
Ya, selama ini Reymond selalu mengetahui karakter, sifat, dan tujuan dari setiap wanita yang mendekati sang keponakan karena memang dia sudah memantau sejak awal.
Reymond tidak ingin kecolongan, dan membiarkan keponakannya terjebak dalam cinta palsu para wanita yang sesungguhnya hanya ingin memanfaatkannya saja itu.
Rich sedikit menarik garis bibir ke belakang, tergila-gila pamannya bilang? Rachel hanyalah pion yang akan dia manfaatkan kelak. Tidak ada gunanya bermain perasaan di saat seperti ini, sedangkan di waktu seperti sekarang, sangat cocok baginya untuk menjadi seorang pahlawan kemalaman, sehingga membuat wanita itu semakin bergantung padanya.
Kebisuan Rich membuat Reymond paham perbedaan sikap Rich saat ini. "Baiklah, aku sedang berbaik hati. Kau tunggu sebentar! Kita lihat, di mana wanita pujaanmu saat ini. Bisa jadi dia sedang tidur dengan pria lain seperti wanitamu sebelumnya."
Setelah meninggalkan kalimat menyindir itu, Reymond memutuskan sambungan telepon. Tidak butuh waktu lama, sebuah pesan lokasi terkirim ke ponsel milik Rich. Dia melihatnya sekilas, dan semakin dalam menginjak pedal gas hingga kecepatan maksimum.
Setelah menempuh perjalan berpuluh-puluh kilometer panjangnya, Richard tiba di gerbang sebuah bangunan villa mewah. Dia bukannya tidak mengerti tempat apa ini, karena salah satu anak buahnya pernah ditugaskan di tempat ini sebelumnya. Tempat terkutuk yang disewakan untuk mereka yang ingin menikmati surga dunia dengan bebas, tanpa hambatan atau pun takut akan disergap petugas.
"Anda siapa?" tanya seorang penjaga gerbang sambil mengetuk kaca di samping Rich.
Tempat yang disewa selalu memiliki fungsi sesuai dengan tujuannya, dan malam ini tujuan para penyewa itu bukan untuk berpesta dan mengundang banyak orang, sehingga penjaga tersebut sedikit berwaspada.
Richard sedikit menurunkan kaca mobilnya dan mengeluarkan salah satu tangan. Bukan untuk berniat menyuap sang penjaga, melainkan meniup sebuah bubuk putih tepat di wajah penjaga itu dan tidak perlu waktu lama, butiran-butiran obat itu berhasil membuat sang penjaga pingsan.
"Cih, aku tidak akan mempekerjakan orang sebodoh ini di tempatku kelak."
Perlahan Rich membuka sendiri akses masuk. Dia bahkan dengan sengaja melambai ke kamera pengawas yang ada di sana sambil tersenyum, seolah membiarkan pihak keamanan mengetahui siapa dirinya. Namun, sesaat kemudian, Rich merusak CCTV itu dengan melemparkan batu.
__ADS_1
Richard lantas kembali melanjutkan misi, memasuki kawasan villa dan mencari di mana Rachel berada.
"Lepaskan! Lepaskan aku!" Suara teriakan Rachel menggema di villa itu.
Rich mengedarkan pandangan ke segala arah dengan mata memicing. Riuh banyaknya orang di sebuah tempat, membuat langkahnya mulai bergerak maju.
Suara gebrakan pintu yang dibuka paksa dengan tendangan kaki dari luar, mengalihkan perhatian semua orang yang ada di dalamnya. "Siapa kau? Beraninya mengganggu urusan kami!" tanya seorang pria yang memegang pergelangan tangan Rachel.
Pandangan Richard langsung tertuju pada banyaknya orang yang berkumpul di ruangan itu. Sebuah seringai khas malaikat pencabut nyawa kembali terlukis indah di wajah Rich.
"Rich," rintihan dan air mata, serta perasaaan takut dalam diri Rachel tergambar jelas di wajahnya. Orang-orang itu berusaha untuk menanggalkan pakaiannya dengan paksa, bahkan tidak segan menamparnya di saat Rachel memberontak.
"Beraninya tangan kotormu menyentuh kulitnya." Tanpa basa basi, Richard langsung melangkah maju. Dia mengambil sebuah guci hias yang ada di samping dan memukul tepat di kepala salah seorang pria itu.
Rachel merasa tulang seakan menghilang dari tubuhnya. Saat itu juga dia luruh di lantai dengan tubuh yang terasa begitu lemas. Awalnya dia mengira nasib buruk akan menimpanya bertubi-tubi hari ini. Namun, sepertinya Tuhan masih menyayanginya dengan mengirimkan sosok Richard di waktu yang tepat. Jika tidak, Rachel pasti lebih memilih mati dari pada di perlakukan layaknya seekor binatang.
Tidak ingin terlalu larut dan berakhir dengan membuang waktu, Rachel berusaha menguatkan diri dan hendak melangkah pergi.
Sayangnya, satu tangan pria lain langsung memegang tubuhnya. Dengan kuat Rachel sontak menggigit tangan pria itu. Dia lantas berlari ke sisi Richard yang masih berkelahi, sambil sesekali menghindari serangan.
"Apa kau gila? Cepat kabur dan cari bantuan!" perintah Rich sambil melayangkan satu kaki ke depan, mendaratkan sebuah tendangan tepat di dada seorang pria lainnya.
__ADS_1
"Kau yang gila! Bagaimana bisa aku meninggalkanmu di sini sendirian melawan mereka. Belum lagi kalau ada anak buah mereka di luar. Bisa-bisa percuma saja aku kabur. Akhirnya mereka juga akan menangkapku." Meskipun takut dan tidak bisa bela diri. Rachel enggan meninggalkan Richard seorang diri. Terlalu banyak pria yang harus di lawan Richard , bisa-bisa jika dia kabur nanti, Rich akan pulang hanya dengan sebuah nama. Lagi pula, dia tidak mengetahui sama sekali seluk beluk tempat ini, karena penutup kepalanya baru di buka setelah dia tiba di ruangan itu.
"Cih, merepotkan!" Rich menyerang sambil sesekali melindungi Rachel.
Akan tetapi, wanita itu juga bukanlah orang yang tidak menyadari situasi dan memiliki mental ciut di saat seperti ini. Naluri daya tahan untuk tetap hidup membuatnya meraih apa pun benda padat di sana yang bisa dia gunakan untuk menyerang. Meskipun sedikit kikuk, tapi Rachel tetap berusaha untuk melindungi dirinya sendiri, padahal sebelumnya dia sendiri takut akan darah.
Sayangnya, ini bukanlah waktu yang tepat untuk bersikap manja.
"Awas!" Rachel langsung memukul salah seorang pria yang berusaha menyerang Richard dari samping menggunakan lampu hias, seperti apa yang dilakukan Richard sebelumnya.
Namun sayang, tentu saja kekuatannya dan Richard jelas berbeda. Bukannya terluka, pria itu malah terlihat geram dan hendak memukul Rachel saat itu juga.
Beruntung kaki Richard dengan sigap terayun ke arah pria tersebut dan berhasil mendaratkan sebuah tendangan di perutnya.
"Ayo pergi!" Richard segera menarik tangan Rachel dan membawanya keluar dari tempat itu, setelah semua pria di sana berhasil di hajar oleh Richard. Meskipun tidak sampai terluka parah, tetapi cukup untuk membuat keduanya kabur dari tempat itu.
Bukan karena Richard yang membiarkan mereka bebas. Namun, dia sengaja hanya memberikan luka ringan agar terlihat natural di mata Rachel. Tidak mungkin Richard membunuh di saat seperti ini. Akan ada waktunya sendiri nanti. Lagi pula keberadaan Rachel membuat ruang gerak Richard terbatas. Dia tidak ingin wanita itu tahu seberapa gilanya dia jika sudah mendapatkan sasaran samsak manusia.
"Apa mereka sudah tidak mengejar kita?" tanya Rachel menoleh ke belakang ketika keduanya kini telah berada di dalam mobil.
"Sepertinya tidak."
__ADS_1
"Oh, Tuhan, syukurlah. Seharusnya aku menerima tawaran film action saja, supaya bisa berakting dengan baik di situasi seperti itu."
Rachel langsung bernapas lega. Merasa dirinya sudah aman tubuhnya kembali lemas. Perasaan takut atas percobaan pemerkosaan sebelumnya membuat wanita itu semakin syok. Beruntung Rich datang di waktu yang tepat. "Tunggu! Bagaimana kau bisa menemukan aku?"