
Richard mengemudikan kendaraan dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit. Telepon yang baru saja di dapatkannya berasal dari jane yang mengatakan jika Reymond sudah siuman. Rasa bahagia sekaligus khawatir, bercampur menjadi satu dalam diri Richard. Di satu sisi, dia senang karena akhirnya sang paman bisa melewati masa-masa sulit. Akan tetapi, di sisi lain, masih ada sesuatu yang mengganjal di hati, tetapi dia sendiri tidak tahu apakah itu.
Setelah menempuh perjalanan panjang. Akhirnya, Richard tiba di rumah sakit tempat sang paman dirawat. Dia membuka pintu ruangan, dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sang paman yang tengah bersandar di ranjang sambil memakan buah. Sepasang kekasih yang tadinya tengah melepaskan rindu di dalam ruang sontak melihat ke arah ke datangan Richard.
“Kau-” Belum sempat Reymond membuka mulut, Richard sudah terlebih dahulu berhambur memeluk pamannya.
“Akhirnya kau tidak jadi pergi ke alam baka,’’ ucap Richard sebagai kata sambutan untuk sang paman yang baru saja siuman.
“Astaga, kalau kau memelukku seerat ini, sepertinya malaikat maut akan kembali datang ke sini,” ujar Reymond berbicara dengan susah payah karena Richard terlalu erat memeluknya.
“Maaf-maaf.” Richard segera melerai pelukan, sedangkan Regina tampak tersenyum melihat tingkah keduanya. “Kau pasti senang karena setelah bangun, kau bisa kembali membawa kekasihmu dari alam baka?” cibir Richard melihat paman dan bibinya yang sepertinya sudah tidak canggung.
Sejenak Reymond melirik ke arah Regina, memang benar apa yang Richard katakan. Rasanya seperti mimpi ketika dia terbangun bisa bertemu kembali dengan sang kekasih. Meskipun penampilan dan wajahnya menjadi lebih muda, seolah tidak pernah termakan usia. Akan tetapi, hatinya yang berdebar seakan memberikan sinyal, jika cintanya memang telah kembali ke sisi. “Terima kasih selama ini kau sudah menjaganya,” ucap Reymond tulus pada sang keponakan.
“Bukan aku yang menjaganya. Tapi dia yang selalu menuntun jalanku, hingga aku bisa menjadi seperti sekarang. Dia seperti mama kedua bagiku,” ucap Richard meluapkan isi hatinya.
Sontak Reymond membelalakkan matanya. Berbicara tentang mama, dia mengingat kembali saat sebelum kecelakaan terjadi. “Rich apa kau sudah menemukan dalang semua kejadian ini?” tanya Reymond dengan pandangan lurus.
“Aku hanya mengira-ngira saja. Tapi sepertinya dalang utama kecelakaanmu adalah Dante, pemilik perusahaan saingan kita.”
__ADS_1
“Dante?” Day yang baru saja membuka pintu setelah mengambil air minum hangat di luar seketika menjatuhkan teko airnya. Sebuah nama yang sudah lama tidak dia dengar kembali menyapa indra pendengaran tuanya.
Regina segera melangkah mendekat untuk memapah Day agar tidak terkena pecahan beling yang berserakan dan membawanya ke sofa untuk duduk. Sementara itu, Reymond dan Richard tampak saling beradu pandangan dengan reaksi yang diberikan Day saat ini.
“Kakek mengenalnya?” tanya Richard penasaran.
Perlahan Day menganggukkan kepala, mungkin Reymond tidak terlalu mengenal siapa Dante, karena dia lebih banyak bersekolah di luar negeri bersama dengan ibunya. Akan tetapi, Day tentu mengenal pria itu dengan sangat baik.
Sebagai seorang pelayan di kediaman kedua orang tua Diana, Day jelas tahu bagaimana seluk beluk sikap yang dimiliki Dante. Awalnya, pria tersebut hanya seoranng anak jalanan yang di pungut oleh keluarga Diana. Meskipun keluarga besar mereka menentang pengadobsian anak tersebut, tetapi kedua orang tua Diana bersikukuh untuk tetap membawanya masuk ke dalam keluarga. Rasa kemanusiaan membuat mereka iba akan nasib Dante kecil saat itu.
Akan tetapi, lambat laun, sikap dari Dante mulai terlihat. Bukan hanya ambisius, dia juga tidak segan-segan menyingkirkan orang-orang yang menghinanya, meskipun itu masih dalam lingkup keluarga. Seolah tidak pernah berbuat kesalahan atas setiap kekacauan yang terjadi dalam keluarga besar Diana, Dante selalu memainkan perannya dengan sangat rapi, padahal usianya masih begitu muda saat itu.
"Dia adalah serigala berbulu domba, benalu yang membunuh tanaman lain secara perlahan," ucap Day mengingat bagaimana dia melihat Dante melancarkan aksinya.
Suasana di dalam ruangan mendadak hening untuk waktu yang cukup lama. Setelah sekian lama Dante yang tidak pernah berurusan dengan keluarga Day, tempaknya kini mulai mengusik kembali ketenangan dalam keluarga itu.
Hingga tidak lama kemudian, Reymond memanggil Richard. “Rich.”
Richard menoleh kepada sang paman. Tiba-tiba saja tangannya di genggam dengan erat oleh REymond seolah bersiap untuk mengatakan sesuatu. Pandangan keduanya saling bertemu bak tegangan listrik tinggi tercipta menjadi jembatan penghubung tatapan keduanya. Sejenak Reymond mengambil napas dalam-dalam. Richard berhak tahu rahasia yang selama ini dia pendam. Lagi pula, kini Reymond yakin, Richard sudah siap menghadapi mereka saat ini.
__ADS_1
“Sepertinya ibumu masih hidup.” Kalimat yang keluar dari mulut Reymond sontak menyebabkan Richard terhenyak dari posisinya. Dia berdiri dengan tubuh tegang dan kedua bola mata yang membulat sempurna.
“Apa maksudmu, Paman?” tanya Richard dingin.
“Setelah insiden yang menimpa keluargamu selesai begitu saja tanpa ada penyelidikan lainnya. Aku curiga pasti ada sesuatu yang janggal. Masing-masing mayat yang ditemukan pada kejadian saat itu, secara rahasia satu per satu di outopsi dan di pastikan identitasnya, sesuai permintaan ku. Hasilnya, tidak ada jasat ibumu di sana, dan orang yang kini di makamkan atas nama ibumu, sebenarnya bukanlah dia, melainkan orang lain dengan identitas tanpa keluarga.” Sejenak Reymond menghentikan kalimatnya untuk memandang lurus dan menghela napas berat. “Bertahun-tahun aku bungkam dan diam karena masih terlalu muda. Lagi pula aku harus waspada dengan mereka yang tidak pernah aku tahu siapa. Belum lagi kami harus memastikan untuk menutup identitasmu rapat-rapat, sesuai dengan keinginan dalam pesan kakak ipar tinggalkan ketika aku menemukanmu.”
Suasana kembali hening, masing-masing orang tenggelam dalam ingatannya masing-masing. Hingga Reymond kembali berbicara. “Beberapa setelah itu, aku mencoba mencari informasi.” Reymond berdecih sambil menundukkan kepalanya. “Hasilnya, seperti yang kau tahu, mereka malah menyerang Regina dan menyingkirkannya sebagai peringatan bagiku, aku pikir dia meninggal karena tindakan cerobohku itu.”
Regina yang merasakan rasa bersalah dari Reymond, lantas melangkah mendekatinya dan mengusap lembut punggung pria itu. “Aku masih di sini. Kau tidak perlu merasa bersalah lagi.”
“Maaf karena aku tidak mencari tahu lebih dalam tentang kecelakaan yang menimpamu,” ucap Reymond tulus dan diangguki oleh Regina yang memang memahami situasi mereka saat itu. “Karena itulah, aku hanya diam untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya beberapa tahun ini, aku berusaha mencari ibumu kembali. Tapi, sepertinya mereka mengetahui gerak gerikku lagi. Alhasil, kau bisa melihat sendiri apa yang terjadi padaku sekarang.”
Tanpa terasa kedua tangan Richard terkepal dengan kuat mendengar setiap kalimat yang diceritakan sang paman. Bukan hanya Richard yang terkejut, melainkan Day juga.
"Dia benar-benar." Richard terlihat cukup geram, suara gemeretak gigi yang saling bersahutan terdengar begitu jelas. Dia bergegas melangkah keluar ruangan dengan emosi yang membara.
Reymond yang berniat menghentikan, terlebih dahulu dihentikan oleh Regina. "Dia sudah cukup dewasa dan memiliki pemikiran luas. Tidak perlu cemas," ucap Regina.
Reymond hanya mengangguk kecil, tampaknya kekasihnya itu lebih memahami tentang keponakannya di bandingkan dirinya sendiri.
__ADS_1