
Undangan dari Dday Holdings ke pada Ben tentu saja sudah sampai ke telinga pria tersebut. Namun sayangnya, respons yang ditunjukkan tidak secerah sebelumnya. Ben mengira orang yang mengundangnya datang ke sana masih sosok Antonio. Sehingga dia menduga jika pria tersebut hanya ingin membujuknya agar segera mengambil keputusan.
Ben menghela napas panjang. Dia mengusap kasar wajah dengan kedua tangan yang bertopang di atas meja. “Apa yang harus aku lakukan,” batin Ben.
Tidak lama kemudian, tanpa mengetuk terlebih dahulu, asistennya menyelonong masuk begitu saja. “Tuan.”
Tatapan tajam yang diberikan Ben sontak membuat asisten tersebut mematung dan menyadari kesalahan. Namun lagi-lagi Ben mengembuskan napas kasar sambil sejenak memejamkan mata. “Ada apa?” tanyanya dingin.
“Menurut kabar yang beredar. Dday Holdings saat ini sudah memiliki CEO baru lagi.”
“Iya. Bukankah itu Antonio?” jawab Ben malas. Dia memijiat kedua pelipisnya yang terasa pening, berhadapan dengan pria itu sama saja dengan menyuap.
“Bukan, Tuan. Mereka sudah memberikan kebijakan baru dan Antonio beserta pemilik perusahaan lainnya yang melakukan penyuapan dana demi proyek, sekarang harus menjalani pemeriksaan audit eksternal.”
“Apa?” terkejut sekaligus bahagia tentu saja terlihat di wajah Ben. Dia sontak berdiri dari posisinya sambil tersenyum senang.
“Apa CEO baru itu juga yang mengundang kita datang ke sana?”
“Benar, Tuan.”
“Kalau begitu ayo cepat pergi!”
Mendengar laporan asistennya Ben bergegas menuju Dday Holdings tanpa basa-basi lagi. Kini, dia hanya bisa berdoa agar orang yang memimpin perusahaan tersebut tidak mempersulit dirinya seperti halnya Antonio.
Tidak banyak orang yang tahu seperti apa sosok pewaris tunggal keluarga Day tersebut. Dia selalu datang lebih awal di bandingkan karyawan lainnya, dan kembali lebih petang, seolah tidak pernah beranjak dari ruangannya. Hal itu pula yang membuat karyawan rendah tidak tahu seperti apa wajah CEO baru mereka.
Ben perlahan membuka pintu ruangan Rich setelah dipersilakan. “Selamat siang, Tuan. Maaf membuat Anda menunggu dengan menunda pertemuan kita.”
Tidak ada jawaban yang keluar dari mulut CEO tersebut, hanya ada bagian belakang tubuh yang terlihat menyapa penglihatan Ben. Hingga sesaat kemudian, sosok Richard memutar kursinya dan menampakkan siapa dia sesungguhnya.
“Kau!” Ben yang terkejut sontak membelalakkan mata hingga sepenuhnya. Lututnya terasa lemas seketika itu juga. Wajahnya langsung pucat pasi, sedangkan tubuh tua itu sontak selangkah mundur bersandar pada pintu saking syoknya dia. “Bagaimana bisa?” gumamnya.
__ADS_1
“Selamat datang, Tuan Ben. Silakan duduk!” Sebuah senyum puas mengembang di wajah Richard. Dia sungguh menikmati ekspresi yang diberikan Ben saat ini. Perlahan dia berdiri dari posisinya, melangkahkan kaki jenjang menuju sofa yang ada di ruangan tersebut. “Apa Anda tidak lelah hanya berdiri saja di sana?”
Perlahan Ben melangkah menuju sofa. Dia tidak berani berkata-kata saat itu. Bukankah pria di hadapannya saat ini adalah sang menantu yang selama ini dia hina?
Richard menoleh tajam, sebuah senyum tidak biasa terukir di wajahnya saat itu juga. “Kenapa?”
Dengan cepat Ben menggelengkan kepalanya. “Apa ini semua nyata? Benarkah dia Richard?” batin Ben. Namun, pertanyaaan itu tidak berani keluar dari mulutnya saat itu juga.
“Perusahaanmu akan mengalami kebangkrutan jika tidak mendapatkan suntikan dana. Karena itulah kau mencoba mencari investor juga berusaha bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan besar lainnya. Melihat perkembangan perusahaanmu yang sepertinya hanya jalan di tempat dalam beberapa tahun ini, pasti sangat sulit bagi dirimu sebagai seorang pemimpin.” Tanpa basa-basi, Richard mengutarakan apa yang ada di pikirannya.
Ben yang mendengar suara itu tercekat, tubuhnya bergetar hebat dengan tatapan mengintimidasi yang diberikan Richard. Perlahan, pria itu mendekatkan wajah hingga kepalanya tepat berada di samping Ben. “Ayah mertua, apa kau begitu lupa akan diriku?”
Bak mayat hidup yang membeku, Ben mencerna setiap kalimat yang di dengarnya. “Kau benar-benar, Richard? Calon suaminya Rachel?” tanya Ben masih tidak percaya.
Perlahan Richard berdiri dari posisinya, dia membungkuk hormat dan menyapa Ben dengan baik. “Maaf karena sudah membuatmu terkejut dan tidak memperkenalkan diri dengan baik, Ayah mertua. Perkenalkan namaku Richard, putra tunggal Diana.”
Seperti mendapatkan sebuah sambaran petir saat itu juga, Ben semakin membulatkan mata hingga melebar dengan sempurna. Diana, sosok yang tidak akan pernah dia lupakan sepanjang hidupnya. Karena bermula dari wanita itulah, Ben mengalami titik balik dari kehidupannya yang hampir bangkrut. “K-kau putra Diana?”
“Ah, tidak.” Tentu saja Ben mengelak. Bak di kuliti hidup-hidup dirinya saat ini karena secara tidak langsung Richard mengungkapkan masa lalu yang tidak pernah ingin Ben buka.
Tidak banyak yang bisa Ben katakan dalam pertemuan hari itu, selain dirinya yang syok pada kenyataan baru, dia juga masih malu karena sebelumnya telah memperelakukan Richard dengan sangat buruk. Akan tetapi, pria itu seolah tidak mengambil hati apa yang dia lakukan sabelumnya dan tetap profesional dalam bekerja.
Meskipun keduanya membahas masalah bisnis kali ini, tetapi pikiran Ben tidak bisa fokus akan apa yang dibicarakan oleh Rich dan hanya menangkap inti pembahasan mereka saja. Dia merasa dalam keadaan kosong. Jika pria di hadapannya saat ini adalah benar putra dari Diana, akankah Richard akan menuntut balas padanya?
“Bagaimana menurut Anda permintaan saya? Apakah perusahaan Anda akan kesulitan jika saya menawarkan seperti itu?” tanya Richard membuyarkan lamunan Ben.
“Tidak, Tuan. Kami malah sangat senang karena Anda memberikan ide yang lebih besar dari sebelumnya.” Jangan dikira Ben bisa berpura-pura bersikap biasa saja layaknya Rich.
Keringat dingin sebesar biji jagung, bahkan masih terlihat mengalir di keningnya. Mereka seakan memandikan Ben saat itu juga, meskipun suhu ruangan sudah begitu dingin.
Kali ini, kerja sama keduanya mengalami titik temu yang memuaskan. “Sementara kami masih mendesain ulang mahkota, Anda dapat mengajukan kembali konsep busana yang akan menjadi bonusnya nanti. Setelah semua itu sesuai dengan pasar kami. Maka, Dday Holdings akan bersedia menjadi salah satu investor Sunday Group.”
__ADS_1
“Baiklah, Tuan. Kami pasti akan mempersiapkan semuanya sebaik mungkin,” ucap Ben berdiri dari posisinya dan menyalami Richard, karena pembahasan mereka telah usai.
Richard mengangguk kecil, tangannya mengarah ke pintu sebagai tanda bagi tamunya jika dia sudah bisa meninggalkan ruangan ini.
Ben berbalik hendak melangkah pergi. Meskipun dia masih syok, tidak sopan rasanya jika dia bersikap seolah di masa lalu tidak terjadi apa-apa. Perlahan pria tua itu kembali berbalik menghadap Richard, dan membungkuk serendah-rendahnya. “Saya meminta maaf atas kesalahan di masa lalu dan memperlakukan Anda dengan buruk sebagai seorang menantu, Tuan Richard.”
Dengan segera Rich mendekat ke arah Ben. Dia meletakkan kedua tangan di pundak mertuanya tersebut. “Anda ini apa-apaan, Tuan Ben? Saya memaklumi kondisi Anda saat itu. Sebagai orang tua, tentu Anda ingin yang terbaik bagi Rachel. Lagi pula, posisi saya saat itu sedang di hukum oleh keluarga. Jadi, wajar saja jika Anda salah paham dan tidak menyukai saya.”
“Ah, aku bukannya tidak suka. Hanya saja—"
Belum sempat Ben melanjutkan kalimatnya, suara ketukan di pintu sudah menghentikan obrolan keduanya. “Maaf, Tuan. Saya hanya ingin mengabarkan jika meeting kita selanjutnya sudah siap.”
“Aku akan segera ke sana,” ucap Rich pada seseorang di ambang pintu itu. “Apa yang terjadi di masa lalu tidak perlu di bahas lagi, Tuan Ben. Maaf karena tidak dapat mengantarkan Anda sampai ke depan, karena saya masih punya urusan selanjutnya.”
“Tidak. Tidak, Tuan Rich. Saya yang seharusnya undur diri karena terlalu lama menyita waktu Anda. Kalau begitu saya permisi dulu.” Ben melanjutkan langkah untuk meninggalkan ruangan tersebut.
Sementara itu, Richard yang kini berada di ruangan seorang diri kembali berubah ekspresi menjadi datar. Entah apa yang ingin dia tunjukkan kepada Ben, tetapi bukan sesuatu yang baik tentunya.
Di sisi lain, asisten Ben yang sebelumnya hanya diizinkan menunggu di luar, segera bergerak mendekati atasannya itu. Melihat wajah pucat pasi Ben, dia langsung membantu pria tersebut berjalan. “Apa semuanya berjalan dengan baik, Tuan.”
Tanpa ragu, Ben mengangguk dengan cepat. “Dia pasti sudah bertindak sekarang,” ucap Ben tanpa sadar.
“Dia? Dia siapa maksudmu?” tanya asisten itu penasaran.
“Rachel? Di mana Rachel?” dengan panik Ben menarik kerah pakaian yang dikenakan asistennya.
Kenyataan Richard adalah putra dari Diana tentu lebih mengerikan di bandingkan dengan seorang pria miskin yang tidak berguna.
Selama ini, Ben berusaha menikahkan Rachel dengan orang-orang kaya yang kuat bukan tanpa alasan. Semua itu dia lakukan demi menjaga keselamatan anak gadisnya itu. Namun, ternyata malah masalah kembali muncul dengan masih adanya keturunan dari sosok Diana.
“Apa maksud Anda, Tuan? Kenapa tiba-tiba menanyakan Nona Rachel?” tanya Asistennya bingung.
__ADS_1
"Kita harus memastikan jika dia baik-baik saja." Dengan tergesa-gesa Ben melangkah mencoba mencari Rachel. Dia mengingat putrinya juga bekerja di sini, sehingga dia harus memperingatkannya. "Semoga kita tidak terlambat."