
Sementara itu, di daerah lain, semenjak mendengarkan semua pengakuan Ben, Richard tidak dapat berpikir jernih. Entah dia harus membantu pria itu untuk menemukan Rachel, atau tetap diam dan melihat pergerakan Dante selanjutnya.a
Bukankah memang ini tujuan awal dia mendekati Rachel. Namun, mengapa kini malah kekhawatiran terus saja merasuk dalam dirinya semenjak kepergian wanita itu.
Dia kini duduk di taman rumah sakit seorang diri, setelah menjenguk pamannya dan mendengarkan berbagai cerita tentang keluarga mereka. Berhari-hari pikirannya melayang entah ke mana, kebimbangan seketika merasuk tidak berpenghujung dalam pikirannya bak benang kusut yang sulit untuk di urai. Hingga isi kepala Richard bak ingin meledak saat itu juga.
Ramon yang kini menjadi orang pribadi kepercayaan dengan tugas khusus perlahan duduk di samping Richard. Dia menyerahkan satu kaleng minuman bersoda para pria yang kini menjadi bos sekaligus sahabatnya itu. “Semakin lama kau mengulur waktu hanya untuk berpikir, semakin jauh mereka akan bertindak,” ucap Ramon membuyarkan lamunan Richard.
Richard mengambil minuman tersebut. Senyum tipis terukir dengan sinis di wajahnya. Pria yang sebelumnya terlihat konyol seperti Ramon ternyata juga memiliki sisi tersembunyi yang tidak bisa di duga oleh orang lain, beruntung Richard yang mengenal Ramon, bukan orang lain.
__ADS_1
"Bagaimana dengan mata-mata sialan itu?" tanya Richard.
"Beres. Kau tenang saja."
“Lalu apa lagi yang kau dapatkan kali ini?" tanya Richard.
Meskipun belum lama bekerja sama, tetapi Richard menyadari potensi dalam diri Ramon. Pria itu bukan hanya bisa bergerak dengan cepat mencari informasi tanpa perintah dari Richard, tetapi kabar sekecil apapun Ramon mampu mendapatkannya. “Mereka sudah membawa Rachel pergi sebelum Ben datang ke kediaman itu.”
“Ke mana?” tanya Rich.
__ADS_1
Ramon hanya menggeleng kecil. “Sepertinya menuju tempat yang cukup jauh, mereka tidak pergi menggunakan mobil.”
Richard sontak menoleh tajam ke arah Ramon. “Mungkinkah Rachel dibawa ke luar negeri?”
“Tidak mungkin,” jawab Ramon santai.
“Kenapa kau bisa seyakin itu?” Kerutaan berlapir-lapis terlihat begitu jelas di dahi Richard, sedangkan Ramon hanya tersenyum kecil.
Dia lantas sedikit mencondongkan tubuh ke arah Richard dan berbisik tepat di samping telinga sahabatnya itu. “Karena setahuku, Rachel di bawa pergi oleh Dason. Dan pria itu masih berkeliaran di perusahaan. Jadi mustahil dia akan bolak balik ke luar negeri setiap hari, hanya untuk memastikan jika calon istrimu tidak kabur," ucap Ramon menekankan kalimatnya.
__ADS_1
“Apa? Dason yang membawa Rachel?” Richard yang terkejut dengan informasi Ramon, langsung terhenyak dari posisinya. Dia berdiri dengan kedua tangan yang terkepal kuat. Siapa yang tidak mengenal Dason, anak angkat Dante yang kini berpeluang besar menggatikan posisi pria tersebut. Bukan hanya menjadi wakil CEO di perusahaan yang di pimpin Dante, tetapi juga salah satu pesaing bisnis gelap yang masih Richard geluti hingga saat ini. “Berani-beraninya dia.”
Richard yang geram lantas meninggalkan Ramon di taman begitu saja, dia membanting minuman kaleng di tangannya ke tanah dengan sangat kuat. Sementara itu, Ramon yang melihat reaksi Richard tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya. “Dasar pria dingin. Di saat dia ada kau hanya mengabaikannya, sedangkan ketika pria lain bersamanya, baru kau akan bertindak. Tadi bilang tidak peduli dan hanya menjadikannya umpan. Ternyata kau sudah jatuh cinta diam-diam. Bodoh,” gumam Ramon heran dengan sikap Richard. Namun, puas mengetahui betapa bara api cemburu berkobar dengan begitu hebatnya di hati sahabatnya itu. Meskipun Richard sendiri tidak menyadari akan perasaannya.