
Richard yang berada di ruangan seorang diri sesekali memejamkan mata. Dia mengingat kembali sosok-sosok yang dikenalnya dalam tragedi naas di kediaman mereka dua puluh tahun yang lalu. Di mana salah satu yang dia ingat adalah Ben.
Dengan sengaja tadi dia memperkenalkan diri sebagai putra Diana. Rich ingin tahu seperti apa respons yang diberikan Ben, dan ternyata tepat seperti yang diharapkan.
Tanpa terasa, dadanya kembali bergemuruh mengingat kejadian kala itu. Rasa sesak seolah menghimpitnya, menghentikan pasokan oksigen di tubuh dan benda tumpul seakan memukul kepalanya saat itu juga. Dengan terburu-buru, Rich mengambil obat di saku celana. Dia meminum satu biji pil tersebut tanpa air minum. Kali ini, dia memang harus berjuang seorang diri demi membuka kembali tabir kematian yang merenggut nyawa seluruh keluarganya itu dan mengungkap siapa dalang di balik kecelakaan yang di alami pamannya.
Hingga tidak lama kemudian, sosok asisten sang paman kembali mengetuk pintu karena Rich yang tidak kunjung keluar ruangan.
"Tuan, apa Anda baik-baik saja? Haruskah kita menunda meeting?" tanya asisten.
"Tidak! Ayo kita pergi!" Setelah mengambil napas sejenak, Rich kembali melanjutkan urusannya.
Di sisi lain, seorang pria paruh baya tampak murka, setelah mengetahui ternyata Diana masih memiliki keturunan yang dapat mewarisi perusahaan. Dia melangkah dengan terburu-buru menuju sebuah ruang bawah tanah. Aroma khas ruangan yang tidak terjamah terasa begitu kental sejak awal dia menyusuri lorong.
“Tuan,” ucap seorang penjaga di depan sebuah kerangka besi berisikan manusia di dalamnya itu.
“Buka pintunya.”
Rantai yang membelit rangka besi mulai terbuka, derit pintu berkarat saling bersahutan terdengar cukup mengerikan. Seorang wanita berperawakan tidak terurus, terbaring lemah di lantai. Hanya beralaskan sebuah tikar dan bantal lusuh dengan kaki yang terpasung kayu.
Tubuh wanita tersebut tidaklah layak dilihat seperti seorang manusia. Bukan hanya penuh dengan luka lebam, serta rambut tergerai panjang tidak dirawat, tetapi juga mengenakan pakaian lama yang usang, berlubang di berbagai tempat, dan tubuhnya pun kurus kerontang bak tidak pernah diberikan makan.
__ADS_1
“Bangunkan dia!” ucap pria paruh baya itu pada anak buah yang mengikutinya di belakang.
Seember air langsung disiram ke tubuh wanita tersebut begitu saja. Dia pun gelagapan, dan sedikit terbatuk. Namun, sebuah seringai malah terlukis di wajah wanita itu setelah menyadari siapakah gerangan pria yang mengunjunginya setelah sekian lama. Seolah dia tidak takut akan pria di hadapannya saat ini, wanita itu malah tersenyum puas.
“Kau kemari setelah sekian lama. Pasti bukan karena merindukan aku ‘kan?” ucap wanita tersebut setelah melihat dengan jelas pria di hadapannya.
“Dasar wanita ******! Berani-beraninya kau menipuku, hah?” teriak pria tersebut dengan amarah yang menggebu.
Sebuah tawa sontak menggelegar memenuhi ruangan. Entah berapa lama dia disekap di ruangan tersebut. Dia bahkan sampai lupa bagaimana rasanya menghirup udara segar dan berjemur di bawah matahari yang cerah. “Aku sama sekali tidak menipumu. Tapi, melihat kemarahanmu saat ini, tampaknya sudah sia-sia apa yang kau lakukan selama bertahun-tahun ini, Kakakku tersayang.”
Sebuah tamparan dari sang pria sontak mendarat dengan keras di pipi wanita tersebut. Dia yang tidak lain merupakan kakak angkatnya sendiri, tidak terima akan keberuntungan yang di miliki adiknya tersebut. “Kau sangat licik! Sama seperti ayahmu.”
“Bukan kami yang licik. Tapi kau yang tidak tahu terima kasih,” cerca wanita tersebut sambil mengepalkan tangannya dengan kuat.
Bukan hanya itu. Dia juga diam-diam membunuh kedua orang tua angkatnya sendiri dan mencoba memperdaya sang adik. Namun, lagi-lagi dia harus kecolongan karena ternyata Diana sudah mengalihkan semua harta pada keluarga Day yang notabene adalah hanyalah pelayan setia di kediaman mereka, jika memang keluarga Diana tidak lagi memiliki keturunan.
Setelah diburu oleh banyak orang kala itu, Diana akhirnya terjatuh ke sebuah jurang yang cukup dalam dan berakhir di aliran sungai dalam. Namun, kembali di temukan oleh sang kakak yang ketika penyerangan tidak menampakkan batang hidungnya.
Dia menyamarkan kematian adiknya sendiri sambil mencari putra Diana. Sayangnya, dia tidak menemukan bocah tersebut untuk waktu yang cukup lama, hingga mengira bocah itu sudah tewas, karena sebelumnya sang anak buah melihat Diana yang terjatuh bersama anaknya.
Sementara itu, harta yang dimiliki Diana langsung dikelola oleh Reymond Day, sehingga dia tidak menduga jika Day tualah yang menyembunyikan anak yang selama ini dia cari.
__ADS_1
Dengan surat kuasa yang ditinggalkan Diana, otomatis sang kakak tidak dapat mengusik keputusannya dan hanya bisa mengamati apa yang dilakukan Reymond selanjutnya.
Sayangnya, yang namanya manusia serakah tentu saja tidak akan bisa sembuh dalam sekejap mata. Melihat Reymond yang semakin lama makin berkembang, dia pun kembali berencana mengambil alih perusahaan tersebut secara diam-diam, agar tidak terlihat sebagai orang jahat dengan mencelakainya begitu parah.
Awalnya dia sudah merasa berada di atas awan, karena kebanyakan orang di Dday Holdings adalah bawahannya, termasuk sang CEO baru. Namun, lagi-lagi rencana pengambilan alihnya harus berantakan karena mereka mengeluarkan sang pewaris di saat yang tepat.
Pria itu mendekat, menjambak dengan kuat rambut kusut Diana saat itu juga. “Bagaimana jadinya jika anakmu tahu kau masih hidup? Akankah dia rela memberikan semua yang kau perjuangkan selama ini hanya demi dirimu?”
Sontak Diana meludah tepat di wajah sang kakak. “Kau benar-benar iblis tidak punya hati!”
Kini bergantian tawa pria itu yang menggelegar. Dia mengusap wajahnya menggunakan sapu tangan dan berkata, “Kira-kira bagaimana ekspresinya jika aku menyapanya sebagai seorang paman? Kalian menyingkirkanku setelah tahu tanah itu penuh dengan batu mulia dan menikmati kekayaan yang ada sendirian. Cih, bertindak bak malaikat dan memberikan sebagian harta konon. Ayahmu, hanya ingin menyuapku untuk menjadi budakmu. Tapi sayangnya, aku tidak sebodoh Day."
"Kau lah manusia serakah yang sesungguhnya. Bahkan setelah apa yang kau miliki sekalipun, kau tidak akan pernah puas."
"Tentu saja. Segala hal memang tidak bisa dinilai dengan uang. Tapi, uang, bisa dengan mudah menilai segalanya. Sekarang mari kita lihat seberapa berharganya dirimu di mata putramu sendiri? Mungkin dia bersedia menukar seluruh warisannya dengan nyawamu setelah tahu kau masih hidup. Atau malah membiarkanmu mati di tanganku begitu saja? Oh, kuharap dia mau menyerahkan segalanya dengan suka rela. Jadi, aku tidak perlu repot-repot menyusun rencana seperti halnya adik iparmu yang menyebalkan itu.”
“Hei! Kalau sampai kau berani menyentuh putraku. Aku akan-”
“Akan apa? Kau bahkan tidak bisa keluar dari tempat ini setelah sekian tahun dan adik iparmumu yang menyadari kau masih hidup terus saja mencarimu. Itu sangat menggangguku, makanya sekalian aku buat dia menutup mata dan menghilang dari dunia ini. Bagaimana? Selanjutnya, aku sendirilah yang akan bermain-main dengan keponakan tersayang itu.” Dia lantas meninggalkan ruangan setelah mengatakan semua itu.
“Cari tahu apa kelemahan putra Diana! Dan jangan biarkan dia mendapatkan proyek besar itu! Dday Holdings harus aku ambil alih sesuai dengan rencana awal,” ucapnya pada seorang anak buah di belakangnya, di saat dia selesai membasuh wajah.
__ADS_1
“Baik, Tuan.”