My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 61


__ADS_3

Ben yang datang secara baik-baik ke kediaman Dante, nyatanya tidak di sambut dengan hangat oleh pria tersebut. Dendam di masa lalu seolah tidak pernah Dante lupakan sehingga hari itu dia gunakan sebagai kesempatan untuk menghukum sendiri Ben yang sedang memohon agar putrinya dibebaskan.


Bukan hanya di pukul menggunakan tangan, Ben bahkan harus menahan sakit karena Dante menggunakan stik golf untuk menghukumnya. Sementara itu, jika Ben berani melawan sedikit saja, Maka dante akan mengancam dengan mengembalikan Rachel lengkap dengan peti matinya.


Merasa negosiasi yang dilakukan oleh Ben tidak akan lagi berguna, Ben yang baru sadar menatap nanar pria muda di hadapannya saat ini. Hanya Richard satu-satunya orang yang menjadi harapannya sekarang. Sejak awal kesadarannya dia hanya mencemaskan sang putri, dan rela melakukan apapun agar Rachel selamat.


“Rich, aku mohon selamatkan Rachel. Dia tidak bersalah atas apa yang terjadi selama ini. Ini semua adalah salahku, karena gagal membantu ibumu keluar dari lingkaran setan kala itu,” ucap Ben dengan suara lirih dan menahan rasa sakit yang luar biasa. Berharap Richard mampu memahami apa yang tengah dia rasakan.


“Apa maksudmu tidak bersalah?” tanya Richard dingin. Dia mendekatkan diri dan berbisik ke telinga Ben yang baru tersadar itu. “Dia bukan hanya bersalah, tapi juga sial karena terlahir sebagai putrimu." Rich menegakkan tubuhnya. "Bukankah rasanya menyenangkan, melihat orang yang kau cintai berada dalam bahaya. Sejak awal memang ini tujuanku. Terima kasih sudah mengizinkan Rachel menjadi umpan, sehingga kau bisa merasakan apa yang aku rasakan saat itu.”


Setelah mengatakan itu, Rich dengan percaya diri mengambil bungkus rokok di sakunya. Akan tetapi, segera di tahan oleh Alex karena mereka sedang berada di rumah sakit. Dia membiarkan Ben yang masih syok dan malah tersenyum menyeringai pada pria tersebut. “Jadi, selama ini kau sengaja mendekati Rachel agar dia menjadi umpan bagimu dan masuk ke dalam siksaan Dante.”


“Aku hanya melakukan apa yang kau lakukan pada keluargaku dulu. Lagi pula itu juga tidak sebanding. Karena Rachel masih hidup dan bisa menghirup udara bebas, sedangkan ibuku. Kau sendiri pasti lebih tahu jawabannya.” Rich hendak berbalik dan mengabaikan kondisi Ben. Tidak ada sedikitpun penyeselan di hatinya mejadikan Rachel sebagai umpan. Dia pun cukup puas melihat kondisi Ben saat ini.


“Aku tahu aku salah, dan tidak pantas memohon seperti ini padamu,” ucap Ben sejenak mengambil napas melihat punggung Richard yang hendak menghilang di balik pintu itu. Selang oksigen masih terhubung dengannya, dadanya terasa begitu sesak ketika digunakan untuk berbicara, seolah ada sebuah bongkahan batu besar yang menghimpitnya tanpa memberikan jeda. “Tapi satu hal yang aku tahu, ibumu saat ini masih hidup dan kini juga berada bersama Dante. Namun, aku tidak tahu di mana dia menyembunyikan mereka. Mungkin saat ini Rachel dan ibumu sedang berada di tempat yang sama.”


Richard sontak melebarkan kedua matanya hingga membulat sempurna. Dia tidak menyangka, sebelum menanyakan kebenaran tentang ibunya pada Ben, pria tersebut sudah terlebih dahulu mengakui apa yang ingin dia tanyakan. Dia dengan cepat berbalik dan menghampiri Ben kembali. “Jadi ibuku benar-benar masih hidup,” ucap Richard geram dengan geram mencengkeram pakaian Ben.

__ADS_1


Hanya anggukan kecil yang bisa Ben berikan sebagai jawaban. “Dia masih hidup ketika kami menemukannya pertama kali. Tapi, entah mengapa Dante malah memalsukan kematiannya dan menukar dengan mayat lainnya yang sudah tidak lagi berbentuk demi mengecoh publik.”


Dengan susah payah, perlahan Ben menceritakan apa yang selama ini mengganjal di hatinya. Meskipun terlihat begitu jelas amarah dalam diri Richard saat ini, tetapi Ben tidak peduli. Bukan hanya bercerita kenapa dia bisa bekerja dengan Dante terdahulu, tetapi juga menceritakan bagaimana setelah kematian istrinya. Ben mencoba membantu Diana untuk melarikan diri, sebab perasaan bersalah. Namun, naas, aksinya di ketahui oleh Dante, hingga harus berakhir dengan pengunduran diri. Beruntungnya dia masih bisa melarikan diri dan menghindar ketika Dante menginginkan nyawanya.


“Sekarang di mana ibuku?” tanya Richard. Mata yang awalnya cerah, kini berubah memerah, guratan otot semakin jelas menampakkan nyalang kemarahan. Akan tetapi, Ben hanya menggeleng kecil, karena dia sendiri memang tidak tahu sekarang Diana ada di mana.


“Rich, aku mohon selamatkan putriku juga. Aku tahu kau tidak benar-benar mencintainya dan hanya memanfaatkan dia untuk membalasku. Tapi, hanya dia satu-satunya harta paling berharga yang aku miliki selama ini, dia tidak bersalah Rich. Akulah yang sepenuhnya bersalah dalam hal ini,” ucap Ben tulus. Meskipun terkesan tidak tahu malu, karena harus meminta bantuan pada orang yang selama ini telah dia sakiti, tetapi demi sang buah hati, tentu saya seorang ayah rela merendahkan harga dirinya agar sang putri bisa segera kembali.


Sudut bibir Rich berkedut, otaknya kembali berputar, memikirkan apa langkah selanjutnya yang harus dia tempuh kali ini. “Kita lihat saja nanti!”


Di sisi lain, Rachel yang menjadi tawanan Dason tampaknya diperlakukan berbeda dengan penculikan pada umumnya. Dia bukan hanya di bebaskan untuk berkeliaran di villa tersebut, tetapi juga menikmati fasilitas mewah yang tersedia di sana.


Hingga tidak lama kemudian, suara seorang wanita terdengar memecah kesunyian hati Rachel saat itu. “Jadi kau adalah wanita milik Rich?” tanya wanita tersebut sinis.


Rachel hanya menoleh sekejap. Pelayan yang kini berjalan ke arahnya memang tampak berbeda dengan yang lain. Bukan hanya merasa paling berkuasa, tetapi juga selalu ingin tahu dengan urusan para majikannya. “Bukan urusanmu,” jawab Rachel dingin.


“Dia tidak akan datang untuk menolongmu,” ucap wanita tersebut langsung duduk di samping Rachel tanpa permisi. Wanita tersebut berdecih ketika mengingat kembali saat-saat bersama Richard. “Apa dia masih berpura-pura polos dan lemah di depan kekasihnya?”

__ADS_1


Pertanyaan sinis dari wanita di sampingnya sontak membuat kerutan di dahi Rachel terbentuk beberapa lapisan. Akankah wanita di sampingnya merupakan orang yang mengenal Rich? Namun, Rachel tidak ingin berspekulasi dan terlihat sangat ingin tahu. Dia masih juga terdiam dan tidak menanggapi wanita itu.


“Sepertinya hubungan kalian tidak seerat yang aku pikirkan. Hei dia dulu sangat memujaku seolah tidak bisa lepas dariku dan selalu saja menuruti apa yang aku minta,” sindir wanita yang tidak lain merupakan Celine-mantan kekasih Rich yang berkhianat. “mungkin kebersamaannya denganmu saat ini hanya untuk melupakan aku. Tidak sengaja aku menorehkan sedikit luka di hatinya, tapi dia sama sekali tidak berbelas kasih dan malah mencampakkanku dengan tega.”


Sejenak Celine menghentikan kalimatnya untuk mellihat reaksi yang diberikan Rachel. “Apa kau tahu dia adalah orang gila yang tidak memiliki hati nurani. Mustahil sekali kalau dia benar-benar mencintaimu dengan tulus setelah kepergianku. Aku yang tinggal selangkah lagi akan menjadi istrinya saja, dengan tega dia malah berusaha membunuhku dan membuangku begitu saja. Mungkin kau hanya akan mengalami nasib yang sama. Terjebak di sini selamanya, sedangkan dia asyik mencari wanita lain sebagai teman tidurnya.”


Celine berusaha memprovokasi Rachel. Respons kedua tangan Rachel yang terkepal dengan begitu kuat, meskipun wajahnya masih datar, menyebabkan Celine tertawa dalam hatinya. Setelah penyiksaan yang di lakukan oleh Richard malam itu. Dia bertekat untuk membalas dendam pada Rich. Tampaknya nasib baik berpihak padanya, orang yang dibawa Dason ternyata adalah wanita milik Rich, sehingga Celine akan terus berusaha memprovokasi hingga wanita di sampingnya saat ini, mengerti bagaimana tabiat buruk Rich yang sesungguhnya.


“Jika kau tidak percaya dengan ucapanku, kita lihat saja bagaimana nasibmu seminggu ke depan? Aku jamin, Rich tidak akan datang.” Sejenak Celine mendekatkan kepalanya ke telinga Rachel untuk berbisik. “Kau mungkin tidaklah terlalu berharga bagi Richard. Hanya salah satu teman ranjang yang bisa di tukar dengan siapa pun dan kapan pun,” bisik Celine lalu melangkah pergi setelah berhasil merusak suasana hati Rachel.


Tanpa mereka sadari, seorang pria tampak mengamati obrolan keduanya dari jendela kamar. Dason yang penasaran dengan apa saja yang dilakukan Rachel di villa ini, selalu memantau bagaimana perkembangan wanita tersebut. Sebenarnya, dia bukanlah orang yang jahat. Hanya saja, posisinya sebagai putra angkat dari Dante memaksakan Dason untuk tidak menunjukkan sisi lembutnya sebagai seorang pria.


Buktinya, Dason yang saat itu melihat Celine terluka parah, masih mau membantunya dan membawa wanita tersebut ke tempatnya. Namun, sayangnya Celine yang tahu siapa Dason sebenarnya, enggan untuk pergi setelah kondisinya pulih, dan memilih tetap berada di tempat tersebut, meskipun harus memohon dan bekerja sebagai seorang pelayan.


“Tetap awasi mereka! Jangan sampai Celine melakukan sesuatu yang buruk pada Rachel,” ucap Dason pada seorang pelayan di sampingnya.


“Baik, Tuan.”

__ADS_1


“Wanita yang menarik," gumam Dason lirih.


__ADS_2