My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 84


__ADS_3

Di sebuah taman yang luas, seorang gadis kecil memakai gaun putih berlarian. Dia asyik bermain dengan sosok ibu yang selama ini dia rindukan. Rasa lelah akan kehidupan sebelumnya seolah terlupakan begitu saja. Dia tidak mengingat bagaimana dia dewasa, dan seakan kembali pada kenangan lama. Saat-saat paling membahagiakan dalam hidup, yang selalu dia impikan selama ini.


“Rachel, tunggu di sini sebentar ya, Mama akan membelikan es krim untukmu,” ucap seorang wanita yang tidak lain adalah ibu kandung Rachel.


Gadis itu hanya mengangguk, dia kembali bermain di taman sambil menoleh ke kanan dan kiri, sedangkan sang ibu tampak mulai menjauh dari posisinya saat ini. Akan tetapi, di kejauhan dia melihat seorang anak laki-laki yang usianya jauh di atasnya tengah duduk di sebuah kursi roda sendirian. Tatapannya kosong, wajahnya pun tanpa ekspresi sedikit pun.


Tanpa ragu Rachel mendekati anak laki-laki itu. Sebagai seorang bocah kecil dia cukup suka melihat pria berwajah tampan. “Hallo Kakak, kau tampan sekali. Apa kau mau jadi suamiku kalau kita dewasa nanti?” tanya Rachel to the point sambil mengulurkan tangan untuk berkenalan.


Pria kecil itu hanya terdiam dan masih duduk di kursi roda. Mulutnya seolah tertutup rapat dan pandangannya masih terlihat sedikit kosong. Rachel yang belum tahu apa yang terjadi lantas duduk di kursi taman, di samping pria itu.


“Apa kau bisu? Padahal kau tampan sekali, baru kali ini aku melihat pria setampan dirimu,” ucap Rachel sambil sedikit menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Sejenak gadis itu terdiam, tapi wajahnya kembali di angkat dan menunjukkan keceriaan tepat di depan wajah sang pria dia tersenyum. “Tapi tidak masalah. Jika hati kita saling tertaut, aku pasti bisa membaca isi hatimu tanpa harus kau berbicara.” Rachel menoleh ke kanan dan kiri. Dia mengambil sebuah ranting kecil tumbuhan pagar yang panjang dan menggulungnya membentuk sebuah lingkaran kecil. “Pokoknya aku tidak mau tahu. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama padamu. Jadi jangan biarkan wanita lain mendekatimu atau aku akan marah.”


Rachel menarik ingus di hidungnya ke dalam, sambil kedua tangannya memegang tangan bocah laki-laki tersebut. Dia menyematkan tangkai yang dibuatnya sebagai cincin di jari manis si bocah pria dan tersenyum lebar padanya. “Meskipun wajahmu terlihat datar sedingin kutub utara, tapi ketampananmu benar-benar membuatku jatuh cinta. Ini adalah lamaran resmi dariku, kau harus mencariku suatu hari nanti. Janji, aku menunggumu,” ucap Rachel sambil menautkan jari kelingkingnya di jari sang pria.


Tidak lama kemudian, seorang pria dewasa tampak berlari menghampiri keduanya. Dia langsung bersimpuh dan memindai tubuh bocah kecil itu. “Richard, kau baik-baik saja, Nak? Maafkan kakek meninggalkanmu terlalu lama.”


“Tentu saja dia baik-baik saja, Kek. Aku selalu menjaganya di sini sejak tadi. Bahkan nyamuk betina pun tidak berani mendekatinya jika ada aku,” jawab Rachel yang ceria, melihat tidak adanya respon sedikit pun dari Richard kecil.


“Silakan, Kek. Oh iya, jangan biarkan dia berkeliaran sendirian di taman lagi, Kek,” bisik Rachel sebelum mereka pergi.


Kakek Days pun mengerutkan dahinya, apa mungkin terjadi sesuatu tanpa sepengetahuannya ketika daia pergi tadi. “Kenapa memangnya, Nak?”

__ADS_1


“Cucumu terlalu tampan. Dia bisa saja di bawa kabur wanita lain tadi, jika aku tidak segera datang.”


Sontak Kakek Days tertawa lebar mendengar celotehan Rachel, sedangkan Richard tampak masih belum memberikan reaksi apapun.


“Kau ini lucu sekali. Kalau begitu kami permisi terlebih dahulu ya.” Kakek Days lantas mendorong kursi roda Richard, sedangkan Rachel hanya bisa menatap punggung keduanya yang semakin menjauh. Dan ketika gadis itu berbalik, dinginnya sebuah es krim sudah menempel di pipinya akibat perbuatan sang ibu.


“Mama,” gerutu Rachel.


“Apa yang kau lihat sampai-sampi tidak mendengar Mama yang memanggilmu berulang kali, hah?”


"Calon suamiku di masa depan," kata Rachel ceria langsung menggandeng tangan sang ibu.

__ADS_1


__ADS_2