
Richard menyeringai puas melihat ekspresi yang di tunjukkan Rachel saat ini. Andai wanita tersebut tahu, dia akan bernasib sama dengan Hanna nantinya, dia pasti tidak akan setenang ini berada di samping Richard.
Ya, Richard dengan sengaja melepaskan Hanna ke jalanan. Akan tetapi, kondisi wanita tersebut tidak lagi sama seperti sebelumnya. Rich sudah merusak mental dan psikologis Hanna hingga dia menjadi gila. Bukan hanya gelandangan yang mencuri makanan untuk sekedar mengganjal perut, Hanna bahkan tidak mengingat lagi siapa dirinya dan trauma yang diberikan Richard benar-benar menjadikan Hanna penderita sakit jiwa, yang berkeliaran di jalanan tanpa ada satu orang pun yang berani menolongnya.
Bukan tanpa alasan Richard melakukan hal itu. Baginya semua yang dilakukan saat ini adalah hukuman terbaik bagi orang licik seperti Hanna, di bandingkan hanya dengan membunuhnya. Kematian terlalu mudah jika di anggap sebagai karma, tetapi penderitaan di dunia fana ini tentu akan menjadi siksaan terberat bagi mereka pelaku kejahatan yang disengaja.
“Apa yang kau inginkan?”
Pertanyaan Richard sontak mengalihkan perhatian Rachel, dia tidak lagi melihat wanita lusuh yang tengah di buru tadi dan melangkah ke lapak yang dia inginkan sambil sesekali menggelengkan kepala. “Tidak mungkin. Aku pasti salah lihat,” ucap Rachel bermonolog, sambil sesekali masih menoleh ke belakang.
“Ada apa?” tanya Rich berpura-pura tidak paham.
“Ah, tidak apa-apa.” Mereka lantas memesan makanan yang diinginkan Rachel. Semangkuk sup tulang yang dimasak dengan cara tradisional, persis buatan sang ibu dulu. Dia menyeruput kuahnya dengan ekspresi wajah bahagia. Begitulah sosok Rachel, hanya dengan makan di sini, dia akan merasa seolah sang ibu berada di dekatnya.
Dulu keluarganya hanyalah orang sederhana. Penuh dengan cinta kasih yang tidak ada batasnya. Namun, semuanya berubah di suatu masa. Uang mengubah segalanya. Mengubah sang ayah, mengambil sang ibu, dan memberikan kesepian pada Rachel hingga sekarang.
“Apa kau tidak begitu suka?” tanya Rachel di saat melihat Rich hanya mengaduk-aduk makanan di dalam mangkuk.
Rich menggeleng kecil, dia pun mencoba memakan makanan yang kini di hadapannya. Sebenarnya dia bukanlah pemilih dalam hal makanan. Akan tetapi, apa yang kini ada di depannya juga mengingatkan dia kembali akan masa lalu. Cita rasa yang di hadirkan dalam sup panas tersebut mampu menggugah selera para penikmatnya, membawa mereka akan rasa hangat kasih seorang ibu. Hingga tanpa terasa sup di mangkuk Richard pun habis lebih dulu di bandingkan Rachel.
“Kau sangat kelaparan rupanya,” sindir Rachel. Wanita tersebut lantas mengangkat tangan untuk kembali memesan. “Nenek, satu mangkuk sup tulang lagi!” teriaknya pada penjual. “Tenang saja, masih ada banyak jika kau ingin makan lebih. Jangan sungkan! Harga di sini tidak terlalu mahal. Gajimu tidak akan habis jika digunakan untuk membeli sepuluh porsi sup."
__ADS_1
Rich tersenyum kecil, entah kapan terakhir kali dia makan lahap seperti ini. Tampaknya dia sendiri sudah lupa jika selama ini dirinya hanya makan di saat ingat saja, sedangkan selebihnya, sibuk memikirkan rencana masa depan yang akan dia lakukan, ataupun memikirkan masa lalu yang telah berlalu.
"Seandainya kau tahu tujuanku mendekatimu saat ini. Pasti kau akan lari dariku saat itu juga. Tapi sayang, sepertinya semua akan terlambat, ketika kau menyadarinya," batin Richard melihat Rachel.
Di sisi lain, seorang pria tampak tengah berpesta dengan beberapa klien di sebuah ruangan VIP restoran. Menggunakan ruangan khusus, mereka bercengkerama sambil meminum minuman beralkohol dan beberapa makanan lainnya. Seorang wanita tanpa busana terdiam tepat di tengah-tengah mereka, tubuhnya di jadikan meja hidangan, tetapi mereka tidak berhak untuk menyentuh selain makanannya.
Mereka tampak bercengkerama dengan begitu gembira, di temani dengan beberapa wanita cantik lain di sampingnya. Seolah hidup di zaman Firaun yang dikelilingi banyak istri, orang-orang itu tertawa lebar bak manusia yang lupa diri ketika tengah berada di atas awan.
“Mari bersulang untuk merayakan posisi Anda saat ini Tuan Antonio!” ujar salah seorang klien yang berusaha mengajukan kerja sama dengan pihak Dday Holdings.
Antonio merupakan CEO Sementara yang baru. Selain bekerja sama dengan pihak musuh, dia juga mengundang para klien yang selama ini kesulitan untuk mengajukan kerja sama, di kala Reymond memimpin perusahaan.
Namun, kebijakan Antonio kali ini sungguh berbeda. Cukup dengan memberikan suntikan dana pribadi padanya. Maka dia akan dengan mudahnya menyetujui pengajuan kerja sama para klien itu.
“Terima kasih, Tuan. Tentu saja saya tidak akan bisa berada di posisi saat ini jika tanpa dukungan para pemegang saham yang berkuasa itu.” ucap Antonio sambil tertawa lebar.
Beberapa kotak kardus bergambar minuman sari buah atau makanan lainnya kini tertata rapi di samping Antonio. Namun, isi asli dari barang-barang tersebut bukanlah makanan atau pun minuman kemasan, melainkan uang tunai dari para klien yang menyuap sesuai dengan nominal yang disebutkan oleh Antonio. Di mana keputusannya di ambil sesuai dengan besarnya proyek yang akan mereka jalankan nantinya.
Meskipun terlihat merugikan, tetapi hasil yang akan mereka dapatkan jika bisa bekerja sama dengan Dday Holdings juga bukanlah nominal yang sedikit. Karena itulah, mereka bersedia membayar di muka.
Hanya saja, masih ada satu klien yang tampak duduk diam di suatu sudut, tanpa berniat ikut bahagia seperti halnya yang lainnya. Dia masih menimbang dan belum bisa menyetujui apa yang diinginkan Antonio.
__ADS_1
Berbeda dengan klien lainnya yang langsung setuju begitu saja. Wajahnya pun tidak berseri, dalam hatinya sedikit marah dengan pria di hadapannya yang lebih kejam dari pada lintah darat itu. Terlihat beberapa kali dia menenggak alkohol, tetapi sama sekali tidak menyentuh makanan, melirik saja tidak.
“Bagaimana dengan Anda, Tuan Ben? Apa kau setuju dengan permintaanku?” Antonio tampak duduk dengan begitu sombongnya. Dia menginginkan nominal uang yang cukup fantastis dari Ben untuk menyetujui pengajuan kerja sama pria itu, karena tahu jika Ben akan gulung tikar tanpa bantuan dari Dday Holdings.
Sengaja Antonio meminta dana dari mereka secara pribadi dan dalam bentuk cash. Bukan tanpa alasan, melainkan agar tidak di curigai oleh perusahaan jika sampai ada uang transferan yang masuk ke dalam rekeningnya. Demi menghindari kemungkinan tersebut, Antonio memilih menyimpannya dalam bentuk uang tunai saja. Di mana uang tersebut akan membuatnya semakin kaya.
“Aku akan memikirkannya lagi,” ucap Ben mencoba beralasan.
“Apalagi yang perlu dipikirkan, Tuan Ben? Tuan Antonio pasti akan menerima pengajuan kita dengan tangan terbuka, dan dewan direksi pasti juga akan menyetujui keputusannya. Lagi pula nilai proyek yang Anda ajukan tidaklah sedikit. Apa salahnya mengeluarkan sedikit modal terlebih dahulu demi kelancaran bisnis kita. Benar tidak, Tuan-tuan,” ucap salah seorang pria lainnya yang mencoba membujuk Ben.
Ben hanya mengangguk kecil, sebelah sudut bibirnya terangkat ke atas. Dia sudah terbiasa dengan asam garam permasalahan bisnis, mustahil perhitungan untung rugi seperti ini dia tidak mengetahuinya. Hanya saja, meskipun Ben adalah orang yang licik, dia tidak akan menempuh jalur yang terlalu berisiko ke depannya.
Pengalaman di masa lalu, membuatnya lebih berhati-hati dalam bertindak. Apa lagi jika pria yang kini mereka agungkan tersebut seorang pebisnis licik. Semuanya terlihat begitu jelas dari cara Antonio bergerak. Hanya satu kata yang pantas di sematkan untuknya ‘Tamak’.
“Hari sudah semakin larut. Saya permisi terlebih dahulu saja. Beberapa hari ini kesehatan saya tidak seperti biasanya. Dokter menyarankan agar istirahat lebih awal. Silakan di lanjutkan makan malam kalian! Saya permisi dulu.” Tidak ingin terlalu lama berada di ruangan tersebut, Ben memilih untuk undur diri terlebih dahulu, sedangkan para pria yang masih tinggal tampak tidak senang akan sikapnya.
“Cih, dia kaya tapi terlalu pelit,” ucap salah seorang pria menghina Ben.
“Sudah, sudah, Tuan. Mungkin dia hanya perlu berpikir sejenak. Lagi pula saya tidak memaksanya. Lebih baik kita nikmati kerja sama kita malam ini,” ujar Antonio mengambil gelas dan mengangkat ke atas, memersilakan para pria yang lain untuk minum bersamanya.
Namun, lirikan matanya tidak dapat berbohong, dalam hati Antonio jelas menantikan kerja sama dengan Ben. Karena dari pria itulah, dia akan mendapatkan suntikan dana terbesar nanti.
__ADS_1