
Pertarungan antara Richard dengan Dante, berakibat sang penguasa kegelapan akhirnya turun dari singgasananya. Berita kematian Dante menyebar ke segala penjuru dunia hitam. Dante yang terkenal dengan sosok yang kuat dan tidak tertandingi akhirnya menemukan ajal yang tidak di duga. Membawa segunung keserakahan dan berkah bagi setiap orang yang membencinya.
Hal itu pun mennyebabkan banyak kubu yang memiliki dendam maupun, masalah yang belum tuntas akhirnya ikut bergerak. Mereka memanfaatkan kondisi dan menyerang kelompok Dante yang hanya tinggal di pimpin oleh Emma dan Dason saja.
Alhasil banyak anak buah Dante yang ikut tewas atau melarikan akibat pertarungan berkepanjangan dan tak berkesudahan.
Sengaja Richard tidak memburu mereka lebih jauh. Lagi pula kondisi sang istri saat ini lebih penting bagi Richard di bandingkan dengan apapun di dunia ini. Seandainya saja Richard bisa menggantikan posisi Rachel saat ini pasti sudah dia lakukan sejak dulu.
Hampir satu bulan lamanya Rachel di rawat di rumah sakit. Entah sudah berapa banyak operasi yang wanita tersebut jalani. Kondisi kritis hampir mati berulang kali terjadi, tetapi dia masih bertahan, meski dalam kondisi koma.
Meskipun dokter meminta Richard untuk menyerah, dia tetap tidak menyerah. Biarlah Rachel masih bisa bernapas dengan alat bantu di seluruh tubuh yang tentunya tidak murah. Meskipun harus menunggu seumur hidup lamanya, maka Richard akan bersedia melakukannya, selama wanita yang dia cintai tidak pergi meninggalkannya begitu saja.
Richard duduk di samping ranjang Rachel seperti biasa, menggenggam satu tangannya sambil membacakan kisah cinta berbagai novel atau pun skenario drama. Sekecil apapun responnya, Richard selalu berusaha membuat sang istri kembali.
__ADS_1
Urusan kantor kini dia kembalikan kepada Reymond, sedangkan dia memilih fokus menemani sang istri. Lagi pula, apalah artinya menumpuk kekayaan, jika tidak bisa bersama dengan orang yang di cinta.
Richard tidak ingin kecolongan sedikit pun, sehingga dia memilih menjaga sendiri sang istri dan tidak tega meninggalkannya sedetik pun. Dia bahkan merasa khawatir ketika harus meninggalkan sang istri guna membersihkan diri.
“Sayang, bagaimana menurutmu? Bukankah kisah mereka terlalu dramatis. Ah, seandainya saja aku bisa melihatmu memaikan peran Elizabeth secara langsung. Pasti rasanya menyenangkan ‘kan,” ucap Richard sambil menutup buku di tangannya setelah selesai membaca beberapa lembar cerita.
Begitulah keseharian Richard, mencoba memberikan semangat kepada Rachel yang dahulu seorang aktris, tetapi harus melewati banyak lika liku penyiksaan dan tidak bahagia sejak bersamanya.
Suara pintu yang dibuka menyadarkan Richard dari lamunannya. Dia mengusap wajahnya yang hampir saja berair, dan melihat siapa yang datang.
“Apa belum ada perubahan?” tanya Regina. Wanita tersebut datang bersama Diana, mengantarkan makanan untuk Richard yang enggan beralih sedikit pun.
Richard hanya menggeleng kecil, sedangkan Diana kini sudah terlihat lebih terawat dibandingkan dengan sebelumnya. Meskipun usianya tidak lagi muda.
__ADS_1
“Ada kabar apa hari ini?” tanya Richard pada Regina.
“Kelompok Emma dan Dason terpecah menjadi dua. Mereka saling berebut kekuasaan juga kekayaan yang tersisa milik Dante,” jawab Regina.
“Setelah gangguan dari luar, kini masalah mereka berasal dari dalam kelompok itu sendiri. Lagi-lagi harta dan takhta. Untuk apa mereka saling menyerang satu sama lain? Bahkan tidak ada sedikit pun rasa puas akan kemenangan, jika harus mengobarkan kebahagiaan,” ucap Richard sambil sedikit mencebik. Mengingat sendiri bagaimana nasibnya saat ini.
Rachel, wanita yang tidak bersalah sejak awal harus menjadi tumbal atas ego mereka. Baik itu Ben, Rosa, Dason, Dante, dan juga Richard. Hanya demi sebuah pembalasan dendam, mereka dengan tega menjadikan umpan Rachel ke sana dan kemari. Namun, ketika Tuhan sudah berkata waktunya pulang bagi wanita itu, Richard malah seolah menolak kuasa Tuhan, dan meminta agar kembali di berikan kesempatan.
Dengan lembut Diana mengambil kursi dan duduk di samping putranya. Wajah yang mulai berkeriput dengan uban yang berubah setiap harinya, seolah menandakan sosoknya sudah banyak makan asam garam kehidupan. Perlahan tangannya mengambil telapak tangan sang putra. Pria kecil yang dulu ceria, kini tidak pernah terlihat bahagia sejak pertemuan mereka kembali. Tentu saja hal itu membuatnya terasa teriris.
“Rich, orang yang berkhianat, tidak akan tahu bagaimana sakitnya dikhianati. Orang yang serakah tidak akan tahu indahnya dunia yang luas ini, dan orang yang buta hati, tidak akan bisa melihat ketulusan orang lain. Kita tidak akan memahami keinginan mereka yang selalu tidak puas akan apa yang dimiliki. Karena kita pernah terluka, dikhianati, kesepian, juga tidak berdaya menghadapi dunia.” Sejenak diana menghentikan kalimatnya. “Bagaimana takdir ke depannya yang akan kau ambil adalah sebuah pilihan, menjadi seperti mereka juga pilihan, pilihan mereka sendiri. Mama, tidak ingin mengatur akan jadi seperti apa dirimu, kau bebas jika ingin membalas dendam lagi jika kau merasa belum puas, tapi apakah dengan pembalasan itu Rachel akan bahagia? Apakah Rachel akan sadar setelahnya? Kita tidak bisa mengubah mereka, tapi setidaknya jangan jadi sama seperti mereka. Kau adalah pria yang kuat, tahu kapan saatnya harus diam dan menahan, juga tahu kapan waktunya kau harus bergerak.”
"Aku sudah tidak berniat membalas dendam dalam bentuk apapun, Ma. aku hanya ingin istriku kembali. Tanpa aku bergerak pun, mereka akan hancur dengan sendirinya. Ditelan keserakahan seperti panutan mereka sebelumnya."
__ADS_1