
Sejenak Rey menghentikan langkahnya ketika merasakan Rachel semakin geram dengan kalimat Hanna. “Aku tidak keberatan jika harus dimanfaatkan oleh Nona Rachel.”
Bukan tanpa alasan Rey mengatakan hal itu. Di kejauhan dia melihat bagaimana sang keponakan tidak bisa berbuat apa pun saat ini. Dia juga tidak ingin perdebatan ini berlangsung lebih lama lagi. Karena Rey cukup mengerti bagaimana temperamen Hanna.
Hanna yang melihat kepergian keduanya sontak mengepalkan tangan dengan kuat, sedangkan para karyawan lain yang menyaksikan hal itu tampak histeris. Bukan tanpa alasan, selama ini Reymond tidak pernah dekat dengan wanita, tetapi sekarang secara terang-terangan dia malah membela seorang artis yang terkenal belum lama. Mungkinkah benih-benih cinta si bujang lapuk mulai tumbuh dan siap di pupuk.
“Tidak menyangka ya, bujang lapuk ternyata seromantis itu.”
“Iya, beruntung sekali Nona Rachel.”
Bisik-bisik para karyawan semakin membuat telinga Hanna terasa panas. Seharusnya dialah yang berada di posisi itu, bukan Rachel. Dia menghentakkan kaki dengan cukup kuat, hingga tidak sengaja heels yang dikenakan patah akibat bertumit tinggi. “Awh, sial sekali aku hari ini. Lihat saja nanti bagaimana aku akan membalasmu dengan cara yang lebih kejam!”
Baru hendak melangkahkan kaki, tiba-tiba sebuah bahu dari belakang lagi-lagi menabrak tubuh Hanna. Dia kembali tersungkur, sayang tidak ada satu pun orang yang berniat membantunya dan hanya melihat saja.
“Hei! Kalau jalan pakai mata dong!" Teriak Hanna kesal.
Sayangnya orang tersebut tampak tidak berniat menghentikan langkah sama sekali, bahkan untuk sekedar menoleh atau meminta maaf. Dia berlalu begitu saja membuat Hanna semakin kesal dibuatnya.
Hanna lantas mencari ponselnya setelah memasuki mobil, dia melepaskan sepatu heels di kaki dan membuangnya begitu saja dengan kesal. “Sialan! Mimpi apa aku semalam sampai-sampai harus ketiban sial berulang kali.”
__ADS_1
Sesaat kemudian, ponsel dari tas berhasil dia dapatkan. Hanna mencari sebuah nomor, dan berusaha untuk menghubungi orang tersebut. Tidak butuh waktu lama, suara bariton seorang pria terdengar di ujung panggilan.
“Hallo.”
“Aku punya hadiah yang sangat bagus untukmu. Kau buat dramanya sebaik mungkin, jangan sampai ada yang tertinggal, meskipun hanya sedikit pun. Buat sedramatis mungkin," ucapnya sambil menatap sebuah benda kecil hitam di tangan.
“Baiklah. Serahkan semuanya padaku.” Setelah mengatakan hal itu, sambungan telepon pun terputus.
Hanna bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia akan melakukan segala cara demi mencapai tujuannya, dan kali ini tujuan utamanya adalah menghancurkan Rachel. Hancur sampai wanita itu tidak bisa lagi menampakkan wajahnya di layar kaca maupun di mana-mana.
Berbeda halnya dengan Hanna yang berniat merencanakan sesuatu yang buruk, sepasang pria dan wanita tengah duduk di dalam mobil bersama. Rachel awalnya menolak tawaran Reymond yang ingin mengantarnya, tetapi pria itu tetap nekat dan tidak dapat di tolak.
“Siapa mereka?” Batin Rey.
Tidak ingin membuat Rachel panik, pria tersebut lantas mempermainkan laju kendaraan. Terkadang dia bergerak cepat, tetapi sedetik kemudian pelan hingga membuat Rachel merasa tidak nyaman. “Ini bukan jalan menuju apartemenku, Tuan,” kata Rachel merasakan Rey mencoba bergerak melalui jalan lain.
“Ah, benarkah? Mungkin karena dari tadi kau hanya diam. Jadi aku tidak sadar jika kita salah jalan,” kilah Rey sambil sesekali melihat kembali kaca spion.
Rachel sedikit mencebik. Apa ini modus yang digunakan Rey untuk mendekatinya. Cih dia tidak akan mudah terpancing dengan rayuan pria itu, pikirnya.
__ADS_1
Sesungguhnya bukan niat Rey untuk mempermainkan Rachel saat ini. Dia hanya berusaha menghindari kendaraan yang mengikutinya tadi agar tidak tahu ke mana arahnya pergi. “Aku tidak akan mampir karena masih ada urusan. Jangan lupa segera mandi setelah tiba di tempatmu nanti! Jangan sampai kau masuk angin hanya karena kejadian hari ini! Kerja sama kita masih panjang dan sudah kau tanda tangani,” ucap Rey memberikan nasihat kepada Rachel, tetapi pandangannya tetap mengedar ke segala arah.
“Terima kasih atas tumpangannya kali ini.” Rachel segera melepaskan sabuk pengaman yang masih melekat di tubuhnya. Dia hendak mengembalikan jas milik Rey, tetapi mengurungkan niatnya. “Aku akan mencuci terlebih dahulu ini, sebelum mengembalikannya,” ucap Rachel sebelum melangkah pergi.
Rey hanya mengangguk kecil, bukan masalah jas yang menjadi kerisauannya saat ini, melainkan berharap agar Rachel segera keluar dengan aman.
Setelah memastikan Rachel pergi tanpa kendala apa pun. Rey lantas mencari ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaannya, sambil mulai menjalankan kembali kendaraannya.
"Hallo, Tuan." Suara bariton seseorang di ujung panggilan terdengar begitu jelas di telinga Rey.
“Perketat penjagaan. Aku tidak ingin kita kecolongan meskipun hanya sejenak,” perintah Rey tegas.
“Baik, Tuan. Apa ini saatnya untuk siaga?”
“Ya. Kalian harus menjaga Richard dan Tuan Day dengan nyawa kalian sebagai taruhannya kali ini.”
“Siap Tuan.”
Setelah memberikan perintah, sambungan telepon pun terputus begitu saja. Sudah cukup lama mereka tidak lagi menampakkan batang hidungnya. Sepertinya mereka sudah bersiap untuk kembali mengusik keluarga Day seperti sebelumnya.
__ADS_1
“Aku tidak akan membiarkan masa lalu terulang kembali,” batin Reymond semakin mengeratkan tangan di pegangan setirnya.