
“Ya meskipun kau cukup tampan jika hanya bekerja sebagai pelayan. Makanya aku memaklumi jika kau memiliki pekerjaan sampingan sebagai seorang gigolo. Akan lebih mudah mencari uang besar dengan cara itu, apalagi hidup di negara ini begitu keras, sedangkan gaya hidupmu tampak cukup tinggi. Melihat betapa lihainya kau memeraskku tadi. Hanya ada wanita berusia yang kesepian tapi bergelimang harta yang pastinya mau merawatmu," sindir Rachel.
“Kau!” Rich yang hendak mengarahkan telunjuknya pada Rachel, tetapi dia lantas mengurungkan niat sambil mengepalkan kedua tangan. Bisa-bisanya wanita di depannya berpikir dia seorang gigolo. Tidak tahukah wanita itu seberapa banyak hartanya yang sudah berhasil di hamburkan para wanita yang dia mau.
“Tidak perlu malu. Tapi maaf, untuk sementara ini sepertinya kau tidak bisa menjadi simpanan mereka, sesuai dengan surat perjanjian kita. Aku akan memaklumi jika kau tidak punya uang, tapi tidak dengan menjadi gigolo lagi. Lagi pula bayaran yang kau terima pastinya lebih dari cukup dibandingkan melayani tante-tante girang, atau transgender kurang belaian itu."
"Sialan!" Umpat Rich dalam hati merutuki mulut Rachel. Jika saja tidak dalam masa hukuman dalam membuat masalah. Dia pasti sudah meminta anak buahnya untuk menyingkirkan mulut wanita di hadapannya saat ini.
“Jadi maksudmu. Tulisan di mana aku di larang dekat dengan wanita selama menjadi suamimu itu karena kau berpikir aku pria bayaran para wanita?”
Dengan cepat Rachel menganggukkan kepalanya. “Aku paling tidak bisa menerima perselingkuhan dan kebanyakan pria kaya melakukan hal itu. Lakukan saja setelah perjanjian kita selesai nanti. Aku tidak akan melarangmu, bahkan dengan senang hati akan ku persilakan, agar kita pun bisa berpisah dengan cara yang benar.”
“Dasar wanita gila.’’ umpat Rich menggeleng kecil akan penuturan Rachel.
__ADS_1
Sesaat kemudian, keduanya mulai bersiap dengan penampilan masing-masing. Sekilas Rich melirik Rachel. Sudah terlanjur masuk dalam permainan. Apa salahnya dia berbuat licik kali ini. pikir Rich.
“Ayo kita pergi!” tanpa ragu Rich membawa tangan Rachel begitu saja. Keduanya pun keluar dari hotel tersebut dengan menggunakan taksi, karena memang sebelumnya Rachel tidak membawa mobil, sedangkan Richard sendiri seluruh fasilitasnya sudah dicabut. Hanya meninggalkan sebuah tempat tinggal sempit di dekat perumahan elit.
“Ke mana kita akan pergi?” tanya Rachel.
“Nanti kau juga akan tahu.”
Benar saja, Rachel seketika membelalak di saat Richard dengan lihainya memilih sebuah outlet pakaian pria dengan brand ternama. Rachel hanya bisa semakin rapat dalam menutupi wajah. “Apa yang ingin kau lakukan di sini,” bisiknya pada Rich.
“Tentu saja aku harus bersikap profesional dan menjadi suami yang sempurna agar ayahmu tidak curiga nantinya.” Rich lantas memanggil seorang pelayan di sana. "Ambilkan aku tiga setelan terbaik yang kalian miliki."
"Kebetulan kami baru saja mengeluarkan produk baru dengan edisi terbatas, Tuan. Apa Anda ingin mencobanya?" tanya pelayan itu.
__ADS_1
Rich hanya mengangguk. "Baiklah keluarkan itu!"
"Hei! Sepertinya kau sering datang kemari? Mereka bahkan tidak segan melayanimu dengan begitu ramah," ucap Rachel curiga.
"Bukankah kau sendiri yang bilang, aku ini seorang gigolo? Kenapa begitu heran?” Rich menghentikan kalimatnya dan sedikit mendekatkan diri pada Rachel, hingga embusan napasnya pun bisa dirasakan. “Jika aku tidak memberikan penampilan terbaik. Kau pikir bagaimana para pelanggan bisa puas dengan servis dan kinerjaku.”
Sebuah senyum tengil terukir di wajah Rich. "Lihat saja bagaimana gigolo ini akan menguras kantongmu lebih dalam nantinya," batin Rich. Pria itu lantas duduk sambil menyilangkan kaki di kursi yang tersedia bagi pelanggan, sambil membaca katalog yang ada di sana.
“Oh, Shiit! Bukankah dia miskin? Kenapa terlihat begitu perfeksionis, dunia cukup adil padanya. Setidaknya dia bukan pria sempurna dengan segala kelebihan,” batin Rachel mengumpat melihat pesona Richard saat ini.
Akan tetapi, baru selangkah Rachel hendak menyusul duduk di samping Rich. Sebuah tangan kekar dari belakang sudah terlebih dahulu menghentikan langkahnya, dan memegang pergelangan tangan gadis itu.
“Rachel, apa yang kau lakukan di sini?’’ tanya seorang pria.
__ADS_1