My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 59


__ADS_3

Di sisi lain, seorang pria paruh baya dengan terpaksa kembali mengunjungi tempat yang tidak ingin lagi dia datangi. Namun, demi sang buah hati yang kemungkinan kini berada di tangan Dante, Ben terpaksa mengunjungi kediaman mantan atasannya tersebut.


“Tuan, ada seseorang yang mencari Anda,” ujar seorang pelayan.


Dante yang saat itu tengah berkutat dengan para wanita cantik di kolam renang tampak tidak menoleh ke arah sang pelayan sama sekali. Dia tetap menikmati suapan buah dari tangan lentik wanita cantik berbikini yang kini berada di sisi kanan dan kirinya. “Siapa?”


“Katanya Tuan Ben, Tuan.”


Dante hanya mengangguk kecil, lalu mengibaskan tangan tanpa menoleh sebagai pertanda jika sang pelayan boleh pergi. Dalam hatinya kembali bertannya-tanya, siapakah kiranya sosok Ben itu. Entah karena terlalu banyak musuh atau rekan, dia malah tidak mengingat satu per satu nama mereka dengan jelas.


“Ben,” gumam Dante lantas menoleh pada Emma yang berdiri tidak jauh dari posisinya saat ini. “Siapa itu Emma?”


“Salah satu mantan anak buah Anda yang mengundurkan diri, Tuan.”

__ADS_1


Sejenak Dante mengerutkan kening. Anak buahnya memang datang silih berganti karena faktor usia maupun kesehatan, tetapi mereka selalu pergi dengan hanya membawa keluar namanya saja. Namun, ada satu orang anak buahnya yang mengundurkan diri dan mampu menghindari setiap serangan yang ditujukan padanya kala itu, hingga Dante pun cukup terkesan dan tetap membiarkannya hidup. “Oh, dia. Setelah sekiaan lama kenapa dia datang lagi ke sini. Apa dia sedang membutuhkan sesuatu?”


“Kemungkinan hal itu berhubungan dengan wanita yang baru saja dibawa oleh Dason, Tuan.”


“Bukankah wanita itu milik bocah sialan itu?” tanya Dante memastikan.


Emma hanya mengangguk kecil. “Tapi, dia juga putri dari Ben.”


Tidak lama kemudian, seorang pria paruh baya dengan usia yang sepertinya tidak kalah jauh dengan Dante, mulai memasuki wilayah taman di kolam renang. Dante yang saat itu hanya mengenakan celana pendek juga tidak berniat untuk menutup tubuh menggunakan bathrobe atau beranjak dari posisinya. Dia tetap berada di dalam air, dengan kedua wanita muda di sebelah tanpa berniat menyambut Ben dengan sopan sedikit pun.


Dante hanya mencermati penampilan Ben yang sekarang. Terlihat sangat berkelas, berbeda dengan sebelumnya di saat menjadi anak buahnya. Benar-benar terlihat seperti seorang pengusaha. “Sungguh sesuatu yang mengejutkan mendengar kau kembali bersedia datang ke sini,” sinis Dante. “Bukankah sebelumnya kau ingin menjalani kehidupan yang bersih karena merasa bersalah atas kejadian hari itu?”


Ben hanya terdiam. Kejadian di masa lalu saat dia bekerja sama dengan Dante demi memusnahkan keluarga Diana memang sempat membuatnya hilang akal. Hanya demi uang, dan desakan kondisi ekonomi, membuat Ben bersedia menjadi anak buah Dante. Di tambah kondisi istri tercintanya yang memerlukan biaya besar untuk pengobatan, menyebabkan Ben rela membuang rasa kemanusiaannya dan menukar semua itu dengan kenikmatan yang saat ini dia rasakan.

__ADS_1


Namun, kematian sang istri dan pengabaian putrinya, seolah menjadi pembuka mata Ben. Lambat laun, dia menyadari apa yang dilakukan adalah salah, tetapi sayangnya, apa yang dia lakukan terlalu terlambat untuk dipertanggung jawabkan. Dia hanya bisa menyesali semua itu seorang diri, tanpa ada satu pun orang yang tahu perasaaannya. Hingga akhirnya Ben memutuskan untuk mengundurkan diri.


Akan tetapi, bukan pula hal yang mudah bagi Ben untuk keluar dari lingkar pengawasan Dante. Dia harus melewati banyak serangan tidak terduga, hingga akhirnya pria tersebut bersedia melepaskannya dengan syarat, Ben harus menikahi wanita yang sama sekali tidak dikenalnya, yaitu Ibu dari Rose, yang dianggap oleh Rachel sebagai wenita selingkuhannya.


Meskipun awalnya Ben menolak, karena tidak ingin berurusan lebih jauh dengan Dante, Ben pun mengiyakan permintaan pria tersebut. Sayangnya, wanita itu melarikan diri setelah beberapa tahun pernikahan mereka, hingga sekarang. Entah apa yang terjadi dan apa kesalahannya, sehingga sang wanita mampu berbuat seperti itu. Bahkkan meninggalkan putri kecilnya-Rose-di tangan Ben. Karena tidak adanya rasa cinta di antara mereka, dan Ben yang juga bersikap acuh sejak awal, dia pun tidak berniat mencari tahu lebih jauh ke mana wanita itu pergi.


“Saya kemari untuk menjemput putri saya, Tuan.” Ucap Ben.


“Putri?” Dante bersikap seolah tidak mengerti apa yang dibicarakan Ben. Dia lantas menoleh pada dua wanita cantik yang kini berada di sampingnya. “Apa kau putrinya? Apa dia ayahmu?”


Kedua wanita bayaran tersebut, sontak menggeleng dengan cepat, sedangkan Ben hanya bisa menahan amarah di dalam dadanya dan tanpa sadar kedua tangannya terkepal dengan kuat. Jika bukan karena Rachel, dia tidak mungkin mau menginjakkan kaki di tempat ini dan berurusan dengan pria licik seperti Dante untuk seumur hidupnya.


“Maafkan aku Ben. Mereka bukan putrimu. Sepertinya kau sudah datang ke tempat yang salah.” Dante tidak berniat sedikit pun untuk mengubah rencananya pada Richard, dan luluh hanya karena Ben datang. Di depan mantan anak buahnya itu, dia bahkan masih sempat berpangutan pada dua wanita di sampingnya secara bergantian. Hingga tidak lama kemudian, barulah mulut tuanya kembali digunakan untuk berbicara. “Seharusnya kau tidak mencari putrimu di sini. Karena mungkin dia sedang dalam perjalanan menuju kamar mayat sebuah rumah sakit.”

__ADS_1


__ADS_2