangku.” Jelas Rachel menyodorkan selembar kertas berisikan syarat yang dia inginkan pada Rich.
Rich membaca setiap baris kalimat yang diberikan Rachel. Kenapa sejak kemarin dia harus selalu dihadapkan dengan surat perjanjian. Sungguh menyebalkan.
"Satu hal yang harus kau tahu. Pria tua bakotan itu sangat sulit untuk disingkirkan. Dia seperti parasit yang selalu berusaha membujuk Daddyku dengan segala cara. Aku harap kau bisa membantuku menyingkirkannya."
Rich hanya mengangguk paham. Hanya menjadi suami pura-pura apa susahnya. Lagi pula, selama ini tidak ada lawan yang tidak bisa dia singkirkan. Lihat saja nanti.
“Kau tidak ingin tahu apa pekerjaanku? Bagaimana kalau kau malu mengenalkan aku pada keluargamu nanti,” ucap Rich setelah membaca tulisan terakhir dalam kertas itu.
“Tidak! Berikan saja kartu identitasmu,” pinta Rachel sambil menengadahkan tangan dan dia sendiri pun menyerahkan kartu identitas. "Setidaknya kau bukanlah pria kaya yang akan mengaturku seenak jidatmu."
Dari nada bicara Rachel yang sinis, Rich cukup terkejut akan penuturan wanita itu. “Kau membenci pria kaya? Lalu kenapa kau memintaku menjadi suami bayaranmu? Tidakkah kau berpikir jika aku ini kaya?”
“Cih, jangan mengada. Aku jelas sudah mengingat siapa dirimu. Kau hanyalah seorang gigolo di Vipura, jangan kau pikir karena pakaianmu semalam bermerk bisa mengubah penampilanmu yang sebenarnya hanyalah seorang pelayan! Tak perlu malu,” Rachel sedikit melirik Rich dari atas sampai bawah.
__ADS_1