
Dua tahun kemudian, kini semuanya sudah merasakan ikhlas atas apa yang terjadi, begitupun saat mereka kehilangan Deffa yang juga meninggal seminggu sesudah Bella dan Kevin, anak serta yang lainnya kembali merasakan kehilangan.
Luna memeluk suaminya, kini hanya mereka berdua yang masih hidup, maka dari itu semua anak sahabatnya menganggap mereka berdua kedua orangtuanya, sungguh Luna masih tidak menyangka begitu banyak yang pergi.
"Sayang, sudah jangan bersedih lagi, kita doakan saja mereka agar selalu tenang di alam sana". Ujar Zibran pada istrinya.
"Iyaa mas, aku masih ngga nyangka aja sama semua yang aku rasakan". Ujar Luna di pelukan suaminya.
"Mas aku hanya ingin kita meninggal bersama, aku gamau kehilangan kamu mas". Ujarnya memeluk sang suami.
"Kita akan selalu bersama sayang, walaupun raga kita berpisah nantinya". Ujar Zibran mengelus rambut istrinya.
Sedangkan kini kediaman mendiang Deffa menjadi tempat tinggal anak anaknya serta cucu nya, karena rumah kediaman Deffa sangat besar, Leo yang menjadi kepala rumah disana pun merasakan apa yang Appah nya rasakan.
"Mas, jangan ngelamun terus". Ujar Alya mengusap lengan suaminya.
"Mas, cuman mikir kedepannya bagaimana jika itu terjadi pada kita sayang? anak kita ada yang masih kecil". Ujar Leo pada Istri nya.
"Mas jangan bahas ini ahh, aku ga sukaa". Ujar Alya memalingkan wajahnya.
"Iyaa syaangg maaf yaa". Ujar Leo memeluk istrinya.
Kini semuanya hampir sudah menikah serta mempunyai anak atau bahkan masih hamil, Vina duduk di sofa bersama keluarga besarnya kehamilan Vina sangat merepotkan, karena semuanya kena oleh apa yang Vina ngidamkan.
"Mas Albi". Panggil Vina membuat semuanya menoleh.
"Iyaa syaang? kenapa?". Tanya Albi menatap istrinya.
"Aku pengen sesuatu deh". Jawab Vina membuat semuanya tersentak.
"Kamu pengen apa syang?". Tanya Albi dengan lembut walau hatinya ketar ketir.
"Heum aku mauu.. apa ya? ahh aku mau kita sekeluarga piknik bersama". Jawab Vina dengan ceria membuat semuanya tersenyum lega.
"Ahh syukurlah bukan ngidam yang aneh aneh". Gumam Alva di samping istrinya Grace.
"Eh tapi mas". Ujar Vina kembali membuat semuanya tertekan.
"Tapi apa sayang?". Tanya Albi pada istrinya.
"Aku mau kalian para lelaki jadi badut nantinya hihi". Jawab Vina membuat semuanya kaget.
"Apaaa!!". Teriak para kaum lelaki.
"Dek, yang benar saja dongg, kamu ngidam tuh anehh mulu". Ujar Alva padanya.
__ADS_1
Vina yang mendengar itupun berkaca kaca, membuat semuanya panik karena Vina sangat sensitif dan akan susah mendapatkan maaf dari bumil tersebut, air mata Vina akan mengalir deras tetapi tidak jadi karena Alva membuatnya senang.
"Yaudah kita semua para lelaki akan menjadi badut, udah ya jangan nangis". Ujar Alva menghampiri kembarannya.
"Beneran?". Tanya Vina pada nya.
"Beneran dekk". Jawab yang lainnya juga.
"Aaaa makasih". Ujar Vina memeluk kembarannya.
"Emang kamu maunya sekarang banget kita berangkat?". Tanya Albi pada istrinya.
"Engga mas, besok aja". Jawab Vina pada suaminya.
Kini di rumah kediaman mendiang Deffa dan Tasya penuh dengan anak serta cucu bahkan cicit sekalipun, Anna senang melihat semuanya kumpul seperti ini namun ia selalu teringat orang orang yang sudah meninggalkan dirinya untuk selamanya.
Elina dan Elana belum menikah walaupun banyak yang siap menjadi wali mereka atau pun ada yang datang melamar mereka, tapi mereka berdua masih sibuk di dunia kerja sampai lupa jika saudaranya banyak yang sudah menikah bahkan memiliki anak.
"Haii sayang". Panggil seseorang membuat semuanya menoleh.
"Oma, bunda, Opa, ayahh". Sontak saja semua nya menghampiri Luna dan Zibran.
"Kalian sudah makan? nih bunda bawa makanan kesukaan kalian". Ujar Luna pada mereka berdua.
"Kebetulan kita lapar oma". Ujar Elina memeluk lengan Luna.
Sementara Luna menyiapkan makanan untuk mereka, Zibran mengajak Elina dan Elana berbincang mengenai masalah mereka yang belum menikah, begitupun juga dengan yang lainnya hingga beberapa menit kemudian Luna selesai menyiapkan nya.
"Nah mas, anak anak serta cucu oma makan yaa". Ujar Luna pada mereka.
"Wah kayanya enak nih". Celetuk seseorang membuat mereka menoleh.
"Uncle Argan , Aunty Diana". Ujar keduanya memeluk Argantara dan Diana.
"Ayok ikut makan sayang". Ujar Luna pada mereka berdua.
"Iyaa bunda". Ujar Argantara dan Diana.
Mereka menikmati makanannya dengan khidmat hanya terdengar dentingan sendok dan garfu , hingga beberapa menit kemudian mereka selesai memakan makanannya sampai habis tak tersisa.
Argantara dan Diana yang memang ingin berkunjung, tak menyangka akan ramai seperti ini rumah mendiang Deffa dan Tasya, Argantara menghampiri abangnya El Dirga yang merupakan suami dari kakaknya Nasrananda atau biasa dipanggil Ayana.
"Abang Dirga". Panggil Argantara membuat El Dirga menoleh.
"Iyaa kenapa Ar?". Tanya Dirga padanya.
__ADS_1
"Kak Ayana mana?". Tanya Argantara padanya.
"Itu lagi di kolam belakang sama yang lainnya". Jawab Dirga padanya.
"Ohh baiklahh, aku kira ga ikut". Ujar Argantara pada nya.
"Bagaimana kabar anakmu?". Tanya Dirga padanya.
"Baik bang, anak abang sendiri gimana?". Tanya Argantara padanya.
"Sama baiknya, tapi ada satu anak abang sifatnya bukan nurun ke abang dan kakakmu". Jawab Dirga pada adik iparnya.
"Memangnya kenapa kak?". Tangan Argantara mengangkat Alisnya.
"Itu liat Elzandra, disaat yang lainnya main bersama dia hanya menatapnya datar, seperti buka sifat abang dan kakakmu". Jawab Dirga sambil menunjuk Elzandra yang terlihat sendiri.
"Mungkin nurun dari mendiang Bunda Bella". Celetuk Diana pada Dirga.
Dirga terdiam ini melebihi dinginnya seseorang, apa campuran dari orang yang dulunya dingin pikir Dirga, Elzandra yang tersadar ada yang menatapnya pun langsung menoleh membuat Dirga bagaikan orang yang terciduk maling.
Elzandra hanya menatap nya datar, membuat Dirga kesal melihat sifatnya itu, Argantara mengusap bahu abangnya agar tenang, akhirnya Dirga memutuskan untuk menghampiri anaknya bersama Argantara.
"Anak daddy kenapa diam aja sayang?". Tanya Dirga padanya.
"Males". jawabnya singkat pada Dirga.
"Kenapa syang? asik loh main sama yang lain". Kini giliran Argantara yang berbicara.
"Seperti anak kecil aja". Jawabnya membuat Dirga dan Argantara tertegun.
"Ahh baiklah kalau begitu kamu mau apa? memangnya tidak bosan hanya melihat?". Tanya Dirga padanya.
"Baca buku". Jawab nya membuat Dirga harus menarik nafasnya..
"Baiklah, kamu bisa ke perpustakaan, bilang pada Aunty Anna sana". Ujar Dirga membuat anaknya langsung menoleh.
Elzandra pergi begitu saja meninggalkan keduanya yang masih diam, Argantara menoleh abangnya kemudian menghampiri istrinya, Dirga tidak menyangka akan mempunyai anak yang begitu dingin tak tersentuh.
Padahal kamu juga masih bocah nak, umur 9tahun ya tuhan punya salah apa aku dulu , sehingga kau memberikan sifat anakku yang seperti itu. Batin Dirga begitu tersiksa.
End.
...****************...
Terimakasih telah mendukungku, semoga kalian selalu dipermudahkan segalanya yaa :)
__ADS_1
Salam sehatt guys :)