My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 37: Richard Murka


__ADS_3

“Rich ayahku meninggal.”


Kabar mengejutkan berasal dari Ramon, tentang kondisi ayahnya terdengar begitu jelas di telinga Richard. Suara serak-serak becek, mungkin karena derasnya air mata yang mengalir di sebarang telepon, membuat Rich mengepalkan salah satu tangannya dengan sangat kuat.


Meskipun belum lama mengenal Ramon, tetapi hubungan akrab kedua di tempat kerja menyebabkan sisi kemanusiaan dalam diri Richard  tergugah. Dia menganggap Ramon sebagai salah satu bagian dari temannya. Sosok yang selama ini tidak pernah dia miliki di saat dia menjadi orang miskin. Di mana tanpa memandang status, Ramon selalu saja bersamanya.


Sama halnya dengan Ramon, Richard  juga merasakan hatinya remuk redam mendengar berita itu. Tatapan tajamnya masih belum beralih, membayangkan dirinya menjadi Ramon yang kehilangan satu-satunya anggota keluarganya yang dimiliki, menyebabkan Rich mampu merasakan kesedihan yang kini di tanggung Ramon.


“Bicara yang benar? Jangan bercanda denganku!”


Seolah masih belum percaya dengan kabar dari rekannya, Richard  kembali memastikan jika pendengarannya tidaklah salah. Namun, suara tangisan Ramon yang rapuh terdengar begitu nyata. Tidak mungkin pria itu bermain-main dengan nyawa ayahnya sendiri. “Aku akan segera ke sana.”


Tidak ingin ikut larut dalam kesedihan, Richard  memilih segera mematikan sambungan telepon. Perasaan marah yang sejenak mereda karena kasus Rachel berhasil di selesaikan, kini kembali membara dan mengobarkan sumbu perang akan sosok yang membuat ayah Ramon harus terbaring di rumah sakit. “Di mana ****** itu?” tanya Richard  dengan nada dingin.


Wanita di sampingnya yang melihat perubahan ekspresi Richard  lantas menjawab. “Masih di ruangan semalam.”


Dengan langkah tegas Richard hendak pergi, tetapi tangan sang wanita malah menghentikannya dari belakang. “Rich, kendalikan dirimu,” ucap wanita itu.


“Bukan urusanmu.” Dengan kasar Richard mengempaskan tangan wanita yang selama ini mendampinginya tersebut.


Inilah titik terlemah bagi seorang Richard  dalam menghadapi penyakitnya. Di mana ada saat dia tidak mampu mengontrol emosi karena suatu hal yang tidak lagi dapat dia toleransi. Dia akan menggila seolah semua yang ada di sampingnya bukanlah apa-apa.


Sorot tajam tidak berperasaan dan langkah pasti yang membawakan hawa kematian, seakan berselimut dalam diri Richard. Dia mendobrak menggunakan kaki, pintu di mana Hanna masih terkapar tidak berdaya tanpa sehelai benang pun di tubuhnya dan kedua tangan yang masih terikat dengan ranjang.


“Dasar wanita ******!” Tangan Rich segera mengambil sebuah botol minuman beralkohol di atas meja. Dia memukulkan ujung botol pada ranjang dan langsung menodongkan pecahan tajam di tangannya itu ke leher Hanna.

__ADS_1


Hanna yang pertama kali melihat perubahan ekspresi Richard  sontak terbangun dari tidurnya dengan terkejut. Ujung pecahan beling terasa perih mengoyak kulit lehernya kala itu, karena Richard  dengan tangan bergetar hampir saja menebas lehernya.


Bukan hanya luka yang harus Hanna terima. Rasa sakit, pedih, serta trauma bercampur menjadi satu kala itu. Apalagi kondisinya saat ini tidak memakai sehelai benang pun. Dia bak bayi baru lahir, hanya saja karena efek obat yang sudah menghilang menyebabkan rasa malunya begitu luar biasa.


“Rich, sadarlah!”


Beruntung seorang wanita lainnya segera datang menghentikan aksi Richard  pagi itu. Jika tidak bisa di pastikan nyawa Hanna akan benar-benar melayang saat itu juga.


Dengan tubuh bergetar hebat, Hanna memeluk lututnya sendiri. Kesombongan dalam dirinya menghilang dalam semalam. Sosok Richard  benar-benar memberikan pelajaran tersendiri bagi mental Hanna. Kini, wanita tersebut bukan hanya takut akan sosok di depannya, bahkan untuk menatapnya saja, Hanna tidak lagi berani. Bibirnya pun seolah terkunci rapat, dan tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun sebagai perlawanan atau permohonan.


Deru napas Richard  naik turun tidak beraturan. Rasa geram, amarah, dan sedih bercampur menjadi satu. Trauma akan kehilangan sosok berharga dalam hidupnya kembali hadir begitu saja setelah sekian lama.


Sang wanita segera memeluk Richard  erat-erat dari belakang, sebelum pria itu nantinya mencabik-cabik tubuh Hanna hingga habis tidak tersisa.


“Tenang, tenanglah. Keluargamu baik-baik saja. Paman dan Kakekmu juga baik-baik saja,” ujar wanita itu berusaha menenangkan Richard dengan salah satu tangan mengusap dadanya yang bergemuruh.


Inilah masalah kesehatan yang dialami Richard. Dia belum bisa mengendalikan dirinya sendiri jika melihat orang yang dianggapnya berharga terluka, apalagi sampai meninggal dunia. Kepergian kedua orang tuanya dengan cara yang tidak terduga menyebabkan luka tersendiri pada psikologis Richard, sehingga dia sebenarnya masih perlu pengobatan untuk menghilangkan rasa trauma itu.


Namun, karena terlalu lama tidak memiliki orang yang berharga, dan tidak ada masalah yang melibatkan nyawa, trauma yang dia derita lama tidak kambuh lagi. Kini, karena Ramon yang kehilangan ayahnya, Richard  bertingkah seolah dialah yang mengalami nasib malang itu.


“Semua ini karena dia! Jika saja dia tidak mendorongnya, Ramon tidak perlu kehilangan ayahnya.” Kalimat dingin yang keluar dari mulut Richard  dengan tatapan yang tidak beralih dari Hanna, membuat wanita itu semakin takut karena.


Entah apalagi yang akan Richard  lakukan kali ini. Namun, bisa di pastikan Hanna akan mengalami hal yang lebih menyakitkan dari pada sebuah kematian, di saat Richard  bersiap untuk membalasnya nanti.


“Aku tahu. Tapi kau harus tenang terlebih dahulu. Kau boleh membalasnya setelah ini. Dia yang kau sayangi sedang menunggumu di sana. Apa kau tidak ingin menemuinya untuk yang terakhir kali?” Hanya dengan cara ini wanita tersebut bisa mengalihkan perhatian Richard. Jika tidak segera di sadarkan, Rich bukan hanya akan melukai orang lain, tetapi juga dirinya sendiri.

__ADS_1


Rich selalu menyalahkan diri sendiri atas kejadian buruk yang menimpa keluarganya, sehingga terkadang pikirannya tidak terkontrol dan berakhir mengenaskan akibat perbuatannya.


“Minumlah!” Wanita tersebut berusaha memberikan obat yang biasa Richard  minum.


Pil tersebut hanya dapat mengurangi gejala yang dirasakan Richard. Di saat amarah menguasai pria tersebut, syaraf otaknya maka akan bekerja ekstra, dan jika dia tidak mampu mengendalikannya. Richard  akan merasakan sakit kepala yang luar biasa, kehilangan kesadaran diri sendiri dan berakhir depresi.


Untuk sesaat, suasana menegangkan terasa kental di ruangan tersebut. Tidak ada seorang pun anak buah yang berani mendekat jika Richard  sudah dalam kondisi seperti itu. Bisa-bisa nyawa mereka yang akan menjadi taruhannya.


Akan tetapi, karena sang wanita sudah terbiasa merawat kondisi Rich. Dia tidak memiliki rasa takut sama sekali jika harus berakhir tewas di tangan Richard.


“Maafkan aku.” Setelah merasa tenang, Richard  segera meminta maaf pada sang wanita. Dia meraih tangan wanita tersebut. Di mana darah segar masih terlihat mengalir dari telapak tangan akibat pecahan botol Rich tadi.


Wanita itu menggeleng pelan. Dia sudah menganggap Rich seperti adiknya sendiri selama ini. Hanya luka kecil seperti ini, tentu tidak ada apa-apanya bagi wanita tersebut. “Bukan masalah, ini akan sembuh dalam beberapa hari.”


Richard  lantas menatap kembali Hanna yang terlihat begitu mengenaskan. Sepertinya, mental wanita itu benar-benar sudah terganggu karena apa yang Rich lakukan sebelumnya.


Rich lantas memanggil beberapa anak buah agar mendekat. “Kalian urus dia! Aku ingin dia keluar dari tempat ini dengan kondisi tak lagi berdaya. Berikan dia trauma terberat yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Kalian boleh menikmatinya secara bersamaan dengan cara apa pun, tapi jangan diperlakukan dengan baik. Dia tidak pantas dikasihani setelah apa yang dilakukan.”


Richard  lantas berbalik hendak melangkah pergi setelah meninggalkan pesan, sedangkan sang wanita yang tangannya masih terluka hanya berdiri di belakangnya. Ada sedikit rasa kasihan dalam dirinya melihat kondisi Hanna saat ini.


Namun, dia bukanlah orang yang dapat mengambil keputusan di tempat ini. Semuanya hanya melaksanakan tugas berdasarkan perintah Richard  dan apa yang pria itu inginkan, bak sebuah hukum dan peraturan yang harus diikuti oleh para penghuni di sana.


“Bagaimana ini?” tanya salah seorang anak buah pria lainnya bingung.


“Lakukan saja apa yang diperintahkan Richard. Sebelum dia meminta kepala kalian sebagai gantinya,” ucap wanita tersebut sambil melihat punggung Richard  yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu yang di tutup dengan kasar.

__ADS_1


__ADS_2