My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 46: Melampiaskan Kemarahan


__ADS_3

Sementara itu, Ben yang kini berada di mobilnya tampak mendengus kesal. Dia melonggarkan dasi yang dikenakan dan melemparkan ke segala arah secara kasar. “Sialan! Bisa-bisanya dia memeras klien hanya untuk keuntungan pribadi,’’ umpat Ben kesal.


“Apa kerja sama hari ini tidak berjalan dengan lancar, Tuan?” tanya sang asisten yang kini merangkap sebagai sopir di bagian depan.


“Itu bukan kerja sama. Tapi penyuapan dana dan permainan bisnis demi keuntungan pribadi.” kesal Ben.


“Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Tuan? Haruskah kita meminta bantuan pada Tuan—"


Belum sempat Sam melanjutkan kalimatnya, Ben sudah terlebih dahulu menghentikan pria itu. “Jangan kau sebut nama yang tidak boleh disebut! Aku sudah cukup lelah menjadi budaknya. Bisa keluar dari lingkaran hitam dalam kondisi utuh saja, sudah menjadi suatu keberuntungan bagiku. Aku tidak ingin lagi mengulang kesalahan. Mereka adalah pedang bermata dua. Bisa membantumu, tapi juga bisa membunuhmu di saat yang bersamaan. Aku tidak ingin terjadi sesuatu hal yang buruk pada Rachel, akibat perbuatanku,” keluh Ben kembali berubah ekspresi.


Dahulu Ben bukanlah orang yang kaya. Dia hanya pekerja kecil yang akhirnya menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Namun, tanpa dia duga karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, dia akhirnya malah mengabaikan keluarga. Hingga tidak menyadari jika sang istri tengah berjuang seorang diri melawan penyakit yang perlahan menggerogoti.


Bukan hanya melakukan kegiatan ilegal, Ben bahkan terlibat dengan pembunuhan sebuah keluarga. Namun, kematian sang istri membuatnya sadar, jika apa yang dikejarnya selama ini hanyalah sebuah kesalahan. Dia salah jalan, tetapi terlalu terlambat untuk berputar arah dan kembali ke jalan yang benar. Tidak ada lagi orang yang mendukungnya dari belakang setelah kepergian sang istri, bahkan sang putri sekali pun.

__ADS_1


Di tengah lamunannya menatap jalanan. Ben melihat sosok putrinya tengah asyik tertawa bersama seorang pria di seberang jalan. Senyum yang telah lama tidak Ben lihat setelah Rachel kehilangan ibunya. Namun, mengapa harus pria itu yang membuat Rachel tersenyum. Pria yang tidak lain adalah Richard.


“Berhenti!” Dengan wajah merah padam, Ben membuka pintu mobil dan bergerak ke arah kedua orang tersebut.


Tanpa aba-aba, Ben melayangkan sebuah pukulan keras tepat di pipi Richard. Pria itu sontak tersungkur di tanah, sedangkan Rachel tampak langsung menghadang sang ayah. “Daddy, apa yang Daddy lakukan, hah?”


“Seharusnya Daddy yang bertanya seperti itu, Rachel? Apa yang kau lakukan dengan pria tidak berguna ini, hah? Bukankah sudah Daddy katakan jangan lagi ada hubungan dengan dia!” bentak Ben.


“Apa peringatanku kemarin tidak cukup membuatmu jera, hah? Kau bahkan masih berani mendekati putriku." Ben meraih kerah Richard dengan tangan kirinya. Dia mencengkeram pria tersebut dengan begitu kuat. Hingga Rich pun hampir tercekik karenanya.


Kilatan amarah, serta guratan permusuhan yang kental begitu jelas di wajah Ben. Namun, Rich tampak terdiam membisu dan tidak menjawabnya sama sekali. Meskipun hanya meringis menghadapi perlakuan kasar Ben.


“Daddy, lepaskan! Malu di lihat orang!” Rachel berusaha untuk melerai keduanya. Sayangnya Ben seolah tidak peduli sama sekali dan tetap menatap tajam ke arah Richard.

__ADS_1


“Malu kau bilang?” bentak Ben pada sang putri. “Kau melarikan diri dari rumah hanya untuk bertemu dengan pria miskin tidak berguna sepertinya. Apa itu tidak lebih memalukan? Lihat dia dan lihat dirimu sendiri sekarang! Dari sisi mana pun, tidak akan ada alasan untukmu begitu percaya diri bersanding dengannya. Hanya ada malu, malu, dan malu. Kau bahkan nanti tidak bisa mengekspos siapa suamimu sebenarnya ke pada dunia. Karena apa? Karena dia hanya akan menghancurkan dan menjatuhkan kariermu sampai ke dasar jurang nanti!”


“Cukup. Cukup. Cukup! Sudah cukup Daddy menghina Richard seperti itu. Dia bahkan lebih baik dibandingkan seorang ayah yang menelantarkan istri dan anaknya sendirian hanya demi wanita lain!” Rachel yang juga sama-sama emosi, tidak mampu lagi membendung amarahnya. Dia juga meluapkan apa yang selama ini bersarang dalam pikirannya. Namun sayang, semua berakhir dengan sebuah tamparan keras yang meninggalkan rasa sakit dan bekas panas di pipinya.


“Lihat dirimu sekarang! Hanya karena pria ini kau bahkan berani menentang Daddy yang selama ini merawatmu.” Tubuh Ben bergetar ketika menampar putrinya. Namun, gerak refleks akibat marah yang tidak terduga itu tidak mampu lagi di tahannya. Sejujurnya, hati pria itu juga teriris mendengar keluhan sang putri yang selama ini hanya diam. Akan tetapi, ego mengalahkan segalanya. Dia tetap pada pendiriannya dengan tidak menyetujui hubungan Rachel dan Richard.


Lagi-lagi Ben meraih kerah Rich yang sebelumnya terlepas. Tatapan keduanya saling menghunus tajam bak siap menerkam satu sama lain kapan saja. “Kenapa kau hanya diam saja? Apa kau ingin anakku sendiri menganggap ayahnya seorang tirani karena menghajar pria yang tidak berdaya ini?” Ben menghempaskan tubuh Richard, hingga pria itu terhuyung ke belakang. Dia lantas meludah jijik ke arah menantunya tersebut. “Bahkan seekor anjing pun akan menggigit ketika di usik. Tapi sepertinya kau tidak lebih baik dari mereka, hingga tidak bisa menjaga harga dirimu sendiri.”


Setelah mengatakan hal itu, Ben melangkah pergi untuk kembali ke mobilnya, sedangkan Richard tampak mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Tatapan tajam tidak pernah beralih walau sedetik pun pada pria yang kini bergerak ke arah mobil itu. Dia diam, tapi bukan berarti Ben bisa menghinanya begitu saja.


“Lihat saja nanti! Bagaimana kau akan merangkak hanya untuk memohon pengampunan dariku!” batin Richard bersumpah dengan gemuruh di dadanya.


"Apa kau baik-baik saja, Rich?" tanya Rachel berusaha membantu Richard, tetapi pria tersebut malah menepisnya.

__ADS_1


__ADS_2