My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 54: Tender


__ADS_3

Hari-hari berlalu begitu saja tanpa adanya sebuah hambatan atau serangan dari pihak mana pun. Kontribusi Richard dalam membersihkan para tikus yang perlahan-lahan menggerogoti aset perusahaan pun mampu dia lakukan dengan cara yang tidak terduga.


Hubungan asmara dengan Rachel pun semakin membaik, tidak jarang keduanya menjadi pusat perhatian karena banyak pihak yang merasa keselarasan keduanya terlihat begitu nyata. Menjadikan mereka pasangan idaman para kaula muda, yang tengah jatuh cinta.


Hari ini, tender pemilihan mahkota pernikahan Putri Lady mencapai titik puncaknya. Saat di mana seluruh perusahaan berlian baik dalam maupun luar negeri akan bersaing dalam satu ruangan demi mendapatkan proyek tersebut. Richard hadir dengan membawa sebuah mahkota di dalam kotak yang kini berada di tangan sekretarisnya.


Keduanya menghentikan langkah di kala seorang pria paruh baya tampak menyapa Richard.


“Sepertinya saya cukup beruntung hari ini karena bisa melihat secara langsung sosok pewaris Dday Holdings yang sesungguhnya.”


“Siapa dia?” tanya Richard sedikit memiringkan tubuh ke arah sang sekretaris.


“Tuan Dante, salah satu pemilik perusahaan dengan kemampuan yang hampir menyetarai Dday Holding,” jelas sekretaris wanita itu. “Dia juga salah satu saingan terberat bagi Tuan Reymond.”


Richard mengangguk paham. Dalam dunia bisnis siapa yang tidak memiliki saingan, tentu saja tidak semua perusahaan merupakan relasi. Terlebih lagi perusahaan yang besar. “Maaf tidak mengenali Anda sebelumnya, Tuan Dante. Tapi sepertinya posisi kita tidak seakrab itu untuk saling bertegur sapa,” ucap Rich tanpa ragu menyinggung pria paruh baya di hadapannya dan melangkah pergi ke ruangan utama begitu saja.


Dante yang merasa tersinggung, mengepalkan kedua tangannya dengan sangat kuat. Sorot tajamnya mengarah pada punggung yang semakin menjauh dari pandangan itu. Akan tetapi, sedetik kemudian, sebuah seringai di wajahnya terlihat begitu menakutkan. “Bocah ingusan kemarin sore yang hanya tahu bermain dengan wanita ingin coba-coba melawanku. Kau belum pantas mendapatkan kehormatan itu,” gumamnya.

__ADS_1


Acara demi acara berlangsung secara lancar. Demi kenyamanan sang putri di hari spesialnya nanti, untuk hari ini tidak ada media yang diizinkan meliput. Semua itu demi menjaga kerahasiaan dari konsep pernikahan sang putri nantinya, dan supaya pihak luar yang berniat jahat tidak bisa mengetahui apa yang akan dikenakan putri Lady nanti.


Bukan hanya memilih mahkota saja, tetapi sang putri memilih sendiri desainer gaun, sepatu serta atribut lainnya. Termasuk di dalamnya pakaian para pengiring yang akan menemani perjalanannya menuju pelaminan nanti.


Di ruangan khusus pemilihan mahkota, puluhan mahkota yang masih tertutup dengan kotak tampak sudah berjajar rapi di depan. Para desainer perusaan berusaha memberikan yang terbaik untuk acara itu, termasuk Richard di dalamnya. Beberapa kotak sudah di buka, tetapi sang putri masih tidak menampakkan kepuasan di wajahnya.


Kotak milik Dante dan Richard saling bersebelahan. Namun, ketika kotak dari perusahaan lawan yang dibuka terlebih dahulu, Richard seketika membelalakkan mata hingga membulat sempurna.


“Indahnya.”


“Iya, benar-benar sangat indah dan mewah. Cocok dengan posisi sang putri.”


Richard hanya terdiam dengan kedua tangan yang berkeringat dingin di saku celananya. Dia melirik sekilas sosok di seberang yang kini tersenyum penuh kemenangan. Bukan suatu kebetulan desain dua perusahaan bisa sama persis seperti itu. Pasti ada seseorang yang memang dengan sengaja membocorkan rahasia dan membantu pihak lawan dalam merancang desain ini.


Meskipun marah, tetapi Richard sudah mengantisipasi sejak awal. Masa depan suatu tender tidak ada yang tahu. Hal apa pun bisa saja terjadi, beruntungnya Richard sudah memikirkan semua itu dengan masak. “Semoga Ramon tidak terlambat,” batin Richard dengan wajah dingin dan tetap berusaha memperlihatkan ketenangannya.


Sebaliknya, Dante tampak begitu puas dengan ekspresi terkejut Richard saat itu. Dia memang licik dan menghalalkan segala cara demi mencapai tujuannya. Mencuri desain dari Dday Holdings untuk proyek sebesar ini, tentu saja bisa dia lakukan. Meskipun banyak pendukungnya yang sudah berhasil Richard depak dari perusahaan. Sayangnya, mereka bukanlah jumlah yang sedikit untuk di basmi begitu saja.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, kini saatnya kotak milik Dday Holdings di buka. Dengan perlahan pelayan sang putri mulai mengangkat kota tersebut. AKan tetapi, suara pintu utama terbuka dengan seorang pria yang tergopoh-gopoh berlari ke dalam ruangan tersebut membuat semua mata tertuju padanya. “Tunggu!” teriak Ramon dengan sebuah kotak lainnya di kedua tangan.


“Lancang! Beraninya kau menerobos masuk ke sini!” teriak salah seorang pelayan. Namun, Putri Lady segera mengangkat tangannya sebagai isyarat jika tidak masalah dengan hal itu.


“Berikan aku alasan yang kuat, sehingga tidak perlu menghukummu setelah ini,” ucap Putri Lady dengan lembut.


Ramon perlahan melangkah maju, jangan tanya perasaannya saat ini. Sudah pasti jantungnya berdegub kencang di situasi seperti ini. Dia di tugaskan secara khusus oleh Richard untuk menjaga Mahkota asli yang akan digunakan oleh Dday Holdings, dan harus membawanya tepat waktu.


Dia yang sudah terkejut dengan siapa rekan kerjanya yang asli, kini harus berubah pekerjaan dengan tidak lagi menajdi office boy, melainkan asisten pribadi Richard yang tersembunyi. Hanya menjalankan perintah sesuai apa yang di arahkan Richard.


Ramon membungkukkan setengah tubuhnya terlebih dahulu sebelum mulai berbicara di depan putri Lady. “Mohon maaf, Putri. Mungkin saya sudah lancang menerobos tanpa izin tempat ini. Akan tetapi, saya menyadari kelalaian saya dalam memberikan sample desain milik Dday Holding yang sebelumnya. Saya hanya berusaha bertanggung jawab dengan pekerjaan saya dan tidak merugikan Dday Holdings nantinya,” ucap Ramon sesuai dengan arahan Richard.


“Kau tidak takut kepalamu akan di penggal setelah ini, jika ketahuan berbohong?” tanya Putri Lady.


Bohong jika Ramon tidak takut. Dia bahkan tidak bisa bernapas dengan baik saat ini. “Saya hanya ingin mempertanggung jawabkan kesalahan yang sudah saya lakukan sebelumnya. Untuk hukuman yang Anda berikan nanti. Itu adalah konsekuensi yang harus saya terima karena lalai menjalankan tugas.”


Putri Lady tampak puas dengan jawaban Ramon, dia melirik ke arah Richard sang pemilik Dday Holdings untuk sejenak. Sungguh drama yang begitu mengesankan hingga Tidak menyaka apa yang Richard prediksi benar-benar terjadi. “Kalau begitu, letakkan benda- benda itu di tempat mereka seharusnya berada!”

__ADS_1


“Baik, Putri.” Ramon mengangguk paham. Dia lantas menukar kedua kotak yang belum sempat di buka itu dengan napas lega, sedangkan sang putri tampak menyeringai.


Sebelumnya, Richard sudah menemui Putri Lady secara pribadi untuk masalah ini. Namun tidak menduga jika semua itu akan benar-benar terjadi di situasi seperti ini.


__ADS_2