
Hari berlalu sesuai apa yang seharusnya terjadi. Operasi transplantasi ginjal Reymond pun akhirnya berjalan dengan lancar. Regina yang mendonorkan organnya, pulih lebih cepat di bandingkan dengan sang pria yang sampai sekarang bahkan belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka matanya. Namun, karena kejadian hari itu, Richard memindahkan Reymond ke ruangan khusus yang memang hanya bisa di akses orang-orangnya.
Bukan hanya itu, tetapi perawat serta dokter yang memantau kondisi Reymond pun sudah di seleksi dan hanya ada beberapa orang khusus juga yang diizinkan masuk ke ruangan. Mereka merawat Reymond dengan bayaran yang tidak main-main. Namun, kali ini nyawa mereka adalah pertaruhannya jika sampai kondisi sang paman sampai bocor ke luar. Tidak hanya itu, ruangan juga di jaga ketat oleh anak buah Richard secara langsung, serta di pantau CCTV di setiap sudutnya. Alarm keamanan pun akan mendeteksi jika ada penyusup tidak dikenal yang masuk seperti sebelumnya.
Setelah Reymond melewati masa kritis, Richard harus berpura-pura kembali bekerja. Dia kembali menjadi Office Boy bersama Ramon yang sudah melewati masa duka. Bukan tanpa alasan, tentu saja Richard akan melihat, siapa saja orang-orang yang bergembira akan kebijakan baru perusahaan dan berada di balik konspirasi kecelakaan Reymond.
“Apa kau sudah mendengarnya? CEO baru ternyata lebih arogan di bandingkan dengan Tuan Reymond. Oh Tuhan, mengerikan sekali, kali ini banyak karyawan perempuan yang mengundurkan diri dan kebijakan-kebijakannya pun menjadi tidak pasti,” ucap Ramon pada Richard pada saat jam makan siang.
“Apa maksudmu?” tanya Rich memicing. Beginilah untungnya menjadi orang bawah. Dia bisa melihat dan mendengar secara langsung bagaimana komentar para karyawan yang tidak mungkin sampai ke telinga jika dia berada di atas.
Ramon sedikit memajukan tubuhnya, dia menunduk agar orang lain tidak mendengar apa yang mereka bicarakan. “Dengar-dengar, dia sekarang menggunakan kekuasaannya untuk mengancam para karyawan menemaninya di hotel. Memang banyak wanita yang bangga karena bisa dekat dengan CEO baru, tapi untuk karyawan yang bekerja sungguh-sungguh dengan otak mereka, tentu saja ini sebuah penghinaan, dan akhirnya memilih mengundurkan diri di bandingkan dengan merendahkan harga diri.”
Richard mengangguk paham, tanpa sadar sendok di tangan Rich hampir saja patah karena amarah yang membuncah. Baru seminggu menjadi CEO, itu pun sementara, sang Direktur Keuangan tampaknya sudah lupa akan siapa pemilik perusahaan ini yang sesungguhnya. Padahal jelas jabatan yang dia terima hanya sementara, sedangkan pemilik asli sudah berada di depan mata siap mengambil posisinya kapan saja. Meskipun mereka tidak mengetahuinya.
Keduanya lantas kembali melanjutkan makan siang seperti biasa. Setelah semuanya selesai dan hendak melanjutkan pekerjaan, tidak sengaja, Richard bertemu dengan Rachel yang mengenakan pakaian minim di tubuhnya. Wanita tersebut terlihat sangat tidak nyaman. Meskipun sebuah mantel besar kini tengah menutup tubuh, tetapi tampaknya konsep pemotretan hari ini berbeda dari biasanya.
“Kau pergilah dulu! Aku akan menyusul nanti,” ucap Richard pada Ramon.
Mereka berjalan dengan arah yang berlainan. Rachel yang melangkah tanpa memerhatikan situasi sekitar karena sedang membaca sesuatu, sontak terkejut saat sebuah tangan kekar menyambar lengannya. Hampir saja dia berteriak minta tolong, tetapi ternyata sosok di depannya saat ini adalah orang yang berhari-hari sudah membuatnya kesal.
“Apa yang kau lakukan?” tanya Richard dingin.
Pria tersebut membawa Rachel ke sebuah sudut ruang tersembunyi. Dia mengunci tubuh Rachel di dinding dengan tatapan membunuh yang tidak biasa, sambil mengamati penampilan sang wanita dari ujung kaki hingga ujung kepala. Namun, dengan ketus Rachel menjawab, “Apa kau tidak lihat aku sedang bekerja?”
Nada sinis tidak bersahabat terdengar begitu jelas dari mulut Rachel. Bagaimana Rachel tidak kesal, sejak kejadian hari itu, Richard tidak pernah lagi kembali ke apartemen. Dia bahkan tidak memberikan kabar sedikit pun dan di saat keduanya bertemu di perusahaan, Rich seolah mengabaikan kehadirannya. Hanya bertemu untuk sejenak menjelaskan apa yang terjadi pun tidak, membuat Rachel semakin kesal saja.
“Aku tahu kau bekerja. Tapi pakaian apa yang kau pakai ini? Baju kekurangan bahan yang bahkan tidak layak untuk dilihat, kenapa di pakai?”
“Apa urusannya denganmu?” ketus Rachel.
“Tunggu, kau marah denganku?” tanya Rich curiga dengan gaya bicara Rachel yang berubah.
“Tidak, apa aku berhak marah padamu?” sejenak Rachel membuang wajah ke arah lain. Namun, sedetik kemudian, kekesalan yang menggunung tidak mampu lagi dia bendung. “Bagaimana aku tidak marah, kau pergi dengan wanita lain dan tidak mengabariku sama sekali? Apa dia memberimu lebih banyak uang, hah? Tapi kau juga tidak bisa mengingkari kontrak kita dan menghilang begitu saja. Dasar tidak profesional! Lihat sekarang! Aku sedang bekerja keras demi mengumpulkan uang. Tapi setelah semuanya terkumpul, aku tidak akan menyewamu lagi untuk menjadi suamiku. Aku akan mencari pria lain yang lebih tampan dan tidak mengingkari perjanjian seperti—"
Belum sempat Rachel melanjutkan keluh kesahnya, sebuah kecupan singkat tiba-tiba saja mendarat di bibirnya. “A]a kau cemburu? Bukankah sudah aku katakan jangan jatuh cinta padaku?”
Rachel terdiam membeku dan tidak mampu lagi berkata-kata. Richard memang memperingatkan dirinya untuk tidak jatuh cinta, tetapi mau bagaimana lagi. Mana ada manusia yang bisa mengendalikan setiap rasa yang tercipta akibat terbiasa bersama. Tanpa sadar pipi Rachel bersemu merah, ini adalah kali pertama Richard mengecupnya tanpa permisi dalam keadaan sadar.
Namun, karena Rachel tidak ingin mengakuinya lebih jauh lagi. Dia lebih memilih mengalihkan pembicaraan pada topik utama yang di tanyakan Rich tadi. “Ini semua gara-gara CEO baru sialan itu!” gerutu Rachel sambil memonyongkan bibir.
__ADS_1
“CEO?”
“Apa kau tidak tahu?” tanya Rachel serius. “Ah aku lupa kau pria, tidak akan terkena imbasnya. Mereka mengubah peraturan cara berpakaian karyawan wanita. Lihatlah penampilan karyawan lainnya nanti! Tidak ada satu pun dari mereka yang kini menggunakan celana panjang ke kantor atau rok panjang. Bahkan mereka harus mengenakan rok sejengkal di atas lutut, jika tidak maka akan dipecat,” jelas Rachel.
Dahi Richard berkerut berlapis-lapis bak wafer makanan ringan. “Sejak kapan ada aturan seperti itu? Tapi kau bukan karyawan tetap di sini?”
Rachel menghela napas kasar, dia menunduk sesaat lalu kembali mendongak dan menoyor-noyor kepala Richard dengan jemari telunjuknya. “Apa kau lupa? Aku sudah tanda tangan kontrak dengan perusahaan ini selama lima tahun. Meskipun bukan karyawan seperti kalian, tapi tetap saja aku adalah bagian dari perusahaan ini. Awalnya juga protes dengan kebijakan itu. Tapi mau bagaimana lagi, mereka mengancam dengan pembatalan kontrak yang berakhir dengan aku harus membayar penalti sepuluh kali lipat dari kontrak. Cih, sialnya aku menerima tawaran Tuan Reymond Sialan hari itu. Sekarang dia dengan tidak bertanggung jawab malah terbaring sakit dan aku pun harus bekerja sama dengan CEO mata keranjang yang menyebalkan itu.”
“Rachel , di mana kau?” Suara asisten pribadi Rachel memanggilnya dari luar sontak membuat keduanya menoleh. Posisi mereka yang tengah berada di persembunyian tentu saja tidak terlihat olehnya.
“Sudahlah. Aku harus kembali bekerja. Kau urus saja urusanmu sendiri.” Rachel hendak melangkah pergi, sejujurnya kekesalan akan sikap Richard belum juga reda. Mengingat dia seolah dicampakkan begitu saja sebelumnya.
Di saat Rachel hendak melangkah pergi, sebuah tangan kekar kembali memegang pergelangan tangannya. Dia pun menoleh ke belakang sejenak.
“Aku akan pulang ke tempatmu nanti. Bisakah kau menungguku selesai bekerja?”
“Kita lihat saja nanti!” Meskipun terdengar begitu ketus. Akan tetapi bunga-bunga kembali bermekaran dalam hati Rachel . Dia melangkah pergi dengan pipi panas bersemu merah, sang asisten yang melihat Rachel sontak mendekat ke arahnya.
“Apa alergimu kumat lagi? Kenapa pipimu merah sekali? Haruskah kita ke rumah sakit?” tanya Siska panik. Setelah kembali pulih, dia memang kembali bekerja sebagai asisten Rachel, meskipun sejujurnya Rachel sudah melarangnya dan ingin agar Siska beristirahat saja di rumah sampai benar-benar sembuh. Namun, gadis itu malah seperti prangko yang semakin lekat dengan Rachel.
“Ah, tidak. Aku hanya sedikit kepanasan. Iya, kepanasan,” ujar Rachel beralasan. “Sudahlah! Ayo kembali ke ruang pemotretan.”
Sementara itu, Richard yang merasa situasi semakin tidak terkendali lantas menghubungi seseorang. “Lakukan lebih cepat! Kita tidak bisa membiarkan perusahaan ini di ambang kehancuran terlalu lama.”
Setelah keduanya selesai bekerja, Rachel benar-benar menunggu Richard di dalam mobilnya. Dia meminta Siska dan yang lainnya untuk kembali terlebih dahulu dan memilih menunggu suaminya yang mahal di dalam mobil. Entah berapa kali Rachel menatap cermin hanya untuk merapikan riasan, hingga tidak lama kemudian, sosok yang di nantikannya pun tampak berjalan dari kejauhan.
Rachel menekan klaksonnya, beruntung Richard segera menoleh sehingga dia tidak perlu menurunkan kaca. Pria itu berjalan ke arah mobilnya dengan santai. “Oh Tuhan, kenapa dia semakin tampan saja setelah sekian lama tidak bertemu,” gumam Rachel di dalam mobil.
“Sudah lama menunggu?” Tanya Richard di saat memasuki kendaraan tersebut.
“Belum.” Bohong, itulah yang Rachel lakukan saat ini. Dia bahkan sudah menunggu sejak satu jam yang lalu karena memang pekerjaan sudah dia selesaikan lebih awal. Namun, demi tampil sempurna Rachel pun memaksimalkan penampilannya senatural mungkin, agar Richard tidak curiga. “Bagaimana kalau kita mencari makan dulu? Aku lapar?” tawar Rachel .
Richard hanya mengangguk kecil. “Kali ini biarkan aku yang mentraktirmu. Aku baru saja menerima gaji,” kata Richard beralasan. Padahal gaji yang diterimanya juga tidaklah seberapa.
Rachel menghirup napas panjang. Jarang-jarang Richard menawarkan hal seperti itu. “Baiklah! Kita makan di tempat yang sesuai dengan kantong mu saja.” Rachel lantas mulai menyalakan mesin kendaraan, mereka bergerak meninggalkan Je Holdings menuju tempat lainnya.
Sementara itu, Richard tampak fokus bertukar pesan melalui ponsel, membuat Rachel mengernyitkan dahi dan bertanya dengan nada kesal. “Apa senior itu juga menunggumu pulang?” tanya Rachel.
Dia cukup sadar akan posisinya saat ini, Rachel dan Richard bukan benar-benar berada di lingkaran kehidupan di mana semuanya adalah nyata. Rich hanyalah pria sewaan yang bisa pergi pada wanita kaya lainnya kapan saja, sehingga Rachel sesungguhnya tidak berhak untuk menggunakan perasaan ke dalam hubungannya. Akan tetapi bodohnya dia, malah terjebak dengan permainan yang dia ciptakan sendiri.
__ADS_1
“Maksudmu wanita yang menjemputku hari itu?” Richard bukannya tidak tahu Jika saat itu Rachel melihatnya. Hanya saja situasi panik membuat Richard tidak mampu berpikir lagi kala itu, sehingga dia pun enggan untuk menjelaskan.
“Memangnya ada yang lain?” sinis Rachel. Guratan kecemburuan tergambar jelas di wajahnya. Namun, hal itu berhasil membuat Richard bangga, artinya Rachel sudah masuk ke dalam perangkap tanpa dia duga. Tampaknya akli ini Tuhan memang berpihak pada Richard.
Rachel yang melihat Richard tertawa kecil sambil menunduk bukannya senang malah semakin mencebik. “Apa kau sedang mengejekku sekarang?”
“Tidak tidak. Hanya saja kau terlihat manis ketika sedang cemburu.”
Lagi-lagi pipi Rachel terasa begitu panas mendengar pujian Richard. Dia membuang wajah ke arah lain untuk tersenyum sejenak dan kembali pada ekspresi sebelumnya.
“Dia bibiku. Pamanku mengalami kecelakaan besar. Karena itulah aku tidak kembali sampai sekarang.” jelas Rich berkata Jujur.
“Apa?” Rachel yang terkejut sontak menginjak pedal rem. Dia menatap Richard untuk sesaat, tetapi pria itu tampak berekspresi biasa saja. “Kenapa kau tidak bilang padaku? Mereka pasti membutuhkan biaya banyak.”
Rachel yang mengira Richard adalah orang miskin tentu saja hal pertama yang diingatnya adalah perihal biaya. “Tunggu. Tunggu. Tapi bibimu terlihat kaya,” ucap Rachel kembali mengingat mobil yang digunakan wanita itu dan kembali melanjutkan perjalanannya.
“Ya mereka memang kaya.”
“Apa mereka begitu berharga untukmu? Sampai kau bahkan tidak berpamitan denganku, walaupun hanya sepatah kata?” ucap Rachel lirih.
“Lebih dari apa yang kau sebut berharga.” Kalimat tulus Richard dan pandangannya membuat Rachel menyadari posisi paman dan bibi bagi Richard. Mungkin saja Rich sama seperti dia yang tidak lagi memiliki orang tua. Ah, Rachel masih memiliki seorang ayah, hanya saja tidak pernah mendapatkan perhatiannya.
Tidak berselang lama, keduanya tiba di sebuah streetfood yang menyajikan berbagai olahan jajanan pinggiran. “Kenapa kita ke sini? Bukankah sudah ku bilang aku yang akan mentraktirmu hari ini?”
“Makanya aku membawamu ke sini. Sudah lama aku tidak makan di sini. Ayo cepat!” Rachel lantas mengenakan topi dan masker yang biasa dia gunakan ketika bepergian sendirian. Meskipun memiliki keluarga yang kaya dengan segala fasilitas yang ada. Rachel memilih sederhana, saat di mana keluarganya masih terlihat utuh, bukan hanya materi saja yang terpenuhi.
Rachel selalu suka berkerumun di tengah keramaian orang yang berlalu lalang dan menyajikan jajanan pinggir jalan. Karena di sinilah, dia bisa mengingat kembali masa-masa ketika sang ibu kandung masih ada.
Keduanya pun melangkah menyusuri jalan, melewati berbagai macam orang yang menjajakan dagangan dengan berbagai celotehan promosi.
Sesekali Richard melihat Rachel yang tersenggol orang lain, membuat pria tersebut lantas meraih tangan Rachel dan menggenggamnya dengan erat.
Rachel yang terkejut menoleh pada awalnya, tetapi melihat Richard yang berinisiatif sendiri tentu saja dia akan membiarkannya. Senyum mengembang di wajah wanita tersebut, di kala melihat sebuah tempat jajanan terfavoritnya di sini. “Ayo kita ke sana!” ajak Rachel.
Bukan Rachel yang tidak terbiasa dengan tempat seperti ini, melainkan Richard. Meskipun berpura-pura miskin, nyatanya dia juga tidak pernah mencoba pergi ke tempat seperti ini. Apalagi jajan pinggir jalan bisa di anggap tidak sehat, sedangkan Kakeknya sejak kecil selalu mengajarkan Richard untuk menjaga pola makan yang sehat.
Tak sengaja, ketika Rachel hendak menyeberang, dari arah berlawanan seorang wanita lusuh tampak berlari ke arahnya dan menyenggol bahu Rachel . Tetapan keduanya sejenak saling bertemu. “Hanna, bukankah itu Hanna?” batin Rachel seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja di lihatnya.
“Maling, maling, berhenti!” teriak salah seorang pedagang yang tampak mengejar wanita lusuh itu.
__ADS_1
"Tidak mungkin,” batin Rachel menggeleng kecil.