My Handsome Husband

My Handsome Husband
Chapter 17 #ZILU (ZIBRAN LUNA)


__ADS_3

Hello readers!!


Masih lanjut tentang Luna dulu yaa, semoga kalian suka:)


Karena Novel aku yang keempat ini menceritakan semua pemeran tidak hanya pemeran utama saja:)


Okee kita lanjut gasy ceritanya:)


######


Luna yang melihat kedua orangtua nya tersenyum membuatnya berpikir aneh, lalu ia menatap lekat Zibran memastikan apa yang membuat kedua orangtua nya tersenyum aneh, pikirnya.


"Kenapa kamu liatin aku kaya gitu? aku tau aku tampan". Ujar Zibran menggoda Luna.


"Ishh brengsekkk,, kembalikan ciuman pertama ku". Ujar Luna berteriak.


"Baikkah aku kembalikan, asalkan kamu tutup mata". Ujar Zibran tersenyum menyeringai.


"Okee, awas aja kalau kamu macem macem". Ancam Luna.


Zibran mencium lembut bibir Luna, membuat sang pemilik membuka matanya lebar, karena kaget atas apa yang dilakukan Zibran padanya, namun Luna bukan marah akan tetapi terbuai oleh suasana nya yang diberikan Zibran.


"Itu sudah aku kembalikan, ciuman pertama mu". Ujar Zibran tersenyum.


"Apaa!! ini namanya ciuman keduaku kamu ambil!!". Ujar Luna geram.


"Eitss tunggu, sebenarnya aku sudah menciummu 3 kali". Bisik Zibran.


"Apaa!!!! kamu mesum, brengsek hiks hiks.. harusnya kak Zibran yang mendapatkannya bukan kamu brengsek!!". Ujar Luna geram serta terisak tangis.


Zibran mencium kembali bibir Luna dengan lembut, entah kenapa ia merasa kecanduan oleh bibir Luna, saat Luna mulai tenang ia melepaskan ciumannya, menatap Luna dengan tersenyum penuh arti.


"Sayang, kamu engga mau tau nama aku siapa?". Tanya Zibran lembut.


"Enggak!! untuk apa aku tau namamu dan jangan pernah kamu memanggilku sayang!! aku bukan sayangmu!". Ujar Luna berteriak emosi.


"Baiklah sayang, perkenalkan namaku adalah Zibran Putra Salim, aku calon suami masa kecilmu dulu tetapi sepertinya kamu tidak menginginkan ku lagi, untuk itu aku akan pergi saja, jaga dirimu baik - baik yaa sayang, aku mencintaimu sejak dulu". Ujar Zibran pura - pura berpisah dengan nada sedih.


Luna yang mendengar itu membuat nya kaget, berarti ia sedaritadi memarahi calon suaminya sejak ia masih kecil, melihat Zibran yang akan membuka pintu membuat dia melepas inpusnya, lalu berlari memeluk Zibran dari belakang membuat langkah Zibran terhenti.

__ADS_1


"Benarkah ini kak Zibran?". Tanya Luna tersedu.


"Iyaa ini aku, kak Zibran mu waktu kecil". Jawab Zibran sambil membalikkan badannya.


"Maafkan sikapku tadi kak hiks hiks". Ujarnya menangis memeluk Zibran.


"Iyaa gapapa wajar aja kamu marah, karena kita udah lama ngga ketemu dan kamu juga gak bisa kenalin wajah aku". Ujar Zibran membalas pelukan Luna.


Mami Cyndia dan Papi Maxim menghampiri mereka berdua, Mami Cyndia sangat senang melihat anaknya tersenyum, karena selama ini jarang sekali dirinya melihat senyuman Luna, anak angkat serasa anak kandungnya sendiri.


"Apa kamu masih marah soal ciuman tadi?". Tanya Zibran menggoda Luna.


"Ngga aku ngga marah, karena aku udah tau kalau kamu kak Zibran". Ujar Luna masih memeluk Zibran dengan erat.


"Kalau misalkan aku tidak bilang namaku, pastinya kamu masih marah, iyaa kan?". Tanya Zibran membuat Luna diam sejenak.


"Maafkan akuu". Ujar Luna pelan pada Zibran.


Zibran memeluk Luna dengan erat, ia sangat senang ketika Luna memang menginginkan Zibran menjadi suaminya, ia menghapus lembut air mata yang berlinang di pipi Luna sesekali ia mengecup kedua mata Luna.


"Sudah jangan menangis lagi, aku tidak marah padamu". Ujar Zibran.


"Beneran kamu ngga marah? ngga benci? sama aku?". Tanya Luna tersedu.


"Terimakasih kak". Ujar Luna senang.


Akhirnya aku bertemu denganmu kak, setelah bertahun tahun tidak bertemu. Batin Luna bahagia.


Keesokan harinya Tasya juga sahabatnya menjenguk Luna, karena mengetahui Luna sudah sadar dari koma, mereka menangis terharu melihat Luna tersenyum, kemudian memeluk Luna dengan bahagia..


"Syukurlah, lho bangun Lun, kita sangat kesepian tanpa lho". Ujar Tasya sedih.


"Iyaa gue juga sangat bersyukur, karena gue menemukan pangeran berkuda putih". Ujar Luna membuat sahabatnya bingung.


"Siapa pangeran berkuda putih?". Tanya Tasya bingung.


"Tuhh, orangnya dateng". Tunjuk Luna pada Zibran yang baru datang.


Tasya dan sahabatnya mengalihkan padangan mereka pada tunjukkan Luna, mereka terkejut ternyata Zibran itu adalah dokter sekaligus pangeran masa kecil Luna, mereka merasa bahagia melihat Luna tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Gimana keadaan mu?". Tanya Zibran lembut.


"Baik kak, karena kakak yang merawat hehe". Ujar Luna bersemu merah karena malu.


"Baiklah, besok kamu bisa pulang, jaga dirimu baik - baik ya, sehat terus ya jangan sampai sakit lagi". Ujar Zibran pada Luna.


"Okee siap dok". Ujar Luna semangat.


Zibran tersenyum melihat Luna bersemangat, ia menoleh pada sahabatnya Luna yang menatapnya terbengong, ia pun menceritakan semuanya, jika calon suami yang Luna impikan adalah dirinya.


Tasya dan sahabatnya terkejut, namun berubah menjadi senyuman bahagia, mereka memeluk Luna dengan sangat erat dengan rasa bahagia, terutama Tasya yang selalu dekat dengan Luna.


"Akhirnya orang yang pendiem sekarang menjadi orang yang ceria". Celetuk Ingrita membuat semuanya tertawa .


"Bisa aja lho". Ujar Luna tersenyum kecil.


"Udah mending lho istirahat ya, kita mau ngampus dulu ya". Pamit Tasya diangguki sahabat yang lainnya.


"Oke deh, nanti gue liat tugas yaa". Ujar Luna diangguki mereka.


Setelah mereka pergi, Luna kembali membaringkan badannya di ranjang untuk memulihkan tubuhnya, Zibran yang melihat Luna telah tidur dengan nyenyak pun mencium kening serta bibir Luna lembut, namun pelan karena takut mengganggu istirahat calon istrinya semasa kecil.


"Andaikan kamu sudah menjadi istriku, pastinya aku akan leluasa melakukan apapun padamu sayang, aku akan menunggu saatnya tiba, love you Luna Sasi Kirana". Ujar Zibran menatap Luna sedang tidur.


"Cepat sembuh sayangku, aku akan selalu merawatmu sampai kamu pulih". Ujar Zibran mencium lembut kening Luna.


"Ahh cepatlah lulus sayang, biar kita segera menikah, punya anak lucu - lucu, menua bersamamu". Ujar Zibran gemas mencium wajah Luna bertubi - tubi.


Zibran tidak menyadari jika sejak tadi Luna sudah terbangun, namun pura - pura tidur karena ingin mengetahui apa yang di katakan Zibran, perkataan tersebut membuat Luna bersemu merah karena merasa bahagia.


Zibran yang melihat pipi Luna bersemu merah seperti itu kaget, tetapi ia mikirnya pasti Luna sedang bermimpi hingga bersemu merah seperti itu, ahh ingin aku menerkamnya merasakan tubuhnya, pikirnya.


Tidakk, tidak aku tidak boleh memikirkan tentang kemesuman ku saat ini. Yaa semenjak hadirnya Luna, entah mengapa aku mempunyai pikiran kotor, aku ketagihan dengan bibir merahnya Luna. Batin Zibran.


Zibran pun meninggalkan ruangan, dikarenakan ada kedua orang tuanya Luna yang menjaga, setelah Zibran hilang dari ruangan kemudian Luna terbangun dengan wajah senang.


"Aku juga sangat menantikan itu". Ujar Luna tersenyum senang.


Bagaimana kelanjutannya?

__ADS_1


Jangan lupa Like, Coment and Vote:)


Terus dukung aku:)


__ADS_2