My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 62


__ADS_3

Berhari-hari sudah Rachel di sekap di villa yang hanya berisikan orang-orang Dason. Namun, anehnya pria itu tidak pernah berbuat macam-macam pada Rachel dan malah mencukupi segala kebutuhannya, kecuali akses untuk bisa berkomunikasi dengan pihak luar tentunya. Seolah Dason dengan sengaja memang ingin Rachel merasa cukup nyaman.


Wanita tersebut bahkan tidak menyadari jika sedang diculik, tetapi lebih pada menenangkan diri dari hiruk pikuk keramaian kota. Sayangnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini, karena Celine terus saja mengusik dirinya dengan berbagai kalimat mengesalkan setiap harinya.


“Cih, siapa juga yang peduli pada gigolo kaya itu,” kesal Rachel sambil berjalan-jalan di sekitar villa.


Setiap hari Rachel harus mendengar ocehan Celine tentang betapa romantisnya hubungan antara Celina dan Richard terdahulu. Rachel tidak menyangka akan sesial ini bisa bertemu dengan mantan kekasih Richard yang menyebalkan di tempat ini. Hanya menambahkan rasa panas yang membara di dalam dada Rachel saja. Dia sendiri heran, kalau memang cinta mereka itu sungguh begitu besar, kenapa Celine bisa bekerja sebagai seorang pelayan di tempat ini. Mustahil bukan, jika Richard akan sekejam itu membiarkan orang yang dicinta menderita.


“Aku juga pernah diperlakukan dengan sangat romantis. Apa dia pikir hanya dia saja yang paling istimewa di mata Richard?” kesal Rachel. Dia tidak mau berdebat secara langsung dengan celine, sehingga hanya menggerutu dalam kesendiriannya.


Meskipun mencoba bersikap biasa saja, nyatanya apa yang diucapkan Celine selalu terngiang dalam benak kecil Rachel. Cemburu, tentu saja dia merasa cemburu. Namun, apalah daya, keduanya hanya menjalani hubungan kontrak sampai sekarang. Tanpa Rachel tahu bagaimana perasaaan Richard yang sesungguhnya kepada dirinya. Mungkin ada benarnya apa yang dikatakan Celine, dia hanyalah sebuah pion yang di manfaatkan dan akan dibuang begitu saja ketika sudah tidak lagi di perlukan. Buktinya seminggu berlalu, tetapi Rich juga sepertinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan menyelamatkannya.


Mengingat akan semua itu, membuat Rachel ingin mencabut semua rambut di kepala. Dia mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kasar. Beruntungnya, Dason sama sekali tidak memberikan pengawalan terhadap dirinya, sehingga dia bebas berkeliaran di area villa. Lagi pula, percuma juga diberikan penjagaan yang ketat, Rachel tetap tidak akan bisa kabur dari tempat ini. Sebab hanya helikopter atau kapal yang bisa menjadi aksesnya untuk pergi. Bahkan bahan pangan dan yang lainnya Dason sendiri yang mendistribusikan, sehingga Rachel tidak bisa menyelinap begitu saja dengan mudah.


Cukup lama Rachel berjalan, hingga tidak sengaja pandangannya mendapati sebuah bangunan tua yang tampak seperti gudang. “Tempat apa itu?” batin Rachel.


Perlahan langkahnya semakin dekat, meskipun sedikit takut, tetapi rasa penasaran membuat Rachel mencoba melihat-lihat bangunan tersebut.


“Pintunya tidak di kunci, berarti bukan tempat yang terlalu penting,” gumam Rachel melihat pintu tersebut hanya diikat dengan rantai tanpa ada gembok yang menguncinya.

__ADS_1


Tangan Rachel bergerak mengurai rantai berkarat tersebut, dan melepaskannya. Dia membuka pintu dengan hati-hati. “Permisi, apa ada orang di dalam?” teriak Rachel, tetapi sama sekali tidak mendapatkan sahutan. “Cih, bodohnya aku. Jelas-jelas pintunya saja terikat dari luar. Bagaimana bisa ada orang di dalam sini.”


Rachel hendak berbalik. Namun, samar-samar sebuah suara ketukan di kejauhan tiba-tiba saja mengejutkannya. “Siapa di sana?” tanya Rachel cepat.


Suasana sepi dan gelap menambah kesan menyeramkan dalam bangunan tersebut. “Anggap saja sedang menyusuri rumah hantu,” gumam Rachel mencoba kembali melangkah semakin dalam.


Tidak ada apa pun yang menarik di tempat tersebut, kecuali barang-barang lama layaknya sebuah gudang. Namun, suara ketukan yang tidak berhenti sejak tadi membuat Rachel semakin merasa penasaran. “Barangkali ada kucing yang terjebak di sini dan tidak bisa keluar,” gumam Rachel meyakinkan diri sendiri.


Rachel semakin jauh menyusuri sebuah lorong. Ternyata bangunan tersebut cukup luas karena memiliki ruang bawah tanah. Hanya ada aroma lembab di bawah serta cahaya remang-remang yang berasal dari lampu kekuningan. Tidak ada satu pun orang di sana di saat Rachel menyisir pandangan. Sejenak dia menghentikan langkah setelah merasa suara itu menghilang.


“Apa aku salah dengar?” Lagi-lagi Rachel bermonolog.


Dia kembali hendak berbalik, tetapi suara ketukan itu berubah menjadi nyanyian seorang ibu bak menimang anaknya. Sontak bulu roman Rachel berdiri seketika mendengar betapa pilunya suara yang bergetar itu.


Hingga tidak lama kemudian, pandangannya pun mendapati sosok wanita dengan tubuh kurus kerontang tidak terawat yang di pasung bak seekor hewan di dalam sebuah jerurji besi.


“Astaga, siapa kau? Kenapa bisa seperti ini?” tanya Rachel panik. Namun ketika dia berusaha membuka besi itu, naas rantainya di gembok berlapis-lapis. Tidak seperti pintu di luar.


“Kau siapa?” tanya wanita itu dengan suara lemah.

__ADS_1


“Astaga. Apa nasibku akan sama seperti dia?” batin Rachel menggeleng dengan cepat.


Belum sempat keduanya saling berbicara, suara langkah kaki seseorang dari luar kini mulai terdengar di telinga Rachel. “Kita bicara di lain waktu,” janji Rachel pada wanita tersebut.


Dia memilih bersembunyi di suatu sudut, beruntungnya tempat itu tidaklah terang sehingga persembunyiannya tidak mudah terlihat.


“Akhirnya lega,” ucap seorang pria yang biasanya berjaga di sana. Dia baru saja meninggalkan tempat tersebut karena panggilan alam yang tidak lagi tertahankan. Terlalu lama menjadi penjaga membuat kotoran menumpuk di perutnya hingga menyebabkan dirinya tidak sempat mengunci pintu dan terlalu lama berada di kamar mandi. Dia melihat ke arah tawanannya yang masih di posisi awal. “Lagi pula kau sudah dua puluh tahun terkurung di sini. Kenapa pula kami masih harus menjagamu? Jika kau bisa melarikan diri, pastinya sudah kau lakukan sejak dulu.”


Rachel yang mendengar penuturan pria tersebut sontak terkejut. Dia terjengkang dari posisinya dan menutup mulut rapat-rapat dengan tangan, sayangnya hal itu berhasil menimbulkan sedikit suara.


Tentu saja hal tersebut menyebabkan sang pria segera menoleh dengan cepat. “Siapa di sana?” teriak pria itu.


Akan tetapi, dengan cepat wanita yang menjadi tawanan kembali bernyanyi. Bahkan lebih keras dari biasanya. Hal itu sengaja dia lakukan demi memberikan kesempatan bagi wanita yang tadi menghampiri agar memiliki waktu untuk pergi.


Beruntungnya Rachel adalah orang yang tanggap dan melarikan diri, sebelum nyawanya berakhir di sini. “Huft, tempat ini ternyata tidak sesimpel yang aku duga. Bagaimana bisa mereka menyekap seseorang selama dua puluh tahun lamanya. Bukankah itu melanggar hak asasi manusia?” gumam Rachel heran sambil terus melangkah dan tanpa sadar malah menyusuri hutan. Dia berjalan melalui jalur lain menuju villa. Tempat di mana dia harus segera kembali, tetapi tidak menimbulkan kecurigaan. Namun, kini malah tersesat di tempat yang dia sendiri belum pernah kunjungi.


Akan tetapi, tidak lama kemudian, suara bariton seorang pria dari belakang tampak membuyarkan segala pikiran Rachel. “Apa yang kau lakukan di sini?”


Rachel yang terkejut sontak membalikkan tubuh. Namun, badannya terasa tidak seimbang, sehingga dia tersandung kakinya sendiri dan malah tergelincir ke bawah.

__ADS_1


Pria yang tadi memanggilnya sontak mengulurkan tangan, tepat sebelum Rachel terjun bebas ke bawah. “Pegang tanganku erat-erat,” ucap Dason berusaha menarik tangan Rachel.


“Oh, astaga hampir saja aku mati dua kali di hari yang sama.”


__ADS_2