My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 60:


__ADS_3

Setelah meninggalkan kediaman Ben, dengan santai Richard berniat bergerak menuju tempat di mana Alex dan anak buahnya berada. Dia menghubungi pria tersebut terlebih dahulu sambil mengemudi, siapa tahu, Ben sedang membawa Alex bersamanya saat ini.


Tidak butuh waktu yang lama, sambungan telepon pun terhubung, dan suara bariton Alex di seberang sana, terdengar dengan jelas di telinga Richard. “Hallo.”


“Kau bersama dengan Ben?” tanya Richard tanpa basa-basi.


“Tidak. Dia pergi bersama beberapa anak buahku,” jawab Alex di seberang panggilan.


“Ke mana?”


“Kediaman Dante,” jawab Alex. Tidak lama kemudian, terdengar di telinga Richard ada seseorang lainnya datang menghampiri Alex. “Apa?”


Suara Alex yang terdengar panik cukup mengejutkan Richard. Apakah gerangan yang terjadi di seberang. “Apa terjadi sesuatu?” tanya Richard memastikan.


“Ben sedang dalam perjalanan dibawa ke rumah sakit oleh anak buahku,” jawab Alex yang tampaknya mulai bergerak.


“Kirimkan alamat rumah sakitnya padaku! Aku akan ke sana.” Tanpa membuang waktu, Richard mematikan sambungan telepon begitu saja dan memutar balik arah mobilnya. Dia tidak bisa bertindak gegabah di situasi seperti ini.


Akan tetapi, dalam hati Richard tentu bertanya-tanya. Bagaimana bisa seorang Ben terluka ketika mendatangi kandangnya sendiri. Mungkinkah keduanya sudah berselisih sebelumnya, mengingat di mana Ben tampaknya juga tidak kembali berurusan dengan pria itu ketika mengajukan proyek perusahaan, dan malah memilih bekerja sama dengan Dday Holdings yang jelas-jelas merupakan lawan Dante.


“Sudah ku duga, kalianlah orang yang aku cari,” gumam Richard sambil memutar setirnya.


Sementara itu, di suatu sisi daerah lainnya. Seorang wanita tengah duduk di sebuah helikopter sambil melihat ke mana pria di sampingnya akan membawanya pergi. Meskipun, ada rasa ketakutan yang luar biasa, tetapi dia yakin tidak akan terjadi sesuatu yang buruk pada dirinya, setidaknya tidak untuk hari ini.


Dia tidak boleh terlihat lemah, apalagi sampai harus menangis di dapan lawan yang sepertinya merupakan musuh dari Richard itu.

__ADS_1


Rachel yang baru selesai syuting, lagi-lagi harus mengalami pahitnya penculikan. Namun, berbeda dari sebelumnya yang langsung bertindak brutal. Mereka bertindak rapi, dengan menipu Rachel sejak awal. Bukan hanya mengaku jika mereka adalah orang suruhan Richard yang ingin memberikan kejutan, tetapi juga memberikan alasan yang meyakinkan hingga Rachel yang berniat menghubungi Rich terlebih dahulu pun, kembali mengurungkan niatnya. Namun, sayangnya ternyata semua itu hanyalah sebuah tipuan semata.


Di samping tempat duduk Rachel, seorang pria dengan usia yang tampaknya tidak berbeda jauh dari Richard tampak memandang ke arah luar kaca. Hanya ada deru mesin helikopter yang terdengar pada situasi tersebut, karena walaupun mulut Rachel ingin berbicara, hal itu tidaklah mungkin, sebab masih ditutup menggunakan lakban.


“Ke mana mereka akan membawaku,” batin Rachel. Melihat jalanan yang di lalui saat ini, membuatnya sedikit ngeri. Hanya ada air yang terlihat dari atas. Akan kah mereka akan membunuh dan membuang mayatnya di laut.


Namun, tidak lama berselang, sebuah pulau terlihat berada di tengah-tengah peraian tersebut. Hanya tampak sebuah bangunan mewah nan megah yang bertengger di antara rimbunnya hutan. Bisa di pastikan, seteleh tiba di tempat itu, Rachel tidak mungkin bisa melarikan diri dengan mudah. Dia tidak mungkin mau menyeberang lautan hanya dengan berenang. Karena tidak ada satu pun kapal yang terlihat berada di pesisir pulau itu.


Cukup lama perjalanan mereka melalui jalur udara sejak dari kediaman Dante. Kini, helikopter yang membawa pergi Rachel mendarat di atap satu-satunya bangunan di pulau itu. “Bawa dia ke dalam,” ucap seorang pria berwajah sedingin es.


“Baik, Tuan.”


Pria yang tidak lain adalah Dason—anak angkat Dante—dengan tegas melangkah ke luar. Seorang wanita cantik terlihat tersenyum menyambut kedatangannya. Namun, sedetik kemudian, ekspresinya berubah di kala mendapati wanita lainnya mengikuti langkah Dason dari belakang dengan tangan terikat ke belakang dan mulut di bekap lakban.


“Dason, kau sudah kembali?” tanya wanita itu.


“Siapa wanita itu?” tanya wanita yang diabaikan oleh Dason sebelumnya pada seorang pengawal pria di sampingnya. Mungkin sudah menjadi hal biasa bagi Dason membawa pulang wanita lain ke villa tersebut, tetapi mereka selalu saja berada di awan dan di perlakukan bak wanita bayaran pada umumnya. Datang dengan bergelayut manja dan bersikap seolah mereka akan menjadi wanita Dante seutuhnya. Sungguh berbeda dengan Rachel saat ini yang datang dengan kondisi terikat.


“Bukan urusanmu. Sebaiknya kau bekerja saja dengan benar,” jawab pria itu, lantas berbalik pergi, hingga membuat sang wanita cukup kesal.


Di dalam kamar, Dason membuka tali yang mengikat tubuh Rachel. Dia juga membuka lakban di mulut wanita tersebut dengan kasar.


“Oh shiit! Tidak bisakah kau lebih pelan sedikit!” umpat Rachel ketika pertama kali mulutnya terbebas dari belenggu lakban. Dia beberapa kali mengusap bibirnya yang sakit sambil melihat ke arah kaca apakah kulitnya ikut terkelupas bersama lakban itu. Beruntungnya, hanya menyisakan kemerahan yang terasa begitu panas di wajah bak baru saja melakukan waxing bibir.


Salah satu sudut bibir sang pria tampak terangkat begitu saja mendengar umpatan Rachel. Dia sendiri cukup kagum akan sikap sang wanita yang masih tampak tenang menghadapi situasi yang biasanya banyak perempuan pastinya akan menangis di saat seperti ini.

__ADS_1


“Kau memang berbeda,” gumam pria tersebut lirih, tetapi masih bisa di dengar oleh Rachel.


“Sebenarnya apa masalah kalian? Kenapa melibatkan aku dalam hal ini?” tanya Rachel dengan berani dan tanpa basa-basi.


“Mungkin kesalahanmu saat ini hanya karena kau adalah wanita milik Richard.” Perlahan Dason melangkah mendekati Rachel yang masih di depan cermin. Tatapan dingin tidak berkedip darinya, membuat Rachel menelan ludahnya sendiri dengan susah payah.


Semakin lama, jarak di antara keduanya semakin terpangkas. “Mau apa kau?” tanya Rachel ketika jarak keduanya hanya tersisa beberapa senti saja. “Jangan macam-macam atau aku akan-”


“Akan apa?” Belum sempat Rachel mencari alasan atau benda lainnya yang bisa digunakan sebagai perlindungan, tubuh Rachel terasa sudah menabrak meja rias, sedangkan kedua tangan Dason mengunci tubuhnya di sebelah kanan dan kiri. Dia memegang kedua sisi meja, sambil masih terus memberikan tatapan tajam pada Rachel. “Sebaiknya kau bersikap baik dan menurutlah selama di sini! Karena aku tidak akan segan-segan membunuhmu jika sampai kau berusaha untuk kabur. Kalau kau tidak percaya, cobalah!”


Dason tidak berniat untuk menggoda Rachel lebih jauh lagi.Dia menegakkan tubuhnya dengan tangan kanan yang membawa tas milik Rachel. Dia bukan berniat melecehkan wanita di hadapannya, melainkan hanya mengambil tas tersebut, yang tadinya diletakkan oleh anak buahnya di sana. Dason tidak ingin Richard berhasil menemukan Rachel. Meskipun mustahil bagi pria itu untuk sampai ke sini dengan mudah.


Rachel beringsut di lantai setelah melihat kepergian Dason di balik pintu. Tubuh yang tadinya biasa saja, kini terasa lemas bak tidak bertulang sama sekali. Berpura-pura tegas di bawah tekanan pria yang begitu mendominasi memnag terasa sangat menakutkan. “Kenapa tahun ini aku mengalami banyak sekali kesialan, Tuhan?” monolog Rachel sambil mengusap wajahnya yang kini berubah pucat pasi.


Keuntungannya menjadi seorang aktris hanyalah, dia tetap bisa bersandiwara dan berpura-pura tegas di hadapan musuh-musuh orang yang mengincarnya. Namun jauh di lubuk hati, tentu Rachel takut akan semua yang kini dia alami. Bagaimana kalau besok dia bangun sudah tidak bisa lagi melihat matahari pagi dan berpindah ke alam baka.


Mengingat semua bayangan kematian, membuat Rachel menutup kedua matanya sambil mendongakkan kepala. "Menjadi wanita yang lemah memang menyebalkan. Seharusnya aku tidak mudah percaya pada orang-orang itu. Aku harap ada Richard yang segera membawaku pergi dari tempat ini. Pria itu lebih mengerikan di bandingkan Rich-ku." batin Rachel.


Sementara itu, Ben yang dibawa ke rumah sakit mengalami cidera yang cukup parah. Dante seolah melampiaskan semua amarahnya pada pria itu. Dia menghajar Ben dengan membabi buta, sedangkan Ben hanya demi secuil informasi tentang putrinya tidak berani berkutik apalagi melawan sama sekali. Alhasil, itulah yang harus dia alami sekarang, menjadi samsak manusia atas kesenangan mantan bosnya.


“Kenapa bisa sampai seperti ini?” tanya Richard pada Alex, dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku, dan pandangan miris, melihat tubuh Ben yang penuh dengan luka lebam serta robek di beberapa bagian tubuhhnya.


Keduanya berdiri di sebuah ruang perawatan, sedangkan orang yang bersangkutan masih juga belum sadar. Alex yang tidak tahu bagaimana detail kejadiannya hanya bisa menggeleng kecil. Dari laporan anak buahnya, Ben hanya di izinkan masuk seorang diri, sedangkan para anak buah bahkan asisten Ben sekali pun hanya bisa menunggu di luar. Bodohnya, Ben mengikuti perintah itu, dan hanya sendirian masuk.


Sayangnya, ketika Ben keluar dari kediaman tersebut untuk waktu yang telah lama berlalu. Para anak buah Dante melemparkan Ben ke arah mereka dalam kondisi hampir saja mati. Tubuh Ben penuh dengan luka-luka, sehingga langsung di larikan ke rumah sakit oleh anak buahnya dengan banyak pernyataan berkecamuk di kepala tentunya.

__ADS_1


Tidak lama setalah Richard dan Alex menunggu, jemari Ben tampak mulai bergerak. Alat bantu pernapasan serta perlengkapan medis lainnya terpasang di tubuh pria paruh baya tersebut. Perlahan kelopak matanya mulai terbuka, tetapi hal pertama yang dilihatnya adalah Richard yang berdiri tanpa ekspresi di depannya.


“Rich, aku mohon selamatkan Rachel. Dia tidak bersalah atas apa yang terjadi selama ini. Ini semua adalah salahku. Salahku karena gagal membantu ibumu keluar dari lingkaran setan kala itu,” ucap Ben dengan suara lirih dan menahan rasa sakit yang luar biasa. Berharap Richard mampu memahami apa yang tengah dia rasakan.


__ADS_2