My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 35: Pembalasan


__ADS_3

Apa yang diinginkan Richard sudah dipersiapkan oleh para anak buah. Kali ini sang sutradara dan seorang pria yang akan menjadi aktor lainnya juga di bawa ke ruang lain, di mana lokasi syuting akan berlangsung.


Sesekali, sutradara itu menoleh ke kanan dan kiri, mencoba mencari celah apakah dia bisa kabur dari tempat ini. Namun, suara pria di belakang yang menyadari gerak-geriknya lantas memperingatkan. “Cobalah kabur kalau berani! Maka kau hanya akan berakhir di rawa buaya. Atau malah tersesat di hutan para serigala,” ucap orang itu.


Benar saja, tidak lama kemudian, lolongan sang hewan malam mulai terdengar di kediaman itu. Akankah tempat ini benar-benar berada di tengah kebun binatang. Pikir sang sutradara.


Faktanya, bagian depan tempat itu merupakan rumah bordil, sedangkan tempat lainnya memiliki fungsi yang berbeda dan lebih mengerikan di bandingkan dengan kesenangan dunia yang ada di depan. Markas, ruang bawah tanah, tempat pelatihan, tempat penyiksaan, semua berkumpul menjadi satu kesatuan. Namun, hanya sepi yang bisa dilihat maupun di dengar oleh tempat lainnya.


Sesaat kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan. “Hanna,” sang sutradara sontak membelalakkan mata hingga membulat sempurna melihat wanita di depannya.


“Sutradara, bagaimana bisa kau berada di sini,” tanya Hanna bingung.


Sudah dua hari lamanya Hanna di sekap oleh Richard, dia tidak tahu menahu, apakah di luar rencananya sudah berhasil dengan sempurna atau belum. Akan tetapi, melihat sutradara film malah berada di sini bersamanya, menyebabkan dia sedikit khawatir kali ini.


Sutradara itu hendak menjawab, tetapi suara bariton seorang pria dengan pakaian serba hitam tampak mulai memasuki ruangan, menyela obrolan keduanya. “Sepertinya kalian sangat menikmati reuni kali ini.”


Bukannya takut, lagi-lagi Hanna malah menghina Richard dengan sangat tidak tahu diri. “Hei, office boy sialan! Lepaskan aku, hah! Jika tidak aku akan lapor polisi! Apa kau tidak tahu menyekap orang adalah tindakan kriminal?”


Sebuah tawa lantas menggelegar memenuhi ruang. Entah Hanna yang tidak sadar akan posisinya saat ini, atau memang otak wanita itu sudah rusak karena terlalu lama di sekap. Kaki jenjang Richard melangkah ke depan beberapa kali hingga berujung di dekat Hanna. Dua matanya memicing dengan senyum meremehkan senantiasa menghias bibir. Dia membungkuk sedikit sembari berkata, "Coba saja lakukan apa yang baru saja kau ucap. Tapi, sebelum itu, aku akan memberikan permainan menyenangkan untukmu."


“Ap–apa maksudmu.” Kali ini tubuh Hanna bergetar hebat.


Tatapan wajah serta aura yang dikeluarkan Richard benar-benar menakutkan. Dia bahkan tidak mampu lagi berakting dan menyombongkan diri. Untuk bernapas saja rasanya sangat sulit kali ini.


“Maksudku?" Richard lantas berdiri tegak. Dia kembali mengeluarkan cerutu dari saku jasnya, mematik api dan menyulut rokoknya. "Aku pikir kalian sudah tahu. Kenapa masih bertanya? Apa mungkin kalian benar lupa ingatan? Haruskah aku mengeluarkan otak kalian untuk mencari memori yang hilang itu."


Sejenak Rich menghentikan kalimatnya untuk menghisap tembakau bakar tersebut. "Ah aku lupa, seharusnya kita melakukan upacara pertemuan sebelum memulai kegiatan?"


Sesaat kemudian, seorang pria kembali datang ke ruangan itu. Dia mendorong sebuah troli berisikan sebuah anggur merah langka dan beberapa gelas di sampingnya.

__ADS_1


Rich meletakkan tembakau bakar yang baru sekali di sesapnya itu ke asbak. Dia lantas berjalan ke arah troli. “Kalian merupakan satu dari sekian banyak tamuku yang berharga. Jadi, aku tidak mungkin menyambut kalian dengan biasa-biasa saja.”


Richard menuangkan tiga gelas minuman ke dalam gelas. Dia lantas mengangkat salah satu gelas itu, menggoyangkan perlahan dan meminumnya seteguk. “Manis.”


Richard lantas mengambil kedua gelas lainnya, tetapi sebelum itu, dia memasukkan sebuah obat dan menggoyangkan gelas tersebut sambil berjalan.


Hanna dan sutradara saling berpandangan. Apa yang baru saja dimasukkan Rich ke dalam gelas itu? Akankah Richard berniat meracuni mereka.


"Minumlah!" ucap Rich pada sutradara dan ternyata bukan dia yang mendapatkan obat itu.


Rich lantas berjalan ke arah ranjang, di mana Hanna terikat di atasnya.


"Lepaskan!" Teriak Hanna ketika dua orang pria memegang tangannya.


"Dasar jaalang!" Dengan geram Richard memegang dagu Hanna dan memaksa wanita itu meminum minuman tersebut.


Akan tetapi, Hanna terus saja memberontak dan ketika minuman sudah masuk ke mulutnya. Dia malah menyemburkan ke wajah Richard.


Rich menengadahkan tangan ke belakang, seorang anak buah kembali memberikan minuman baru. Dengan teganya Richard menutup hidung Hanna, dan memaksa minuman itu masuk ke tenggorokan wanita tersebut. "Minum atau aku tidak akan segan-segan membunuhmu!"


Hanna yang beberapa kali tersedak tampak dihiraukan oleh Richard. Dia tetap memberikan anggur itu sampai gelasnya kosong. "Menjengkelkan sekali masih ada wanita menyebalkan sepertimu di dunia ini. Merepotkan saja!" Rich lantas beranjak dari posisinya, dan menjauh dari Hanna.


"Kau bisa melakukan tugasmu kali ini!" ucap Rich memberikan isyarat pada anak buahnya agar melepaskan sang sutradara. "Aku sendiri yang akan mengamati kalian. Hasilnya harus sama persis dengan apa yang sudah kalian sebarkan sebelumnya. Jika ada perbedaan sedikit pun, maka sekarang nyawamu yang akan menjadi taruhannya."


Sang sutradara hanya bisa mengangguk patuh dengan cepat. Dia merasa sedikit menyesal sudah bekerja sama dengan Hanna sebelumnya. Berhadapan dengan pria seperti Richard, nyatanya terasa begitu mengerikan, nyawanya seolah tidak pernah aman sejak di bawa ke tempat ini. Di bandingkan dengan mafia, Richard lebih terlihat seperti psikopat yang haus akan pembalasan.


Ruangan sudah berhasil di susun sedemikian rupa layaknya kamar club malam itu. Tidak lupa pula pengambilan gambar dari sudut yang sama persis dengan posisi sebelumnya. Hanya saja, karena sebelumnya mereka hanya menggunakan kamera pengawas, kali ini Richard menggunakan kamera dengan kualitas tinggi. Bisa mengekspos dengan jelas siapa pemeran utama dalam video syur itu. Di mana sosok Rachel kini akan berubah menjadi Hanna, sang artis ternama.


“Apa yang ingin kau lakukan padaku?” Hanna mulai menggeliatkan tubuhnya tidak beraturan. Hawa panas yang menyebar di tubuhnya begitu lekat, hingga tidak mampu lagi di tahannya. Dia bergerak ke sana ke mari bak cacing kepanasan. Sesekali wanita tersebut menggigit bibir bawah dan mengeluarkan lenguhan eksotis di kala kedua pria di sampingnya mulai meraba-raba tubuhnya. Namun, dia tidak dapat bergerak sama sekali karena tangan dan kakinya diikat di atas ranjang.

__ADS_1


“Cukup,” ucap Richard pada anak buahnya ketika melihat Hanna begitu aktif menggoda mereka. “Biarkan dia menikmati siksaan itu sejenak. Tarian ular memang cocok diperankan olehnya!”


Ya, Richard tidak langsung membiarkan Hanna menuntaskan hasratnya. Wanita tersebut bahkan masih dalam kondisi terikat dia atas ranjang untuk waktu yang lama.


Hanna merintih, mendesis tidak karuan tanpa henti. Dia pun sudah tidak peduli jika apa yang dilakukannya di lihat oleh banyak orang, dan hanya dia satu-satunya wanita di sana. “Hei jangan berhenti! Tolong aku, raba aku! Ini sangat menyiksaku,” ucap Hanna memohon.


“Itu tergantung dari jawabanmu,” jawab Richard santai. Dia bahkan tidak berniat melihat wanita yang kini kelojotan tidak karuan di hadapannya dan malah fokus memutar videonya bersama Rachel di ponselnya. Dia ingin memastikan jika apa yang terjadi malam ini mampu menutup kejadian malam itu, dan membersihkan nama Hanna nantinya.


“Apa maksudmu?”


“Dari mana kau mendapatkan video itu?” tanya Rich masih fokus pada ponselnya.


“Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan.” Hanna masih berusaha mengelak, dia malah berusaha mendekati anak buah Richard di sampingnya. “Hei! Apa kau tidak ingin menikmatiku? Tunjukkan keperkasaanmu, aku akan memuaskan dirimu malam ini.” goda Hanna.


Dengan tidak tahu malunya Hanna mengucapkan kalimat-kalimat menjijikkan itu, membuat Richard berdecak karenanya. Wanita murahan memang sama saja, melakukan segala cara demi memuaskan dirinya. “Mereka tidak akan membantumu sebelum kau menjawab pertanyaanku tadi.”


“Aku benar-benar tidak tahu.”


"Terserah kau saja. Sudah aku katakan, jawabanmu menentukan nasibmu malam ini.”


Semakin lama obat yang merasuk dalam diri Hanna seolah membakarnya. Dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi. Hingga akhirnya wanita itu pun mengatakan apa yang sesungguhnya dia ketahui. “Aku juga tidak mengenalnya. Kami baru bertemu pertama kali hari itu, dan dia memberikan rekaman tersebut untuk merusak reputasi Rachel .”


Richard lantas menyimpan kembali ponsel di sakunya. “Benarkah?”


“Sungguh. Aku tidak berbohong. Ku mohon perintahkan mereka untuk segera menolongku. Aku sudah tidak tahan lagi.”


“Di mana kalian bertemu?”


“Ddays Holdings, di hari yang sama ketika aku bertemu artis sialan yang merebut posisiku itu.”

__ADS_1


Richard mengangguk paham. “Kita lihat saja nanti. Apakah kali ini kau berkata jujur atau tidak. Jika kau berani membohongiku, maka jangan salahkan aku membalasmu lebih menyakitkan dari apa yang bisa kau bayangkan.” Richard lantas berdiri dari posisinya. “Kalian boleh menikmatinya. Tapi buat dulu apa yang aku pesan. Ingat! Harus sama persis, dan jangan sampai terlewatkan sedikit pun,” perintahnya melirik sang sutradara sebelum meninggalkan ruangan.


__ADS_2