
Keesokan harinya seperti apa yang telah mereka bicarakan di chat grup, kini semuanya sudah berada di rumah Tasya beserta dengan para anaknya. Mereka juga mengadakan acara makan makan bersama.
"Alkan". Panggil Ayna pada anak dari Gisella.
"Ya Ay". Ujar keduanya menoleh pada Ayna.
"Heum Ay manggil Alkan ini bukan kamu". Ujar Ayna menunjuk pada Arkana.
Gisella yang melihat itu menggelengkan kepalanya pusing, seharusnya ia tidak memberikan nama yang sama pada mereka berdua, jadinya seperti Inikan tiap anaknya dipanggil pasti keduanya akan menoleh.
"Makanya Sel, kalau ngasih nama Tuh jangan sama kaya gitu". Ujar Tasya pada sahabatnya.
"Iyaa gue juga tau, habis gimana nasi udah jadi bubur, biarlah mungkin nanti kita panggil Arkana dengan Arkan sedangkan Arkananda kita panggil Nanda aja". Ujar Gisella pada mereka.
"Gue setuju tuhh". Ujar Bella sambil memeluk anaknya yang memang masih kecil diantara yang lainnya.
"Ehh udah berapa bulan sekarang?". Tanya Luna pada Inggrita.
"Maju ke 8 bulan Lun". Jawab Inggrita pada Luna.
"Wah bentaran lagi lahiran dong". Ujar Gisella padanya.
"Iyaa, doain yaa biar lahiran gue lancar". Ujar Inggrita pada mereka.
"Iyaa kita doain". Ujar Tasya mewakili mereka semua.
Saat mereka sedang asik berbincang riang bersama, tiba-tiba Lion datang menghampiri mereka dengan ngos ngosan, Tasya menenangkan anaknya.
"Ada apaa ssyang? kenapa kamu lari lari seperti itu?". Tanya Tasya pada putranya.
"Itu mom, huft Ayna dan Anna kecebur ke dalam kolam renang". Jawab Lion pada Mommy nya.
"Apaa? Kok bisa? Mass Deffa, Mass cepatt". Teriak Tasya membuat semua para kaum lekakii menghampirinya.
"Mas, Ayna sama Anna kecebur ke kolam renang, ayo bantuin mas hiks". Jawab Tasya dengan terisak.
Deffa serta yang lainnya berlari menuju kolam renang, disana sudah ada Leo yang berusaha menyelamatkan para adiknya, sedangkan sikembar Arkan terdiam karena mereka masih shock. Gisella menghampiri keduanya langsung memeluknya.
"Mamiii huaaa Alkan kagett Mommy, Alkan takut Ayna sama Anna kenapa napa". Ujar Arkana sambil menangis dipelukannya.
"Sstt tenang sayang, doain semoga Ayna sama Anna baik baik aja ya". Ujar Gisella pada anaknya.
Aera datang menghampiri mereka semua, karena ia baru bangun dan melihat semuanya berkumpul di kolam renang, ia pun menyelinap disamping Dion membuat sang empunya kaget.
"Ish Aera kamu ngangetin tauu". Ujar Dion membuat semuanya mengarah padanya.
"Loh syaang, anak Papi udah bangun". Ujar Cleoza menghampiri putrinya.
__ADS_1
"Iya Aera kaget, didalam cuman ada Aera sama baby Kevin aja papii". Ujarnya pada Cleoza.
Untung saja Ayna dan Anna sudah tersadar, sekarang mereka sudah berada di kamar sikembar, Arkana dan Arkananda serta para anak kecil mendekati keduanya.
"Ada yang cakit ng-ga?". Tanya Arkana dengan tergugu.
"Ndak ada kok, Alkan". Jawab Ayna dengan tersenyum manis.
"Kakak ndak apa apa?". Tanya Ameena kepada keduanya.
"Iyaa gapapa kok, Ameera kenapa diem aja?". Tanya Anna pada kembaran Ameena.
"Aku gapapa kok kak, lagi pengen duduk aja soalnya". Jawab Ameera yang memang sedikit cuek.
Anna dan Ayna memang berbeda, Anna sudah lancar dalam berbicara sedangkan Ayna masih cadel padahal yang terakhir lahir adalah Anna bukan Ayna kakaknya.
"Kak Ay gapapa kan?". Tanya Anna pada Ayna.
"Ndak papa kok dek, kamu juga ndak papa kan?". Tanya balik Ayna pada kembarannya.
"Ngga papa kok kak". Jawab Anna padanya.
Akhirnya mereka makan bersama begitu juga dengan anak anak, kecuali Baby Kevin yang masih kecil dia masih harus memakan makanan khusus bayi, semuanya menikmati makanannya tetapi tiba tiba Leo tersedak.
"Nih bang minum". Ujar Anna pada abangnya.
"Ga keselek cucuk ikan kan?". Tanya Tasya pada putranya.
"Ngga kok mah". Jawab Leo padanya.
"Hatihati makannya abang biar ngga Keselek lagi". Ujar Ayna sambil menepuk pundak abangnya.
Mereka semua yang melihatnya merasa gemas, Ayna gembul sekali pipinya sama seperti yang lainnya, beberapa menit kemudian mereka selesai memakan makanannya.
Ayna menghampiri Aunty Inggrita dengan wajah gemasnya, Inggrita yang melihatnya pun hanya diam ntah mau apa Ayna menghampiri nya sedangkan anak anak yang lain sedang bermain ditempat khusus anak kecil yang Deffa buat.
"Kenapa Ayna sayang? ga main sama yang lain?". Tanya Tasya saat anaknya menghampiri para ibu.
"Heum, Ay pengen deket Aunty aja". Jawab Ayna sambil memeluk lengan Inggrita.
"Kenapa sih anak Ammah?". Tanya Tasya saat melihat Ayna lesu dipelukan Inggrita.
"Ndak tau mah, Ay cuman mau deket sama Aunty aja". Jawab Ayna pada Ammah nya dengan lesu.
"Iyaa tapi kenapa lesu begitu jawabnya? ada masalah didalam?". Tanya Tasya pada putrinya.
Luna serta para ibu yang lain hanya diam menyimakk kecuali Aurora yang memang menyusul ikut kumpul melihat raut wajah Ayna yang berbeda, seperti orang yang linglung.
__ADS_1
"Ayna sayang, coba liat Aunty". Ujar Aurora padanya.
"Apa Aunty?". Tanya Ayna padanya.
"Ayna melihat sesuatu? bilang sama Aunty sayang". Ujar Aurora membuat semuanya menoleh ke arahnya.
"Maksud lo apaan Aur?". Bisik Tasya ditelinga Aurora.
"Ntar juga tau". Jawab Aurora dengan berbisik.
Ayna terdiam tidak biasanya membuat Tasya khawatir dengan keadaan anaknya, tatapan Ayna kosong menatap ke samping kiri Inggrita, karena Ayna duduk di samping kanan.
"Sayang Heyy, jangan bikin Ammah khawatir sayang, kamu kenapa?". Tanya Tasya pada Ayna yang hanya diam tanpa menjawab.
"Gue ga bisa biarin, mas Deffa harus tau". Ujar Tasya sambil bangkit dari duduknya.
"Eitss tunggu dulu, sabar ntar juga lo tau Sya". Ujar Aurora menahan tangan Tasya.
"Iyaa tapi sampai kapan? gue gatega Aur hiks". Ujar Tasya sambil terisak dipelukan Luna.
Ayna menatap Ammahnya yang menangis pun langsung tersadar dan menghampiri nyaa, serta ikutan menangis karena ia sesungguhnya ketakutan, Aurora sekarang mengerti salah satu anak dari Tasya memiliki mata batin yang bisa melihat hal yang gaib.
"Ssyang hey, kalian kenapa?". Tanya Deffa panik melihat keduanya menangis.
"Appah, huaaa Ay takuttt Appah hiks hiks". Teriak Ayna memeluk Deffa.
Teriakan Ayna terdengar sampai ruangan main, hingga membuat semua anak anak pada keluar menghampiri Ayna, Anna sang adik dari Kembarannya mendekati para orangtua.
"Takut kenapa sayang? bilang sama Appah". Ujar Deffa mengelus rambut anaknya.
"Ay tadi liat disamping kili Aunty Ingglita ada pelempuan Appah, dia teluc menatap perut Aunty, Ay takut dia nyakitin Aunty Ingglita hiks hiks, Appah Ay takutt". Ujar Ayna semakin memeluk erat Deffa.
Semuanya yang mendengar Ayna bilang begitu langsung mengarah pada Inggrita yang terdiam kaget, ia mengelus perutnya yang tiba tiba mendingin seperti ada yang memegang nya.
"Huaaa, Aunty hantu pelgii, jangan ganggu Aunty akuu, hiks Appah ucil Aunty hantu itu untuk pelgii, kacian pelut Aunty dipegang teluc". Teriak Ayna saat ia melihat ke arah Inggrita.
Alex menghampiri istrinya, untuk menguatkan nya tetapi kemudian tubuh istrinya seperti dimasuki sesuatu, membuat Ayna yang melihatnya langsung berlari ke arah Alex.
"Aunty, pelgi dali tubuh nyaa, Aunty kenapa jahat cekalii cih, Aunty mau apa? kelual dali tubuh Aunty Ingglita cekarang juga". Ujar Ayna marah pada makhlus gaib tersebut.
Semuanya tercekat mendengar Ayna yang marah, hingga beberapa menit kemudian Ayna pingsan membuat semuanya khawatir termasuk para kembarannya.
"Xander kamu sudah mendapatkan kebahagiaan mu sekarang, selamat ya kamu akan menjadi seorang ayah, aku turut bahagia melihatnya, aku pergi karena aku sudah tenang melepaskan kamu berada disisi Inggrita, i love you Xander". Ujar seseorang tersebut yang berada ditubuh Inggrita.
Inggrita pun pingsan setelah mantan kekasihnya pergi dari tubuhnya, semuanya kaget untuk kesekian kalinya, mereka membawa Inggrita ke kamar tamu.
Ada apaa sebenarnya?. Batin Tasya bertanya.
__ADS_1