My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 30: Rencana Selanjutnya


__ADS_3

Setelah puas menyaksikan semua kericuhan di acara penghargaan itu, Rich melangkah menuju sebuah mobil di basement parkir. Dia melemparkan jas yang dikenakan ke tempat sampah, dan hanya menyisakan kaos hitam polos di tubuhnya. Dia bergerak sambil mengenakan sarung tangan, masker, serta sebuah topi hitam senada.


Hanya dalam hitungan detik, Rich berhasil membuka sebuah mobil yang terparkir di sana, tanpa ada satu pun orang curiga. Di dalam kendaraan gelap itu, dia duduk di kursi bagian belakang kemudi, sambil menunggu sang mangsa tiba. Mata elangnya tampak begitu mengerikan, di saat seorang wanita bergaun merah mulai berjalan di area parkir dengan begitu ceria di luar.


Di kejauhan, terlihat jelas wanita itu berhenti sejenak dan tengah berbincang dengan seorang pria. Entah apa yang mereka bicarakan. Namun, Rich yakin mereka sedang membahas rencana buruk ke depannya.


Setelah berbincang, mereka tampak berjabat tangan. Hanna langsung melangkah menuju mobilnya tanpa ragu. Sambil bersenandung ria, wanita itu mulai menyalakan mesin. Namun, alangkah terkejutnya dia di kala mengubah posisi kaca bagian tengah yang langsung menunjukkan sosok orang asing di belakang.


“Siapa kau?” Hanna hendak kembali membuka pintu dan berniat melarikan diri.


Sayangnya pergerakan Rich lebih gesit. Dia langsung menempelkan sebuah kain yang sudah diberikan obat bius menutup bagian mulut dan hidung Hanna. Tidak perlu waktu lama, wanita itu pun akhirnya tidak sadarkan diri hanya dalam hitungan detik.


Sebuah seringai jahat terlukis indah di wajah Richard . Dia melangkah keluar sambil bersiul ria layaknya seorang psycopath gila. Dengan santai Rich mengikat tubuh Hanna dan membawanya ke bagian bagasi layaknya sebuah karung beras tak terisi.


Richard lantas menyalakan mesin mobil, dan berlalu pergi begitu saja membawa mangsanya kali ini. Entah apa yang ingin Richard lakukan dengan Hanna, tetapi satu hal yang pasti. Hanna lebih bernasib sial di bandingkan Rachel karena telah berurusan dengan sosok Richard.


Pria itu lantas mengemudikan mobil menuju sebuah tempat di mana para anak buah biasanya berkumpul. Perjalanan yang dilalui Richard cukup jauh dari lokasinya saat ini. Dia bergerak menuju bangunan besar bak sebuah tempat hiburan malam di pinggiran hutan. Di mana para anak buah pria yang berpenampilan layaknya pemburu hutan selalu siap sedia di sana.


Ya, tanpa sepengetahuan keluarga, Richard memiliki kelompok sendiri. Meskipun tidak bisa dibilang kelompok yang besar karena hanya berisikan beberapa orang. Namun, kemampuan mereka juga bukanlah sesuatu yang bisa di anggap remeh.


Sebagian dari mereka merupakan orang-orang yang menyembunyikan identitas karena menjadi buronan kriminal yang melakukan kejahatan besar atau orang buangan di keluarga mereka. Richard dengan senang hati melatih mereka dan memberikan beberapa pekerjaan ilegal secara diam-diam, sedangkan mereka bebas menikmati kehidupan seperti apapun yang mereka mau. Asalkan tidak ada yang berani membocorkan keberadaan kelompok itu, kecuali bersiap untuk mati di tangan Richard.


Hal yang paling menguntungkan bagi kelompok tersebut adalah, mereka kebanyakan bekerja untuk para petinggi pemerintahan, sehingga jika sampai terjerat suatu kasus, sudah ada rencana cadangan bagaimana caranya agar mereka kembali terbebas tanpa di curigai. Namun, tidak ada satu pun dari para pejabat itu yang tahu jika pemimpin kelompok berbahaya tersebut adalah Richard, sang pewaris utama Keluarga Days.


Mobil yang dikemudikan mulai bergerak membelah jalanan hutan yang cukup terjal. Memang sama sekali tidak ada akses lain yang dibangun, sehingga tidak ada satu orang pun yang menyadari tempat tersebut ternyata berpenghuni.


Terlebih lagi posisi bangunan yang berada di dekat lembah dan jurang, juga rawa dengan berbagai binatang buas lainnya yang juga berkumpul menjadi satu. Menjadikan tempat tersebut sangat anti di datangi para penduduk biasa, kecuali pelanggan istimewa yang menyewa para wanita malam. Namun, memang orang-orang terpilih yang sudah melakukan reservasi terlebih dahulu.

__ADS_1


Rich menghentikan kendaraan ketika tiba di pelataran. Layaknya sebuah negeri dongeng, tempat tersebut cukup sunyi dan senyap dari luarnya. Hanya ada lolongan hewan-hewan peliharaan Rich yang terdengar memenuhi indera pendengaran. Namun, di dalamnya ramai para anak buah wanita yang menyamar bak kupu-kupu malam menemani para pelanggan.


“King,” sapa seorang pria yang langsung berlari melihat kedatangan Richard.


“Ada hadiah untuk kalian di belakang. Bawa dia langsung ke ruangan bawah tanah.”


Setelah memberikan perintah, Rich lantas bergegas menuju ruangan pribadinya di lantai tiga. Tempat di mana tidak ada seorang pun yang berani menjamah, tanpa perintah darinya. Dia menaiki tangga dengan santai.


Seorang wanita yang masih mengenakan pakaian tidur tampak keluar dari kamarnya ketika mendengar kedatangan Richard. "Rich, kau kemari?"


Hanya anggukan kepala yang bisa Richard berikan sebagai jawaban. Perempuan itu adalah satu-satunya anak wanita yang tidak bekerja seperti anak buah yang lain, tetapi Richard tetap memperlakukannya dingin. Dia memiliki peran yang lebih besar dalam mengurus tempat tersebut di bandingkan dengan Richard yang lebih sering berada di luar.


"Panggil aku jika wanita itu sudah sadar!"


Setelah meninggalkan pesan, Richard lantas melangkah menuju ruangannya dan menutup pintu rapat-rapat. Rich mengambil sebuah botol minuman beralkohol yang tersedia di sana dan membuka penutupnya dengan santai. Dia lantas menyibakkan sebuah tirai, menampakkan dinding yang bertampal wajah orang-orang yang akan atau telah menjadi mangsa, dan target selanjutnya yang dia incar.


Sesaat setelah Rich menikmati minuman dalam kesendirian, suara ketukan dari luar menyadarkan Richard dari lamunan. "King, dia sudah sadar."


Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut Rich. Dia lantas meletakkan kembali botol minuman yang kini di pegangnya, dan menutup tirai yang tadi dibukanya. Cukup sudah baginya melepas kerinduan untuk sesaat.


Rich melangkah ke luar ruangan dan bergerak menuju ruang bawah tanah. Suara teriakan seorang wanita yang tadi dibawa, terdengar begitu jelas memenuhi indera pendengaran. Hanna terus saja memberontak sejak awal dia tersadar.


"Hei! Lepaskan aku! berani-beraninya kalian melakukan hal ini kepadaku, hah? Siapa yang menyuruh kalian? Aku akan membayar sepuluh kali lipat! Lepaskan aku!" Suara teriakan memberontak terdengar sangat jelas dari jarak jauh, bahkan di saat Rich masih berjalan menyusuri lorong, sehingga membuat Rich malah semakin bersemangat di buatnya.


Pintu akses pun terbuka, menampakkan sosok tampan yang seketika membuat Hanna terdiam untuk sesaat, mengingat kembali siapakah gerangan pria di hadapannya saat ini.


"Si-siapa kau?" tanyanya dengan nada bergetar.

__ADS_1


Tanpa ragu, Rich mengeluarkan senyum termanis yang dia miliki pada Hanna. Andai dia melakukan itu di luar, mungkin para wanita akan terpesona akan senyumnya. Namun, tidak dengan para anak buah menyadari arti dari senyum Richard.


Bibir melengkung menandakan sebuah kepuasan di saat dia menemukan mangsa untuk di siksa, baik secara fisik maupun mentalnya.


Sedetik kemudian, Hanna menyadari siapa sosok yang kini berada di hadapannya. Kedua matanya terbelalak, membulat dengan sempurna. "Kau! Kau office boy sialan yang mencari masalah denganku itu 'kan? Apa yang kau inginkan, hah?"


Hanna yang masih saja belum menyadari seberapa malang nasibnya saat ini terus saja memberontak. Sayang, kaki dan tangannya di ikat ke sebuah kursi dengan sangat kuat.


"Lepaskan! Atau aku—"


Belum sempat Hanna melanjutkan kalimatnya, Rich sudah terlebih dulu berbicara sambil mengeluarkan sebuah belati lipat dari sakunya. "Atau apa?"


Suara bariton yang begitu dingin dengan aura mengerikan, membuat nyali Hanna menciut saat itu juga. "Atau aku akan lapor polisi," jawab Hanna berusaha angkuh, padahal ingin sekali rasanya dia terkencing karena ketakutan yang luar biasa saat ini juga.


Sontak Richard tertawa terbahak-bahak, bak putra iblis yang baru saja berhasil menjerat manusia ke dalam lingkup dosa. Richard yang konyol dan pendiam, berubah menjadi mengerikan. Kedua telapak tangannya bertepuk ria, saling bersahutan. "Kau yakin polisi bisa datang kemari?"


Untuk sesaat Hanna mengedarkan pandangan ke segala arah. Di mana dia sekarang? Tidak mungkin bukan riuh keramaian kota tak terdengar sama sekali dari sini, pikirnya.


Sayang, yang namanya wanita licik tentu saja tidak akan kehabisan akal. Hanna ikut tergelak ria setelah menyadari dia masih punya satu kartu yang dapat digunakan untuk terbebas dari semua ini. "Ah, aku lupa. Bukankah kau juga calon suami dari wanita sialan itu."


Ekspresi Richard seketika berubah datar di saat Hanna membahas Rachel . Dia menatap tajam wanita di depannya saat ini. Namun, seringai licik malah muncul di wajah Hanna. "Apa kau tahu bagaimana nasibnya selanjutnya setelah video itu tersebar? Tidakkah kau penasaran? Bagaimana kalau kita menonton siarannya bersama?"


"Apa yang sudah kau rencanakan padanya kali ini?" tanya Richard dingin.


Meskipun Hanna dengan susah payah menelan salivanya sendiri karena suara Richard yang membuatnya meremang. Akan tetapi, wanita tersebut tetap teguh mempertahankan aktingnya. "Coba tebak?"


"Jangan harap kau bisa lepas dariku jika sampai sesuatu terjadi padanya!"

__ADS_1


__ADS_2