
Sementara itu, Richard yang mengemudikan kendaraannya menatap ekspresi kesal yang ditunjukkan Rachel dari kaca spion. Pria yang tadinya, berwajah tengil dan manis, kini berubah ekspresi menjadi dingin serta datar. Benar-benar hanya ada sandiwara yang dia tunjukkan pada wanita itu, tanpa Rachel sadar jika dirinya hanyalah sebuah umpan yang akan membantu Richard mengulas kembali masa lalu.
Dia berpamitan pada Rachel akan menemui klien, tetapi mobil yang Richard kemudikan malah mengarah ke sebuah kediaman mewah yang meninggalkan kesan buruk saat terakhir kali dia berkunjung. Namun, berbeda dengan kali ini, karena tampaknya status sosial dan apa yang dikenakan mempengaruhi kehadirannya saat ini.
Jika sebelumnya Rich datang dengan taksi dan hanya diizinkan sampai gerbang utama, tetapi tampaknya cukup berbeda dengan kali ini. Bukan hanya gerbang terbuka dengan sendirinya. Bahkan pemilik rumah juga tampak menyambutnya dengan begitu baik.
Seorang pelayan membukakan pintu mobil Richard, setelah dia berhenti di pelataran. Ben juga berdiri di teras dengan pakaian santai yang dikenakan. “Tuan Rich,” sapa Ben sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Ah, ayah mertua. Jangan seperti itu. Kita tidak sedang berada di kantor seperti sebelumnya. Jangan terlalu formal!” Richard menyerahkan beberapa paper bag berisikan bingkisan buah tangan yang diberikan kepada Ben.
__ADS_1
Dengan Wajah sungkan Ben menerima benda tersebut dan menyerahkan pada pelayan di sampingnya. “Baiklah, Anak Rich. Kalau begitu mari masuk.” ucap Ben sopan.
Jangan tanyakan bagaimana jantung Ben berdebar saat ini. Bukan hanya merasa canggung, tetapi mengetahui siapa Richard yang sebenarnya membuatnya tidak lagi bisa menghirup udara bebas sejak saat itu. Selain statusnya yang terlalu tinggi, posisi Ben saat ini yang berada di tengah kedua kubu tentu saja membuatnya serba salah.
Di satu sisi, Ben tidak ingin lagi kembali pada masa lalu, di sisi lain, dia tidak ingin putrinya berada dalam bahaya dan mengalami hal serupa seperti Diana. Entah mengapa, Ben kini merasa Richard memiliki kemampuan serta kekejaman yang setara dengan dia yang masih bersembunyi di balik topeng kebaikannya.
“Kalau boleh tahu, ada perlu apa, Tuan, emth maksud saya, Nak Rich tumben-tumben datang kemari,” tanya Ben tanpa basa-basi.
Sebuah tawa kecil terdengar begitu dipaksakan keluar dari mulut Richard. “Ayah Mertua, bukankah Anda terlalu to the point? Anda bahkan belum menawarkan minuman padaku. Di luar terasa begitu terik, tampaknya segelas air putih juga bisa membasahi tenggorokanku yang saat ini tengah kering kerontang.”
__ADS_1
“Oh, maaf-maaf.” Dengan terpaksa Ben meminta pelayan untuk segera menyiapkan minuman. Namun, sampai minuman tersebut datang, Richard masih juga tidak membuka mulutnya untuk memulai perbincangan. Baru setelah Rich menghabiskan minuman di gelasnya hingga tandas, dia mulai membicarakan maksud serta tujuan utamanya mengunjungi kediaman Ben.
“Begini, ayah mertua. Sebelumnya aku dan Rachel hanya berencana menikah dengan sebuah perayaan kecil, karena saat itu aku juga tengah dihukum oleh keluargaku dan dia pun masih dalam kondisi sedih akibat pengkhianatan. Aku memahami perasaannya yang mungkin kala itu hanya menganggapku sebuah pelampiasan. Tapi sejujurnya sebagai seorang pria, aku merasa sangat bersalah jika tidak bisa memberikan pernikahan impian yang diinginkan Rachel. Hubungan kami saat ini pun berjalan dengan lancar karena perasaan yang murni. Untuk itu, kedatangan saya kemari karena meminta izin kepada ayah mertua untuk melakukan resepsi mewah perayaan pernikahan kami. Aku ingin memperkenalkan Rachel ke pada publik dengan bangga, dan agar semua orang tahu siapa sesungguhnya Nyonya Monday,” jelas Richard.
Ben sontak membulatkan mata hingga bijinya hampir keluar dari tempatnya. Jika yang berbicara seperti itu adalah pria kaya lainnya dan bukan sosok Richard, tentu saja Ben akan menyetujuinya tanpa berpikir panjang. Namun, sekarang kasusnya sudah berbeda, bukan hanya posisi Richard yang ternyata pewaris satu-satunya Diana, tetapi juga seolah mengumumkan pada dunia, jika Ben merestui hubungan kedua yang akan berakibat fatal pada keselamatan Rachel nanti.
“Bu-bukankah itu terlalu cepat, Rich. Aku dengar pamanmu masih belum siuman. Apa jadinya sebuah pernikahan tanpa seorang pendamping. Bagaimana kala keinginanmu di undur saja sampai Tuan Reymond sadarkan diri,” ucap Ben mencoba untuk mencari alasan.
“Apa kau masih belum yakin dengan diriku, Ayah Mertua? Mungkinkah aku masih belum memenuhi syarat untuk menyandang gelar menantu bagimu?” tanya Richard penuh dengan penekanan.
__ADS_1
Dengan status Richard saat ini, sangat mustahil bagi Ben untuk menolak permintaan Richard. Di satu sisi, dia senang karena Rachel menikahi seorang pewaris tunggal. Namun, di sisi lain, status Richard saat ini bukanlah orang biasa yang tentunya akan membawa masalah besar antara masa depan dengan masa lalu keluarga mereka. Ben pun terpaksa menyetujui permintaan Richard dengan berat hati. Akan tetapi, dia berharap Rachel tidak akan terjebak dalam persangan bisnis yang sepertinya baru saja akan di mulai itu.