My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 23: Bukan Dia


__ADS_3

Seorang wanita berjalan dengan percaya diri menuju ruangan sang ayah. Senyum mengembang di wajah, saat mendengar kabar jika ayahnya sendiri yang akan berusaha bekerja sama dengan Dday Holdings.


"Apa Daddy ada di dalam?" tanya Rose pada asisten di luar ruangan sang ayah.


"Ada, Nona."


Rose mengetuk pintu ruangan tersebut sebelum memasukinya.


"Masuk." Setelah mendapatkan jawaban barulah dia membuka pintu dan melangkah ke dalam.


"Daddy," sapa Rose sambil membawa sebuah berkas di tangannya.


"Ada apa?" tanya Ben tanpa melihat ke arah sang putri sebab masih fokus pada berkas di depannya.


"Aku dengar, Daddy ingin mengajukan kerjasama dengan Dday Holdings?" tanya Rose tanpa basa-basi.


Hanya anggukan kepala yang Ben berikan sebagai jawaban kepada putrinya. Selama ini, Rose memang terkenal ambisius dalam hal bisnis dan juga berusaha mendapatkan kesempatan untuk menggantikan Ben. Sementara itu, Roy hanyalah batu loncatan bagi wanita itu agar karirnya di perusahaan ini akan lebih mudah nantinya.


Selain itu, alasan Rose merebutnya dari sang kakak juga karena rasa iri serta ingin membuktikan kepada ayah tirinya jika dia lebih baik dalam segala hal di bandingkan putri kandung Ben yang tidak bisa diandalkan. Hanya karena Rachel memilih jalur yang berbeda dari yang ditentukan ayahnya.


"Aku membawa beberapa berkas penawaran proyek yang menarik untuk di ajukan kerjasama dengan mereka nantinya, Dad," ucapnya sambil menyerahkan berkas tersebut ke atas meja sang ayah.


Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang Ben berikan sebagai jawaban. Dia bahkan tidak berniat untuk membukanya di depan sang putri terlebih dahulu, meskipun hanya sekedar untuk mengeceknya.


Namun, bukan Rose namanya jika tidak memiliki banyak akal. Tujuannya bukan hanya mendapatkan tender besar, juga mendapat tangkapan pria yang lebih kaya, yaitu Reymond Day. Meskipun usia keduanya terpaut cukup jauh dan Rose sendiri sudah bertunangan dengan Roy, sayangnya hal itu tidak mengurungkan niatnya untuk berada di posisi impian para wanita.


"Emth, Dad. Aku dengar dia sangat sulit diajak kerja sama." Tidak ada tanggapan dan respons dari Ben. Siapa yang tidak mengenal DDay Holdings yang begitu pemilih dalam mencari relasi bisnis. Bahkan Roy pun kemarin gagal hanya untuk bekerjasama dengan pihak marketingnya. "Bagaimana kalau kita mengundangnya makan malam, Dad?"


Usulan dari Rose sontak menghentikan kegiatan Ben. Pria itu bergeming sejenak, lantas meletakkan pena di tangannya dan menatap sang putri dengan seksama. Bukan hal buruk untuk mengundang Rey makan malam bersama sebelum membicarakan bisnis. Selain menciptakan suasana yang lebih santai, dia juga bisa menjalin keakraban lebih nantinya. Mana tahu bisa merangkap menjadikan Reymond sebagai kandidat menantu selanjutnya.


"Akan Daddy pikirkan nanti. Biarkan Sam yang mengaturnya nanti."


"Dad, bukankah selera Sam terlalu klasik nanti? Bagaimana jika aku saja yang mencari restoran terbaik. Kami anak muda tentu menginginkan suasana yang segar. Bukankah kita harus menunjukkan ketulusan terlebih dahulu pada klien kita, sebelum bekerja sama?" Ucap Rose membujuk.

__ADS_1


Benar juga apa yang dikatakan Rose. Namun, Ben juga bukannya tidak tahu maksud dan tujuan Rose saat ini. Akan tetapi hal terpenting baginya saat ini hanyalah bisa bekerja sama dengan mereka. Alhasil dia pun mengangguk setuju pada sang putri. "Kalau begitu aku serahkan padamu kali ini. Kau bisa mengatakannya pada Sam nanti tempat yang kau pilih."


"Baik, Dad. Kalau begitu aku pergi dulu." Dengan perasaan girang Rose melangkah ke luar ruangan, sedangkan Ben tampak menyandarkan punggungnya di kursi.


Rose adalah sosok yang begitu serakah, jelas-jelas sudah memiliki Roy, tetapi masih saja berniat mencari yang lain. Mungkin memang inilah tujuan wanita itu yang sesungguhnya.


Tampaknya apa yang dimiliki Roy tidak cukup untuk memuaskan ambisinya, sehingga dia masih mengincar seorang Reymond.


"Seandainya itu adalah Rachel," batin Ben sambil memijit pelipis.


Di sisi lain, seorang pria sedang berhadapan dengan laptop di depannya tampak begitu fokus. Di usianya yang sudah tak lagi muda, karisma serta kekayaan yang melimpah masih melekat dalam dirinya. Meskipun orang lain menyatakan dirinya adalah sosok pria sempurna karena menikmati kekayaan seorang diri dan gila kerja, tidak masalah. Asalkan semuanya berjalan dengan lancar.


"Tuan," suara sang asisten memasuki ruangan menjeda apa yang tengah dilakukan Reymond.


"Ada apa?"


"Anda mendapat undangan makan malam dari Tuan Ben."


"Benar, Tuan."


Sejenak Rey terdiam sambil berpikir. "Apa Ben memiliki putri?"


Sang asisten mengangguk. "Dia memiliki dua putri Tuan. Hanya saja salah satunya tidak bergelut di bidang bisnis dan beberapa waktu yang lalu terlibat skandal. Meskipun beritanya sudah menghilang dari peredaran, sedangkan yang satu lagi sepertinya berada di posisi manajer perusahaan."


Rey tampak tidak tertarik pada wanita yang berbisnis, hanya saja salah satunya memang membuatnya merasa penasaran. "Mereka juga yang menghapus berita skandal itu?" tanya Rey.


"Sepertinya bukan, Tuan."


"Bukankah wanita milik Rich sekarang berasal dari keluarga Ben?" Batin Rey. Sebuah seringai licik muncul di wajah Reymond. "Sepertinya menyenangkan sedikit bermain-main dengan keponakanku itu. Kau terima saja undangan mereka. Kita lihat apa yang ingin mereka lakukan kali ini."


"Baik, Tuan."


Reymond bukannya tidak tahu jika Ben begitu merendahkan Richard. Meskipun status sang keponakan hanyalah pria bayaran, Rey yakin Rich memiliki maksud lain di balik semua itu. Apalagi semuanya sangat bertepatan di waktu dia tengah memberikan hukuman. Belum lagi Richard bisa di bilang baru saja patah hati, mustahil Rich bisa menerima seseorang di hatinya begitu cepat jika tidak memiliki maksud lain. Rey juga harus menyelidiki apa yang sebenarnya ingin Richard lakukan kali ini.

__ADS_1


Sore hari pun tiba, Rachel yang saat itu tidak ada jadwal syuting, tiba-tiba saja di kejutkan dengan suara bel pintu yang berbunyi. “Siapa yang datang sore-sore begini? Biasanya Rich tak pernah membunyikan bel,” gumamnya Rachel melangkah menuju pintu.


Namun, alangkah terkejutnya dia di saat melihat dari lubang intip pintu sosok pria paruh baya tengah berdiri di sana. Dengan ragu Rachel membuka pintu. Apakah gerangan yang diinginkan ayahnya kali ini setelah berusaha mencelakai Rich sebelumnya.


Dengan ragu Rachel membuka pintu. “Ada apa, Daddy kemari?”


“Beginikah caramu menyambut orang tua yang mengunjungi putrinya sendiri?” ucap Ben kesal. Tidak ada keramahtamahan sama sekali yang keluar dari bibir Rachel, padahal sejak malam itu keduanya baru kali ini bertemu kembali.


“Silakan masuk.”


Perlahan keduanya mulai memasuki hunian itu, tampak barang-barang berserakan di mana-mana karena Rachel memang sosok yang sulit untuk bersih-bersih. Biasanya Richard lah yang membersihkan semua itu, tetapi jangan kira semuanya gratis, karena Rachel lagi-lagi harus membayar mahal setiap jasa yang ditawarkan Rich.


Hari ini, karena pria itu belum kembali makanya apartemen tersebut terlihat sangat berantakan.


“Silakan duduk!” ucap Rachel memersilakan sang ayah sambil mengambil pakaian yang tersampir di sofa. Dia tidak berencana menawarkan minuman pada sang ayah. Sengaja hal itu dilakukan agar Ben lekas pergi. Entah mengapa Rachel merasa akan dimanfaatkan kembali oleh sang ayah kali ini.


Ben mengedarkan pandangan ke segala arah. Kehidupan yang dijalani Rachel kali ini tentu saja sangat berbeda dari sebelumnya yang bak putri raja. Meskipun bagaimana, dia bahkan tidak pernah mengotori kukunya walau hanya sekedar untuk mencuci piring dan di sini, sepertinya Rachel kesulitan beradaptasi.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Ben mencoba ramah.


“Seperti yang Daddy lihat! Aku masih hidup dan cukup bahagia dengan pilihanku kali ini.”


Tentu saja, bersama dengan Richard dia bebas melakukan apa pun yang dia inginkan, tanpa harus di larang-larang lagi oleh Ben.


Ingin sekali Ben murka saat ini juga, tetapi pria itu berusaha untuk menahannya. Bukan waktu yang tepat baginya marah saat ini karena dia harus membawa Rachel ke acara makan malam. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan begitu saja dan memberikan posisi pada Rose. Melihat di mana Reymond tampak tidak keberatan dan seperti tertarik pada putrinya itu.


Ben menyerahkan paper bag yang dia bawa dan berkata dengan lembut.


“Sudah lama kita tidak makan malam bersama. Sengaja Daddy datang kemari untuk menjemputmu.”


“Tapi calon suamiku belum pulang.” Rachel berusaha untuk menghindar.


Sayangnya Ben bukanlah sosok yang mudah untuk di sanggah. Dia menatap tajam ke arah Rachel dan berkata penuh dengan penekanan. “Daddy hanya ingin mengajakmu. Bukan dia.”

__ADS_1


__ADS_2