My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 70


__ADS_3

Di sebuah taman yang luas seorang wanita tampak bersedekap. kedua tangannya saling mengunci di depan dada. Alih-alih tersenyum mendapatkan hadiah pernikahan, atau pakaian dinas yang biasa perempuan gunakan untuk meyenangkan suaminya. Rachel, malah mendapatkan satu set pakaian olahraga berwarna hitam, menyebabkan moodnya hancur seketika itu juga.


Tempat romantis, gaun indah, atau kejutan tidak terduga yang awalnya dia banyangkan, seketika sirna dari pikiran Rachel, sedangakn Richard di depannya masih menggerakkan tubuh sebagai bentuk pemanasan sebelum memulai aktivitas.


“Kenapa diam saja? Cepat lakukan pemanasan atau kau bisa cidera nanti,” gerutu Richard menghentikan aktivitas dan melangkah mendekati sang istri, sambil memaksakan tubuh agar Rachel mau ikut melakukan pemanasan.


“Cih, apa kau tidak sadar, tanpa pemanasan kulitku juga sudah terbakar sinar matahari saat kau menjemurku di bawah terik seperti ini,” protes Rachel menunjukkan kulitnya. Hari masih siang, tetapi Richard sepertinya malah berniat mengajak sang istri untuk berolahraga. Namun, sayangnya bukan olahraga ranjang, melainkan berjemur di bawah terik matahari yang begitu menyengat.


“Jangan banyak protes! Nyonya Monday harus kuat dan tidak mudah mengeluh hanya karena hal sekecil ini. Lagi pula aku lebih menyukai wanita berkulit sawo matang daripada putih tulang. Terlihat lebih eksotis,” bisik Richard di telinga Rachel. “Ototmu akan tegang jika tidak melakukan pemanasan. Lagi pula, aku tidak ingin kau dengan mudah di culik seperti sebelumnya. Lebih baik menyiapkan bekal untuk diri sendiri supaya kau bisa menyelamatkan diri jika sampai hal itu terulang kembali.”


"Terulang lagi?" tanya Rachel sambil membelalakkan kedua matanya. "Hei! Berapa banyak musuh yang sebenarnya mengincarmu? Kenapa selalu aku yang jadi korbannya?"


"Kau akan tahu nanti."


Sebelum memutuskan untuk menikahi Rachel, Richard sudah memikirkan beberapa rencana masa depan mereka. Salah satunya dengan membawa sang istri ke markas utamanya dan mengubah wanita tersebut menjadi lebih tangguh dari sebelumnya. Bukan karena dia tidak ingin direpotkan oleh istrinya. Namun, masa depan siapa yang tahu. Dia bukan Tuhan yang bisa selalu aman dari marabahaya, setidaknya sang istri bisa menjaga diri jika dirinya tidak ada nanti.


Hal yang terpenting yang harus Richard lakukan saat ini adalah membekali diri Rachel dengan sedikit ilmu bela diri. Setidaknya sebagai seorang wanita Rachel sudah memiliki mental yang kuat dan bukanlah wanita lemah. Hanya saja, karena sejak kecil Rachel di tuntut menjadi wanita anggun yang sempurna, ayahnya malah lupa mengajarkan pada putrinya, jika seorang wanita memiliki kemampuan bela diri itu sangatlah penting. Setidaknya kelak dia bisa menjaga dirinya sendiri kalau terjadi suatu hal yang tidak diinginkan dan terpaksa menghadapi kerasnya dunia seorang diri.


“Ayo!” setelah selesai sesi pemanasan, Richard membawa Rachel ke tempat di mana beberapa anak buahnya tampak tengah berlatih.

__ADS_1


Sesekali mereka menghentikan aktivitas hanya untuk membungkuk hormat pada sang tuan. “King,” sapa mereka di saat Rachel dan Richard melintas.


“Lanjutkan!” jawab Rich singkat.


“Kau juga ingin aku bisa bela diri?” tanya Rachel spontan menebak, melihat pemandangan di depannya saat ini.


Richard menghentikan langkahnya dan mengangguk kecil. “Apa kau keberatan?” tanyanya serius.


Meskipun besar harapannya kepada Rachel agar bisa melindungi dirinya sendiri. Namun, Richard juga tidak ingin memaksakan kehendaknya begitu saja. Rachel memiliki hak jika memang dia tidak ingin belajar. Hanya saja, dia harus bersiap jika pergi keluar kemana pun, akan mendapatkan pengawalan para anak buah yang mengikutinya dari jarak dekat.


Akan tetapi, tampaknya Richard salah mengira. Karena dengan cepat Rachel menggeleng dan malah menarik tangan suaminya ketika pandangannya melihat sesuatu yang begitu ingin dia coba selama ini. “Kalau begitu ayo cepat. Jangan buang-buang waktu! Nanti aku keburu tua sebelum mencoba.”


Suasana hati yang tadinya suram, kini berubah seketika. Rachel yang pada dasarnya menyukai sesuatu yang menantang, tentu saja sangat senang ketika Richard menawarkan pilihan seperti ini. Hal yang sebelumnya hanya bisa dia lihat di televisi, bahkan peran untuk adegan aksi pun belum sempat dia dapatkan.


Rachel memegang satu per satu senjata tajam, serta senjata api di hadapannya saat ini. Namun, dengan segera Richard melepaskan senjata-senjata itu dari tangan sang istri. “Mereka terlalu berbahaya untuk pemula sepertimu.”


Richard lantas merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah bilah kecil seukuran alat pemotong kuku. “Pakai ini!”


Kedua mata Rachel sontak terbelalak dengan sempurna. Bukankah artinya Rich saat ini sedang meremehkan dirinya. “Hei! Kau pikir aku ini anak kecil!” protes Rachel sambil mencebikkan bibirnya.

__ADS_1


Sontak sebuah sentilan mendarat dengan tepat di dahi Rachel. Entah mengapa wajah kesal Richard tergambar dengan begitu jelas ketika sang istri memanggilnya seperti itu. “Jangan memanggilku seperti itu! Ingat sekarang aku adalah suamimu. Setidaknya kau harus mengubah kata ‘hei!’ itu menjadi sayang atau panggilan sejenisnya. Aku mengizinkannya, Sayang,” ucap Richard menekankan panggilan terakhirnya demi memberikan contoh kepada sang istri.


Rona merah tampak mulai bersemu di kedua pipi Rachel, bak perubahan pada kulit kepiting yang baru saja direbus hidup-hidup, jantung Rachel seolah bersiap keluar dari tempatnya. Dia melipat bibirnya ke dalam sebab merasakan malu akan apa yang dibicarakan Richard, sedangkan sang suami tampak hanya tersenyum kecil melihat tingkah istrinya yang terlihat manis ketika berekspresi seperti itu.


“Sudahlah! Ayo kita mulai latihannya.” Richard bergerak ke belakang tubuh Rachel dan mengambil satu per satu helaian rambut wanita tersebut, sebelum keduanya berlatih. “Jangan lupa mengikat rambutmu sebelum berlatih. Supaya tidak mengganggu nanti,” kata Rich sambil merapikan setiap helai surai panjang Rachel, dan mengikatnya penggunakan sebuah pengikat rambut yang memang sudah dia siapkan sebelumnya.


“Sepertinya kau sangat mahir dalam menggoda wanita. Ikatanmu di rambutku cukup bagus, tampaknya tanganmu terbiasa melakukannya,” cebik Rachel merasakan cemburu, membayangkan betapa bahagianya Celine ketika di perlakukan sebaik ini oleh Richard, mengingatkan akan setiap cerita romansa yang wanita ular itu tanamkan ke dalam pikirannya.


“Tidak. Itu kali pertama aku mengikat rambut setelah sekian lama. Dulu aku selalu meminta untuk mengikat rambut ibuku. Tapi … sudahlah ayo mulai. Senjatamu memang kecil. Tapi, kau bisa membunuh orang hanya dengan menggunakan benda tersebut jika seranganmu tepat.” Richard yang sejenak teringat kembali akan masa lalu, memilih untuk mengalihkan perhatiannya dan menghentikan kalimat yang belum usai. Dia belum siap menceritakan semua yang dirasakan selama ini. Kerinduan akan kasih sayang seorang ibu yang telah lama menghilang dari hidupnya. Hanya menyisakan sebuah kenangan membahagiakan yang ingin Rich ulang kembali bersama sang istri.


Melihat perubahan dalam diri Richard, Rachel tidak ingin banyak berkomentar. Dia sendiri merasakan hal yang sama jika mengingat tentang orang yang dicintai telah tiada. Jadi, biarlah secara perlahan Richard menceritakan tentang dirinya secara alami tanpa harus Rachel mencampuri masa lalunya.


Rachel mengikuti langkah Richard yang menjauh. Keduanya pun berlatih bersama bagaimana cara paling mudah, jika ada seseorang yang mencoba menculik Rachel seperti sebelumnya. Meskipun hanya digunakan untuk melarikan diri, tetapi Richard juga mengajarkan cara terbaik untuk melumpuhkan musuh dengan senjata kecil di tangan Rachel saat ini.


“Pisau ini mungkin kecil. Tapi sangat efisien untuk kau bawa ke mana-mana di bandingkan dengan yang lainnya,” ucap Richard sambil terus mengajarkan gerakan bela diri pada sang istri di situasi darurat. “Jika kau kesulitan membebaskan diri di posisi ini. Kau boleh menancapkan benda kecil itu di lehernya seperti ini,” kata Richard yang masih melatih Rachel dengan mempraktekkan posisi lawan dan tindakan yang harus di lakukan.


Richard tidak segan menahan tangan Rachel dan mengarahkan pisau kecil itu tepat di lehernya sendiri. Dia bahkan menarik kembali tangan sang istri dalam genggamannya ketika berusaha menjauhkan benda tajam tersebut dari leher sang suami. “Kau tidak boleh ragu. Apalagi berbelas kasih. Nyawamu bisa jadi taruhannya jika kau lemah sedikit saja. Dalam hidup hanya ada dua pilihan. Memangsa atau dimangsa,” ucap Richard tanpa ragu, meskipun ujung benda tajam itu sedikit menggores kulitnya.


“Kau juga boleh menggunakannya seperti ini. Begini. Dan seperti ini.” Richard mempraktekkan gerakan lain dan di mana serangan paling mematikan yang bisa Rachel manfaatkan untuk melindungi diri.

__ADS_1


Beruntungnya Rachel adalah sosok yang mudah dalam belajar. Dia bahkan dengan bersemangat berusaha mengalahkan suaminya sendiri dalam latihan tersebut. Meskipun hasilnya tentu saja tidak seberapa di bandingkan dengan Richard yang terbiasa menghadapi berbagai serangan.


Berjam-jam keduanya berlatih hingga tidak terasa hari sudah menjelang malam. Rachel membersihkan diri setelah berlatih, tetapi setelah semuanya selesai, dia atidak menemukan keberadaan sang suami di kamar mereka. “Di mana Richard?” batin Rachel sambil membuka handuk kecil yang membelit di atas kepalanya.


__ADS_2