My Crazy Rich-Ard

My Crazy Rich-Ard
Bab 22: Aku tahu


__ADS_3

"Hei! Dasar keponakan kurang ajar." Teriak Reymond, lalu dengan terpaksa mengeluarkan dompet dari saku karena sang sopir taksi sudah menunggu dengan menengadahkan kedua tangannya.


Di dalam kediaman, Day tampak tersenyum bahagia melihat kedatangan putra serta cucunya. "Kalian sudah datang?" ucapnya sambil merentangkan tangan.


Tiga pria itu lantas berpelukan untuk sejenak. Berbeda dengan Reymond yang datang dengan tangan penuh hadiah, Rich hanya mengucapkan sebaris kalimat doa yang terdengar seperti keluhan. "Selamat ulang tahun, Kek. Kau harus panjang umur dan tetap menyayangiku seperti ini. Jika tidak, semua hartamu pasti akan dikuras habis oleh Paman dan aku hanya akan dibiarkan menjadi gelandangan."


"Dasar anak kurang ajar! Makin lama makin ngelunjak saja kau itu, kau pantas menjadi gelandangan," kesal Reymond berusaha memukul kepala keponakannya. Sayangnya, Rich berhasil menghindar.


"Sudah-sudah. Jangan ribut lagi! Kehadiran kalian di ulang tahunku kali ini sudah membuatku bahagia. Aku tidak akan menyesal jika nantinya Tuhan meminta nyawaku setelah ini," kata Day menengahi. Sudah lama dia sendirian dan tidak bertemu dengan kedua pria yang kini menemaninya. Sebelumnya keduanya selalu saja sibuk dengan urusan masing-masing.


Sementara itu, Day yang memang sudah lanjut usia, tentu saja tidak lagi mau tahu tentang urusan perusahaan. Dia hanya bisa menunggu di rumah layaknya seorang pria tua pada umumnya.


"Sudah, Kek. Jangan terlalu dramatis dengan menduga-duga hal yang belum pasti, hidup dan mati manusia ada di tangan Tuhan. Kita hanya bisa menikmati kehidupan ini sebaik mungkin. Lebih baik kita segera makan malam. Aku sangat lelah hari ini dan seharian belum makan gara-gara artis sialan yang sepertinya berharap menjadi menantumu."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Richard langsung saja pergi ke ruang makan, sedangkan Day tampak melirik tajam Reymond di sampingnya. "Kau dekat dengan perempuan lagi? Benarkah yang Rich katakan itu."


"Dia hanya membual, Pa. Jangan terlalu di pikirkan!" Reymond segera membawa sang ayah menyusul Rich.


Day tampak menghela napas berat. "Apa kau benar-benar sudah tidak memiliki selera lagi terhadap wanita. Kupikir dibandingkan dengan menghadapi Richard, lebih sulit untuk menyakinkan diriku jika kau itu masih normal."


"Kakek jodohkan saja dia dengan orang yang kakek kenal, lalu berpura-pura sekarat agar paman mau menikah," ucap Rich asal sambil memasukkan makanan ke dalam mulut. Padahal dua orang yang lebih tua darinya baru mau duduk.


"Kau sendiri bagaimana? Kenapa sudah memiliki calon istri tidak memberitahu kami, hah? Apa kau berniat kawin lari lagi? Apa kau sudah tidak menganggap kami ini keluargamu?" ucap Reymond kesal.


"Bukan dia yang aku bicarakan. Tapi orang lain," balas Reymond.


"Paman ini bicara apa? Cepat makan jangan terlalu banyak menonton drama!" Kata Richard berkilah. Dia bahkan tidak segan-segan memasukkan sepotong ayam ke mulut pamannya dengan paksa. Bisa-bisa Reymond semakin banyak bicara jika tidak segera di hentikan.

__ADS_1


Jangan dipikir Reymond tidak tahu apa yang terjadi dengan Richard. Sesuai dengan dugaan Richard, meskipun membiarkannya hidup dari bawah, tetapi dia selalu mengawasi keponakannya itu. Sementara itu, Richard bukannya tidak sadar. Dia hanya sengaja membiarkan mata-mata sang paman berkeliaran dengan bebas, agar sandiwaranya terlihat natural.


Makan malam berjalan dengan lancar, Richard dan Day yang sudah selesai bercengkrama bersama di dekat kolam renang. Hingga ketika malam sudah semakin larut, Day memilih untuk segera beristirahat, sedangkan Reymond hanya mengamati keduanya dari kejauhan.


Setelah mengantar sang kakek ke kamar. Rich yang keluar dari ruang disambut oleh Reymond dengan segelas minuman beralkohol di tangannya. "Mau menemani aku minum?"


Tanpa menjawab, Rich mengambil alih gelas minuman itu. Keduanya melangkah menuju balkon dan Richard berdiri di samping pamannya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Richard.


"Hanya sedang memikirkan apa yang kau rencanakan?" Bukannya menjawab, Reymond malah kembali bertanya. Dia membalikkan posisi tubuh hingga keduanya pun saling berhadapan.


"Menurutmu apa yang bisa dilakukan bocah ingusan sepertiku, Paman? Apalagi semua fasilitasku juga sudah kau cabut." Jawab Rich santai dengan ekspresi ceria seperti yang biasa dia tunjukkan.

__ADS_1


"Jangan kira aku tidak mengenalmu dengan baik, Rich! Sebelum melangkah, pikirkan baik-baik tindakanmu. Sudah cukup Kakekmu trauma akan kehilangan Papamu. Jangan sampai kau mengulangi kesalahan yang sama!" Reymond hendak melangkah pergi, tetapi dia kembali berkata, "Dokter Han mengatakan padaku, jika beberapa bulan ini kau tidak lagi menemuinya. Aku harap kau tidak menyepelekan penyakitmu."


"Aku tahu." Rich mengepalkan tangan dengan kuat, sedangkan tangan sebelahnya menenggak minuman hingga tandas.


__ADS_2