
Rasa takut sekaligus ngeri melihat tatapan tajam tidak bercahaya dari sorot mata pria di depannya, membuat Bram menelan ludahnya sendiri dengan susah payah. Dia hampir saja terkencing di celana, demi menahan rasa sakit di tangannya saat ini. Keringat dingin disertai wajah pucat seolah menenggelamkan keangkuhannya begitu saja.
Bukan hanya nyeri dan perih yang menjalar, darah segar pun mulai keluar tanpa sanggup dia berteriak. Tatapan Richard saat ini bak iblis yang siap menelannya hidup-hidup.
Tidak menyangka jika pria yang dianggap miskin dan remeh ternyata memiliki tingkat kekejaman yang begitu mengerikan. Jika saja dia tahu, nasibnya akan jadi seperti ini, Bram pasti sudah membawa pengawal kemari tadi. Namun, semua sepertinya sudah terlambat, sebab dia seperti tengah dihadapkan dengan malaikat kematian yang siap mengambil nyawa kapan saja.
Bram terdiam membeku, tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun dari mulut busuknya. Dia masih ingin hidup lebih lama dan memiliki banyak istri lainnya. Hanya saja, sepertinya dia harus membuang jauh-jauh niat untuk mempersunting seorang Rachel.
Beruntung, sebuah getaran di saku celana membuat Rich mengalihkan perhatiannya. Dia meletakkan benda pipih itu di samping telinga dan berkata, “Aku akan segera ke sana.” Dia lantas mematikan sambungan telepon dan kembali menatap dingin pria yang jelas-jelas usianya lebih tua darinya itu.
“Kau beruntung karena aku memiliki urusan lain yang lebih penting. Tapi jika aku mendengar kau mendekati calon istriku lagi dalam jarak lima puluh meter. Maka akan kupastikan, pisau ini mampu mengakhiri hidupmu. Meskipun kau bersembunyi di bawah selimut istrimu sekali pun."
Rich sedikit menggerakkan pisau di tangannya, hingga menyebabkan Bram meringis menahan tangis. "Jika kau tidak percaya maka cobalah!”
Mendengar ancaman mengerikan itu, Bram menggeleng dengan cepat, sedangkan Rich langsung berdiri tegak sambil berubah ekspresi tersenyum tanpa dosa. "Oh iya satu lagi. Jika kau ingin melaporkan aku ke polisi. Tulislah namaku yang benar di sana. Richard. Senang bertemu denganmu Tuan Bram. Aku harap ini adalah pertemuan terakhir kita."
Bak dua orang yang berbeda, Rich keluar dari ruangan itu begitu saja, sedangkan Rachel tampak sudah menunggu di depan pintu. "Kau sudah selesai?"
"Ayo pergi! Aku ada urusan lainnya," ajak Rich.
Sedikit ngeri-ngeri sedap, tetapi menyaksikan secara diam-diam bagaimana Richard memberikan pelajaran pada Bram, membuat Rachel menyadari jika Rich bukanlah pria biasa. "Apa sebelumnya dia preman jalanan?" batin Rachel sesekali melirik Rich yang mengemudi.
__ADS_1
Sebenarnya Rachel tidak benar-benar kembali ke mobil tadi. Dia hanya keluar dan memberikan ruang untuk Bram dan Rich. Rasa penasaran membuatnya sedikit mengintip, tetapi tidak menyangka jika Rich akan menggunakan hal ekstrem guna menyingkirkan Bram.
"Apa ada yang salah?" tanya Rich dingin.
"Tidak." Jawab Rachel cepat. Dia berulang kali mengepalkan tangannya. Berharap Rich tidak melihat seberapa gugup dirinya saat ini ketika duduk di samping Rich.
Sejenak keduanya kembali hening. Akan tetapi, sedetik kemudian, beberapa mobil hitam tampak mengepung kendaraan yang mereka tumpangi.
Kaki Rich tiba-tiba saja menginjak rem, sehingga Rachel yang tidak siap akan hal itu seketika berteriak. “Apa kau gila, hah?” teriaknya sambil meringis kesakitan memegangi perut dan kepala yang hampir saja terbentur.
“Maaf, maaf. Tapi sepertinya mereka sudah bergerak cepat untuk mencarimu,” ujar Rich sambil menatap mobil hitam yang menghadang jalan di depannya. Sesaat kemudian, keluarlah banyak pria berpakaian serba hitam dari sana.
"Siapa mereka?" tanya Rachel menatap pria-pria yang mulai mendekat itu.
Tanpa membuang waktu, Rich memilih melepaskan seat belt dan bergerak keluar seorang diri untuk melawan mereka.
"Jangan!" Ucap Rachel menahan Rich.
"Tenang saja. Tidak akan terjadi apapun." Rich tersenyum sambil melerai pegangan tangan Rachel. Dia keluar dari mobil begitu saja, mengabaikan Rachel yang jelas-jelas sangat khawatir akan kondisi saat ini.
"Dasar keras kepala. Sok jadi pahlawan kemalam. Apa dia mau mengantarkan nyawa melawan orang sebanyak itu sendirian, hah?" ujar Rachel pada diri sendiri melihat banyaknya orang yang mulai menyerang Rich. "Sial! Aku tidak mungkin tinggal diam dalam kondisi seperti ini. Aku harus membantunya," lanjutnya bermonolog.
__ADS_1
Merasa keadaan darurat dan jalanan sepi, Rachel berusaha berpikir keras apa yang bisa dia lakukan saat ini. Dia lantas menghubungi polisi. Akan tetapi, seorang pria lainnya berusaha membuka pintu mobil, tetapi tangan Rachel dengan sigap segera mengunci dari dalam.
"Hei! Keluar!" Teriak pria itu sambil berusaha mengetuk-ketuk pintu secara paksa.
Sebagai seorang wanita, tentu saja Rachel ketakutan, tetapi dia mencari-cari adakah benda tajam atau apapun yang dapat dia gunakan saat ini. Sayangnya, semua barang di mobil hanya berisikan alat-alat kebutuhan syuting.
Satu lawan enam. Tentu saja Richard kewalahan. Rachel melihat dengan mata kepalanya sendiri, bagaimana pria itu berusaha bertahan menghadapi segala bentuk serangan, sedangkan satu orang lainnya masih berusaha membuka pintu mobilnya.
"Hei, serasa nonton bioskop tiga dimensi," gumam Rachel menyadari Richard ternyata cukup mempesona ketika bertarung. Akan tetapi, langsung terkejut oleh gedoran dari luar. "Apa kau gila, hah? Mobilku bisa rusak kalau kau pukul-pukul terus dari tadi! Apa kau tidak tahu aku baru membeli ini seminggu yang lalu!" teriak Rachel dari dalam mobil.
Di sisi lain, Richard yang menghadapi keenam orang sendirian tentu saja bukanlah hal yang mudah. Seluruh tubuhnya tidak ada yang boleh berhenti bergerak walau sedetik pun. Bukan hanya pukulan dan tendangan yang dia layangnya, tetapi juga harus bisa menghindar dari serangan lawan.
Sesekali serangan mereka mengenai dirinya. Hanya saja bukan Richard namanya jika dia tidak bisa memainkan situasi. Hingga tidak lama kemudian, suara sirine mobil polisi terdengar semakin jelas.
Seorang pria lantas mengeluarkan belati dari tangan, dan menusuk tepat di perut Richard.
Dengan sengaja dia membiarkan dirinya terluka saat itu. “Akh.” Rich meringis kesakitan, tetapi masih berusaha melawan sambil memegang salah satu perutnya. Sungguh bak pahlawan kemalaman.
“Rich!” Rachel yang melihat Richard terluka pun berlari ke arahnya dengan segera bersama beberapa polisi yang datang.
“Kita pergi sekarang,” ucap salah satu pria yang berhasil menyerang Richard, melihat banyaknya anggota polisi yang datang.
__ADS_1
Para penyerang tidak dikenal itu pun berusaha melarikan diri. Beberapa tembakan polisi terdengar mengenai body kendaraan mereka. Sayangnya, orang-orang itu berhasil kabur dengan mudah.
“Rich, kau terluka,” dengan panik Rachel memeluk Richard yang duduk bersimbah darah memegang perut di atas aspal. "Astaga bagaimana ini."