
"Woyyy malinggg!! sinii kamuu!". Teriaknya meninju maling tersebut.
"Kerja jangan jadi maling dongg, cari kerjaan yang bener". Ujarnya kesal lalu mengecek tas nya.
"Sinii tas nya!". Ujarnya mengambil tas tersebut, sementara maling tadi pergi.
"Wahh makasih ya udah nolongin saya, disini banyak data penting". Ujarnya pada seseorang.
"Iyaa sama sama pak". Ujarnya terkekeh.
Azzam yang melihat itu terkekeh, ia memeluk istrinya yang memang mempunyai keahlian bela diri, sementara rekan bisnis nya pergi sesudah mengucapkan terimakasih pada istrinya, Azzam merasa senang sekali.
"Sayang, tadi kamu hebat banget loh". Ujar Azzam padanya.
"Ya jelas dong mas, Michelle gitu loh". Ujarnya memeluk sang suami.
"Yaudah yuk pulang sayang". Ujar Azzam pada istrinya.
"Ayuk mas". Ujarnya memeluk lengan suaminya.
"Ohh ya kamu mau makan dulu?". Tanya Azzam pada istrinya.
"Ihh kan tadi udah makan mas sama Client kamu". Jawab Michelle pada suaminya.
"Ohh iya ya aku lupa syang". Ujar Azzam terkekeh pada istrinya.
Saat dalam perjalanan pulang, Michelle merogoh ponselnya di celana karena terasa bergetar, ia menutup mulutnya kaget serta berkaca kaca, membuat Azzam aneh karena tak biasanya istrinya itu diam saja.
"Kenapa sayang?". Tanya Azzam pada nya.
"Mas, mom dad.. ". Ujar Michelle pada suaminya.
"Iyaa mamah dan papah aku kenapa sayang?". Tanya Azzam pada istrinya.
"Mereka juga orangtua aku mas hiks". Ujar Michelle terisak.
"Loh kok malah nangis sayang? mas tadi tanya mamah sama papah kenapa?". Tanya Azzam menoleh pada istrinya yang kebetulan sedang lampu merah.
"Mom daddy meninggal mas hiks hiks". Jawab Michelle terisak.
"Kamu ga usah bercanda deh sayang". Ujar Azzam dengan tegas.
"Aku ga bercanda mas hiks hiks, nih liat sendiri kak Alya ngirim chat ke aku". Ujar Michelle terisak.
__ADS_1
Belum sempat Azzam melihatnya karena lampu sudah menjadi hijau, ia pun menjalankan mobilnya ke kediaman orangtua nya, sungguh ia masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan istrinya, walaupun itu kabar dari kakak pertamanya.
Beberapa menit kemudian, Azzam sampai di pekarangan rumah orangtua nya, ia melihat rumahnya yang ramai serta tangisan kakak kembarannya Anggun, Azzam berlari di ikuti oleh istrinya.
"Papahh!! mamahh!!". Teriak Azzam memeluk tubuh kedua orangtua nya.
"Pah, mah bangun!! jangan tinggalin Azzam pahh mahh hiks". Ujar Azzam mengguncangkan kedua tubuh orangtuanya.
"Kenapa bisa seperti ini Aunty?". Tanya Azzam menatap Bella.
"Kedua orangtua kamu kecelakaan sayang". Jawab Bella menatap sendu wajah anak sahabatnya.
"Engga!! ngga mungkin hiks hiks, pasti kalian bohongkan?". Tanya Azzam dengan terisak.
"Sini peluk ayah sayang". Ujar Ronald yang merupakan mertuanya.
Azzam memeluk mertuanya serta tangisannya yang semakin keras, Ronald mengelus punggung menantu yang sudah ia anggap putra nya sendiri, Sherly yang merupakan bunda Michelle ikut memeluk Azzam.
"Sabar yaa syaang, kamu harus ikhlas, ini udah takdirnya sayang, biarkan kedua orangtua kamu pergi dengan tenang oke". Ujar Sherly mengusap air mata Azzam.
"Ta-tapi bunda, a-aku hiks.. ". Ujar Azzam terpotong karena Istrinya memeluk dirinya.
"Sstt mas, udah ya mas jangan nangis lagi, kasian mom dad ga tenang mau pergi mas". Ujar Michelle padanya.
"Iyaa mas, udah ya jangan nangis lagi, aku sedih liat kamu begini". Ujar Michelle memeluk suaminya.
Azzam masih memeluk istrinya namun tangisannya sudah berhenti, ia seketika lemas saat melihat kedua orangtuanya telah tiada, Michelle mengelus rambut suaminya, ia juga merasakan kehilangan karena pernah berada di posisi suaminya.
Beberapa jam kemudian kini semuanya berdiri di makam Ditto dan Prita, mereka dimakamkan didekat pemakaman Tasya dan Keenan, serta Inggrita dan Alex , telah banyak yang pergi meninggalkan mereka membuat mereka kembali merasakan kehilangan.
"Ayo mas, pulang". Ajak Michelle pada suaminya.
"Mas, masih mau disini sayang". ujarnya lirih pada istrinya.
"Mas bentar lagi turun hujan, pulang ya nanti kamu sakit mas". Ujar Michelle mengusap bahu suaminya.
"Ngga sayang, mas gamau". Ujar Azzam lirih pada Michelle.
"Mas, kalau kamu seperti ini terus bagaimana dengan anak kita? kamu ga kasian sama mereka?". Tanya Michelle sambil mengelus perutnya.
Azzam yang mendengar itupun langsung menoleh pada istrinya, Azzam baru mengetahui bahwa istrinya sedang hamil, ia pun bangkit dari duduk nya lalu memegang tangan istrinya dan mengajaknya pulang sesudah berpamitan pada mendiang orangtua nya.
"Sayang, kamu hamil?". Tanya Azzam pada Michelle.
__ADS_1
"Iyaa mas hehe". Jawab Michelle terkekeh.
"Udah berapa minggu sayang?". Tanya Azzam pada istrinya.
"Udah sebulan sih mas". Jawab Michelle pada suaminya.
"Loh kok kamu ngga ngasih tau mas dari awal syang?". Tanya Azzam padanya.
"Tadinya kan aku mau ngasih kejutan sama kamu nanti malem, tapi gatau mom dad akan pergi selamanya". Jawab Michelle menunduk padanya.
Azzam memeluk istrinya, ia pun tidak menyadari ada yang berubah dengan tubuh istrinya, karena Michelle terlalu pintar menyembunyikannya, hingga beberapa menit kemudian mereka sampai di rumah kediaman mendiang orangtuanya.
Masih banyak yang diam disana, apalagi kini rumah tersebut akan ditempati oleh Azzam yang merupakan anak terakhir walaupun dia kembar, Azzam memasuki kamarnya bersama istrinya dengan lemas.
"Uhh aku lelah". Ujar Michelle merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Maaf ya sayang, kalau aku tau kamu sedang hamil, aku gaakan bikin kamu capek nungguin aku tadi". Ujar Azzam menatap istrinya.
"Iyaa gapapa kok mas, lagian kata baby nya juga gapapa kok ayah". Ujar Michelle sambil tertawa.
"Emangnya udah bisa bicara?". Tanya Azzam dengan polosnya.
"Belum mas". Jawabnya terkekeh pada suaminya.
Azzam yang mendengar itupun langsung menggelitiki badan istrinya, Michelle tertawa keras karena ia tidak tahan jika tidak tertawa, hingga beberapa saat Azzam menghentikan aksinya karena menyadari sesuatu.
"Ya ampun, maafin ayah syaang, ayah lupa dengan adanya kalian". Ujar Azzam mengelus perut istrinya.
"Iyaa gapapa ayah". Ujar Michelle sambil tersenyum pada suaminya.
"Terimakasih kamu memberiku hadiah yang sangat dinantikan". Ujar Azzam pada istrinya.
"Walaupun harus kehilangan kedua orangtua ku, tetapi tak apa, ada penggantinya". Ujarnya lagi menatap Michelle.
Michelle memeluk suaminya serta memberikannya kekuatan, hingga beberapa menit kemudian keduanya tertidur karena lelahnya menangis, mereka berdua tidak menyadari ada yang menyaksikan tingkah mereka.
"Syukurlah Azzam bisa tenang". Ujarnya pada suaminya.
"Iyaa sayang, yaudah kita juga masuk kamar, kita butuh istirahat". Ujarnya pada sang istri.
"Iya mas Leo". Ujarnya pada Leo.
Ya mereka adalah Alya serta Leo, keduanya begitu khawatir dengan Azzam karena anak yang paling disayangi semua orang, keduanya menutup pintu kamar Azzam sebelum mereka memasuki kamar Alya.
__ADS_1
Semoga dengan hadirnya anak buah hati kalian, bisa membuat kamu terhibur nanti dek. Batin Alya tersenyum tipis.