My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 77


__ADS_3

Rachel yang sebenarnya sudah terbangun sejak tadi, enggan untuk membuka mata. Dia yang merasa tersakiti, memilih untuk berpura-pura terlelap dalam mimpi. Setelah merasakan kepergian sang suami, barulah dia mulai beranjak dan membersihkan diri.


Akan tetapi, setelah dia selesai, tampak Regina sudah berada di kamarnya dengan sebuah kotak P3K. "Apa kau baik-baik saja?" Tanya Regina langsung.


Rachel hanya mengangguk kecil. Dia berusaha bertingkah biasa dan hendak mengeringkan rambutnya. Namun, baru dia memegang mesin pengering, rasa nyeri di pergelangan tangannya tiba-tiba saja datang. "Awh."


"Apanya yang baik-baik saja? Sini aku lihat!" Dengan segera Regina merampas pengering rambut dari tangan Rachel. Dia melihat kulit Rachel yang sudah berubah menjadi biru tua di beberapa bagian tangannya. "Astaga. Sampai seperti ini kau bilang tidak apa-apa. Rich, sangat keterlaluan. Dia pasti sudah tidak meminum obatnya beberapa hari ini, sampai-sampai bisa bertingkah segila ini padamu."


"Obat? Apa Rich sakit?" tanya Rachel penasaran.


"Dia memiliki trauma dan pengendalian emosi yang sangat buruk. Terlebih lagi dia sangat sulit kalau disuruh terapi. Selalu saja hanya mengandalkan obat. Itu pun kalau bukan aku yang mengurus, dia akan lupa untuk meminum obatnya sendiri. Semoga saja kau sanggup bertahan dengan pria temperamental itu, Rach." Regina berdiri dari posisinya. “Tunggu sini sebentar, aku mau mengambil es batu. Jangan sampai semua itu menjadi lebih parah besok!”


Setelah kepergian Regina, Rachel meraih gelas minuman di atas nakas. Namun sayangnya, gelas itu kosong. Rachel pun menghela napas berat. “Lebih baik aku mengambilnya sendiri.”


Rachel perlahan keluar dari kamarnya, tetapi setibanya di bawah, dia melihat Regina yang tampak tengah menguping perbincangan antara Richard dan pamannya. Tentu saja perlahan Rachel berdiri di belakang Regina dan mendengarkan apa yang kedua pria itu bicarakan.


Tanpa di duga mereka mendengar jika Richard membawa Dason dari tempatnya. Sontak hal itu membuat Rachel merasa cukup terkejut, apalagi kalimat di mana Richard bahkan meragukan tentang dirinya, hingga membuat Rachel merasa cukup sakit hati. Sehina itukah dirinya di mata sang suami, hingga kesuciannya pun diragukan.


“Di mana kalian menyekap Dason?” tanya Rachel tiba-tiba di telinga Regina.


Regina yang tidak menyadari kehadiran Rachel tentu saja terkejut. Dia mengusap dadanya menatap Rachel. “Sejak kapan kau di sini? Bukankah seharusnya kau berada di kamar.” tanyanya pelan.


“Rich menyekap Dason?” tanya Rachel penuh dengan penekanan.

__ADS_1


Regina yang terkejut sontak mengangguk dengan cepat.


“Di mana dia sekarang?” kata Rachel sedikit meninggi.


Regina langsung membekap mulut Rachel. "Hust, diamlah. Richard bisa murka kalau tahu kita menguping di sini." Melihat Rachel yang memahami peringatannya, Regina pun melepaskan tangannya. "Dia ada di ruang bawah tanah.”


Setelah mendengar jawaban Regina, Rachel langsung berbalik hendak pergi namun tangannya kembali di tahan oleh Regina. “Mau ke mana kau?”


“Menemui Dason! Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu kepada Richard. Ini fitnah namanya.” ucap Rachel meradang.


“Memangnya kau tahu di mana ruang bawah tanahnya.” Rachel menggeleng kecil. Dia melupakan hal itu. “Biar aku antar. Lagi pula kau masih belum sehat.”


Keduanya pun melangkah menuju ruang bawah tanah. Namun ketika hendak tiba di tempat di mana Dason berada ponsel di saku Regina mulai berdering. “Ruangannya di sana. Aku harus menjawab ini terlebih dahulu.” ucap Regina sebelum akhirnya membiarkan Rachel pergi sendirian menemui Dason.


Niat hati ingin meminta penjelasan pada Dason, tapi malah rasa iba yang kini merasuk dalam diri Rachel. Baru tangan wanita itu bergerak dengan gemetar hendak membuka rantai yang membelit rangka besi pembatas ruang itu. Sebuah tangan sudah terlebih dahulu menahan Rachel dari aksinya. “Apa yang kau lakukan di sini?”


Raut wajah merah padam dan juga tatapan mematikan seolah kedua bola mata hampir keluar dari tempatnya, memberikan kesan mengerikan di wajah Richard. Napas yang memburu bahkan bisa terdengar dengan begitu jelas di telinga Rachel.


“Aku aku,” ucap Rachel terbata-bata.


“Siapa yang mengizinkanmu datang ke sini, hah?” Suara bentakan Richard menggelegar memenuhi ruangan. Amarahnya terlihat begitu jelas seakan bara kecemburuan semakin membara dalam dirinya.


“Aku.”

__ADS_1


Tanpa mengindahkan Rachel yang hendak menjelaskan, Richard langsung menarik tangan sang istri ke luar dari tempat penyekapan. Padahal rasa sakit yang sebelumnya membekas di tubuh Rachel belum juga sembuh, tetapi suaminya malah kembali memperlakukan dirinya dengan sangat kasar.


Rachel yang masih sedikit btertatih, cukup kesulitan menyeimbangi langkah Richard. Sessekali wanita tersebut hampir terjatuh. Namun, dia tetap berusaha untuk tidak melawan.


“Apa yang terjadi?” tanya Regina yang baru saja tiba setelah mengangkat panggilan.


“Bukan urusanmu!” jawab Rich dingin.


Keduanya melangkah pergi begitu saja. Namun, Regina yang seakan mengerti jika Richard salah paham dan merasa iba dengan Rachel. Dia pun memilih untuk mengejar mereka dan menghentikan langkah Richard. “Ada informasi soal ibumu. Informasi terkini, dia sudah di pindahkan ke kediaman Dante.”


Benar saja, Richard langsung terdiam membeku dan menatap tajam ke arah Regina. “Apa kau yakin?”


“Ya, tapi entah berapa lama dia akan berada di sana. Sebaiknya kau bergegas, karena sepertinya dia merencanakan sesuatu yang buruk lagi kali ini.”


Sejenak Richard melihat ke arah Rachel yang masih kesakitan. Regina yang memahami amarah Richard langsung berkata. “Serahkan Rachel padaku. Kau bisa melukainya kalau terus seperti itu.”


“Jangan sampai aku mendengar dirimu menemui bajingan itu lagi! Atau aku sendiri yang akan mengantarmu ke neraka bersamanya.” Setelah memberikan sedikit ancaman pada istrinya sendiri. Richard langsung melangkah meninggalkan Rachel dan Regina.


Rachel yang cukup syok dengan sikap Richard merasa tubuhnya sangat lemas. Wanita tersebut terduduk di tanah seketika. Namun, Regina segera memeluknya. “Sabar, sabar. Semua ini terjadi mungkin karena Richard sedang mengalami banyak masalah,” kata Regina menenangkan.


Rachel tidak mampu lagi menjawab meski hanya sepatah kata pun. Wanita itu terisak di pelukan Regina tanpa ingin mengatakaan betapa kecewanya dia saat ini. Rachel sangat mengerti jika Richard bukanlah sosok pria yang lembut. Namun, hal yang membuatnya tidak habis pikir, mengapa pria itu bisa sekasar ini, padahal posisi merka saat ini adalah sepasang suami istri. Mungkinkah tidak ada sedikit pun rasa cinta di hati pria itu untuknya.


Ditambah melihat penampilan Dason yang sudah tidak lagi berbentuk tadi. Bagaimana bisa ada manusia yang mampu menyiksa orang lain sekejam itu. Kehidupan seperti apa yang sebenarnya keluarga Richard jalani. Bisakah Rachel mengimbangi semua itu dan menjadi seperti mereka juga atau malah sebaliknya?

__ADS_1


__ADS_2