My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 76


__ADS_3

Rich yang murka kembali ke kediaman dengan emosi yang tidak lagi terkendali. Di tambah beberapa hari ini dia tidak mengkonsumsi obat, membuat amarahnya semakin mudah tersulut. “Di mana Rachel?” tanyanya pada seorang pelayan di kediaman itu.


“Nyonya ada di taman belakang, Tuan,” jawab sang pelayan sedikit takut, melihat suasana hati Rich yang tampaknya sedang tidak baik-baik saja.


Dengan langkah tergesa, Rich mencari Rachel di taman belakang. “Rachel!” Teriak Rich memanggil nama sang istri.


Rachel yang saat itu tengah berlatih fisik sontak menoleh ke arah panggilan. “Rich, kau sudah pulang?”


Tanpa menjawab sang istri, Rich langsung menarik pergelangan Rachel begitu saja dan memaksannya masuk ke kediaman.


“Rich, ada apa denganmu?” tanya Rachel.


Namun, Rich tampaknya tidak berniat menjawab sama sekali dan terus menarik paksa istrinya. “Rich, sakit! Awh, Rich!”


Rich tidak memedulikan keluhan sang istri, dia malah setengah menyeret paksa istrinya yang langkahnya lebih lambat di bandingkan dengan dirinya. Padahal Rachel sudah merasakan perih dan panas yang bercampur menjadi satu di tangannya karena terus berusaha memberontak. Hingga tidak lama kemudian, ketika keduanya tiba di kamar. Rich dengan kasar menghempaskan tubuh Rachel ke atas ranjang dan mengunci pintu kamar.


“Rich ada apa denganmu?” tanya Rachel sambil mengusap pergelangan tangan yang meninggalkan bekas kemerahan itu.


Lagi-lagi Rich tidak menjawab. Dia malah membuka beberapa kancing pakaian, hingga tidak ada satu pun yang tersisa dan menanggalkannya begitu saja.


“Rich, kau tidak mungkin memintaku melayanimu sekarang ‘kan?” rachel sedikit takut melihat ekspresi Richard saat ini. Tidak biasanya pria itu memiliki wajah berang seperti sekarang. Apa yang sesungguhnya baru saja terjadi.


“Kenapa? Kau keberatan melayani suamimu sendiri?” ucap Rich dingin.


“Bukan begitu, Rich. Tapi aku belum mandi.” Rachel baru saja berlatih, tentu keringat kotor menempel di tubuhnya sejak tadi. Namun, Rich tampak tidak berniat melepaskannya dan malah meraih kepala Rachel agar wajah mereka semakin dekat.

__ADS_1


Sebuah ciuman brutal mendarat di bibir Rachel. Dia hendak mendorong tubuh suaminya karena merasa tidak nyaman, tetapi Rich malah semakin dalam menenggelamkan lidah di mulutnya. Dia mengisap sangat kuat, sampai-sampai Rachel kewalahan.


Kedua tangan Rachel bergerak memukul dada sang suami agar sedikit memberinya ruang. Namun, Rich malah menggigitnya dengan sengaja. “Awh. Apa kau gila, Rich?” teriak Rachel dengan terpaksa menendang bagian inti tubuh suaminya menggunakan lutut.


Untuk sesaat Rich terdiam sambil meringis memegang kejantanannya. Akan tetapi, setelah rasa sakit itu berkurang dia kembali menindih rachel yang hendak beranjak dari posisinya. “Ya benar. Aku memang gila. Aku merasa menjadi pria paling gila hingga merasa ingin mati saja!” ucap Rich dengan bola mata yang mulai memerah.


Rachel yang menatap perubahan dalam diri suaminya merasa bingung. Tidak biasanya Rich bertingkah seperti ini. Dia bahkan tidak bisa membaca apa yang tengah di pikirkan Richard sekarang. “Rich, kau kenapa?” tanya Rachel dengan tubuh bergetar. Tangannya bergerak hendak mengusap pipi suaminya. Namun, Rich malah menepisnya dan langsung mencetak tanda kepemilikan di lehernya.


“Di mana saja dia menyentuhmu, hah? Apa di sini? Di sini, atau di sini?” Berulang kali Rich menggila meninggalkan tanda. Sayangnya, perlakuan yang kasar dan menyakitkan membuat Rachel terpaksa mendorong tubuh sang suami serta menampar pipinya dengan keras.


“Apa maksudmu, hah? Kau pikir aku melakukan apa? Jelaskan!” bentak Rachel.


Rich yang sudah kesetanan tidak memedulikan perasaan sang istri. Di tambah kondisi emosinya yang memang tengah meluap, membuatnya kehilangan kewarasan. Bukannya menjawab, dia malah kembali memaksakan penyatuan dengan kasar pada istrinya. Bukan hanya merobek pakaian yang dikenakan Rachel, tetapi juga terus menghujamkan siksaan duniawi pada Rachel.


...****************...


Tengah malam pun tiba, sepasang suami istri masih terlelap dalam mimpi. Hingga tidak lama kemudian, sepasang mata hazel Rich perlahan mulai terbuka. Tangan kekarnya masih memeluk tubuh kurus istrinya. Perlahan dia mulai terbangun, meraup wajahnya sendiri dengan kasar.


Sejenak Richard menoleh ke arah Rachel. Bukan hanya bekas kepemilikan yang tercetak dengan jelas di seluruh tubuh wanita itu, tetapi juga lebam serta luka robek di sudut bibir akibat perlakuan kasar Richard, sedangkan Rich sendiri tidak menyangka akan berbuat seperti pada sang istri. “Apa yang sudah aku lakukan?” batinnya.


Rich pun memilih beranjak dan menyelimuti tubuh Rachel yang tidak mengenakan sehelai benang pun. Setelah itu, dia memilih untuk membersihkan diri ke kamar mandi.


Setelah mulai bisa berpikir jernih, Rich hanya melihat istrinya yang masih terlelap sekilas. Dia lantas keluar dari kamar hendak melangkah pergi ke dapur untuk mengambil air minum.


“Astaga! Kenapa kalian belum tidur?” Richard yang terkejut melihat bibi dan pamannya yang menatap tak biasa di kegelapan sontak mengusap dadanyaa. Dia kembali melanjutkan langkah dan membuka kulkas. Dia mengambil satu kaleng minuman soda dingin di sana dan langsung meminumnya.

__ADS_1


“Kami yang seharusnya bertanya, Rich. Apa yang kau lakukan pada Rachel sampai pergulatan kalian tersengar sampai seluruh penjuru kediaman?” tanya Regina tegas.


“Bukan apa-apa. Aku hanya sedikit emosi tadi,” jawab Rich santai.


“Gila kau! Dia pasti terluka sangat parah.” Tanpa berpikir panjang karena Regina sangat memahami bagaimana tabiat Richard, dia langsung mengambil kotak P3K dan membawanya ke atas untuk merawat Rachel, sedangkan Richard dan Reymond tampak berpindah tempat ke luar kediaman guna berbincang.


“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Reymond serius.


Rich terdiam, dia masih menikmati minuman bersoda di tangannya untuk waktu yang cukup lama. Dia menatap ke atas, melihat di mana banyak bintang bertebaran di langit. “Aku menemui Dason dan membawanya ke mari tadi.”


“Lalu, apa hubungannya dengan Rachel?”


Sejenak Rich mengambil napas dan kembali meneguk minumannya. “Dia bilang mereka melewati malam panas setiap harinya. Sebelum aku menemukan Rachel.”


“Dan kau percaya begitu saja.”


Rich hanya mengangguk kecil, sedangkan Reymond malah menggeleng dengan tingkah keponakannya itu. “Dasar bodoh. Mudah sekali kau di provokasi.”


“Aku tidak menemukan ibuku di pulau itu. Dan kau tahu sendiri aku mudah tersulut emosi. Apalagi kalau sampai wanita yang kucintai lagi-lagi berkhianat.”


“Lalu kau menyiksa istrimu atas apa yang tidak dia lakukan?”


“Siapa yang bisa menjamin hal itu? Dia menghilang selama seminggu lamanya, dan mereka berdua bisa melakukan apa pun di belakangku baik itu di sengaja atau pun tidak.” Rich yang masih enggan mengakui kesalahan jika dia berbuat salah pada sang istri, memilih untuk menyangkal kebenaran dan tetap termakan provokasi Dason.


Sementara itu, Reymond yang mengerti jika memang Richard memiliki watak yang keras dan sangat sulit di nasehati hanya bisa menghela napas panjang. “Aku akui kau sangat cerdas menyusun strategi dan lihai mengatasi masalah perusahaan. Tapi tampaknya kau sama sepertiku. Tidak, tidak, tidak. Kau lebih bodoh dalam memahami tentang cinta dan wanita. Jangan sampai kau menyesal di kemudian hari! Hanya itu pesan ku,” ucap Reymond lantas menepuk perlahan bahu Richard dan memilih pergi ke dalam. Dia membiarkan Richard bergumul dengan pemikirannya sendiri, lagi pula Rich sudah bukan anak kecil lagi. Dia harus belajar mengambil keputusan sendiri.

__ADS_1


__ADS_2